Baik lah, semalaman nanti aku akan mencoba berpikir bagaimana caranya bisa terhindar dari acara bersama Rendi itu. Atau aku harus menyusun strategi, kalau pun memang harus hadir, aku tidak akan berinteraksi dengan Rendi sama sekali bagaimana pun caranya. Serta, kami harus berangkat ke lokasi acara secara terpisah. Aku lebih baik naik grab car di bandingkan harus satu mobil lagi dengan Rendi seperti kemarin.
Mungkin begitu lebih baik. Untuk menghindari drama malam itu terulang kembali.
“Alex jemput, Ra?”
Suara Devon mengangetkan ku dari lamunan panjangku ini, serta merta aku menoleh pada lelaki itu. Lalu berusaha mencerna pertanyaannya barusan.
“Enggak, supirnya yang jemput.” Aku menjawab seadanya.
“Duh, Nyonyaa emang.” Devon mulai lagi untuk meledek aku dan finansial keluarga Alex yang tidak di milikinya itu.
Aku seketika melotot ke arahnya, karena tidak suka setiap kali Devon membahas hal tersebut.
Rendi tampak mengamati kami, aku tidak tahu apa yang dia pikirkan saat melihat kehidupanku saat ini. Mungkin di matanya, aku terlalu aneh menjalani kehidupan ini. Aku yang sudah menikah dan semua orang mengatakan bahwa suamiku luar biasa, keluarga suamiku kaya raya, suamiku sangat idaman, dan masih banyak lagi pujian yang selalu menyertai hubunganku dan Alex.
Namun, Rendi menyaksikan sendiri, tentang bagaimana aku masih tetap tidak nyaman dengan kehadirannya, yang bahkan begitu sensitif ketika lelaki itu membahas masa lalu kami. Aku pasti terlihat aneh sekali, lalu apa yang tengah aku jalani saat ini, jika aku tak mampu melepas kenangan menyakitkan kami beberapa tahun lalu.
Hal yang di anggap Rendi lumrah, dan menjadi alasan cowok itu bisa kembali karena menganggap aku sudah melupakan semuanya, nyatanya aku tidak pernah begitu.
Hubunganku dengan Alex berada di jalur lain. Kami menjalani sebuah hubungan untuk menata masa depan, sedangkan sosok Rendi justru selalu mengingatkanku akan luka di masa lalu.
“Bye, duluan.” Aku keluar dari lift di lantai lobby, karena supir Alex yang menjemputku di sana. Sedangkan Rendi dan Devon turun di basement karena mereka membawa kendaraan pribadi.
Keduanya hanya mengangguk.
Hingga aku mendengar suara Rendi yang berkata, “Hati hati, Ra.”
Pintu lift tertutup, lalu aku tertegun pada detik itu juga.
Aku mohon jangan begini. Aku tidak mau terjatuh lagi di lubang yang sama, merasakan kesakitan yang sama, yang bahkan luka sebelumnya saja tidak pernah sembuh.
Rendi ingin kembali bersikap seperti dulu, seperti sebelum ada insiden di puncak malam itu. Yang berarti, Rendi ingin berperan sebagai seorang teman yang perhatian lagi. Perhatian yang tidak mampu aku terima dengan benar, yang padahal perhatian itu juga ia berikan pada Chaca dan Lila.
Suara dering ponsel di tasku membuatku tersadar. Aku merogoh ponsel dari dalam tas sejenak, sambil kembali berjalan menuju lobby kantor. Ku lihat nama kontak Pak Aji yang muncul di sana, supir Alex itu sepertinya sudah berada di lobby.
“Halo, iya Pak. Iya, ini saya udah di lobby, tinggal jalan ke luar.”
Aku pun bergegas untuk mempercepat langkahku, karena tidak enak jika ada mobil lain yang mengantre di belakang Pak Aji. Meski jam segini, rasanya suasana di pelataran gedung sudah mulai sepi.
* * * * * * * * * * * * K I S A H Y A N G T E R L A M B A T * * * * * * * * * * * *
= = = = = Rendi = = = = =
Pukul empat sore, aku bergegas untuk menghadiri acara pertemuan ke luar kantor yang di jadwalkan pergi bersama Tiara. Pakaianku hari ini sudah lebih rapi di banding hari hari lainnya, pun dengan Tiara yang sudah terlihat menggunakan make up, yang mana biasanya hanya terlihat memakai lipstik dan maskara.
Tanganku bergerak untuk mematikan komputer yang masih menyala. Setelah memastikan layar komputerku meredup, aku pun bangkit dari kursiku seraya membawa tasku, sebab acara ini pasti akan sampai malam dan membuat kami tidak perlu kembali lagi ke kantor, dan langsung pulang ke rumah masing masing.
“Duh, males banget. Kemarin abis lembur, hari ini pulang malem lagi. Besok gue di angkat jadi direktur kali ya.” Suara Tiara terdengar tengah mengeluhkan pekerjaan kami belakangan ini, sesuai dengan ucapannya bahwa semalam kami baru saja pulang lumayan larut malam, dan hari ini sudah di pastikan akan pulang malam juga mengingat serangkaian acara yang tidak sebentar.
Acara baru mulai sekitar jam tujuh malam, hanya saja kami mencari aman untuk pergi dari jam empat, karena lokasi acara yang berada di bilangan BSD, sehingga bisa memakan waktu tempuh lebih dari satu jam. Kami mengantisipasi kemacetan atau pun kejadian tak terduga yang bisa saja terjadi di jalanan.
Devon sudah ingin membalas ucapan Tiara, terlihat dari mulutnya yang sudah terbuka. Namun, wanita itu buru buru menimpali. “Gue gak minta lo komentar ya, mending diem kalo mau bawa bawa suami gue!”
Aku tertawa pelan melihatnya, Tiara yang sering sensi setiap kali Devon membahas kekayaan keluarga suaminya yang mungkin setara dengan pemilik perusahaan tempat kami bekerja.
Aku tidak terlalu mengetahui tentang suami Tiara, teman temanku juga jarang membahasnya. Tapi setelah bekerja di sini, aku baru tau tentang latar belakang suami wanita itu. Tiara beruntung bukan, bisa mendapatkan suami yang finansialnya sebaik itu?
Maksudku, di banding dengan aku, harusnya Tiara bisa melupakan sakit hatinya terhadapku dengan mudah, karena tengah di mabuk cinta dengan suaminya itu. Tapi kenapa ia masih terus memperpanjang masalah yang sudah berlalu sekian tahun lalu?
“Yuk jalan, Ra,” ajak ku pada Tiara, untuk segera pergi ke tempat berlangsungnya acara.
Raut wajah Tiara seketika berubah saat mendengar suaraku, tidak selepas saat bicara dengan Devon tadi. “Oh, iya.” Tak ayal wanita itu tetap menyahut seraya bangkit dari duduknya, dan membawa tas tangannya.
Kami pun melangkah keluar tanpa saling bicara, hanya fokus pada langkah kami masing masing. Aku atau pun Tiara, tidak ada yang berusaha membuka pembicaraan, atau kami mungkin lebih berharap bahwa tidak ada yang berbicara di antara kami. Oh tidak, sudah jelas itu hanya harapan Tiara, aku tidak pernah berharap begitu. Aku ingin semuanya kembali normal, meski keadaan kami memang sudah sulit untuk bersikap seolah tidak ada apa apa.
“Gue naik taksi aja.”
Akhirnya Tiara yang berkata lebih dulu, yang membuat mataku membola saat mendengar ucapannya.
“Masa naik taksi sih, Ra. Gak enak dong, ini kan acara kantor.” Aku segera membantah ucapannya, dan sulit menerima keputusannya kali ini yang masih berusaha menghindari meski dalam urusan pekerjaan.
“Gak naik mobil kantor, kan?” Tiara memberikan alasan, merasa bahwa keputusannya tidak salah.
“Tapi kan nanti ribet, kalo kita datengnya gak bareng.”
“Lo ikutin taksi yang gue tumpangin.”
Aku berdecak sebal, tampak frustrasi menghadapi wanita ini yang mati matian menghindariku.
“Oke, lo duduk di belakang.” Aku pun segera mengambil keputusan, agar ia tetap berangkat bersamaku menggunakan mobilku, dan memberikan saran untuknya duduk di belakang. Sesuai dengan keinginannya saat ini ketika menaiki mobil.
Tiara terdiam sejenak, berusaha berpikir tentang tawaranku itu. Hingga suara pintu lift berdenting, menandakan kami sudah tiba di lantai tujuan.
“Oke,” ucapnya kemudian. Disusul desah napas pertanda dirinya masih keberatan dengan keputusannya itu. “ Tapi lo gak usah ngajak ngomong, kalo bukan urusan kerjaan.”
“No probs,” sahutku seraya melangkah keluar dari lift, lalu berjalan mendahului Tiara untuk menuju tempat mobilku terparikir.
Sementara Tiara, kini memilih untuk berjalan mengekoriku, alih alih berjalan di sampingku.
Sesampainya di dalam mobil, Tiara benar benar duduk di jok belakang sementara aku menempati kursi pengemudi. Aku tak mengajaknya berbicara sama sekali, pun dengan Tiara yang memilih untuk sibuk dengan ponselnya agar tidak berinteraksi denganku. Wajahnya tampak tidak nyaman, hingga sesekali aku mendengar dirinya mendengus, padahal aku tidak melakukan apa pun.
Sesekali aku meliriknya dari kaca spion, lalu mendapti dirinya yang mencuri pandang ke arahku, yang mana buru buru berpaling saat aku menyadari gerakannya. Aku hanya terkekeh pelan, sementara Tiara kembali mendengus. Aku tidak tahu, sejak kapan Tiara memiliki hobi baru yaitu terus terusan mendengus seperti itu.
Sepanjang perjalanan kami pun hanya berdiam diam saja, dengan lagu dari radio yang aku putar turut mencairkan suasana yang sesungguhnya di penuhi hawa mistis di antara kami. Tiara bahkan enggan untuk ikut bernyanyi, meski aku tahu bahwa wanita itu menyukai lagu ini. Aku yang juga ingin ikut bernyanyi menjadi sungkan, dan akhirnya aku pun hanuya diam saja selama sisa perjalanan kami.
Tak sampai satu jam, kami tiba di kawasan BSD Tangerang, masih banyak waktu yang tersisa hingga waktu di berlangsungkannya acara nanti malam. Kami benar benar datang terlalu cepat karena menghindari telat. Jika bukan bersama Tiara, mungkin aku akan memilih duduk di coffe shop selagi menunggu, tapi karena ini bersama Tiara dan sepertinya wanita itu tidak mungkin mau aku ajak menunggu di coffe shop, aku jadi bingung harus melakukan apa.
“Lo mau ke mana dulu, Ra?” tanyaku pada Tiara, yang masih konsisten untuk berjalan di belakangku alih alih di sebelahku. Bahkan wanitu itu berjalan sambil menunduk, aku lebih khawatir ia akan menubruk punggungku jika tidak memperhatikan jalan.
“Bisa mencar aja gak sih? Nanti kalo acaranya udah mau mulai , baru ketemuan lagi. Gimana?” usul Tiara, yang tidak terlalu membuatku kaget. Sudah pasti Tiara akan memilih opsi ini di banding harus berjalan jalan denganku.
Padahal di kawasan ini lumayan banyak tempat tempat seru dan asik, yang bisa di jadikan tempat untuk kami menunggu selagi acara belum di mulai. Tetapi Tiara tidak mungkin mau pergi bersamaku, bahkan sepertinya ia lebih memilih untuk jauh jauh dariku selama sisa waktu yang ada.
Jika aku akan memilih ke tempat A, kemungkinan besar Tiara akan memilih pergi ke tempat Z. Kemana pun saja asal menjauh dari ku, aku sudah dapat menebak pola pikirnya sejak bertemu kembali dengan wanita itu. Yang kini sudah terang terangan terlihat memusuhiku dan menatapku dengan pandangan kesalnya. Aku memang sudah keterlaluan, dulu. Tapi tetap saja tidak masuk akal jika Tiara masih bersikap seperti itu hingga detik ini, yang padahal aku sudah berusaha untuk memperbaiki hubunganku dengannya. Tapi ya seperti yang bisa kalian lihat selama ini, tentu tidak bisa. Seolah tidak akan pernah bisa.
“Oke, kita pisah ya. Hati hati, Ra. Nomor lo aktifin.” Aku pun menyetujui usulnya untuk berpisah dan berpencar selama menunggu acara berlangsung. Tak lupa juga aku menyuruhnya untuk mengaktifkan nomor ponselnya, untuk menghubungi wanita itu jika ada urusan yang genting.
Tiara hanya mengangguk pelan, lalu wanita itu berjalan menjauh dariku. Aku tidak bertanya ia akan kemana, karena kemungkinan besar tidak akan di jawab. Jadi aku biarkan saja Tiara berkeliling semaunya, yang penting nanti pada saat acara berlangsung Tiara sudah kembali lagi. Kemungkinan besar juga Tiara hanya akan berkeliling di mall yang ada di sini, tanpa melakukan sesuatu yang penting.
Aku tidak tahu apa hobi Tiara di umurnya yang sekarang, sepertinya dulu pun aku tidak pernah tau apa hobi Tiara. Kami memang berteman, dan setelah aku pikir pikir, sepertinya aku paling tidak akrab dan sangat jarang melakukan aktivitas bersama itu dengan Tiara. Tidak seperti Chaca yang sering merepotkan ku dan berisik bukan main, Chaca di hadapanku seolah tidak memiliki urat malu. Atau Lila yang gemar melotot dan memaksa jika ada maunya, Lila yang sering mengomel dan kadang sering minta di antar ke tempat yang aneh aneh juga.
Sedangkan Tiara? Aku seolah tidak memiliki banyak memori bersama Tiara. Kami berteman, kami satu pertemanan, tapi rasanya tak pernah lebih dari itu. Yang aku rasakan, sejak dulu Tiara seolah menjaga jarak denganku. Teman temanku selalu mengatakan, Tiara akan ikut ke suatu tempat jika aku ikut, lalu saat ia ada pun, tidak pernah ada yang di lakukannya.
Aku seketika tertampar, Tiara tidak pernah melakukan sesuatu di luar batas, ia justru sangat menghormatiku dan menjaga jarak denganku, sebab ia menyadari tentang perasaannya. Wanitu itu sudah mampu mengontrol perasaannya sejak dulu, dengan tidak terlalu sering berhubungan denganku, ia hanya ingin melihatku dan dekat dengan sewajarnya. Lalu aku malah mendorongnya jatuh ke dalam jurang kehancuran.
Demi menyelamatkan hubunganku, aku justru menghancurkan sosok temanku yang bahkan ternyata tidak terlalu akrab denganku.
Aku pun berjalan menuju coffe shop yang berada tak jauh dari lobby hotel tempat berlangsungnya acara ini. Enggan untuk mencari tempat yang jauh, karena aku memang tidak sedang ingin jalan jalan ke mana pun, maka coffe shop terdekat ini menjadi pilihan paling tepat untuk menghabiskan waktu. Paling aku hanya akan membuka laptop dan mengecek beberapa pekerjaan ku yang belum terselesaikan, dari pada aku tidak melakukan apa pun sama sekali.
Baru saja aku mengeluarkan laptop, aku justru mendengar suara notifikasi dari ponsel. Maka aku pun mengecek pesan masuk yang nadanya aku bedakan itu, dari Nadin. Hanya pesan dari Nadin yang memiliki nada dering seperti itu. Aku pun langsung membuka pesannya.
Nadin : Sayang, kayaknya sekitar tiga bulanan nomor aku gak bisa dihubungin deh
Nadin : Nanti aku kabarin lagi ya, kalo udah bisa hubungin kamu
Aku mengembuskan napas berat, Nadin memang sering seperti ini. Mengatakan bahwa nomornya akan sulit di hubungi, tapi sepertinya kali ini akan menjadi waktu yang paling lama. Tiga bulan, biasanya sekitar satu bulan sekali ia akan mengabariku. Aku tidak tahu apa yang sedang ia kerjakan saat ini, dan juga tidak bisa bertanya karena kemungkinan besar nomornya sudah sulit di hubungi.
Biasanya, Nadin akan mengirimiku pesan saat hendak take off di pesawat, hingga saat aku balas pesannya nomor ini sudah tidak aktif.
Untuk pekerjaan, Nadin menggunakan nomor lain, yang mana enggan untuk di infokan padaku karena menurutnya itu tidak sesuai dengan kode etik yang berlaku. Sebab untuk keperluan pekerjaan, Nadin memang menggunakan ponsel yang di berikan dari kantor.
Sepertinya, Nadin lebih sering menghabiskan waktu dengan ponsel kantornya di bandingkan dengan ponsel pribadi wanita itu. Alias, Nadin akan lebih cepat membalas pesan dari rekan kerjanya di bandingkan pesan dariku. Miris memang, tapi hal seperti ini sudah berjalan beberapa tahun belakangan ini. Jika dulu awal awal pacaran masih dalam tahap wajar, yang mana sejak awal Nadin memang mengatakan ia tidak terlalu suka keseringan berkirim pesan yang tidak penting, tapi intensitasnya masih bisa di katakan sering.
Semakin lama, justru semakin jarang, malah lebih sering di katakan menghilang begitu saja.
Aku pun ingat bahwa aku belum membalas pesannya, maka aku mengetikkan sesuatu di ponsel untuk membalas pesan dari Nadin.
Rendi : Oke. Take care, Sayang.
Ceklis satu.
Benar saja, nomornya sudah tidak aktif. Aku hanya berdecak pelan karena sudah bisa menebak pola wanita itu yang memang selalu berulang. Aku tidak mamu memusinkgkan masalah tersebut dan memilih untuk melanjutkan membuka laptopku, selama waktu yang tersisa yang aku miliki hingga acara kantor ini berlangsung.
Tak lupa, aku juga sudah memesan americano yang akan menemaniku selama satu hingga dua jam ke depan. Kami memang datang kelewat cepat karena menghindari macet, dan ini benar benar terlalu cepat sampai acaranya belum di mulai. Alhasil malah melakukan sesuatu yang tidak jelas begini. Entah apa yang di lakukan Tiara di luar sana.
Aku pun mulai tenggelam bersama pekerjaanku, mengecek beberapa email yang masuk ke dalam kotak masuk ku, lalu membalasnya satu persatu selagi aku bisa menanggapinya tanpa membutuhkan data data dari Devon atau pun Tiara.
Aku pun mengerjak beberapa report bulanan yang memang masih belum selesai, serta menghitung profit and lost dari beberapa shipment yang sudah berjalan. Kesibukan tersebut sukses membunuh waktu yang tersisa, hingga tanpa sadar waktu berlalu begitu saja selagi aku tenggelam dalam pekerjaan ini.
Acara akan di mulai setengah jam lagi, maka aku pun mulai bersiap dan bergegas untuk memasuki lobby hotel. Aku pun menutup laptop yang tengah menampilkan beberapa lembar kerja, lalu memasukkan laptop tersebut kembali ke dalam tas.
Aku membuka ponsel terlebih dahulu untuk mengetikkan pesan pada Tiara, agar kami bersiap untuk bertemu. Sebab Tiara pasti akan membutuhkan untuk merapikan make up terlebih dahulu sebelum memasuki tempat acara berlangsung.
Rendi : Ra, udah mau mulai
Rendi : Yuk ketemu di lobby, lo kalo mau touch up dulu, buruan ya. Mumpung masih ada waktu
Aku menunggu beberapa menit, tapi tak ada jawaban. Hingga setelah sepuluh menit berlalu, ponsel ku pun berbunyi menandakan ada pesan masuk dari Tiara. Aku segera membukanya dan membaca isi pesan tersebut. Pesan singkat yang hanya berisi satu kata yang terdiri dari dua huruf.
Tiara : Ok
Aku terkekeh pelan membaca pesan tersebut, ya memang tidak salah sih jawaban dari pesan Tiara. Tapi cukup kesal juga membacanya. Tapi, yah memangnya aku berharap di balas apa? Sudah pasti Tiara hanya akan menjawab seperti itu kan?
Maka aku pun berdiri untuk beranjak dari sana, bersiap untuk jalan ke lobby hotel dan bertemu kembali dengan Tiara. Lalu menjalani perang dingin yang masih terus berlangsung saat aku bersama Tiara, yang entah kapan akan berakhir. Atau mungkin perang dingin ini tidak akan pernah berakhir? Entah lah, semakin lama aku pun tidak peduli lagi, aku hanya akan mengikuti permainan Tiara yang kemungkinan besar masih akan berlangsung lama. Tidak mungkin kan, aku melakukan hal seperti dulu, melarang Tiara untuk bersikap aneh di hadapanku? Oke, itu justru malah membuatku yang terlihat aneh.
Aku melirik jam tanganku, lima belas menit lagi acara baru di mulai. Kemungkinan besar para tamu undangan sudah boleh untuk memasuki ballroom hotel yang di jadikan tempat berlangsungnya acara. Sehingga aku atau pun Tiara tidak harus mencari cari kesibukan lain lagi untuk membunuh waktu luang yang masih tersisa. Mungkin sebaiknya, lain kali lebih baik datang terlambat di bandingkan datang terlalu cepat dan malah menjadikan kami seperti anak hilang yang kebingungan dan tak punya arah. Yeah dalam beberapa kasus terlambat memang tidak seburuk itu sih, malah kadang membantu juga. Contohnya seperti sekarang ini.
Aku sudah mendekati lobby hotel, dan belum melihat keberadaan Tiara di sana. Kemungkinan Tiara berjalan jalan lumayan jauh dari tempat ini, tidak seperti aku yang hanya mengunjungi coffe shop yang letaknya tak jauh dari tempat ini. Oh iya, jadi hotel dan mall ini memang menjadi satu. Tepatnya lobby hotel ini berada di dalam mall. Jadi untuk berjalan jalan ke mall, kami tidak perlu keluar dari area tempat berlangsungnya acara ini karena memang mall ini berada di satu gedung yang sama dengan hotelnya.
Aku hanya berdiri di samping lobby selagi menunggu Tiara datang. Ingin menghubungi nomor ponselnya, tapi aku khawatir malah kena semprot dan di bilang gak sabaran. Lagi pula acaranya baru di mulai sekitar lima belas menit lagi, jadi seharusnya aku takperlu terburu jika Tiara masih dalam perjalanan.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * K I S A H Y A N G T E R L A M B A T * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *