- 18 -

1772 Words
= = = = = Rendi = = = = = Pukul delapan malam aku mengarahkan mobilku untuk menuju rumah salah satu teman kuliahku, yang bisa di katakan sebagai temanku yang memang masih akrab hingga kini. Masih satu pergaulan bersama Tiara dan juga Chaca. Azril namanya. Azril tergolong teman pertama yang aku temui di kampus dulu, di bandingkan dengan Sandi dan Rehan, bisa di bilang aku paling akrab dengan Azril. Keperluanku malam ini adalah untuk meminjam kamera milik Azril,yang mana akan di gunakan untuk acara ulang tahun sepupuku. Sebenarnya aku malas untuk melakukan hal ini, tapi karena di desak oleh sepupuku yang gemar memaksa, dan mengetahui bahwa salah satu temanku memiliki kamera, alhasil di sinilah aku berada. Malam malam, setelah pulang kerja, tetap harus menyetir mobil untuk ke rumah Azril. Azril ini juga merupakan adik dari Nadin, kekasihku. Ya benar, Nadin memang lebih tua dua tahun dari usiaku. Bisa di katakan juga, aku mengenal Nadin saat sedang bermain di rumah Azril. Aku jadi teringat kali pertama bertemu dengan Nadin di rumah Azrial waktu dulu. Hari sabtu malam, atau tepatnya malam minggu, hujan turun begitu derasnya. Katanya jika hujan di malam minggu itu merupakan doa para jomblo yang di ijabah. Jomblo jaman sekarang doanya benar-benar bermanfaat, dia meminta hujan yang merupakan sumber rezeki. Sabtu malam ini Aku menginap di rumah Azril, teman dekatku sejak masuk SMK. Hampir di setiap minggu Aku menginap di rumah Azril. Aku menyukai suasana rumah Azril yang tidak besar namun nyaman. Yang dimaksud dengan nyaman adalah tidak terlalu banyak penghuni. Berbeda dengan rumahku, yang cukup besar dengan tiga tingkat pula, namun diisi oleh keluarga besar. Bukan main ramainya rumah itu, keluarga dari saudara ibuku semuanya tinggal disitu. Ibuku saja memiliki tiga anak, belum lagi keluarga Tante dan Om ku. Serta ada dua orang sepupu ku yang sudah berkeluarga. Setiap lantainya memiliki banyak kamar layaknya kost-an.  Sepupuku tidak ada yang sepantaran dengan Aku pula, rata-rata umurnya dibawah Aku. Kecuali dua orang yang berkeluarga tadi tentunya. Yang ada mereka menambahkan jumlah anak kecil di dalam rumah keluarga besar itu. Makanya, Aku gak betah banget ada di rumah. Berisik. Pasti ada saja yang diributkan. Ada saja yang nangis karena perrbutan mainan. Ada saja sesuatu yang tumpah di ruang tengah atau dapur. Dan pelarian Aku setiap jumat dan sabtu malam saat jaman kuliah dulu adalah rumah Azril. Saat ini kami berdua sedang berada di ruang tamu atau ruang keluarga atau ruang serbaguna di rumah Azril. Ini yang Aku suka dari rumah Azril, ia tak harus berada di dalam kamar, karena di rumahku, ruangan seperti ini adalah ruangan yang sudah pasti tidak aman. Boro-boro mau nonton tivi, lah para bocah aja pada rebutan buat nonton channel yang diinginkannya.  "Martabak yang elo pesen belom dateng juga, Ren? Keburu ngantuk nih gue." Azril yang tiduran di sofa tiga dudukan berkali-kali menguap, matanya berusaha ia buka untuk menonton film bioskop yang sedang tayang di tv malam itu. "Belom, abangnya neduh dulu kali." Sahutku asal menebak perihal belum datangnya martabak yang aku pesan itu, karena malas berpikir maka aku hanya menjawab sekenanya saja. Lagi pula di luar memang sedang hujan deras, hal itu juga yang membuat kami memutuskan memesan martabak alih alih pergi ke luar hanya untuk membeli makanan. Meski sebenarnya Mama Azril juga masak, tapi kami memang ingin jajanan luar saja. "Gue juga tidur dulu lah. Besok download aja nih film di kampus." Kata Azril yang maksudnya adalah film yang sedang tayang di televisi itu, yang merasa bahwa film tersebut seru, tapi malas mengikutinya di televisi lantaran banyak iklan. Dulu, media streaming online belum sebanyak sekarang. Alhasil biasanya kami menonton film jika di tayangkan di televisi. Waktu itu justru sedang maraknya tempat download ilegal, karena minimnya media streaming online, tidak seperti sekarang yang sudah marak sekali. Aku melirik jam yang terpasang di tembok rumah Azril, untuk melihat pukul berapa saat ini sampai Azril sudah mengantuk. "Baru jam sebelas. Payah banget mata lo." Kataku yang merasa bahwa jam sebelas malam tergolong masih sore, sebab biasanya jika menginap di rumah Azril, kami bisa tidur sekitar jam dua malam. "Bodoamat, gue ngantuk. Kalo martabaknya dateng, bangunin gue." Kata Azril yang tetap memedulikan perihal kedatangan martabak yang memang sudah kami tunggu tunggu sejak tadi. Membayangkan martabak telor yang gurih, hangat, dan kenikmatan rasa tiada tara juga turut membuat perutku kembali berguncang, meminta untuk di penuhi keinginannya. Aku berusaha mengucapkan rasa sabar untuk diriku sendiri, menguatkan diriku sendiri sampai martabak telor tersebut datang, yang kemungkinan berkisar sepuluh menit lagi karena memang tak jauh juga outletnya. Saat Aku melirik ke sofa tempat Azril berbaring, cowok itu sudah tertidur pulas. Aku yang juga tiduran di sofa lainnya kini bangkit dan berjalan menuju meja telepon rumah Azril, untuk memastikan kurir Martabaknya sudah sampai mana, sakingnya aku tak sabar menantikan makanan tersebut datang. Rupanya aku bahkan tak mampu menahan sampai sepuluh menit lagi, siapa tau jika di telpon abang kurirnya segera datang. Tokk.. tokk.. Baru saja Aku menekan satu angka, pintu rumah Azril ada yang mengetok. Itu pasti Martabaknya. Dengan semangat Aku berjalan menuju pintu, untuk menyambut martabak telor yang masih hangat dan akan aku nikmati ketika suasana sedang dingin seperti ini. Tokk.. tokk.. Ketukan itu terdengar lagi. Aku mendengus. Gak sabar banget sih. Baru beberapa detik yang lalu ketukan sebelumnya terdengar, setidaknya jika mengetuk pintu itu yaa tunggu dulu sekitar semenit, jika gak di buka baru di ketuk lagi. kan si empunya rumah juga perlu waktu untuk berjalan menuju pintu, sehingga tak bisa langsung terbuka pintunya. Aku terus menggerutu sampai berdiri di depan pintu. "Iya, bentar." Aku  berteriak, setelah sampai di depan pintu, maka aku pun membukakan kunci pintu rumah Azril, sebelum si kurir martabak ini berteriak sekali lagi dan membuat kesabaran ku bisa habis karena emosi ku yang terus di pancing. Aku membuka pintu, dan saat matanya menangkap sosok dibalik pintu, Aku refleks mundur beberapa langkah sambil berteriak. Mataku melotot saking terkejutnya saat melihat sosok tersebut, yang aku perkirakan adalah jelmaan makhluk gaib yang sering berkeliaran di malam hari di kala hujan, padahal ini malam minggu, kenapa setan setan harus berkeliaran? Memang setan juga butuh hiburan atau gimana? "Setan! Zril, Azril, ini kenapa gue disamperin Setan, bukannya tukang martabak?" Aku terus mundur dan seketika berlari menuju sofa kembali. Aku segera membangunkan Azril dengan mengguncang. Ketika aku melirik ke pintu, bukannya hilang, sosok yang aku teriaki Setan itu malah masuk ke rumah Azril. Kontan aku pun semakin pucat karena serasa di kejar oleh setan tersebut, atau jangan jangan setan itu dendam terhadapku? Berbagai pikiran aneh seketika merasuk ke dalam kepalaku akibat melihat sosok menyeramkan yang memang sangat menyerupai makhluk gaib itu. Aku tidak tau jika mataku bisa melhat sosok seperti itu, sebab sebelumnya aku tidak pernah melihat atau pun merasakan kehadiran makhluk gaib, entah makhluk satu ini memiliki kekuatan yang sangat dahsyat atau gimana sampai bisa memunculkan diri di hadapanku. Yang mana menurut sumber yang aku baca, jika ada makhluk gaib yang memunculkan dirinya di hadapan manusia, justru energi makhluk itu akan berkurang yang berarti dia rugi dong. Kenapa dia harus merugikan dirinya sendiri hanya untuk mengejarku yang tidak memiliki salah apa apa ini? "Apasih, Ren?" Azril mengeluh karena Aku yang mengganggu tidurnya. Cowok itu pun akhirnya terbangun dari tidurnya karena kehebohan yang aku buat. Azril berusaha mengucek matanya, untuk memperjelas penglihatannya terkait makhluk gaib basah kuyup yang sudah berdiri di hadapanku. Sementara aku masih gemetar, Azril justru tidak tampak ketakutan dan santai saja. Gila! Azril ini pawangnya kunti atau gimana? Bisa bisanya ia sesantai itu melihat sosok menyeramkan di hadapan kami ini. "Nenek lo, Setan! Gue yang punya rumah ini, tau! Elo siapa, hah? Malem-malem di rumah gue?" setan itu – maksudku entahlah dia setan atau bukan – kini mengomel kepadaku. Apa maksudnya? Ini rumahnya? Dia salah rumah atau bagaimana, jelas jelas ini rumah Azril. Azril yang mendengar suara tersebut semakin tampak tidak terkejut atau pun berniat mengomel sosok di hadapan mereka ini, yang mengaku bahwa ini adalah rumahnya. Seharusnya kan Azril mengomel. Aku yang tadi ketakutan setengah mati, jadi bingung melihat cewek dengan dress putih selutut, rambut panjangnya yang dibiarkan tergerai, ditambah lagi keadaannya basah kuyup, membuat wajahnya jadi pucat dan tampak seram. "Eh, Din? Lo udah sampe? Gue lupa lo balik hari ini, lupa jemput deh jadinya." Azril memasang tampang bersalah demi meyakinkan cewek yang disapanya 'Din' itu. Maka dapat di pastikan bahwa Azril mengenal setan – maksudku cewek di hadapan kami ini yang entah datang dari mana. "Durhaka emang, lo! Gue udah bilang jelas banget. Hari sabtu. Jemput gue di stasiun jam 10 malem. Lo malah enak-enakan tidur. Gue jadi basah kuyup ginikan." Cewek itu kemudian mengoceh -mengomel tepatnya- pada Azril, seraya menunjukan baju dan rambutnya yang basah kuyup, sehingga membuat penampilannya tampak menyeramkan. Baru lah aku percaya setelah ia mengoborl dengan Azril, bahwa cewek ini memang manusia seutuhnya. Nyaris saja jantungku merosot ke perut jika memang dia adalah setan tulen. Baru Aku sadari cewek itu membawa koper berwarna biru. Tentu saja tidak ada setan yang membawa koper. Kecuali di film horor Indonesia yang kebanyakan absurdnya. "Nah, elo siapa ini? Enak aja ngatain gue setan!" Pandangan cewek itu kini beralih pada Aku. Merasa tidak terima saat aku menyebutnya sebagai setan, padahal kan ya memang benar penampilannya saat ini seperti setan. Ngapain coba pake dress putih malam malam, dengan rambut panjang terurai. Kan menyeramkan sekali. Tidak salah aku menyebutnya sebagai setan. "Baru dateng udah bikin rame aja lo ya, ini temen gue, sawan dia liat lo. Tapi emang kayak setan sih. Pake baju putih, rambut digerai, pengen sok iklan sampo malah jatohnya kayak kunti." Azril nyengir lebar sambil memperhatikan penampilan Nadin malam itu. Benar kan, Azril saja setuju dengan penilaianku yang semula menganggap bahwa Nadin seperti setan, yaa emang seseram itu saat sosok Nadin tadi muncul tanpa aba aba, lalu berjalan perlahan memasuki rumah seolah ingin mencari mangsa untuk tumbalnya malam ini. Hii. Aku semakin bergidik ngeri dengan skenario ku sendiri. Nadin mengambil sebuah bantal dari sofa dan melemparkannya tepat di wajah Azril. Tanpapeduli tangannya masih basah tapi malah memegang bantal, bisa di pastikan jika bantal itu akan ikut basah. "Dasar gak normal! Malem minggu bukannya jalan sama cewek malah maen sama batangan." Nadin mengomentari perihal aku yang menginap di rumah Azril ini, dengan nada suaranya yang terdengar lantang dan tidak ada rasa tidak enaknya sama sekali meski aku masih berada di sana. Meski aku disinggung juga, tak ayal Aku malah tertawa. Lucu sekali cara cewek ini mengucapkannya. Dengan keadaan yang masih basah kuyup, wajahnya yang pucat, namun pengucapannya tetap berapi-api. "Justru yang gak normal yang udah tau ujan gede gini masih nekat keluar. Mau menari-nari dibawah hujan kayak film india?" Aku mulai bersuara lagi, wajahnya sudah bisa terkontrol, tidak ketakutan seperti tadi karena dapat dipastikan bahwa cewek itu bukan makhluk jadi-jadian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD