Aku pun melangkah menuju kamar kami yang ada di lantai dua. Rumah yang kami tempati saat ini juga tidak tergolong mewah – karena aku sebenarnya yang tidak ingin menempati rumah terlampau besar padahal hanya di huni dua orang – yaa kalau pun kami memiliki anak juga kan tidak langsung banyak dan besar besar. Setidaknya dua atau tiga kamar pun cukup, tanpa perlu ada banyak ruangan yang tidak berguna.
Aku jelas masih percaya jika rumah besar besar tapi tidak banyak penghuninya nanti bisa di huni makhluk lain.
Aku segera bergegas menuju kamar mandi, untuk membasuh wajahku yang kini pasti tampak kuyu. Aku memutuskan tidak akan mandi malam ini, badanku tidak terasa lengket sama sekali, terlebih rambutku juga baru habis di cream bath, jadi untuk apa mandi segala. Terlebih jika nanti kami akan melakukan hubungan suami istri, yang mana akan membuatku mandi subuh subuh buta. Lebih baik mandi nanti saja kan.
Aroma tubuhku bisa di samarkan dengan menyemprot berbagai macam parfum yang aku miliki, aku juga bisa menggunakan body mist dan lotion lotion lainnya agar membuat Alex tampak nyaman.
Mungkin terdengar seolah aku yang sedang ingin melakukannya malam ini. Bukan begitu, aku memang baru selesai datang bulan, Alex sudah berpuasa selama seminggu kemarin. Aku juga bukan manusia suci yang tidak memiliki hawa nafsu, perasaan dan kegiatan biologis tentu saja beda. Aku secara naluriah juga membutuhkannya kok.
Kucuran air di westafel berpindah ke wajahku, rasanya segar sekali saat merasakan air dingin tersebut membasah wajahku. Lalu tanganku mengambil sebuah facial wash yang terdapat di wadah yang tersedia di kamar mandi kamar ini, segera aku tuangkan facial wash tersebut ke tanganku, untuk segera aku gosokkan di kedua tangannya, lalu melumurinya ke wajahku ini.
Mataku terpejam saat sabun tersebut menempel di wajahku, lalu aku mengusapnya secara perlahan. Sesekali mataku terbuka, untuk melihat cermin di hadapanku yang menapilkan diriku sendiri tengah memakai sabun muka ini. Aku meratakan ke tempat tempat yang belum terjangkau, lalu memijat secara perlahan agar merata dan meresap ke dalam kulitku. Setelah menunggu beberapa menit, sesuai dengan anjuran yang ada di belakang botol facial wash tersebut, aku pun membasuh wajah yang di penuhi sabun ini dengan air yang keluar dari keran di westafel.
Rasanya wajahku yang beberapa saat lalu tampak lengket karena sisa sisa make up, kini terasa lebih segar karena telah membilasnya dengan facial wash tadi. Sebelumnya aku juga sudah menggunakan micellar water untuk mengangkat sisa sisa make up ku dan membersihkan secara double.
Setelah membasuh wajah, tangan ku pun bergerak untuk menggapai sikat gigi. Selain wajah yang lengket, tentu saja mulutku ini perlu juga di cuci karena sudah makan berbagai jenis makanan yang mana pasti akan ada makanan yang tersisa. Serta napasku juga pasti terasa tidak enak saat ini, aku tidak mau hawa napasku tercium mengenaskan di depan Alex. Aku harus tetap rapih dan wangi meski akan tidur.
Setelah melakukan serangkaian kegiatan membersihkan wajah dan juga mulut, akhirnya aku keluar dari kamar mandi, ku lihat Alex yang sudah berada di kamar yang mana ia sudah selesai makan malam dengan nasi goreng tadi. Lelaki itu kini tengah bersandar pada belakang tempat tidur kami, sambil membuka ponselnya yang sepertinya tengah mengecek beberapa pesan masuk yang terlewat selagi ia makan tadi.
“Kamu udah mandi?” tanyaku seraya berjalan menuju tempat tidur, untuk ikut berbaring di sana.
Alex menoleh, mengalihkan perhatian dari ponselnya itu untuk menatap ke arahku. Ia pun meletakan ponselnya pada meja yang terdapat di samping tempat tidur, lalu bergerak untuk mendekatiku.
“Udah, tadi pas pulang kerja,” jawabnya.
Aku bisa melihat pakaiannya yang memang sudah lebih santai, bukan menggunakan kemeja kerja seperti pakaian ngantornya itu.
Alex memeluk tubuhku, lalu menenggelamkan kepalanya di area bahu lalu menelisik ke tengkukku. Aku mendesis pelan saat merasakan hidung dan bibirnya yang bersentuhan dengan kulitku.
“I love your smell,” puji Alex, ketika hidungnya terus mengendus aroma tubuhku. Gak tau aja kalo aku belum mandi, dan hanya menyemprotkan sekian banyak wewangian yang untungnya ada di kamar mandi.
Tentu saja aku tidak perlu mengatakan bahwa aku belum mandi, karena gak penting juga. Kenapa Alex harus tahu jadwal mandiku. Lagi pula, aktivitas ini tidak akan terganggu hanya karena aku yang belum mandi, sebab wangi ku jelas tidak mengganggu sama sekali.
Tangan Alex terus bergerak untuk menurunkan bagian tangan piyamaku yang hanya berbentuk tali. Tidak sulit untuk menurunkan piyama yang sedang ku kenakan ini, yang memang di design untuk pasangan agar dapat dengan mudah membukanya.
Alex sudah memposisikan dirinya untuk berada di atasku, lalu memajukan wajahnya untuk mendekat dengan wajahku. Tangannya meraih wajahku dengan lembut, hingga memagut bibirku dengan hati hati.
Untuk hari k*****t yang membuatku terasa tersiksa karena kehadiran Rendi secara tiba tiba, rasanya aku ingin melepaskan seluruh hasrat malam ini bersama Alex. Demi melupakan serentetan kejadian yang membuatku terasa ingin menceburkan diri saja ke kolam. Biarkan emosi ini bisa hangus dibakar gairah. Agar setidaknya aku dapat melupakan kepenatan yang terjadi seharian ini meski hanya sejenak.
* * * * * * * * * * * * K I S A H Y A N G T E R L A M B A T * * * * * * * * * * * *
= = = = = Alex = = = = =
Sinar matahari pagi menyelusup masuk melalui celah jendela kamar kami yang berada di lantai dua. Lembutnya sinar matahari pagi itu tetap terasa menyilaukan, karena cahaya sebelumnya yang tampak redup, tiba tiba menjadi silau karena sinar tersebut. Cahay aterang itu seolah menandai bahwa hari sudah pagi, sehingga aku harus kembali membuka mata dan tidak bisa menikmati tidur nyenyak lagi.
Aku menggeliat sebentar, untuk merilekskan tubuhku yang baru bangun tidur. Mataku perlahan lahan mengerjap, hingga akhirnya terbuka sebagian. Lamat lamat, aku berusaha untuk membiasakan diri dengan cahaya matahari yang sedikit membuatku silau. Hingga perlahan akhirnya aku mulai terbiasa dan mataku bisa terbuka dengan sempurna.
Aku menoleh ke samping, lalu melihat istriku yang masih memejamkan mata. Kepalanya tampak bersandar di dadaku yang masih tidak menggunakan atasan, sama juga sepertinya. Tubuh kami berdua di pagi hari ini masih polos, mengingat semalam kami langsung tertidur setelah permainan panas yang terasa luar biasa, hingga tak sempat untuk memakai pakaian barang pakaian dalam.
Tangan Tiara memeluk pinggangku, selintas terlihat seperti posesif. Tangan itu melingkar dengan erat, seolah enggan untuk di lepas, memelukku selama semalaman penuh selagi sosok itu terhanyut dalam dunia mimpinya. Namun, Tiara jelas memelukku dalam keadaan sadar, saat dirinya sudah kelelahan dan mengantuk, yang mana segera tergeletak dan bersandar di dadaku. Seolah tempat tersebut menjadi tempat ternyaman yang pernah ada.
Aku menyukai setiap kali Tiara memelukku seperti ini, aku menyukai malam malam panas yang mengisi waktu malam kami, sebagai media komunikasi tubuh kami yang saling mendamba satu sama lain.
Tiara juga tidak sungkan untuk bertindak aktif dalam setiap permainan kami. Aku menyukainya mulutnya yang sering kali meracau dalam percintaan yang kami lakukan, mulut yang terus mengeluarkan suara lenguhan diiringi dengan menyebut namaku dalam dalam. Tubuhnya yang merespon aktif, bergerak sedemikian erots, hingga membuatku semakin terpacu untuk menekan tubuhku lebih dalam lagi.
Berbagai gaya bisa kami coba dalam semalam, jika bosan, Tiara bisa naik ke atas tubuhku untuk memimpin permainan. Aku selalu suka setiap kali melihatnya bertindak aktifi sedemikian rupa, yang semakin memberikannya kesan eksotis yang luar biasa. Tiaraku yang cantik dan manis itu, begitu memesona saat tengah terbakar gairh.
Aku tidak menggerakkan tubuhku, membiarkan Tiara masih terus memelukku dengan nyaman, tadi aku sudah sempat melirik pada jam beker yang terdapat di nakas samping tempat tidur. Waktu masih menunjukan pukul enam pagi, yang artinya masih banyak waktu sampai kami harus berangkat kerja, aku jelas lebih memilih untuk menikmati pagi hari dalam pelukan istriku tercinta, di banding harus buru buru berangkat ke kantor. Lagi pula jam masuk di kantorku cukup fleksibel, untuk aku sih khususnya.
Namun sayangnya tidak dengan jam kantor Tiara, seandainya saja Tiara mau untuk bekerja di kantor Papa bersamaku. Mungkin kita bisa berangkat ke kantor jam dua belas siang, dan bisa beralasan sedang berusaha untuk memproduksi cucu bagi bos besar yang merupakan ayahku sendiri. Papa pasti akan memahaminya dan tidak akan mengomeli kami, sebab ia juga sangat menginginkan cucu dari pernikahannya ini.
Aku merasakan tubuh Tiara bergerak, menandakan bahwa wanita itu sudah mulai terbangun dari tidurnya. Namun, gerakan tersebut hanya beberapa saat, sebab berikutnya Tiara masih tampak nyaman untuk bersandar di dadaku sambil terus memelukku.
Sambil menunggu jam berangkat kerja, aku pun memilih untuk balas memeluk istirku ini. Sambil menenggalamkan indera penciumanku untuk menelusuri rambutnya yang semalam habis di cream bath dan sampai detik ini masih terasa wangi dan lembut. Aku menyukai tenggelam di sana, sambil terus terusan mencium kening Tiara ini. Sebab dalam keadaan sadar, wanita itu pasti menolak keras, karena menganggap hal tersebut norak dan memalukan. Demi mewujudkan hal yang tidak bisa terjadi saat kondisi Tiara sepenuhnya sadar itu, maka aku mencuri curi kesempatan di saat saat seperti ini. Menghirup aroma shampoo Tiara dengan sepuas puasnya, sebelum wanita itu bangun lagi dan berkutik seharian dengan aktivitas di kantornya.
“Jam berapa, Sayang?”
Suara Tiara terdengar serak, diiringi dengan lenguhan napasnya yang terasa hangat di dadaku. Wanita itu rupanya sudah bangun, tapi memilih untuk tetap memejamkan matanya dengan posisi yang tak berubah, masih tetap memelukku.
Aku tersenyum pelan menanggapinya, lalu mengusap lembut puncak kepalanya. “Masih jam enam. Nanti aku bangunin kalo udah jam tujuh.” Sahutku yang sudah menghafal jam bangun Tiara, sehingga bisa mengatakan hal demikian.
Tiara tak lagi menyahut, ia memilih untuk melanjutkan tidurnya. Dapat aku rasakan kakinya yang bergerak untuk menelusup di antara celah kakiku, sementara tangannya semakin mengeratkan pelukan pada pinggangku. Rasanya aku tak ingin beranjak dari tempat tidur, semata hanya untuk menghabiskan waktu seharian meski hanya sekadar dalam posisi seperti ini. Menikmati aroma tubuh Tiara yang begitu khas di indera penciumanku, merasakan kulit polosnya yang terus bersentuhan dengan kulitku, membuat dadaku masih terasa seperti di sengat lebah.