- 27 -

1477 Words
Mini market terdekat berjarak kurang lebih dua kilo meter, lumayan jauh jika di tempuh berjalan kaki. Namun, dengan menggunakan motor tak memakan waktu hingga sepuluh menit. Jalanan perumahan di kawasan puncak yang cukup sepi dengan pencahayaan yang minim, membuat jalanan terasa menyeramkan. Aku bahkan tak berani menengok kanan dan kiri, karena takut melihat hal hal yang sebaiknya tidak terlihat. Alhasil, selama di perjalanan aku hanya merapatkan jaket yang aku gunakan untuk keluar vila tadi. Berupaya agar udara malam yang dingin tidak begitu menguasai tubuhku, sebab aku tak mungkin memeluk pinggang Rendi yang ada di depanku ini. Sesampainya di mini market, aku segera bergegas masuk dan menuju lorong tempat pembalut di pajang. Rendi sendiri turut masuk ke dalam mini market, lalu langsung menuju kasir. Mungkin mau membeli rokok. Aku sudah tak melihat keberadaan Rendi saat bergerak menuju kasir, sepertinya cowok itu sudah keluar. Maka aku pun segera menyelesaikan transaksi ini agar bisa kembali ke Vila, meski sesungguhnya aku tak terlalu ingin buru buru sih, aku sangat menikmati moment ku bersama Rendi meski tidak ada hal apa pun yang terjadi. Benar saja, saat aku keluar dari pintu mini market, aku melihat Rendi tengah duduk di salah satu bangku yang tersedia di sana. Rendi menempati sebuah meja yang memang sering digunakan untuk minum kopi yang tengah gencar di promosikan oleh mini market ini, aku lihat juga Rendi turut membelinya, menikmatknya dengan sebatang rokok yang sesekali ia kepulkan asapnya. “Nanti dulu ya, Ra. Ngabisin sebatang dulu.”  Kata Remdi seraya menunjukan batang rokok yang terselip di sela sela jarinya. “Oh iya, gue gak tau lo minum kopi atau enggak. Jadi gue pesenin minuman coklat.” Rendi menyodorkan segelas minuman seduh yang ia pesan, sama seperti kopi miliknya, padaku. Aku bergeming beberapa saat, tak menyangka Rendi membelikan minuman untukku. Sebab ini kan aku yang memiliki keperluan, dan memintanya untuk mengantar, seharusnya aku yang membelikannya kopi. “Thanks, Ren.” Aku menyambut minuman hangat tersebut. “Tapi harusnya kan gue yang beliin lo kopi.” Lanjutku merasa bahwa hal ini tebalik. Rendi tersenyum pelan, yang membuat wajahnya semakin menawan di mataku. “Santai lah, Ra. Gue emang pengen beli aja, tapi masa lo liatin gue ngopi sih. Gak sampe dua puluh ribu kok,” sahut Rendi. Aku mengangkat bahu, tanganku mulai meraih minuman hangat itu untuk diseruput. Angin malam berhembus menerpa kami, hingga membuat beberapa bulu kudukku berdiri. Hawa dingin seketika menyergap, membuat kedua tanganku refleks memegangi gelas kertas yang menjadi wadah minuman hangat yang Rendi belikan. Hal tersebut cukup menghangatkan tubuhku yang mulai kedinginan karena cuaca di kawasan Puncak. “Dingin ya, Ra?” tanya Rendi, saat melihat gelagatku yang mengepalkan tangan berkali kali saat tidak memegang gelas kopi. Aku mengangguk pelan. “Mau pake jaket gue?” tawarnya. Aku segera menggeleng. “Gak usah. Gue aja segini kedinginan, kalo lo gak pake jaket bisa bisa beku.” sahutku. “Gue gak terlalu kedinginan kok, kayaknya kulit gue ketebelan deh.” Rendi tampak bergerak untuk membuka jaketnya meski aku bersikeras menolak. “Ren, beneran gak usah. Gue gak jadi kedinginan deh.” “Mana ada! Liat tuh bulu di tangan lo berdiri semua.” “Udah gue masukin kantong jaket.” Rendi tertawa pelan melihat tingkahku. Kadang, aku ingin menyalah artikan bentuk perhatian yang biasa Rendi lakukan terhadapku. Yang sayangnya, bukan hanya padaku, tapi juga tak jauh berbeda pada Chaca dan Lila. Setiap kali mengingat tersebut, aku kembali tak banyak berharap pada sosok ini. Bahkan meski perhatian tersebut juga dilayangkannya pada ke dua sahabatku yang lain, aku tetap merasa bahagia setiap kali Rendi melakukan hal tersebut padaku. “Gak berasa ya, Ra. Tau tau kita udah lulus aja, perasaan baru kemaren kita ospek.” Rendi kembali membuka pembicaraan. “Gue berasa sih, Ren. Capek banget tiap ngerjain tugas, mana banyak banget juga. Masa lo gak berasa sih? Skripsi kurang susah ya?” Aku menyahuti dengan santai, sebagaimana sikapku pada Rendi. Rendi tertawa lagi, yang mengundangku untuk ikut tertawa juga. Sial! Cowok itu semakin ganteng saat tertawa, hatiku rasanya ingin melebur saat melihatnya. Namun, aku berusaha untuk tetap waras dan tidak bersikap mencurigakan. Moment aku dan Rendi tergolong sangat jarang, biasanya aku berinteraksi dengan Rendi hanya saat berkumpul dengan yang lainnya. Bisa di hitung jari kegiatanku yang hanya terlibat berdua dengan Rendi. Aku tidak seperti Chaca yang gemar merepotkan semua orang, termasuk Rendi. Aku belum bisa sesantai itu pada sosok ini, karena perasaan yang aku miliki, membuat ruang gerakku terbatas. “Abis ini rencananya mau apa, Ra?” Rendi bertanya lagi. Wah, Rendi aktif sekali ya malam ini. Apakah dia mulai ingin menggali tentangku lebih dalam? Aku berdecak pelan saat pikiranku sudah mulai kacau. “Mau apa ya? Seperti anak baru lulus pada umumnya sih, mau cari kerja lah.” Aku menyahut dengan santai, sambil kembali meneguk coklat hangat yang tadi di belikan Rendi. Rendi mengangguk pelan. “Nyari pacar, enggak?” Aku nyaris terbatuk saat mendengar pertanyaan Rendi, tapi buru buru aku mengontrol pernapasanku dengan baik. Ku letakkan gelas kertas yang tadi aku teguk isinya, lalu berusaha menatap Rendi dengan tenang, untuk menanggapi pertanyaan itu dengan santai. Aku tau, Rendi hanya iseng bertanya begini. “Yaa, nanti gampang lah nyari juga sambil kerja.” Rendi mengangguk. “Emang lo nyari yang kayak apa, Ra?” Ada apa dengan pertanyaan ini, kenapa semakin di perpanjang pembahasan tentang pacar? Membahas hal tersebut dengan cowok yang aku sukai sungguh tidak nyaman, sebab aku tahu betapa tidak mungkinnya Rendi memancing pertanyaan ini untuk melakukan pendekatan, mengingat Rendi masih memiliki pacar. Atau dia sudah putus dengan pacarnya? “Emang kenapa? Lo mau nyariin?” Rendi tampak berpikir sebentar. Lalu kembali bersuara. “Yang kayak gue, ya?” Mataku nyaris melotot saat mendengar ucapan Rendi. Cowok itu tampak masih tenang, dengan ucapannya barusan yang nyaris membuat jantungku turun ke lambung. Aku masih shock, lidahku bahkan kelu dan tak mampu menjawab ucapan Rendi tadi. Aku berusaha mengatur detak jantungku yang kini berdebar kencang. “Susah deh, Ra. Kalo nyari yang kayak gue.” Rendi berkata lagi, masih dengan suaranya yang terdengar santai. Aku buru buru memalingkan wajah, berusaha menatap ke segala arah, asal tidak bersitatap dengan Rendi. “Apa sih, Ren. Pede banget.” Aku berusaha mengelak, meski wajahku terlihat tegang. Rendi membuang puntung rokoknya yang sudah pendek pada gelas kopi yang isinya juga sudah habis. “Gue serius, Ra.” Aku mulai berani menoleh lagi ke arahnya, dan melihat ekspresinya saat ini memang tidak menyiratkan bahwa cowok itu bercanda. Maksudnya apa? Kenapa dia harus serius menanyakan soal pacar yang bahkan aku sendiri belum memikirkannya? Memangnya aku sempat memikirkan cowok lain, ketika setiap harinya aku terlalu fokus memperhatikannya?  Namun, di tembak bahwa aku mencari cowok yang sepertinya juga membuatku jadi tidak nyaman. Aku pikir ia hanya bercanda, lalu maksudnya apa saat ia mengatakan bahwa serius dengan perkataannya. “Lo aneh banget sih, malem ini.” Aku tak menyahuti ucapannya, hanya bergerak untuk berdiri dan ingin buru buru kembali ke vila. “Udah yuk, balik. Rokok lo udah abis.” Aku sudah berbalik, untuk berjalan terlebih dahulu menuju motor yang terparkir di depan mini market. Tak mau lagi menanggapi ucapan Rendi yang sudah mulai kacau. Rendi hanya minum kopi kan? Bukan minuman beralkohol? Kenapa jadi bertanya hal hal aneh begitu sih? “Tiara!” Jantungku seketika berdetak semakin keras, saat mendengar Rendi memanggil namaku lengkap. Bukan memenggal ‘Ra’ seperti biasanya. Aku baru meyadari bahwa nada suaranya sudah tidak sesantai saat awal membuka pembicaraan tentang kuliah. Rendi tidak bohong, saat mengatakan bahwa ia serius. Meski aku tidak tahu, apa arti dari serius yang di ucapkannya. Aku tidak menoleh, hanya saja langkahku refleks tertahan. Aku bahkan tak berani menoleh ke arahnya, karena firasatku mengatakan bahwa moment ini bukan tidak begitu baik. “Jangan nyari pacar yang kayak gue,” katanya lagi, yang membuatku semakin tercengang. Aku masih tidak mengerti arah pembicaraan Rendi, kenapa dia bisa berpikir bahwa aku akan mencari pacar yang sepertinya? “Iya, Ren. Gak bakal kok.” Aku menyahut singkat, berusaha mengikuti ucapannya saja agar ini segera berakhir. “Jangan suka sama gue juga, Ra.” Tubuhku sepenuhnya menegang saat Rendi mengatakan demikian. Tanganku mengepal erat. Rasa dingin yang tadi aku rasakan seketika sirna, berganti dengan hawa panas yang seketika menguar dari tubuhku. Aku memberanikan diri untuk berbalik, lalu menatap ke arahnya lagi. Mulutku sudah terbuka, bersiap untuk menyahuti ucapannya tadi. Namun, tenggorokanku mendadak kering. Aku bahkan tak sanggup untuk berkata kata di tengah situasi yang tidak pernah aku duga ini. Jadi, aku hanya mengangguk pelan. Mengiyakan apa pun yang di ucapkan Rendi, agar urusan ini cepat selesai. Mataku terasa memanas, aku hanya berharap bahwa mata ini tidak berwarna kemerahan hingga Rendi dapat melihatnya dengan jelas. Meski aku tidak mengerti arah pembicaraan ini, tapi mendengar Rendi mengatakan untuk jangan menyukainya saja sudah cukup membuat hatiku sakit. Tangan Rendi kini meremat rambutnya, tampak frustrasi dengan situasi ini. “Gue mau, kita memperjelas semuanya malam ini, Ra.” 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD