= = = = = Rendi = = = = =
Bahkan orang lain saja bisa menyadari air muka Tiara saat tadi berhadapan lagi denganku. Masih sesulit itukah untuknya melupakan hal yang pernah terjadi malam itu? Waktu yang bergulir, yang membuatku membentangkan jarak hingga segini jauhnya, serta Tiara juga yang mulai mengukir kisah dengan lelaki lainnya, mengapa tak cukup mampu untuk membuat keadaan kami bisa seperti biasa?
Aku juga enggan terus menerus seperti ini dengan Tiara, jauh sebelum malam itu, aku secara tulus menganggap Tiara adalah salah satu teman wanitaku. Sama seperti Lila dan Chaca, aku menganggap Tiara seperti mereka. Yang akan aku temani setiap kali mereka meminta di antar ke tempat tempat tujuannya, bahkan tak jarang aku juga menjadi partner Chaca kondangan. Hal tersebut wajar bagi pertemenan kami, aku pikir Tiara juga begitu. Ternyata, saat perasaan itu terkuak di antara pertemanan kami, membuat privasi hubunganku ikut terusik.
“Shock aja kali, gue gak bilang bilang dia kerja di sini. Kita satu genk gitu lah.” Aku masih menyahuti dengan tenang, berusaha agar tidak membongkar kejadian yang pernah ada di antara aku dan Tiara.
“Oh, lo masih temenan dong sama si Chaca yang berisik itu, terus Lila yang galaknya ngelebihin ibu tiri.” Devon menyebutkan dua temanku yang memang masih sering bermain dengan Tiara.
Aku terkekeh geli mendengar julukan yang diberikan Devon pada kedua temanku itu, yang memang tepat sasaran. Chaca memang sering mengoceh, suaranya juga lumayan heboh, ia mudah bergaul, tapi bagi beberapa orang sikapnya menyebalkan karena terlalu ramai. Aku sendiri sudah terbiasa dan menganggap hal tersebut sebagai hiburan.
Sedangkan Lila, berbanding tebalik dengan Chaca yang gemar mengoceh, Lila justru jarang bicara. Tapi sekalinya bicara langsung mengenai mental sang lawan bicara, terlebih dengan pelototannya yang mengintimidasi. Lila terkenal jutek dan enggan bereaksi banyak. Masih menjadi misteri hingga kini, bagaiamana bisa sosok Chaca berteman dengan Lila.
“Iya, sama mereka juga. Kemarin kan Tiara juga habis-“
“Sakit!” Suara Devon segera menyelaku, dengan tatapannya yang melotot.
Astaga. Aku lupa, Tiara memang izin sakit untuk tidak masuk selama satu minggu kemarin. Devon tampak sudah paham alasan Tiara yang sebenarnya, sebab cowok itu buru buru memotong ucapanku yang akan mengatakan bahwa Tiara pergi berlibur dengan Chaca dan Lila, tentu saja aku mengetahui dari postingan sosial media ketiga cewek itu yang betebaran. Terlebih Chaca juga memberikan aku oleh oleh hasil dari liburannya itu, jika Lila jangan harap berbaik hati memberikanku oleh oleh.
“Oh iya, sakit.” Aku ikut mengucap hal tersebut mengikuti Devon yang kini seolah mengirim sinyal melalui pancaran matanya. Aku hanya tersenyum tipis menanggapinya.
Lucu sekali ya, bahkan kini Tiara memiliki atasan yang bisa menutupi kebohongannya. Sedikit banyak aku bersyukur melihat hal itu, berarti kehidupan Tiara berjalan baik. Seharusnya, kedatanganku saat ini tidak akan berpengaruh banyak untuknya. Seharusnya Tiara memang tidak akan lagi mempermasalahkan hal yang pernah terjadi di masa lalu, sebab masa depan wanita itu kini bahkan lebih cemerlang.
Aku yang memiliki kekasih sejak masa kuliah saja masih belum menikah, coba lihat Tiara, ia menjadi yang pertama menikah di antara pertemanan kami. Aku juga sempat mendengar kabar perihal latar belakang suami Tiara yang memang sangat baik. Bukan kah kehidupan Tiara sudah berjalan dengan baik, jadi memang seharusnya tidak apa apa aku datang saat ini, dan tak perlu berlari lagi demi memberikan ruang untuknya menata hati.
Suara pintu ruangan yang terbuka terdengar di telingaku, membuatku menoleh ke asal suara itu, melihat siapa yang datang. Rupanya Tiara sudah kembali, dengan wajah yang terlihat habis dibasuh air sehingga lebih terlihat segar, serta tangannya yang membawa pop mie pesanan Devon. Aku terdiam sejenak, sepagi ini Tiara sudah mencuci mukanya. Aku buru buru menunduk agar tak terlihat memperhatikan wanita itu. Tiara masih belum bisa menyikapi kehadiranku dengan biasa.
“Tuh!” terdengar suara Tiara yang tengah memberikan pop mie pesanan Devon ke meja cowok itu. “Gue minta duluan ah, ini kan gue yang bikin,” katanya lagi seraya menyendok mie tersebut lebih dulu.
Aku tak lagi memperhatikan keributan antara Tiara dan Devon yang masih terus berlanjut, lalu memilih fokus dengan pekerjaanku untuk saat ini. Lagi lagi aku bersyukur akan hal itu.
Semakin siang, aktivitas di ruangan ini mulai tampak sibuk. Dapat aku rasakan Fitri berkali kali keluar masuk ruangan, untuk menuntaskan keperluannya di ruang finance. Wanita itu membawa banyak berkas dan buku buku besar sekaligus di tangannya, entah sudah kali ke berapa aku melihat Fitri terus terusan membuka pintu.
Devon juga sesekali meminta Nisa untuk mengambil dokumen dari ruangan lain, atau pun foto copy dokumen yang diperlukan di mesin foto copy yang berada di luar ruangan. Nisa yang menjadi karyawan dengan umur paling muda di sini hanya menurut. Secara formasi, Devon memang membawahi dua karyawan, yaitu Tiara dan Nisa. Sedangkan aku sendiri, meski berada dalam divisi ini, tidak termasuk dalam naungan Devon karena aku sebagai marketing impor. Jadi tugasku sebagian besar menyerahkan klien pada mereka agar dapat di proses, aku seperti Fitri sebenarnya, memiliki divisi lain yaitu divisi marketing, tapi karena untuk keperluan impor maka aku ditempatkan di ruangan ini. Setelah makan siang aku akan bergabung dengan divisiku untuk meeting harian.
“Kak Rendi, i********: Kak Rendi apa? Aku mau follow dong.”
Suara Nisa membuyarkan fokusku dari pekerjaan, aku menoleh, melihat meja yang berada di seberang itu kini memutar bangkunya agar menoleh ke arahku.