- 26 -

2064 Words
= = = = = Tiara = = = = = Aku sering melihat orang-orang memiliki hubungan berkali kali dengan lawan jenis. Sejak remaja, hingga dewasa. Ada yang memiliki jumlah mantan di atas 10, ada juga yang pernah berhubungan lebih dari lima kali. Atau mungkin ada juga yang tidak sama sekali. Tapi aku enggan membahas hal yang terakhir. Aku sungguh tidak paham, bagaimana konsep seseorang bisa mencintai orang lain berkali kali, sementara aku tidak bisa. Masa remajaku terlewati begitu saja, tanpa tertarik dengan lawan jenis mana pun karena merasa aku perlu fokus belajar. Hingga di masa kuliah aku mengenal sebuah rasa suka pada satu sosok yang pernah aku kagumi begitu dalam. Itu ada perasaan pertamaku, mungkin juga satu satunya, yang pernah aku rasakan seumur hidupku. Menyukai seorang Rendi adalah hal yang pernah aku nikmati setiap harinya. Memandangi cowok itu dari jauh, yang sering berkumpul dengan teman temannya. Rendi yang tidak banyak tingkah, Rendi yang sederhana, Rendi yang akrab dengan teman temannya, juga Rendi yang mudah bergaul dengan orang lain. Sepanjang masa kuliah, aku habiskan untuk mengagumi sosok itu. Dari mulai hanya memandanginya dari jauh, hingga memiliki kesempatan untuk bisa dekat dengan sosok itu. Masuk ke dalam lingkup pertemanan di mana ada sosok yang kamu suka, kira kira apa rasanya? Senang, bukan? Rendi yang dulu hanya mengenalku sebatas nama, yang bahkan jika bertemu di jalan pun tidak akan bertegur sapa, mendadak bisa menjadi temanku. Saat Chaca mengajakku bergabung dengan teman temannya, yang mana juga ada Rendi di dalamnya. Aku semakin banyak terlibat interaksi dengan Rendi. Mati matian aku berusaha menyembunyikan perasaan bahagiaku, setiap kali cowok itu mengajakku berbicara, atau bahkan melakukan kegiatan bersama. Saat itu, aku sungguh mempercayai bahwa seekor kupu kupu mungkin saja berterbangan di perutku, karena rasanya sangat geli, tapi menyenangkan. Setiap detik yang terlewati terasa berharga, hingga membuatku enggan untuk mengakhirinya. Sebatas itu saja, aku sangat menikmatinya. Sebatas mengobrol tentang hal hal yang berada di sekitar kami, sebatas mengerjakan tugas bersama, sebatas Rendi sering menawarkan tumpangan pulang kuliah - sama seperti Rendi menawarkan Chaca atau pun Lila. Sebatas Rendi benar benar menganggapku sebagai salah satu sahabatnya, aku sudah merasa bahagia luar biasa. Perasaanku saat itu begitu indah, tanpa harus terbalas atau pun tersampaikan. Aku tetap menikmatknya, meski seumur hidup Rendi tidak pernah mengetahui perasaanku. Aku terus menikmati setiap hari yang berlalu, dengan interaksi interaksi wajarku bersama sosok itu. Namun, mengapa perasaanku dianggap salah? Mengapa Rendi justru keberatan dengan perasaan yang hinggap di hatiku? Mengapa Rendi justru melarangku untuk menyukainya, ketika aku bahkan tidak mengharapkan balasan perasaannya. Ketika aku bahkan tidak pernah memberitahu perasaanku padanya, lalu ia menolakku dengan tegas tanpa memikirkan bagaimana perasaanku? Malam itu, di hari kami liburan bersama setelah seluruh dari kami berhasil menjalankan sidang skripsi, semuanya masih berjalan normal. Di kawasan Puncak, dengan menyewa sebuah vila yang tidak terlalu besar, menjadi tempat kami melepas penat setelah sekian bulan berperang dengan penelitian tiada akhir. Aku, Chaca, Lila, Rendi, Rehan, Azril, dan Sandi yang merupakan personel tongkrongan kami kala itu. Kami begitu bersuka cita karena merasa telah merdeka dari beban skripsi dan akan lulus bersama sama. Berbagai macam makanan kami bawa dari Jakarta untuk dimasak berupa berbeque di sana, karena kami malas untuk belanja di kawasan tersebut yang tidak kami ketahui di mana pusat perbelanjaannya. Sambil membakar ayam, ikan, dan makanan frozen food lainnya, diiringi juga dengan nyanyian dan musik yang berasal dari gitar yang dimainkan Rehan. Yang sengaja di bawa cowok itu dari Jakarta, agar kami bisa bernyanyo bersama. Suasana malam itu begitu hangat, aku bahkan begitu bahagia karena bisa berada di tengah tengah mereka. “Mana nih, Ren. Katanya lo mau bawa cewek lo.” Suara Rehan terdengar menggoda Rendi, yang sempat mengatakan bahwa akan mengajak pacarnya yang merupakan kakak dari Azril. “Gak bisa, lagi ada acara.” Rendi menyahut singkat, enggan bercerita lebih lanjut tentang acara yang membuat ceweknya itu tidak bisa bergabung di sini. Padahal, sebelumnya Rendi sudah berkoar koar akan mengajak sosok tersebut ke dalam acara ini. “Sibuk apa emang, Ziel, kakak lo?”  Chaca memancing kerusuhan, saat membahas sosok pacar Rendi “Sibuk ngehindar dari Rendi lah.” Azril menjawab dengan lantang, tanpa merasa tidak enak pada Rendi. Cowok itu malah tertawa setelah berkata demikian, diikuti dengan tawa teman temanku yang lain. Rendi tidak tertawa, cowok itu hanya tersenyum masam. Aku menangkap ada gelagat ketidaknyamanan saat hubungannya terus terusan di bahas oleh teman temannya, lantaran pacar Rendi yang terkenal tidak terlalu ingin bersama Rendi. Rendi selalu membanggakan pacarnya, tapi pacarnya bahkan enggan untuk berpacaran normal seperti pasangan muda pada umumnya. Kakak Azril itu lebih gemar menghabiskan waktu untuk mengejar ambisinya yang banyak sekali. Nadin namanya. Cewek itu sangat aktif mengikuti berbagai jenis organisasi yang ada di kampusnya, hingga tak terlalu sempat meladeni Rendi yang tidak terlalu aktif dalam kegiatan kampus. Yang aku herankan, jika cewek itu enggan untuk pacaran, mengapa menerima Rendi? Kenapa gak bilang saja, mau fokus kuliah, atau apa gitu. Oh, satu lagi. Nadin memang masih kuliah, tepatnya tengah mengambil study S2 di Surabaya. Namun, saat ini menurut Azril kakaknya sedang berada di Jakarta, karena itu lah Rendi sempat yakin akan mengajak sosok pacarnya itu ke dalam acara kami. Perasaanku bagaimana? Ya kesal sih, tapi yasudah. Aku tak banyak menuntut, karena aku tau diri. Memang aku siapa? Rendi juga tidak tau aku menyukainya, aku pun tidak ingin Rendi tau bahwa aku menyukainya. Aku lebih senang begini, mengaguminya diam diam. Memandanginya dari jauh. Lalu berharap, kelak suatu hari nanti, mungkin Rendi akan melihatku. Mungkin kelak suatu hari nanti, Rendi akan mengatakan bahwa ia menyukaiku lebih dahulu. Meski aku yakin, rasa sukaku terhadapnya jauh lebih lama. Tapi tidak apa, aku akan terlihat terkejut dan penuh haru. Aku cukup sabar dalam hal hal berupa penantian. Rendi menoleh ke arahku, tepat saat aku tengah diam diam menatapnya. Tak ingin tertangkap basah, meski memang sudah ketahuan, tapi aku buru buru menoleh ke arah lain. Aku kan punya mata, jadi wajar dong menatapnya. Toh, kami sedang berada dalam lingkup tempat yang sama. Jadi sangat wajar. Oke, aku berusaha menanamkan pikiran tersebut. “Nih, yang udah ditusukin.” Ucapku seraya menyodorkan piring berisi tusukan sate yang terdiri dari sosis, daging ayam, paprika, dan masih banyak lagi pada Rehan yang bertugas untuk membakar aneka makanan ini. “Thank you, Ra!” ucap Rehan, seraya tersenyum sopan. “Duh, capek! Ngapain sih lama lama bikin ginian, emang gak bisa beli aja yang langsung jadi?” Aku mendengar suara Lila yang mengeluh, saat harus mengiris sosis, bawang bombay, paprika, dan masih banyak lagi. Lila memang senang mengeluh dan tak suka melakukan hal hal yang ribet alias menyusahkan. Meski komentarnya masuk akal, tapi ya kan memang begini acaranya. “Gak ada seni kumpul kumpulnya dong, La!” Sandi menyahut dengan geram, karena ucapan Lila yang menurut cowok itu sudah di luar nalar. Jika hanya beli di tukang sate, lalu untuk apa mereka pergi jauh jauh ke puncak? Hanya buat tidur? “Gue gak butuh seni senian tuh.” “Yaudah, Sayang. Kamu tiduran aja di kamar, aku ikhlas gantiin kami ngiris gituan sampe mata perih kok.” Rehan yang terkenal memang dekat dengan Lila, meski tak pernah jelas mereka pacaran atau tidak, tapi cowok itu memang sering menggoda Lila dengan memanggil ‘Sayang’ dan bicara aku - kamu di depan umum, meski tidak ditanggapi Lila “Tangan lo sini gue iris, ikhlas gak?” Lila balas menyahut dengan tatapan ganas, disertai ucapan tajamnya. Aku dan yang lain hanya tertawa mendengar interaksi tersebut. Rehan yang mulutnya bisa seperti buaya, selalu dipatahkan oleh ucapan Lila yang sinis dan bernada jutek, seolah menjadi hiburan rutin yang sering kami lihat setiap kali berkumpul. “Tuh, Han! Kalo lo secinta itu sama Lila, serahin dong tangan lo!” Azril mengompori sahutan Lila tadi. Aku tak terlalu mengikuti lagi obrolan mereka, karena hendak bergegas ke toilet. Aku merasakan ada sesuatu yang berdesir di bawah sana, diiringi dengan rasa keram di area perutku. Aku pun berniat untuk segera mengecek, merasa jadwal datang bulanku akan tiba. Sesampainya di toilet, ternyata memang benar aku baru datang bulan. Aku pun kembali ke teman temanku, lalu duduk di sebelah Chaca untuk bertanya apakah ia membawa pembalut atau tidak. “Cha, bawa pembalut gak?” Tanyaku, dengan nada tak terlalu keras. “Bawa, tapi gak bersayap.” Chaca membalas dengan suara yang tidak pelan, seolah hal tersebut memang bukan hal yang harus di tutupi. “Apaan tuh Cha yang bersayap? Pesawat?” Sandi yang mulutnya jahil segera menyahut, dengan nada iseng khas cowok itu. “Hoo, Tiara seneng yang bisa terbang ya?” Azril turut membalas, seraya meledekku karena mengetahui bahwa aku yang tengah memerlukan pembalut. “Sama kayak Lila, sukanya yang sayap sayap.”  Rehan turut menimpali, yang disambut pelototan dari Lila. “Kok lo tau, Han? Pernah liat Lila pake pembalut?” Rendi mulai kembali turut dalam obrolan absurd teman temannya. “Gue pakein malah.” Rehan menyahut santai, yang membuat talenan yang sedang di gunakan Lila untuk mengiris sosis melayang ke arah Rehan. “Aw, sakit, Babe.” Rehan meringis masih disertai panggilan anehnya pada Lila. “Bentar lagi nih pisau melayang ke mulut lo ya, Han!” Kata Lila galak. “Lila serem banget mainannya.” Komentar Rendi. “Lila emang suka yang kasar kasar, kayak bidiesem gitu.” “Anjing lo, Han!” Lila semakin naik darah, sampai berkata kasar. Yang lain hanya tertawa mendengarnya, begitu pula denganku. Aku teringat lagi tentang meminta pembalut. Aku pun bergerak ke dekat Lila. “La, tapi lo bawa pembalut gak?” Tanyaku. Lila menggeleng pelan. “Gue gak lagi dapet, Ra.” Aku mengangguk. “Yauda deh.” Aku kembali lagi pada Chaca, dan meminta pembalutnya. Untuk sementara aku tidak masalah menggunakan pembalut tanpa sayap itu, tapi aku harus segera membeli pembalut baru untuk aku gunakan. Setelah memasang pembalut yang tadi diberikan Chaca, aku kembali ke halaman belakang vila yang menjadi tempat berkumpul kami malam ini, lalu bergabung lagi dengan teman temanku. “Anterin ke mini market yuk, mau beli pembalut bersayap nih.” Kataku tanpa malu malu, karena merasa sudah terlanjur tahu juga. “Ren, anter, Ren! Kerjaan lo gak berguna dari tadi, cuma kipas kipas gak bertenaga pula.” Azril mendorong Rendi menjauh dari panggangan tradisional yang disediakan vila ini. Aku dapat melihat Rendi menatap Azril dengan pandangan yang … memprotes mungkin? Aku pun kurang memahaminya. “Iya, Ren! Biar gerak dikit idup lo, biar bisa mengimbangi cewek lo yang aktif banget itu.” Sandi kini turut mengompori Rendi. Rendi tak menyahuti ucapan Sandi, meski aku dapat melihat wajahnya tampak keruh mendengar ucapan itu. Sepertinya mood Rendi malam ini sedang tidak baik, jika aku memperhatiknnya sejak tadi. “Yuk, Ra, gue anter.” “Oh, i-iya. Yuk.” Aku menyahut dengan sedikit gelagapan, karena tak menyangka Rendi langsung menanggapiku. Aku pikir, melihat wajah keruhnya saat itu, Rendi enggan untuk mengantarku. Aku mengekor di belakang Rendi yang sudah menyambar kunci motor untuk mengantarku menuju mini market terdekat dari lokasi vila kami yang berada di sebuah cluster di daerah Cipanas, Puncak. Kami memang beramai ramai ke sini menggunakan motor, karena yang memiliki mobil saat itu hanya orang tua kami. Dan tak ada yang cukup berani untuk meminjam mobil ke orang tua untuk di gunakan saat liburan seperti ini. Teman temanku memang golongan anak anak baik yang tidak banyak tingkah semasa kuliah atau pun sekolah. Jadi memang tidak ada yang memaksa pinjam mobil ke orang tua, sehingga kami harus berpegal pegal naik motor ke puncak. Yang aku akui, cukup seru lantaran menjadi lebih perhatian dengan satu sama lain. Masing masing dari kami harus memperhatikan motor teman kami, dan menghitung apa kah jumlahnya tepat atau tidak, sehingga jika ada yang ketinggalan segera di cari agar tak terpisah terlalu jauh. Kabar baiknya, karena pacar Rendi tidak jadi ikut, aku di pasangkan naik motor dengan Rendi. Aku senang sekali, perjalanan menggunakan motor dari Jakarta ke Puncak yang memakan waktu selama jam, dan selama itu lah aku bersama Rendi. Sesekali kami mengobrol atau membahas hal hal yang seru agar cowok itu tidak mengantuk membawa motornya, aku sangat menikmati perjalanan ke tempat ini bersama Rendi. Mungkin sepulangnya dari sini, aku akan mencatatnya di buku harian. Sepertinya, aku mulai aktif menulis di buku harian sejak menyukai Rendi. * * * * * * * * * * * * K I S A H   Y A N G   T E R L A M B A T * * * * * * * * * * * *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD