- 19 -

1690 Words
Nadin tak menjawab, ia masih kesal karena diirinya dikira Setan. Kini aku seolah dapat mendefinisikan arti dari tatapannya. Cewek itu seolah masih tidak terima di sebut setan olehku, sehingga enggan untuk berinteraksi denganku. Maka Ia segera berjalan sambil menyeret kopernya menuju pintu kamar yang berada di belakang sofa yang Azril tiduri tadi.  "Dia sepupu lo?" Tanya Aku, yang masih tidak mengetahui apa hubungan Azril dengan cewek bernama Nadin tadi. Pasalnya aku juga tidak pernah melihat dia selama ini setiap kali berkunjung ke rumah Azril. "Kakak gue." Jawab Azril singkat, menjawab pertanyaanku tentang hubungannya dengam cewek tadi. Aku menatap Azril tidak percaya. Aku sudah mengenal Azril satu tahun lebih, dan sering juga menginap di rumah Azril, tapi aku tidak tau Azril memiliki Kakak. Perihal kamar kosong di sebelah kamar Azril pun, Aku kira itu hanya kamar tamu. "Martabak.." suara lainnya terdengar dari arah pintu. Rupanya tukang martabak yang dinantikan baru datang. Aku dengan sigap segera berjalan untuk mengambil pesanannya itu. Setelah membayarkan sejumlah uang yang ditagihkan, Aku kembali menuju sofa sambil membawa kotak martabak. Gara gara ini nih aku jadi mengira orang lain sebagai setan, tapi karena tragedy tadi aku jadi tidak sadar sedang menunggu martabak dan tiba tiba saja datang. Bukan kah itu suatu kebetulan yang menyenangkan juga? Azril yang juga sudah menunggu martabak sejak tadi tampak bersemangat untuk menyambut makanan ini, harum dari martabak yang masih hangat ini begitu memanjakan indra penciuman kami hingga kami ingin sekali buru buru menyantapnya. Terlebih aku juga sudah beberapa kali membeli martabak di tempat ini saat berkunjung ke rumah Azril, dan rasanya memang tidak perlu di ragukan lagi, alias memang enak. "Zril, bawain handuk lo ke kamar mandi ya. Handuk gue masih di koper, susah nyarinya." Nadin keluar lagi dari kamar, berjalan menuju kamar mandi untuk membilas dirinya yang sudah mandi hujan. Ketika indra penciumannya menangkap wangi makanan, Nadin yang hendak berjalan menuju kamar mandi berbelok arah menuju meja ruang tengah.  "Bossy-nya gak ilang-ilang." Azril mengeluh dengan sikap Nadin yang aku perkirakan suka menyuruh-nyuruh seenaknya. Azril baru sadar Nadin menghampiri meja ruang tengah dan tangannya yang masih basah hendak mencomot martabak telor pesanan Aku. Plakk.. "Aw, apasih pukul-pukul?" Nadin meringis sambil melotot kesal pada Azril yang memukul tangannya. Aku terkekeh pelan melihat interaksi kakak beradik yang rupanya tidak terlalu akur ini, lucu juga melihatnya, baru juga malam ini aku mengetahui bahwa ternyata Azril memiliki seorang kakak yang entah muncul dari mana ini. "Tangan lo basah gitu maen nyomot aja." Omel Azril yang merasa bahwa tindakan Nadin itu sangat jorok, terlebih Nadin belum cuci tangan sama sekali. "Gak bakal mati juga makan martabak campur air hujan." Sahut Nadin dengan santai dan tetap mencomot satu potong martabak untuk di cicipinya, ia melahap martabak itu tanpa ragu ragu meski baju yang ia kenakan masih basah. "Martabaknya punya gue loh." Kataku yang iseng mengingatkan, bahwa sikapnya tadi yang masih cuek terhadapku, sedangkan martabak ini adalah aku yang membelinya. Entah mendapatkan ide dari mana, aku seolah terpancing untuk menggodanya. Padahal beberapa menit lalu aku baru saja menganggapnya sebagai setan. Nadin menoleh pada Aku yang barusan berbicara, tepat saat mulutnya sedang mengunyah martabak yang berhasil dicomotnya.  Sudah terlanjur malu pada aku yang tadi sempat ditatapnya dengan garang, Nadin tersenyum canggung. "Kan elo temennya Azril, gue selalu menganggap temen Azril tuh temen gue juga." Lalu cewek itu bebalik pergi untuk kembali menuju kamar mandi seperti tujuan awalnya. "Zril, handuk jangan lupa!" Teriaknya sebelum menutup pintu kamar mandi. Aku dapat melihat Azril menggeleng dengan kelakuan Nadin. “Bener bener tuh orang, gak berubah meski selama satu tahun gak pulang ke rumah.” Keluh Azril yang merasa tidak suka dengan sikap Nadin yang sepertinya senang menyuruh nyuruh Azril. Aku yang tidak mengerti lantas bertanya pada Azril. “Jadi lo selama ini punya kakak? Kandung?” tanyaku heran. Azril mengangguk. “Kandung lah,” jawabnya cepat. “Terus kok gue baru tau? Selama ini ke mana aja?” tanyaku lagi yang masih tidak mengerti. “Kuliah di luar kota, Nadin mah gitu senengnya jauh jauh dari rumah. Dari SMA aja udah milih sekolah asrama, katanya sih kualitasnya bagus. Emang anaknya kompetitif banget sih di bidang akademik. Itu juga dia kuliah di luar kota, di kampus impiannya, pengen banget jadi anak UGM kan.” Jelas Azrial, menceritakan soal Nadin yang merupakan kakaknya dan baru aku ketahui. “Tapi pas libur semester kayaknya gak pernah pulang deh,” kataku lagi, mengingat aku sudah mengenal Azril selama satu tahun, dan aku jelas memahami bahwa memang selama ini tak pernah melihat sosok kakak dari Azril itu. “Ya karena anaknya kompetitif dan suka ngebolang, dia ikut pertukaran pelajar ke luar negeri pas libur semester. Pokonya tiap liburan tuh ada aja kegiatan yang di apply. Kayaknya tahun ini dia gak lolos kegiatan apa pun deh, makanya gak berangkat ke mana mana dan milih pulang,” jelas Azrial lagi yang tidak aneh sama sekali dengan sikap kakaknya itu. Aku hanya mengangguk mendengar penjelasan Azril. Oh, lucu juga yaa, cewek ambis di bidang akademis gitu. Anak UGM pula. "Mama denger suara Nadin. Dia udah pulang?" Pintu kamar Ibu Azril terbuka, menampakan sosok wanita paruh baya berbalut piyama bermotif bunga-bunga.  "Lagi mandi, Maaa." Sebelum Azril menjawab, Nadin sudah berteriak dari dalam kamar mandi. Ibu Azril hanya tersenyum dengan perilaku anak gadisnya itu. "Lucu banget Kakak lo, Yal. Ambis tapi kok kayak bocah." Komentar Aku yang memperhatikan tingkah Nadin sedari tadi. "Freak gitu. Yaa karena ambis jadi masa kecil kurang bahagia, makanya kelakuannya kayak bocah terus.” Azril tidak setuju dengan ucapan Aku yang mengatakan Nadin lucu. Tentu saja, Azril kan adalah adiknya Nadin. Jika di lihat dari wajah Azril, terlihat jelas ia bagaikan seorang adik yang tertindas karena sang kakak gemar menyuruh nyuruh segala macam pada Azril, layaknya hubungan kakak adik pada umumnya.  "Gue ambil handuk dulu, tar dia teriak-teriak lagi." kata Azril seraya bangkit dari duduknya, untuk menuju ke kamarnya mencari handuk bersih. Aku hanya mengangguk dan terkekeh pelan, meski mengeluh, bahkan Azril tetap menuruti perkataan Nadin karena tidak mau membuat keributan lebih panjang lagi. Malam itu lah, kali pertama aku bertemu dengan Nadin, sebelum kisah kami berlanjut hingga sebelas tahun lamanya. Jika aku tak menginap di rumah Azril dan membukakan pintu malam itu, menyambut sosok yang aku pikir setan, mungkin aku tidak akan mengenal Nadin. Bagiku, Nadin itu lucu, ekspresif, senang berkomentar, tapi di sisi lain memiliki jiwa ambis yang kuat. Terkadang aku pikir itu baik untuk dirinya, tapi semakin lama aku merasa hal tersebut kerap kali menjadi bumerang untuk hubungan kami. Setelah menempuh perjalanan selama dua puluh menit, akhirnya aku mobilku sampai di depan rumah Azril. Aku memarkirkan mobil di pinggir jalan, karena halaman rumah Azril yang tidak begitu luas untuk kembali menampung mobil lain. Maka setelah memperkirakan bahwa mobilku tidak terlalu menghalangi jalan, aku pun segera turun dari mobil untuk bergegas memasuki rumah Azril. Sebelumnya aku jelas sudah mengontak Azril terlebih dahulu, untuk memastikan lelaki itu ada di rumah atau tidak. Sebab siapa tau Azril belum pulang kerja, atau sedang ada kegiatan lain di luar hingga membuatnya belum berada di rumah. Setelah memastikan hal tersebut, baru lah aku memutuskan untuk jalan ke tempat ini. Tokk .. Tok .. Aku mengetuk pintu rumahnya sembari mengucapkan salam, lalu menunggu sampai si pemilik rumah membukakan pintu ini. Setelah menunggu tak sampai satu menit, dapat ku dengar derap langkah kaki yang berjalan di balik pintu ini untuk membuka pintu. Di iringi suara Azril yang terdengar di baliknya seraya mengataka, “Iya, bentar.” Aku tak lagi mengucapkan salam berkali kali, dan hanya menunggu saja sampai pintu terbuka.  Azril akhirnya muncul dari balik pintu, dengan menggunakan setelan santainya saat di rumah. Kaos berlengan pendek dan celana boxer di atas lutut yang membuatnya merasa nyaman. Aku juga tadi sudah sempat pulang ke rumah dan berganti pakaian dengan yang lebih santai, jadi tidak ke sini dengan menggunakan pakaian kerja banget. “Cepet amat, tadi kayaknya baru bilang otw.” Komentar Azril seraya memasuki rumahnya. Aku mengikuti lelaki itu memasuki rumahnya, rumah yang semasa kuliah dulu sering menjadi tempatku main. “Ya gue kan kalo bilang otw, beneran otw. Gak kayak lo, baru bergerak buat mandi.” Aku membalasnya dengan membeberkan fakta saat Azril mengatakan otw yang berarti baru akan mandi. Kemungkinan Azril jalan bisa satu jam lagi. Azril hanya terkekeh pelan mendengar hal itu, lalu menyuruhku untuk menunggu di ruang tamu rumahnya, sementara dirinya memasuki kamar untuk mengambil kamera yang akan aku pinjam itu. Aku hanya menurutinya, duduk di sofa yang menghadap ke televisi. Tanganku pun iseng mengganti channel yang sedang di tayangnkan di televisi serasa rumah sendiri. Sudah lama rasanya aku tidak ke sini karena selama ini tinggal di Surabaya. Meski selama dua minggu aku sudah di Jakarta, tapi kemarin aku sedang  mengurus keperluan lain sehingga belum sempat main ke tempat Azril. Mungkin ini kali pertama aku bermain lagi ke tempat Azril selepas kembali ke Jakarta. Tak lama, sebelum Azril kembali ke ruang tamu, aku mendengar suara pintu yang terbuka, menandakan ada orang masuk. Aku pikir itu adalah Ibu Azril yang baru pulang kerja, karena itu lah aku menoleh dan berniat untuk salaman dengan ibu Azril. Namun, tepat saat itu lah aku menangkap sosok yang aku kenal memasuki rumah itu. Nadin seketika terpaku saat melihat aku yang duduk di ruang tamu rumahnya, sementara wanita itu masih memegangi gagang pintu karena keterkejutannya itu. Aku jelas tak kalah terkejut saat melihat kedatangannya, bahkan dari pakaiannya saja, Nadin tidak seperti orang yang baru datang dari luar kota. Tidak ada koper yang di bawa, Nadin hanya membawa tas kerja biasa, yang menandakan bahwa wanita itu memang baru pulang kerja. “Kok kamu di sini?” tanyaku yang tidak mengerti bagaimana bisa Nadin berada di Jakarta, meski aku tau ini adalah rumahnya, maksudku, yang aku ketahui Nadin masih ada dinas di Pulau Sumatera. Pekerjaannya sebagai reporter membuatnya harus bepergian ke sana ke mari demi meliput acara dari tempat kejadian langsung. Aku ingat sekali, terakhir kali Nadin mengirimiku pesanku terkirim untuk Nadin itu tiga hari lalu, dan tidak di balas sama sekali. Aku pikir mungkin karena Nadin sibuk, sebab komunikasi kami memang sudah biasa seperti itu. Dan kali terakhir aku mengetahui keberadaannya, adalah ia masuk berada di Sumatera. Nadin sama sekali tak memberitahuku bahwa ia tengah berada di Jakarta.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD