- 9 -

721 Words
= = = = = Tiara= = = = = Terdengar suara notifikasi dari ponselku yang tiada henti, pertanda ada pesan masuk beruntun yang aku prediksi dari Alex. Aku mendengus sebal, dasar Alex gak sabaran. Baru juga nunggu beberapa menit, emang dikira aku terjun dari lantai setinggi ini untuk sampai ke lobby? Ya sabar dulu lah. Ini juga lagi di lift. Tapi aku hanya mengeluh dalam hati, dan memilih enggan membalas chat dari Alex karena kesal. Dibiarkannya saja chat tersebut tanpa mendapatkan balasan, dan aku hanya berdiri santai di dalam lift sambil menunggu pintu lift terbuka di lantai lobby. Lift terus berhenti di setiap lantai, membuat laju lift menjadi lambat. Aku hanya bernapas dengan sabar, meski Alex sudah tak sabaran menunggu di bawah. Jam istirahat Alex kan tergolong bebas dan tidak di batasi, kenapa gak sabaran sih. Katanya juga hari ini gak ada meeting sama sekali yang artinya jadwalnya memang aman aman saja. Tapi kenapa malah gak sabaran gini, tau gitu aku memilih untuk makan siang sendiri saja dari pada di temani Alex. Saat pintu lift berdenting tepat saat indikator petunjuk lantainya menampilkan huruf G, maka aku pun buru buru keluar - pun dengan banyaknya karyawan lain yang juga memang bertujuan turun di lobby gedung kantor ini untuk menghabiskan waktu istirahatnya. Aku segera berjalan menyusuri lobby, demi mencari Alex yang katanya sudah menunggu sejak tadi. Mataku mengedarkan pandangan, mencari sosok itu yang setiap hari tak pernah absen dari pandanganku tanpa peduli aku bosan melihatnya. Oke, mari akhiri menjadi peran istri yang jahat lagi. Pasti kalian sudah banyak mengutukku karena sikap tidak baik ku pada Alex yang merupakan suamiku. Bukankah sudah ku katakan, aku sudah puas di anggap menjadi penjahat oleh mereka yang melihatku saat bersama Alex. Saat bersama Alex, aku seolah menjadi pemeran antagonis. Tak ada yang peduli bagaimana perasaanku, atau menanyakan apakah hari hariku baik baik saja? “Sayang!” Alex melambaikan tangannya, dengan tatapan yang mengarah padaku. Lelaki itu berteriak dengan lantang memanggilku dengan panggilan sayangnya, hingga membuat beberapa orang sukses menoleh karena panggilan Alex yang jelas jelas mencolok. Bayangkan saja, memanggil sayang di tempat umum begini, jelas yang lain menoleh juga karena berpikir itu kekasih mereka. Alex memang kebiasaan, aku sudah sering mengatakannya gak usah memanggilnya dengan panggilan sayang kalo mau menyapa di tengah keramaian begini. Memangnya dia lupa dengan namaku atau gimana? Aku buru buru berjalan mendekatinya, lalu menggandeng tangannya ketika sampai di sebelahnya, dan menariknya untuk segera berlalu dari sana. Tak ingin menjadi tontonan lebih lanjut, aku pun mengajaknya keluar dari gedung ini sambil menggerutu. “Kan aku udah pernah bilang, kalo di tempat rame ya gak usah panggil sayang. Yang panggilannya kayak gitu bukan kamu doang!” Omelku pada Alex, seolah tak lengkap jika rasa kesalku hanya terpendam dalam hati saja, maku aku pun tentu mengutarakannya secara langsung agar Alex paham. Alex terdiam sebentar, sambil langkahnya mengikuti langkah kakiku yang panjang panjang untuk segera mencari restoran terdekat untuk makan siang. “Iya, maaf ya. Tadi lupa.” Alex menyahut dengan suara rendahnya, yang selalu menghadapiku dengan rasa sabar tiada habisnya. Padahal aku sangat menantikan kesabarannya habis, agar dia tak selalu bersikap memaklumiku setiap saat. Aku tidak mau di maklumi, aku hanya ingin dia menjadi sedikit tidak menyebalkan. Bukannya seperti ini, dia tetap tidak ada perubahan meski aku mengomel setiap saat, lalu aku lah yang tetap menjadi peran penjahat karena selalu menyalahkannya. Padahal di mataku ya dia memang salah. “Kamu mau makan apa?” Tanya Alex saat aku terus melangkah tak tentu arah, tanpa memiliki tujuan hari ini mau makan apa. Aku berpikir sebentar sambil terus menatap sekeliling, siapa tau mendapatkan ide perihal menu makan siang yang akan aku nikmati hari ini. Sebab aku juga tak sempat memikirkan apa yang ingin aku makan untuk siang ini, biasanya kan aku hanya mengikuti teman teman yang lain tanpa pusing berpikir. Tapi karena makan siang bersama Alex. Sudah pasti aku yang memilihkan tempatnya sebab selera Alex yang buruk dan kerap kali bertentangan dengan selera makanku. Maka dari itu harus aku yang menentukan tempatnya. Aku tidak mau makan siang yang tidak aku suka. Sebagian besar pilihan Alex tidak aku sukai. “Golden lamian aja, ada di mall depan.” Kataku saat teringat sebuah nama restoran mie yang ada di mall  yang tak jauh dari gedung kantorku. Aku sudah berniat mengarahkan langkah kakiku ke sana, sebelum Alex terdengar mengajukan protes.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD