Saat keluar dari toilet, suasana di acara ini sudah ramai. Aku melihat ke arah panggung yang mana sedang menampilkan sosok si calon pewaris itu dengan pembawa acara. Aku tidak tahu apa yang akan mereka lakukan hingga kini seluruh audience mengarah pada mereka. Kasak kusuk pun turut mewarnai para tamu undangan yang menghadiri acara tersebut. Aku yang baru dari toilet seolah ketinggalan berita tentang acara yang tengah berlangsung hari ini.
Aku pun melanjutkan langkah menuju meja tadi, tempat Rendi duduk. Meski sebenarnya aku tidak terlalu menyukai duduk di sana, tapi aku tetap harus kembali ke sana. Setidaknya hingga acara ini selesai, aku akan mengibarkan bendera putih untuk urusanku dengan Rendi yang tidak akan pernah tuntas itu.
“Jadi, kamu mau ngelamar pacar kamu malam ini?” tanya si pembawa acara.
Aku turut menoleh ke panggung. Oh, rupanya acara ini sudah berubah menjadi acara sok romantis di mana si peran utama akan melamar sang kekasih dengan di saksikan banyaknya orang. Aku heran kenapa masih banyak orang yang menganggap hal itu romantis, padahal bagiku itu terlalu memalukan.
Kenapa mereka harus mengumbar perasaan dan pernyataan yang sifatnya pribadi itu di depan umum sih? Dan kenapa selalu banyak yang tertarik dengan hal hal seperti itu. Aku sama sekali tidak menyukainya. Alex pernah nyaris melakukan hal tersebut saat ingin meminta maaf padaku, bukan maaf yang aku berikan terhadapnya, justru aku malah semakin kesal karena menilai hal tersebut terlalu norak!
“Iya.” Delva menyahut seraya tersenyum malu malu.
“Mari kita panggil pacarnya Delva ke panggung ya.” Si pembawa acara berkata lagi, semakin membuat para undangan penasaran dengan sosok pacar Delva yang akan di lamar itu.
Sorak sorai dari penonton memenuhi ruangan ini, hingga aku berpikir tempat ini bukan lagi seperti acara pertemuan bisnis, melainkan acara take me out yang dulu pernah tayang di tv nasional. Norak sekali. Apa pengaruhnya acara ini terhadap hubungan antar perusahaan yang di hadiri oleh banyak perwakilan perusahaan ini?
“No, aku aja yang jalan ke dia.” Delva dengan sok gentle, agar terlihat seperti itu, memotong ucapan sang pembawa acara.
Hal tersebut kontan membuat para tamu unadngan semakin gemas dengan sikap Delva, terlebih ekspresi wajahnya yang kini malu malu.
Sementara aku kini kebingungan mencari meja yang tadi kami tempati, sudah berkali kali berputar tapi tidak ketemu juga.
Aku pun berusaha menelpon Rendi untuk mencari keberadaan lelaki itu. Di tengah keramaian acara ini, pasti Rendi tak mampu mendengar suara ponselnya atau pun merasakan benda itu bergetar. Aku mendesah pasrah, mungkin selekas acara lamaran ini acara bisa kembali kondusif.
Hingga kemudian mataku menangkap sosok lelaki itu tengah berjalan cepat, seperti mencari sesuatu. Maka aku pun turut mengikutinya meski tidak tahu apa yang tengah di lakukan Rendi.
Aku melirik ke panggung, lampu di ruangan ini perlahan meredup. Hanya terdapat dua lampu sorot yang tampak mengiringi Delva dengan sang pacar yang entah ada di mana itu. Aku semakin mendengus, sial acara ini semakin aneh saja. Harusnya aku buru buru pulang tadi, siapa juga yang mau menyaksikan prosesi lamaran si pewaris tahta ini, seolah tidak ada hal lain yang lebih penting saja untuk di lakukan. Dalam keadaan yang redup begini aku semakin kesulitan untuk mencari keberadaan Rendi.
“Nadin...” suara Delva seketika membuatku menoleh pada sosok lelaki itu. Mataku seketika mencari sorot lampu lainnya, yang mana jalan menuju sosok wanita yang tengah di tuju Delva itu kini tampak lenggang. “Nadin Arita, kita udah melalui masa masa yang panjang untuk bisa sampai di sini. Aku mengagumi semua yang ada sama kamu. Hari hari yang kita lalui bersama, aku juga sangat menikmatinya. Let’s get married.”
Mataku membola menyaksikan proses lamaran tersebut, langkah kakiku sudah terhenti sejak Delva menyebutkan satu nama yang aku kenal. Seketika aku teringat akan kejadian di toilet tadi, aku tidak salah lihat. Itu benar Nadin, yang ternyata kini tengah menjadi pusat perhatian lantaran sedang di lamar oleh sang bintang utama malam ini.
Kejadian yang tengah berlangsung yang mana tertangkap oleh pandanganku itu perlahan mengabur. Aku seketika menelusuri setiap sudut tempat ini untuk mencari sosok Rendi yang kemungkinan besar tadi sedang mengejar Nadin. Apakah ia melihat semua ini? Astaga, bagaimana perasaan Rendi? Bagaimana bisa kekasihnya ternyata sedang di lamar orang lain?
Aku berjalan tergesa, berusaha mencari Rendi. Sepanjang jalan aku merutuki pencahayaan yang meredup ini, yang membuat penglihatanku sedikit sulit untuk mencari keberadaan lelaki itu. Ya ampun, kenapa aku harus turut menyaksikan kejadian malam ini? Apakah Rendi sudah tahu tentang hal ini sebelumnya? Bagaimana kondisi Rendi saat ini?
“Ren-“
Aku berhasil menemukannya, sosok itu kini tengah berdiri mematung menatap sang objek utama yang tengah di sorot malam ini. Rendi tak bergerak sama sekali, tatapannya kosong.
Dalam tatapan tersebut, terpancar aura terkejut bercampur kecewa yang terlihat begitu jelas. Ekspresi wajar Rendi kini tampak mengenaskan, wajah itu kini terlihat memucat saking shocknya dengan kejadian yang tengah ia saksikan itu.
“Rendi ...” panggilku secara lengkap, tapi ternyata lelaki itu tak mendengarnya.
Aku pun berjalan mendekat, agar Rendi bisa mengetahui keberadaanku.
Tangan Rendi kini terkepal erat, seolah menahan seluruh emosinya di sana. Ia pasti ingin memberontak, tapi sadar akan posisinya di tempat ini yang mana hanya akan menghancurkan segalanya. Rendi tampak berusaha mati matian menahan emosinya agar tidak terlepas, hingga yang terjadi justru malah rahangnya yang tampak mengeras, menjadi tumpuan segala emosi yang ia rasakan.
Wajah Rendi semakin mengeras, bahunya tampak naik turun mengatur emosi yang ia rasakan saat ini. Kedua tangannya masih terkepal, hingga lelaki itu tampak melangkah untuk menuju pada sepasang manusia yang menjadi sorotan acara malam ini.
Apa yang akan dilakukan Rendi? Jika melihat ekspresinya, bukan tidak mungkin jika lelaki itu akan membuat acara ini kacau dan di seret ke pos security, atau bahkan sampai di jebloskan ke penjara jika Rendi sampai menghajar Delva.
Maka, aku pun mempercepat langkahku, nyaris berlari. Hingga kemudian aku menarik pergelangan tangannya hingga membuat Rendi berbalik ke arahku.
“Ren, jangan...” ucapku, dengan ekspresi yang berusaha untuk menenangkannya, meski aku dapat merasakan urat urat tangannya yang kini keluar karena amarah yang menumpuk pada diri Rendi.
Napas Rendi tampak tak beraturan. Matanya memerah, rahangnya semakin mengeras.
Rendi menggeleng pelan. “Gak bisa, Ra. Dia ... itu Nadin, Ra! Kenapa Nadin di lamar orang lain? Kita ... yang harusnya nikah. Gue sama Nadin, kenapa dia?” Suara Rendi terdengar serak, dengan ekspresi wajahnya yang semakin menyedihkan.
Aku yang tak tahan, akhirnya menarik lelaki itu ke dalam pelukanku. Aku tidak tahu apa yang sedang aku lakukan saat ini, mengapa aku harus memeluk sosok yang tengah patah hati karena di khianati kekasihnya, padahal dulu ia menyakiti aku demi bersama kekasihnya.
Namun, aku tak bisa diam saja melihat sosok Rendi yang kini tampak hancur karena seluruh harapnya seolah hilang tak bersisa.
Rendi tak mengelak pelukanku. Kepala lelaki itu kini tenggelam di bahuku, hingga aku mendengar suara isak tangis di sertai getar tubuhnya yang kini berada dalam pelukanku. Isakan pelan itu kini berubah menjadi lebih kencang dan sesak.
Rendi menangis. Bahunya berguncang semakin hebat.
Tepuk tangan semakin riuh saat suara Nadin terdengar memberikan jawaban atas pernyataan Delva, sementara aku memeluk Rendi semakin kuat agar ia tak melepaskan diri dariku lalu berlari mengacaukan acara ini.
Aku sendiri turut menangis. Menangisi perasaanku yang begini menyedihkan, yang mana malah harus memeluk sosok yang aku cintai justru tengah menangis wanita lain. Sosok yang aku hindari mati matian, yang mana seharusnya aku berbahagia saat menyaksikannya hancur karena wanita yang sejak awal sudah terlihat jelas tidak pernah baik tapi selalu Rendi pertahankan, justru kini malah menyambutnya dan berusaha menenangkannya.
Aku pasti sudah gila.
Tapi aku tak ingin melihat hidup Rendi jadi berantakan hanya karena sosok wanita itu. Aku lebih ngeri membayangkan, jika Rendi berhasil menarik Nadin ke dalam genggamannya lagi, bukan melepaskan, Rendi justru malah akan memaafkan Nadin yang akan beralasan tentang hal ini.
Kejadian ini begitu fatal. Tidak seharusnya Rendi memaafkan wanita itu. Bahkan meski Rendi tidak akan berakhir bersamaku, setidaknya aku ingin ia juga bersama wanita yang lebih baik dan lebih mampu menghargainya.
Aku tersenyum getir membayangkan hal tersebut. Bahkan dalam lubuk hatiku yang terdalam, aku masih mengharapkan bahwa sosok itu adalah aku. Yang mana itu pun tidak mungkin dan terlalu tidak masuk akal. Aku sudah menikah, hal itu terlalu gila untuk di bayangkan. Bahkan meski Rendi kelak tak bersama lagi dengan Nadin, aku tetap tidak bisa apa apa. Dan memang apa yang akan aku lakukan? Bukan kah lelaki ini telah menolak ku dengan telak dan tak terbantahkan?
“Wah, manis sekali! Selamat Delva, lamarannya sudah di terima oleh sang kekasih. Kita akan menunggu yaa pesta pertunangannya, jangan lupa untuk MC nya bisa pakai saya lagi ya.” Sang pembawa acara kini meringkas hal yang baru saja terjadi, seolah memperjelas kembali yang mana bisa tertangkap oleh pendengaran Rendi.
Suasana kembali riuh, di iringi tepuk tangan yang ramai oleh para tamu undangan. Jadi, kami berkumpul di acara ini hanya untuk menyaksikan aksi lamaran yang di langsungkan oleh si pewaris tahta ini dengan Nadin. Otak ku bahkan tidak sampai, Delva menyebut Nadin kekasihnya. Lalu selama ini Rendi menjadi apa?
Di lihat dari ekpresi Rendi, terlihat sekali cowok itu terkejut yang mana berarti Rendi pun baru mengetahuinya malam ini. Berengsek, ternyata Nadin selama ini selingkuh? Belasan tahun berpacaran dengan Rendi, wanita itu malah menerima pinangan dari lelaki lain. Aku sungguh tidak habis pikir dengan jalan pikirannya. Seharusnya dari dulu Rendi menyadari bahwa wanita itu serupa ular yang berbisa dan mematikan. Yang mana perlahan lahan akan membunuh siapa pun yang berada di dekatnya.
Perlahan, Rendi melepaskan pelukannya seiring dengan tepuk tangan dan riuh tamu undangan mulai mereda. Lelaki itu kini menunduk dan tampak mengatur napasnya, tanpa mengatakan apa apa, Rendi pun melangkah untuk meninggalkan tempat ini. Di tinggalkannya aku sendirian, yang padahal beberapa detik lalu menjadi tempat tumpuannya.
Aku pun mengikuti langkah Rendi yang tampak tergesa. Tentu saja ia tidak kuat bertahan lama lama di tempat ini, yang sedang merayakan suka cita atas prosesi lamaran sang pewaris tahta itu. Yang ternyata tunangannya malah bersama Nadin, kekasih Rendi sejak sebelas tahun yang lalu. Aku tau ini terlalu gila untuk di pikirkan, apa lagi di saksikan secara langsung. Rendi sudah pasti kacau sekali.
“Lo mau balik sekarang?” tanyaku seraya berjalan mensejajari langkah Rendi.
Rendi tak menoleh, ia hanya terus berjalan cepat.
“Lo jadi di jemput suami lo, kan?” Rendi balas bertanya, dengan suara yang masih serak.
Aku gelagapan, aku saja belum mengirim pesan apa pun pada Alex terkait meminta di jemput setelah pulang dari acara ini. “Oh, ah .. iya, jadi sih.” Jawabku yang terdengar kebingungan karena belum meminta Alex untuk menjemput.
“Oke.” Rendi menjawab dengan lega.
Kini kami sudah keluar dari gedung tempat berlangsungnya acara tadi, dan mulai melangkah menuju parkiran. Yang mana aku masih terus mengikuti Rendi.
Rendi kini menoleh ke arahku, seolah menyadari aksiku yang malah mengikutinya, yang mana seharusnya aku menunggu di lobby untuk di jemput Alex.
“Tiara,” panggilnya.
Aku pun terkesiap, dan segera menoleh pada lelaki itu. “Ya?”
Langkah Rendi sudah terhenti, padahal ia belum tiba di tempat mobilnya terparkir. Lelaki itu kini menatapku. “Thanks.”
Aku tertegun mendengar ucapan itu. Rendi tidak banyak bicara, karena suasana hatinya yang memang sedang tidak baik.
“Sori, gue gak nganter lo balik. Gak usah ikutin gue lagi, Ra. Lobby udah kelewat tadi. Sekali lagi, thanks ya.”
Sialan! Ternyata Rendi menyadarinya. Aku pun hanya mendengus pelan sekaligus berdecak.
Tanpa menunggu balasan dariku, Rendi sudah melangkah lagi, yang mana kini benar benar meninggalkanku. Aku tidak mungkin mengikutinya lagi karena sudah di tegur seperti itu. Sehingga yang aku lakukan kini adalah masih terdiam saja di tempat tadi, sambil menggerutu sendiri.
Namun, mataku kini mengikuti kepergian Rendi yang tampak melangkah dengan gontai. Rendi bahkan menendang beberapa benda yang menghalangi langkahnya. Lelaki itu tidak baik baik saja, apakah Rendi benar benar akan langsung pulang ke rumah dalam kondisi seperti ini?
Kemungkinan besar Rendi tidak akan langsung pulang, ia pasti butuh untuk melepas penat akibat kejadian malam ini. Aku yang khawatir dengan kondisinya, justru malah memutuskan untuk tetap mengikuti Rendi. Tapi aku tidak mungkin mengikutinya dengan berjalan kaki, maka aku memutuskan untuk buru buru keluar dari parkiran dan menunggu mobil Rendi melintas, lalu aku akan mengikutinya dengan taksi.
Aku pun berlari untuk keluar dan mencari taksi.
Malam ini saja, aku akan mengesampingkan perasaanku yang masih sakit hati karena perbuatan Rendi dulu. Melihat lelaki itu hancur ternyata tidak se membahagiakan yang selama ini aku pikirkan. Ternyata, aku justru malah iba dan khawatir saat melihat kondisinya saat ini. Alih alih tertawa paling keras, aku malah ikut menangis bersamanya. Terkadang apa yang aku harapkan dan aku pikirkan ternyata tidak sesuai dengan kenyataan.
Aku tersenyum getir memikirkannya. Rasa kesalku ternyata tidak menuntut untuk menginginkan Rendi menderita dan sakit hati juga. Aku hanya ... tidak bisa menerima kenyataan bahwa aku di tolak dan di anggap salah. Aku hanya ... sakit hati karena Rendi tidak pernah menginginkanku. Namun, ternyata aku tidak ingin melihatnya terluka juga. Mungkin jika aku pergi ke psikolog, aku akan di diagnosa memiliki kelainan kejiwaan karena masalah perasaan yang pelik begini.
***