= = = = = Tiara = = = = =
“Bye, Ca! Thank you yaa,” ucapku sembari melambaikan tangan saat turun dari mobil Chaca yang mengantarku pulang selepas dari salon tadi.
“Yaa, salam sama Alex. Gak mampir ya, takut abis ini kalian punya agenda sendiri kan.” Chaca membalas dengan mengedipkan sebelah matanya, seolah menjelaskan bahwa agenda yang di maksudkan dirinya jelas ke arah ‘sana’, yang tentu saja hubungan suami istri.
Aku berdecak sebal mendengar ucapan Chaca, aku selalu benci setiap kali ada orang yang membahas hal tersebut seolah becandaan. Itu kan ranah privasi yang tidak patut untuk di bicarakan, tapi hal tersebut jelas hanya terucap dalam benakku saja meski aku tidak menyukainya. Nyatanya aku hanya tersenyum masam ke arah Chaca sebagai balasan dari ucapannya barusan.
Lalu aku lihat mobil Chaca sudah melesat, menjauh dari area rumahku untuk pulang ke rumahnya. Setelah memastikan bahwa mobil tersebut tidak balik lagi untuk urusan semacam ada yang tertinggal atau apa, baru lah aku melangkahkan kaki untuk memasuki rumah.
Dapat ku lihat mobil Alex sudah terparkir di garasi, pertanda bahwa dia sudah pulang. Aku menyalakan layar ponselku untuk melihat pukul berapa sekarang, rupanya sudah jam sepuluh. Alex sama sekali tidak menghubungiku hanya untuk menyuruh nyuruh pulang, aku sangat menghargai hal tersebut karena dia juga menghargai privasi ku yang memang tidak setiap hari ini. Namun, aku juga sangat informatif dalam mengabari Alex hal hal semacam ini, seperti aku yang sedang di luar dan akan pulang jam berapa, sehingga tidak membuat Alex merasa kebingungan dengan kabar dan keberadaanku.
Aku melintasi ruang tamu saat membuka pintu utama, lalu berjalan untuk menuju kamar kami yang berada di lantai dua. Saat hendak menaiki tangga, aku melihat Alex yang tengah berkutat di dapur dengan serangkaian alat masaknya. Maka, aku pun memutuskan untuk menghampirinya sejenak sebelum naik ke kamar.
“Hey, Ra? Baru pulang?” sapanya saat melihat aku yang sedang berjalan ke arahnya, sambil sibuk mengaduk nasi goreng yang ternyata sedang di masaknya itu.
Aku mengangguk pelan, lalu melihat pada masakan Alex itu. “Sini, aku aja.” Kataku seraya mengisaratkan akan mengambil alih pekerjaannya itu, dengan meminta Alex untuk menyerahkan spatula yang tengah di pegangnya.
“Gak usah, Sayang. Kamu baru pulang, istirahat aja. Ini aku iseng aja liat telor di kulkas, mending dibikin nasi goreng kan.” Alex enggan menyerahkan spatulanya kepadaku.
Aku masih tetap memaksa, karena merasa tak enak, Alex yang harus bersusah payah untuk makan malam karena tadi aku keluar dan pulang terlalu malam.
“Gak papa, aku aja. Kamu tolong taroin tas aku ya ini.” Aku menyerahkan tas dan beberapa barang belanjaanku pada Alex, memintanya untuk membawanya ke kamar kami, agar aku bisa menyelesaikan pekerjaannya ini.
Alex akhirnya menurut dan membiarkan aku mengambil alih pekerjaannya. Lelaki itu segera mengangkut barang barang yang tadi aku bawa ke dalam kamar, lalu aku pun fokus menyelesaikan masakan nasi gorengnya ini. Sesuai dengan perkataannya tadi yang melihat telur di dalam kulkas, nasi goreng ini memang hanya menggunakan telur. Padahal di kulkas juga ada sosis, nuget, dan masih banyak lagi.
Aku pun mengambil makanan frozen tersebut, untuk membuat nasi goreng ini menjadi semakin ramai. Aku ambil dua buah sosis, tiga buah bakso ikan, serta satu potong chicken wings yang memang ada di freezer. Tak lupa aku mematikan api kompor sejenak, untuk mengiris bahan bahan makanan tambahan ini. Nasi gorengnya juga sudah cukup matang, dan hanya tinggal di tambahkan topping saja. Sehingga aku tidak perlu memasaknya lebih lama lagi.
Setelah selesai memotong sosis dan teman temannya, aku pun mengambil wajan baru untuk menggoreng sosis dan teman temannya ini. Aku menuangkan minyak ke dalam wajan tersebut, beberapa menit menunggu minyak panas, maka aku pun menuangkan bahan bahan yang mau aku goreng itu ke dalam wajan yang minyaknya sudah panas.
Saat tengah menggoreng sosis, aku dapat melihat Alex yang sudah menuruni tangga lagi, setelah selesai meletakkan barang barangku ke dalam kamar. Ia pun berjalan ke dapur lagi untuk melihat masakanku yang semakin ramai ini, dan ia tampak kebingungan mengapa makanannya jadi bertambah sebanyak ini.
“Kok jadi banyak sosis dan lain lain gini?” tanya Alex, yang memang merasa hanya memakai satu buah telur saat tadi menggoreng nasi goreng, ia berdiri di sebelahku untuk melihat aku memasak.
Alex tidak akan tiba tiba memelukku dari belakang selagi aku memasak, ia memang pernah melakukan hal itu, tapi aku segera mengecamnya dan mengatakan bahwa aku tidak menyukainya. Hal tersebut jelas membahayakan, aku sedang berurusan dengan api kompor dan minyak panas, lalu tiba tiba ada seseorang yang memelukku dari belakang secara mengejutkan, dan hal tersebut juga membuatku sedikit geli karena sentuhannya yang jelas jelas akan intens. Aku tidak mau fokusku terganggu dan membahayakan kami berdua, bisa bisa nanti terjadi kegagalan dalam memasak dan membuat hal hal yang tidak di inginkan terjadi.
Maka, Alex tidak pernah melakukan hal itu lagi, dan memilih untuk berdiri saja di sebelahku tanpa melakukan apa pun selain bertanya. Itu jelas lebih baik ketimbang hal yang di lakukannya dulu yang akan membahayakan rumah kami dan seluruh benda yang ada di dalamnya, meski rumah ini di cover asuransi, aku jelas tidak mau mengalami musibah kebakaran karena bermesraan saat memasak. Oke, hal lainnya karena aku memang tidak suka bermesraan seperti itu, menurutku hal tersebut jelas tidak berguna.
“Iya, biar kamu gak makan telur doang. Ini kan juga ada di freezer, akhir bulan kemarin aku beli buat dimasak kalo lagi pengen ngemil.” Aku menjawab seraya mengangkat sosis, nugget, dan yang lainnya ke dalam piring yang sudah di berikan okeh Alex. Lalu aku mencampurkannya ke dalam nasi goreng tadi agar dapat menyatu.
Alex pun duduk terlebih dahulu di meja makan selagi aku mempersiapkan nasi goreng yang sudah matang ini. Alex sangat koperatif dalam kegiatan rumah tangga, dia bukan tipikal aku yang harus melakukan semuanya. Seperti saat makan begini, aku selalu di beritahu oleh orang tuaku bahwa seorang istri harus menyediakan segala sesuatunya saat suami akan makan, dan melayani dengan sungguh sungguh. Tapi dengan Alex, kami seolah bisa mengerjakannya bersama.
Seperti saat ini contohnya, aku yang tengah menuangkan nasi goreng dari wajan ke piring sambil merapikan bekas masak tadi yang masih berantakan. Dari mulai talenan, perabotan yang kotor dan harus di masukan ke westafel cuci piring, dan hal hal lainnya. Maka Alex akan mengambil piring sendiri untuk makannya, juga peralatan makan lain yang di butuhkannya, tanpa menunggu aku yang harus mengambil.
Dalam hal ini, aku cukup bersyukur menikah dengan Alex. Meski terkadang banyak membuatku kesal, tapi ya memang tak jarang juga Alex melakukan banyak hal yang aku butuhkan. Jadi, untuk yang bertanya apa saja pertimbanganku saat memutuskan setuju menikah dengan Alex, mungkin ini adalah salah satunya, mungkin tanpa perasaan apa pun itu, aku bisa bertahan dengannya sampai kapan pun. Sebab dia menghadapiku dengan penuh kesabaran, meski ada berbagai penolakan yang pernah aku lontarkan untuknya selagi kita pacaran dulu.
“Gimana tadi? Seru?” tanya Alex saat aku sudah duduk di meja makan, menemani dirinya makan malam. Meski aku tadi sudah menyuruh agar Alex makan di luar atau beli makan di luar, nyatanya lelaki ini tetap memaksa untuk masak seperti ini. Mungkin ia lebih puas jika makan masakan sendiri.
Aku sendiri tidak ikut makan karena memang sudah makan tadi bersama Chaca, aku hanya sesekali meminta sosis atau irisian ayam yang ada di nasi goreng, yang di suapkan oleh Alex karena aku enggan mengambil sendok lagi.
Aku mengangkat bahu seraya menjawab pertanyaan Alex sebelumnya. “Yaa, gitu aja, ke salon doang buat creambath. Terus makan.” Aku menjawab seperlunya, sebab memang hanya itu yang tadi aku lakukan bersama Chaca. Aku jelas tidak mungkin bercerita perihal kami membicarakan Rendi yang tiba tiba kembali dan membuat hariku menjadi merana dan sakit kepala. Alex bahkan tidak mengenal Rendi, meski ia mengenal nyaris seluruh teman temanku, tapi ya jelas hanya yang sering bertemu saja. Masalahnya, setiap kali Rendi berlibur ke Jakarta dan berkumpul dengan anak anak, aku ya jelas lebih memilih absen ketimbang bertemu dengan Rendi. Jadi, Alex pun memang belum pernah bertemu dengan Rendi selain tadi siang. Itu pun Alex tidak begitu memperhatikan.
“Enggak sama Lila?” tanyanya lagi, yang memang mengetahui biasanya kami selalu main bertiga jika untuk keperluan keperluan cewek.
Aku menggeleng kali ini, menyahuti ucapannya. “Lila lembur, lagi lapor SPT katanya.” Aku lagi lagi menjawab seadanya. Tiba tiba aku teringat akan parfum yang tadi aku beli untuk Alex saat tengah berjalan jalan. Maka aku pun membahas hal itu. “Aku beliin kamu parfum, yang kamu pake itu kayaknya udah mau habis pas aku lagi beres beres kamar.” Ucapku memberitahu hal tersebut agar Alex tidak perlu membeli parfum lagi karena merasa parfum miliknya yang sudah habis, karena aku sudah membelikan untuknya .
Alex tersenyum pelan menanggapinya. Ia tampak senang mendengar hal tersebut, meski menurutku hal tersebut merupakab biasa saja. Alex juga sering membelikan barang barang keperluanku, jadi aku pun membelikan barang barang yang di butuhkannya tanpa ragu. Namun, bagi beberapa orang, rasanya hal tersebut cukup bermakna. Mungkin hal tersebut juga yang di rasakan Alex, mengingat sifatku yang cenderung tidka peduli dan lebih sering marah terhadapnya.
Yaa, aku juga kan masih punya hati dan perasaan, gak mungkin marah setiap waktu. Ada waktu di mana komunikasi kami bisa berjalan dengan baik, interaksi kami pun bisa baik baik saja asal jangan ada pemantik atau pancingan pancingan yang membuat emosiku naik. Terlebih saat Alex tidak melakukan hal hal aneh yang membuatku kesal, pasti kami bisa terlihat layaknya pasutri muda pada umumnya yang tengah di mabuk asmara. Meski nyatanya aku sama sekali tidak di mabuk apa apa. Ralat, aku bahkan tidak mabuk sama sekali.
“Makasih ya,” ucapnya seraya berterima kasih perihal aku membelikannya parfum itu.
Aku hanya mengangguk pelan. “Aku ke kamar duluan ya, mau cuci muka.” Aku berdiri dari bangku di meja makan ini, untuk mencuci muka karena memang aku yang baru datang tadi dan belum sempat mengganti baju atau membersihkan wajah juga.
Alex menyahutinya dengan mengangguk pelan, tanpa banyak protes karena aku tinggal saat ia sedang makan.