= = = = = = = = = = Tiara = = = = = = = = = =
Sekitar satu jam aku dan Rendi berpisah dengan melakukan aktivitas masing masing. Aku yang memilih untuk mengunjungi beberapa tenant yang berada di dalam mall, sementara Rendi sepertinya hanya duduk di coffe shop yang berada tak jauh dari tempat berlangsungnya acara, kami pun kembali bertemu di lobby hotel yang menjadi tempat berlangsungnya acara perusahaan klien kami ini.
Kami berjalan beriringan, Rendi menyerahkan undangan pada security yang bertugas memeriksa tamu undangan. Setelah nama kami di verifikasi sebagai tamu undangan yang berhak menghadiri acara di dalam, kami pun di persilahkan memasuki ballroom hotel yang sudah ramai.
“Tadi nunggu di mana, Ra?” Tanya Rendi tanpa menoleh, sebab lelaki itu sibuk menebar senyum pada beberapa orang yang menyapanya. Aku tidak tahu Rendi banyak mengenal orang orang yang hadir di sini, mungkin karena memang pekerjaannya sebagai marketing yang lebih banyak mengenal rekan kerja secara langsung, tidak seperti aku yang biasanya hanya mengenal melalui telepon.
Aku yang malas berdebat pun menjawab. “Liat liat tas sama sepatu.”
“Ada yang dibeli?” Rendi memancing lagi.
Halah, basa basi.
Aku yang gemas pun segera menimpali. “Bukan urusan lo!”
Rendi terkekeh pelan saat mendengar sahutanku. “Iya sih.” Lelaki itu menyahut singkat, seraya menggandeng tanganku untuk mengikuti arahnya berjalan.
Aku melotot karena gerakannya itu, yang segera di sambut oleh permintaan maaf Rendi sambil melepaskan tangannya.
“Sori sori, gue mau ngajak ke sana. Itu Bu Rima, yang sering email emailan sama lo.” Rendi menjelaskan, seraya kepalanya menunjuk pada satu sosok yang menggunakan setelan kerja, tengah mengobrol dengan rekan rekan kerjanya.
“Oh …” aku menyahut pelan seraya mengikuti langkahnya untuk menghadiri Bu Rima.
Setibanya di hadapan Bu Rima, kami pun bertegur sapa seraya mengobrol ringan. Rendi tampak luwes untuk mengobrol dengan beberapa orang yang ada bersama Bu Rima, sementara aku hanya terkadang tersenyum dan mengangguk seperlunya, atau menanyakan beberapa hal basic yang biasanya di tanyakan saat bertemu dengan orang baru.
Aku pun sesekali membahas beberapa pekerjaan untuk mencairkan suasana, serta membahas acara malam ini yang terlihat cukup besar untuk sekadar jamuan makan malam bersama rekan rekan bisnis perusahaan alat alat konstruksi yang masuk ke dalam jajaran perusahaan terbesar dalam bidangnya di negara ini.
Perusahaan kami sendiri baru menjalin kerja sama sejak Rendi bergabung dengan perusahaan kami. Katanya, perusahaan ini dulu kliennya di kantor lama. Karena memang Rendi yang mendapatkan kerja sama dengan perusahaan ini, alhasil tidak sulit untuk mengajaknya bergabung ke perusahaan baru tempat Rendi bekerja.
Pantas saja, sebagai anak baru, aku lihat Rendi sangat di segani oleh rekan rekan di divisi marketing. Meski lelaki itu tetap bersikap santai dan humble, di baliknya ternyata pekerjaan Rendi menghasilkan sesuatu yang besar.
Perusahaan ini memang bukan perusahaan kecil, terlebih karena sering memenangkan proyek pemerintahan yang nilainya tak bisa dikatakan kecil, atau justru bernilai sangat fantastis. Bahkan pembahasan tersebut hingga masuk ke dalam berikat ekonomi harian, yang semakin mempengaruhi harga jual saham harian perusahaan ini.
“Jadi, acara malam ini tuh semacam buat pengenalan anak bungsunya Pak Radhian yang baru pulang dari New York?” Rendi tampak sudah terlarut dengan obrolan pembahasan anak dari pemilik perusahaan ini, bersama karyawan dari kantor tersebut.
Diva mengangguk, wanita yang lebih kecil dari Bu Rima itu tampak memiliki paling banyak informasi terkakit acara yang tengah berlamgsung malam ini.
“Iya, dan Pak Bos itu sayang banget sama anak bungsunya. Denger denger, malah yang bakal jadi pewaris tuh si anak bungsunya ini. Mana terkenal juga kan citra baiknya di sosmed, membanggakan bangsa dan negara gitu deh. Bagus buat citra perusahaan juga.” Diva semakin menambahi perihal cerita si anak bungsu yang akan menjadi pewaris tahta ini.
Aku yang kebetulan memang mengikuti akun i********: lelaki itu, turut menimpali. “Pas dia jadi perwakilan di PBB juga sempet rame kan, terus aktif juga ikut kegiatan kegiatan sosial yang ngebentuk brandingnya. Di tambah lagi dia anak salah satu orang terkaya di Indonesia, makin rame aja kan.”
Rendi tertawa pelan saat mendengar aku yang semangat menyahuti pergosipan orang orang kaya ini. Aku tak mempedulikannya, memangnya aku seperti dia yang hanya sibuk mencari klien. Aku sih lebih peduli dengan sepak terjang para petingginya yang kadang menarik untuk di bahas.
“Wah, Bu Tiara update juga ya. Iya, Bu. Terus terus ya, denger denger lagi, Pak Delva nih balik balik bawa calon tunangan.” Diva menanggapinya lagi, semakin membuat seru obrolan ini saja.
“Bakal di kenalin juga malam ini?” Aku yang penasaran pun kembali bertanya.
Diva mengangkat bahunya. “Buat di kenalin secara resmi pake mic sih kayaknya enggak. Tapi di kenalin sebagai gandengannya Pak Delva aja kali. Saya tadi liat Pak Delva udah gandeng ceweknya sih, mana auranya wow banget. Katanya reporter tv swasta.”
Obrolan itu terus berlanjut, aku yang semula kaku pun mulai terhanyut dan bisa bergabung dengan obrolan mereka. Sekitar lima belas menit kami terus membahas terkait si anak bungsu yang baru pulang dari luar negeri ini, hingga Rendi mengajakku untuk menyapa sang bos besar, yang merupakan penyelenggara acara ini.
“Emang lo kenal sama bosnya? Bukannya selama ini cuma berhubungan sama kepala purchasingnya doang?” Aku yang penasaran karena tidak yakin Rendi mengenal sang bos besar, bertanya pada lelaki itu.
Sebab setahuku, keputusan untuk melakukakn shipping itu hanya melalui kepala purchasing di kantor ini, yang mana Rendi tidak harus berhubungan dengan bos besar alias pemilik perusahaan grup ini. Aku juga ragu Rendi mengenalnya, jangan sampai nanti si bos itu malah bingung melihat Rendi.
“Kenal. Pas ada masalah barang gak bisa keluar, kan bosnya yang langsung turun tangan,” kata Rendi menyahuti ucapanku, sambil terus berjalan santai menuju sosok lelaki berjas hitam yang malam ini terlihat paling berwibawa.
Aku mengangguk. Oh, memang bukan hal baru sih, jika ada masalah terkait barang yang tidak bisa keluar, memang biasanya para bos akan secara langsung turun tangan untuk mengurus masalah seperti ini, tepatnya sih melakukan suap pada beberapa pihak berwenang agar proses di mudahkan dan kendala kendala tersebut seolah tidak terlalu di permasalahkan.
Rendi pasti sudah lihai mengurus hal hal seperti ini, karena memang ia yang biasanya berdiri paling depan untuk klien. Aku yang hanya staff impor biasa, tentu hanya menonton saja, karena tugasku lebih pada dokumen dokumen dan pengurusan shipment yg masih wajar.
Jika sudah ada masalah, ya jelas para marketing yang turun tangan. Atau masih ada Devon, ada Bu Anggri, tentu saja masih banyak opsi lainnya selain aku.
Aku menyukai bekerja sebagai staff biasa yang tidak terlalu banyak memiliki tanggung jawab. Sehingga aku masih bisa melakukan hal lainnya, tidak melulu mengurus pekerjaan dan pekerjaan lagi.
Mungkin karena itu lah aku belum ingin masuk ke perusahaan orang tua Alex, yang mana kemungkinan besar aku akan di berikan tanggung jawab yang tidak kecil. Alex malah mengtakan aku di suruh memimpin divisi purchasing impor, yang mana aku akan merangkap segala pekerjaan milik Rendi, Devon; dan Bu Anggri secara bersamaan. Jelas saja aku tidak mau, kehidupan bebasku akan terancam, bisa bisa hidupku hanya tentang pekerjaan yang bikin deg degan:
Aku serius, pekerjaan kami, tepatnya di bidang ekspor impor begini serasa uji nyali. Setiap detiknya selalu membuat jantung berdetak sekian kali lebih cepat, lantaran kami sering submit dokumen yang rawan salah. Salah satu huruf saja, atau terlewat satu langkah saja, mungkin pekerjaan kami bisa kacau dan sulit di selamatkan jika tidak melibatkan banyak pihak dan banyak biaya, tentu saja.
Dan urusan biaya biaya tersebut tentu biasanya menjadi tanggung jawab para atasan, aku belum berani bertanggung jawab dalam urusan biaya biaya yang jumlahnya tidak pernah main main itu. Jadi aku memang sepertinya masih lebih cocok menjadi staff biasa yang belum memegang tanggung jawab besar, seperti ini. Masih di bawah komando Devon dan Bu Anggry, segalanya berjalan dengan lancar. Tak terbayang jika sampai aku yang memimpin divisi semacam ini di perushaan orang tua Alex, mungkin aku keburu bisa pingsan di tempat saat menghadapi masalah yang datang.
“Malam, Pak.” Rendi menyapa sosok yang penuh wibawa itu, saat kami tiba di hadapan Pak Radhian.
Aku turut tersenyum sopan pada sang tuan rumah acara ini. Gerombolan yang berada di dekat Pak Radhian seolah sama sama orang penting yang berisi dari kalangan bos bos besar, seperti Papa Alex. Aku tersenyum pelan mengingat hal tersebut.
“Malam, Pak Rendi. Wah, terima kasih ya sudah menyempatkan hadir. Ini … ibu siapa?” Pak Radhian menoleh ke arahku dengan sopan, seraya bertanya tentang namaku.
Aku pun segera mengulurkan tangan untuk menjabat sosok di hadapanku itu. “Tiara, Pak. Staff impor, saya biasa email dan telponan sama Bu Rima.”
“Oh, Bu Tiara. Senang bertemu dengan Ibu.” Pak Radhian turut menjabat tangan Tiara seraya melakukan perkenalan.
Tiara mengangguk sopan menanggapi ucapan Pak Radhian.
“Gimana, Ren? Shipment aman?” tanya Pak Radhian berbasa basi dengan Rendi.
“Aman dong, Pak. Minggu ini banyak kan yang jalan, baru ada masuk juga sepuluh container kemarin.”
Pak Radhian tersenyum pelan menanggapi ucapan Rendi yang terdengar santai dan tidak kaku. Aku bahkan tidak tahu bagaimana cara Rendi bisa bersikap seluwes itu pada petinggi perusahaan grup besar ini.
“Oh iya, jadi saya mau kenalin putra terkahir kami juga, yang nanti beberapa proyek akan di pegang oleh dia. Kamu bisa berhubungan sama dia nanti, sekalian ajarin dia pelan pelan juga ya, Ren. Untuk alur perusahaan kami kan dia masih tergolong baru dan belum paham.”
“Siap, Pak.” Rendi menyahut santai seraya tersenyum lebar.
Sosok anak bungsu itu tidak ada di sana, sepertinya tengah mengobrol dengan tamu undangan lainnya. Alhasil, Rendi dan aku pamit terlebih dahulu untuk menikmati acara ini, dan membiarkan Pak Radhian menyapa tamu tamunya yang lain.
Kami pun berjalan menuju meja bundar yang berisi beberapa makanan ringan. Aku yang memang belum sempat makan pun bersemangat untuk mencicipi makanan makanan enak yang berada di tempat ini.
Tidak ada waktu untuk berdebat dengan Rendi, aku bahkan tidak memprotes sepanjang acara berlangsung kami berjalan berdampingan. Tentu saja meski tidak saling mengobrol satu sama lain, selain untuk urusan pekerjaan dan menyapa beberapa kenalan yang ada. Kami terlalu sibuk di acara ini hingga tanpa sadar memberikan gencatan senjata untuk malam ini saja, tentu saja aku besok tak terlalu ingin banyak berinteraksi dengan Rendi lagi. Aku masih dalam upaya menjaga jarak kami sebisa mungkin, dan aku menolak keras untuk kami bisa berhubungan baik seperti dulu lagi. Seolah hubungan kami dulu seabaik itu, padahal kan tidak juga.
“Rumah lo di mana, Ra?” tanya Rendi saat kami tengah menikmati hidangan makan malam, dan menempati salah satu meja yang kosong, yang mana bergabung dengan Bu Rima dan divisinya.
Ucapan Rendi terdengar pelan, tepatnya tidak terlalu mencolok untuk kami yang duduk melingkar di meja ini, sehingga tidak ada yang menoleh ke arah kami.
Aku yang mengerti alasan Rendi bertanya tentang alamat rumahku, buru buru menjawab. “Gue balik naik grab.” Ucapku dengan suara yang juga pelan, tapi aku yakin masih terdengar oleh Rendi yang duduk di sampingku, sebab lelaki itu kini terdengar berdecak pelan saat mendengar sahutanku.
“Ya kali, lo berangkat bareng gue, pulang naik grab. Mana acara kelar udah lumayan malem, ini tangerang loh, Ra.” Rendi tampak memprotes ucapanku dan tidak setuju dengan keputusanku.
Aku mendengus. “Ya terus kenapa, tinggal masuk tol bentar, keluar udah Jakarta kok.”
“Gak, gue anter lo balik. Kalo lo kenapa napa, nanti kantor nanyanya ke gue.”
Aku semakin sebal mendengar ucapannya. Rendi yang selalu sok merasa bertanggung jawab, dan aku benci dengan hal tersebut sebab aku tak menginginkannya untuk saat ini. Setelah semua terjadi, aku benar benar tak berharap akan ada momen momen seperti ini terjadi. Aku lebih damai menjalani hari hari tanpa Rendi, di banding harus merasa setiap harinya di landa perasaan tidak nyaman begini.
“Gue minta jemput suami gue.” Akhirnya aku membuka kartu AS milik ku, yang tidak akan mungkin bisa di bantah Rendi.
Lelaki itu melebarkan matanya beberapa saat, hingga akhirnya mengalah. “Oke. Tapi gue tungguin sampe suami lo beneran jemput, dan gue mastiin kalo itu beneran dia, bukan supir taksi online.”
Aku tak menanggapinya dan membiarkan lelaki itu sok bersikap posesif begini terhadap keselamatanku. Aku memilih untuk menikmati hidangan lainnya yang berada di meja, yang juga tengah di nikmati oleh divisi purchasing impor di perusahaan ini.
Tak lama, terdengar suara pembawa acara yang mulai membuka acara untuk memberikan sambutan sambutan para petinggi perusahaan. Aku hanya menyimak seperlunya, mengikuti serangkaian acara ini yang hingga detik ini aku tidak tahu tujuannya apa, selain hanya untuk menjalin silaturahmi antar perusahaan saja. Tapi ya, namanya memang di undang, datang saja meski kontribusi kami tidak ada.
Suasana tampak ramai, saat pembawa acara memanggil nama lengkap Delva untuk di perkenalkan secara resmi pada khalayak umum yang berisi rekan rekan bisnis sang ayah. Aku pun turut menyaksikannya, sosok Delva yang masih muda dan tampak menuruni wibawa ayahnya, kini berjalan ke tengah panggung untuk memberikan perkenalan dan sambutan pada para tamu undangan yang ada.
“Woah, ganteng banget Delva.” Diva mulai berkomentar tentang sosok si anak bos yang kini tegah memberikan sambutan terkait perkenalan dirinya terlebih dahulu.
Aku dapat melihat ada banyak mata yang mengagumi ketampanan Delva, yang menurutku gantengnya masih dalam tahap wajar, jadi aku tidak terlalu terpikat. Justru, jika di bandingkan itu lebih ganteng Rendi. Sial, bisa bisanya aku membandingkan sosok anak bos dengan Rendi, yang seharusnya pasti berbeda jauh. Sebenarnay hanya berbeda finansial saja, Delva terlihat ganteng karena akan mewarisi banyak aset, sehingga para wanita menganggapnya sebagai sosok yang ganteng dan idaman.
Sedangkan Rendi, sepertinya Rendi versi miskin juga sudah ganteng dari sononya. Meski sebenarnya Rendi tidak miskin miskin amat juga, tapi ya jelas berbanding jauh jika di sandingkan dengan Delva.
Aku mengutuk pikiranku sendiri yang bisa bisanya malah membandingkan Delva dengan Rendi, padahal kan aku bisa menyandingkannya dengan Alex yang kemungkinan tidak akan jauh berbeda. Maksudnya, sama sama anak bos, meski Alex bukan menjadi pewaris satu satunya sih. Kakak kakaknya masih banyak dan lebih potensial, dan Alex bukan Delva yang memiliki pengaruh besar di sosial media.
“Gue mau ke toilet,” ucapku seraya berdiri dari tempat duduk ku, mengatakan pada Rendi agar lelaki itu tak mencariku, karena kini semua orang yang ada di meja tampak fokus melihat ke arah panggung yang masih menampilkan sosok Delva berpidato untuk peertama kalinya di acara perusahaan seperti itu.
“Oh, oke.” Rendi menyahut pelan.
Aku pun bergegas untuk berjalan menuju toilet.
Acara malam ini terlihat ramai, tamu undangan pun cukup memadati ballroom hotel ini. Para pelayan dan panitia dari event organizer yang bertugas pun terlihat berusaha keras untuk mensukseskan acara ini.
Aroma parfum yang saling bertabrakan sudah membuat indera penciuamanku mati rasa, aku bahkan lupa dengan aroma parfumku sendiri saking di ruangan ini berbagai macam aroma parfum berkumpul menjadi satu. Bercampur dengan aroma makanan yang juga turut mencuri perhatian. Aku tidak tahu jam berapa acara ini akan berakhir, aku bahkan tidak mengetahui juga rincian acara malam ini. Aku hanya mengikuti Rendi saja, dan ikut ikutan menyapa apabila lelaki itu mengajakku bertemu dengan rekan bisnis kami.
Sesampainya di toilet, aku pun segera masuk ke dalam bilik toilet dan menuntaskan buang air kecilku sejenak. Setelah merasa lega, aku pun bergegas untuk keluar dari bilik toilet dan berniat untuk merapikan make up ku yang sudah mulai berantakan.
Tak lupa aku pun membawa tasku yang berisi make up untuk aku gunakan.
Kini, aku berdiri di depan westafel dengan cermin yang membentang lebar. Dari cermin, tampak beberapa toilet berjejer di belakangnya, hingga aku dapat melihat beberapa orang saat baru keluar dari toilet. Tapi aku tidak sekurang kerjaan itu untuk memperhatikan orang orang yang baru keluar dari toilet. Aku jelas lebih memilih untuk fokus merapikan make up ku yang sudah tampak pucat ini.
Ku sapukan blush on berwarna merah lembut pada pipiku. Setelah merasa cukup, aku pun mengambil bedak tabur yang biasa aku gunakan, yang kemudian aku sapukan kembali ke wajahku. Saat tengah fokus dengan re-touch make up ku, sebuah pintu dari salah satu bilik toilet terbuka, lalu seorang wanita keluar dari sana.
Wanita itu tak berdiam diri, ia langsung bergegas untuk keluar dari sana. Hanya sekelebat bayangan yang aku lihat barusan, hingga aku tidak yakin apakah penglihatanku salah atau tidak.
Seorang wanita yang sepertinya aku kenal baru saja keluar dari sana. Tapi karena terlalu cepat, aku menjadi kurang yakin dengan penglihatanku. Maka, aku buru buru menepisnya. Meski wanita itu memang benar dengan sosok yang aku pikirkan, terus kenapa? Toh, aku juga tidak peduli. Dan aku tidak mungkin menyapa juga karena kami memang tidak kenal kenal amat. Kenapa aku harus memusingkan hal tersebut.
Maka, aku memilih untuk melanjutkan make up ku lagi, dengan mengambil sebuah mascara dari dalam tas yang kini aku gunakan untuk bulu mataku. Tatapanku kembali berfokus pada cermin besar di hadapanku, karena memakai mascara membutuhkan konsentrasi yang luar biasa. Hingga untuk bagian mata selesai, aku pun baru mengambil lip cream dari dalam tas ku, dan memoles bibirku sebagai upaya terakhir dalam touch up make up ini.
Setelah semuanya selesai, aku pun memasukan seluruh make up ke dalam tas ku lagi. Lalu aku mulai merapikan rambutku yang tampak sudah berantakan. Aku rapikan kuciranku ini terlebih dahulu, setelah semuanya beres aku pun mulai bergegas untuk keluar dari toilet dan turut bergabung kembali ke meja yang tadi aku tempati bersama Rendi.
Meski sebenarnya aku lebih ingin menyelinap untuk pulang ke rumah sih, rasanya seperti lebih baik di bandingkan harus tetap mengikuti serangkaian acara ini yang entah kapan akan berakhir dan aku tidak paham juga apa pengaruhnya terhadap pekerjaanku. Seharusnya kan Rendi saja yang menghadiri acara acara seperti ini, karena memang hanya dia yang butuh untuk menjalin relasi dengan baik. Aku sih tidak butuh butuh amat karena memang pekerjaanku hanya di belakang komputer alias back office.
Terlebih ini sudah sangat di luar jam kantor, yang mana tidak dapat uang lembur juga karena di absen kantor aku tercatat suda pulang. Memang tidak adil perhitungan kantor ini, padahal aku pulang malam juga kan membawa nama baik kantor di acara klien dewa ini. Jika aku menolak untuk menghadiri acara ini, mungkin jam lima sore aku sudah berada di dalam mobil Alex dan tertidur dengan nyaman meski harus macet hingga berjam jam. Lalu setelahnya aku akan bersantai di dalam rumah tanpa melakukan apa pun. Yah, kami akan makan malam sih biasanya, tapi lebih baik kan di banding harus menghadiri acara ini yang mana malah membuat punggungku pegal pegal.
Belum lagi kemarin juga baru lembur. Setiap hari pulang malam, bisa bisa punggungku benar benar rontok jika begini. Ini benar serasa kerja rodi rasanya.
* * * * * * * * * * * ** * * * * * * * * * * * K I S A H Y A N G T E R L A M B A T * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *