Grand Indonesia tampak ramai di jam pulang kerja, banyak orang yang tidak langsung pulang ke rumah dan memilih untuk melepaskan penat ke mall yang tak jauh dari gedung kantornya. Dengan menggunakan pakaian kerja seperti kemeja dan celana bahan, para pengunjung berkeliling memasuki satu demi satu outlet untuk mencari kebutuhannya atau pun sekadar melihat saja.
Beberapa restoran terbilang cukup ramai tapi tidak padat, masih banyak bangku kosong yang terlihat. Aroma aroma dari dapur restoran tersebut seolah menggoda untuk di kunjungi, belum lagi aroma roti yang berasal dari gerai roti yang cukup ternama. Aku nyaris menghentikan kaki ku untuk membeli roti tersebut, karena tergoda aromanya, tapi teringat aku tidak begitu doyan makan roti. Maka aku berusaha menguatkan imanku untuk tidak perlu membeli hal hal yang memang tidak perlu.
“Lila nyusul gak, Cha?” tanyaku, memastikan teman kami yang lainnya yang memang biasa jalan jalan bersama kami, untuk urusan cewek cewek tentunya, akan menyusul atau tidak.
Chaca yang tengah berjalan di sebelahku sembari menenteng beberapa kantong belanjaan dari beberapa brand yang ada di mall ini – yang padahal tidak ada niat sama sekali untuk membeli barang tersebut, tapi iman Chaca memang setipis itu, yang akhirnya aku juga ikut terbawa dan sempat membeli parfum yang memang wanginya sangat menggoda, juga teringat parfum milik Alex tinggal dikit jadi aku membelikannya juga – menoleh sebentar untuk melihatku.
“Enggak, sok sibuk dia. Katanya lembur. Kerja mulu, kaya enggak, tipes iya.” Chaca mengeluh dengan memberikan semboyan para pegawai yang memang sering sekali di gumamkan sebagian besar dari kami setiap melihat temannya yang lembur.
Aku tertawa pelan mendengarnya, mengingat pekerjaan Lila memang cukup sering lembur karena Lila bekerja di Kantor Akuntan Publik, yang mana saat ini memang sedang musim laporan pajak tahunan kepada negara. Memang sangat terbayang bagaimana kesibukan Lila saat ini, seolah tidak sadar diri, wanita itu kemarin malah mengambil cuti demi pergi liburan bersama kami. Aku tidak tahu apakah Lila benar benar izin cuti atau pura pura sakit seperti aku. Sebab mana mungkin sedang sibuk sibuknya seperti itu malah mengambil cuti, bisa bisa Lila di lempar atasannya pakai outner berisi berkas berkas klien yang tumpukannya tebal sekali.
“Ca! Yang itu salonnya!” aku menunjuk sebuah salon yang memang sudah kami pesan saat di mobil tadi, sehingga kami tinggal menukarkan kode voucher saja.
“Oiya.” Chaca mengangguk seraya mengikuti ku untuk berjalan ke arah sana, dan segera masuk ke salon tersebut sebelum mata kami kembali menangkap sesuatu yang bisa bisa malah menjadi berpindah ke tentengan kami. Bisa gawat kan jika kami belanja terlalu banyak, aku juga tidak mau borosnya keterlaluan.
Banyak orang yang berpikir hanya karena aku menikah dengan Alex, aku bisa dengan mudahnya menghambur hamburkan uang yang di berikan Alex. Aku benci sekali dengan pemikiran seperti itu, membuatku terlihat tidak berguna. Padahal jelas jelas aku kan juga masih bekerja, masih menerima gaji setiap bulannya, tidak diam saja di rumah dan menikmati uang dari suami begitu saja. Coba bayangkan jika aku menerima pekerjaan di kantor Papa, bisa bisa aku semakin di pergunjingkan, dan semakin di cap sebagai pengintai harta mertua.
Dasar memang manusia manusia tidak mampu, jadi yang bisa di lakukan hanya iri dan dengki. Pantas saja nasibnya tidak lebih baik dari aku.
Setelah meredeem voucher kami, aku dan Chaca pun segera di persilahkan untuk memasuki ruangan treatment. Kami segera di arahkan ke tempat pencucian rambut. Membayangkan air hangat akan mengguyur kepalaku, rasanya menyenangkan sekali. Kepalaku memang butuh di guyur sesuatu agar bisa berpikir lebih waras. Semua ini benar benar karena kedatangan Rendi yang tiba tiba. Harusnya saat melihat Rendi tadi, aku refleks saja mengguyur air panas ke wajahnya.
Oke, kini aku terdengar sangat creepy. Aku jelas tidak sesadis itu. Singkat kata, sadis ku hanya sebatas niat, tak pernah terealisasikan. Aku tidak tau hal tersebut bagus atau tidak, tapi rasanya aku seperti memupuk bibit bibit psikopat di dalam diriku. Bukan kah hal tersebut terdengar mengerikan jika semakin lama di biarkan semakin mengendap? Tapi aku jelas akan lebih pandai mengatur perasaan semacam ini.
“Silahkan tiduran, Kak.” Kata seorang petugas salon, saat aku baru duduk di tempat pencucian rambut ini.
“Oke.” Aku menyahut pelan sembari mengikuti arahannya, pun dengan Chica yang kini sudah merebahkan tubuhnya dengan santai, menikmati air panas yang mulai menyiram kepalanya.
Tak lama aku pun menyusul. Dapat aku rasakan guyuran air hangat membasahi rambutku, dan terasa di kulit kepalaku. Rasanya kepalaku terasa segar sekali, seolah segala pikiran yang membebani terbang begitu saja, berganti dengan sebuah kenyamanan yang memang biasa di hadirkan dalam treatment tersebut. Terlebih lagi gerakan petugas salon yang memanjakan kepalaku dengan memijatnya secara perlahan, namun terasa begitu nyaman.
Aku yang tengah fokus menikmati treatment dari petugas salon ini, tiba tiba dikejutkan oleh suara Chaca yang membuyarkan kenyamananku.
“Woy, Ra! Lo gak dengerin gue ya?” tegur Chaca saat aku mulai menangkap suaranya.
Ya ampun, rupanya sejak tadi Chaca mengajak aku berbicara. Ya mana aku tahu, aku terlalu fokus menikmati pijatan di kepalaku hingga tak sadar bahwa cewek itu tengah mengoceh di sebelahku. Mungkin yang mendengar ceritanya malah mbak mbak salon yang sedang memijat kepala kami. Yaa gimana, aku sangat menikmati pijatan di kepalaku ini sampai tidak sadar bahwa Chaca mengoceh sejak tadi.
“Kenapa, Cha? Duh gue nyaris ketiduran saking pewe nya,” kataku menjelaskan perihal aku yang tidak mendengar ucapannya tadi karena terlalu menikmati pijatan di kepalaku ini.
Chaca mendengus pelan mendengar alasanku, lalu wanita itu kembali mengulang perkataannya yang sempat aku lewatkan tadi. “Lo gak papa sekantor sama Rendi, Ra?” tanya Chaca yang rupanya masih memperdebatkan perkara pertemuan dengan Rendi di kantorku tadi.
Aku berdecak pelan, tidak mungkin jika aku tidak apa apa. Jelas aku sangat keberatan, kehadiran Rendi mengguncangku seharian ini, membuatku berpikiran segala macam sampai sampai mau resign dari kantor. “Gue malah gak tau, gue harus apa? Rendi mau gak ya kalo gue suruh resign, atau gue aja yang resign ya, Cha?” tanyaku seperti orang kehilangan harapan, yang memilih jalur paling mudah dan enggan memikirkan solusi terbaik.
Chaca terdiam beberapa saat, seolah ikut memikirkan jalan keluar untuk permasalahanku hari ini. Beberapa menit lamanya aku tidak mendengar suara Chaca yang kembali menyahut, entah apa yang tengah di pikirkan wanita itu sampai terdiam sedemikian lama, hingga akhirnya suara Chaca kembali terdengar. “Emang udah waktunya gak sih, Ra?”
Ucapan Chaca sukses membuat mataku yang semulai terpejam, kembali terbuka. Jika aku sedang tidak di pijat, mungkin aku sudah menoleh ke arahnya dan menatap Chaca tidak mengerti. Sehingga yang kini aku lakukan hanya bertanya kepadanya. “Waktunya gimana?” tanyaku heran, yang tidak mengerti maksud ucapannya.
Chaca kembali terdiam beberapa saat, tampak berusaha untuk menyusun pola kalimat yang akan di ucapkannya. “Yaa udah waktu nya lo berhadapan sama Rendi. Udah delapan tahun loh, Rendi berusaha menghindar dari lo. Delapan tahun Rendi berusaha ngasih ruang gerak buat lo, emang masih gak cukup?”
Percakapan ini kembali di mulai, aku benci dengan narasi bahwa Rendi pergi karena aku. Bukan kah sudah jelas, bahwa Rendi mengasingkan diri ke luar kota, karena demi menyusul kekasihnya yang mengambil study S2 di sana. Segitunya Rendi tak dapat berpisah dengan kekasihnya hingga menyusul wanita itu, kenapa semua ini jadi karena aku.
“Rendi pindak ke Surabaya karena nyusul Nadin kali, Cha. Bukan karena gue.” Aku mempertegas alasan yang selama ini aku yakini, aku benci saat semua orang menganggap Rendi pindah ke luar kota karena demi menghargai privasiku yang enggan berhubungan lagi dengannya.
“Rendi gak segitunya kali, Ra. Iya sih dia bucin akut sama Nadin, tapi gak sampe rela nyusul juga. Rendi udah di terima di BUMN kok pas abis lulus, ngapain juga dia pindah ke Surabaya.”
Perkataan Chaca membuatku menoleh, tanpa memedulikan lagi kepalaku yang kini sedang di bilas oleh air hangat lagi, sehingga membuat gerakan di kepalaku. “Kata siapa?” tanyaku karena merasa tidak pernah tahu perihal Rendi yang diterima di sebuah BUMN saat kelulusan kuliah kami dulu.
“Kan seleksinya bareng gue, Rendi lolos, gue enggak. Cuma yaa gue gak pernah cerita sih sama lo. Rendi bilang gak usah cerita ke lo, tapi karena dianya udah balik juga, yaudah deh ceritain aja,” jelas Chaca menceritakan kronologis kejadian beberapa tahun yang lalu, saat dirinya mendaftar kerja di sebuah BUMN bersama Rendi.
Aku baru tahu hari ini jika ternyata Rendi sempat keterima di salah satu BUMN itu, yang pasti akan sangat bagus untuk karirnya. Ternyata Rendi tidak menerimanya, dan apa alasannya? Karena aku?
“Gak mungkin,” kataku yang masih terus denial dengan cerita dari Chaca. “Gak mungkin karena gue lah, Cha! Itu emang dia pengen nyusul Nadin. Gak usah bikin cerita baru deh.” Aku terus berusaha menepis segala hal yang terus mengatakan bahwa Rendi pergi ke Surabaya demi memberiku ruang gerak karena merasa tak nyaman dengan keberadaannya.
Chaca menatapku prihatin, sekian tahun terlewati seolah tak mampu melunturkan luka yang pernah terbit di hatiku. Pasti Chaca gemas sekali melihatnya.
“Gue paham apa yang Rendi pikirin sekarang, dan bikin dia berani buat balik lagi, meski harus satu kantor sama lo.” Chaca kembali bersuara.
Aktivitas membilas rambutku sudah selesai, begitu pun dengan Chaca. Hal itu membuat kami di minta untuk bangkit dan duduk. Karena itu lah aku menoleh sejenak pada wanita itu, sebelum beranjak ke ruang perawatan lainnya. “Apa?” tanyaku.
“Lo udah nikah, Ra. Rendi pikir udah gak masalah, karena buktinya aja lo udah nikah sekarang. Berarti itu udah bukan masalah lagi kan?”
Ucapan Chaca membuatku seketika terdiam. Jadi begitu pola pikir Rendi yang tidak melakukan apa apa, dan berusaha untuk bersikap biasa saja seolah tak pernah terjadi apa apa, karena menganggap aku sudah baik baik saja. Dengan bukti nyata bahwa kini aku sudah menikah, yang berarti aku sudah melenyapkan perasaan macam apa pun, baik itu luka atau benih benih perasaan yang tak sempat bersemi, yang pernah ada untuk Rendi.
Secara logika, memang seharusnya begitu. Seharusnya aku baik baik saja dan tidak mempermasalahkan hal ini lagi karena kurun waktu yang terlewat pun sudah cukup lama. Mengungkit luka lama pun tidak akan menyelesaikan apa pun, yang pernah terjadi di antara kami hanya sebuah kenangan masa lalu yang menyakitkan untukku, yang mana mungkin sangat memuaskan untuk Rendi.
Seharusnya aku baik baik saja, sesuai dengan ucapan Chaca, memang sudah waktunya untuk aku berdamai dengan masa laluku bersama Rendi. Memeluk segala amarah yang pernah tumbuh dalam hatiku, yang terus meletup setiap kali nama sosok itu di sebutkan, yang tak kunjung reda meski banyak hal yang sudah terjadi dalam hidupku. Bahkan Rendi pun mulai menganggapnya demikian.
Jika aku pergi – aliasn resign dari kantor – atau meminta Rendi yang hengkang dari kantor, jelas akan semakin mempertegas bahwa aku masih tidak baik baik saja. Lalu untuk apa pernikahanku ini, jika hatiku masih merasa sakit untuk kisah yang sudah terlalu lama terjadi? Apa yang akan di pikirkan Rendi terkait kehidupanku yang seharusnya sudah berjalan dengan baik tanpa kehadirannya?
Demi membuat kisah ini berjalan sesuai dengan semestinya, sesuai dengan harapan Rendi yang menganggap bahwa aku sudah memiliki kehidupan yang baik dan layak, maka aku harus menghadapi semua ini. Menghadapi Rendi di setiap harinya dengan sikap yang biasa saja, seolah tidak pernah terjadi apa apa di antara kami.
Aku harus menjalankan sebuah peran, di mana aku adalah Tiara seperti dulu, sebelum kejadian tersebut. Sebatas salah seorang sahabat wanitanya Rendi, yang cukup akrab dan memiliki banyak momen kebersamaan tanpa pernah diketahui siapa pun bahwa ada rasa yang tumbuh di hatiku. Bedanya, kini aku harus menunjukan pada Rendi, bahwa rasa itu telah musnah dan mati tak bersisa, hingga membuatku bisa kembali hidup seperti saat ini.
* * * * * * * * * * * * K I S A H Y A N G T E R L A M B A T * * * * * * * * * * * *