Diabaikan

2198 Words
Lisa berbaring di pangkuan suaminya. Ia menatap pria itu. Pria itu meneteskan air mata. Ia menghapusnya sambil tersenyum pada pria yang sudah jadi pendamping hidupnya selama 4 tahun itu. “Sayang, aku seneeeng banget. Kita akhirnya bisa punya momongan. Akhirnya keinginan kamu tercapai. Selama ini kamu udah menunggu-nunggu dan akhirnya di dalam sini ada anak kita.” Al mengusap lembut perut istrinya. Lisa maraih tangan pria itu lalu menggenggamnya. “Semoga dengan hamilnya aku bisa buat perubahan dalam pernikahan kita ya, Mas. Semoga orang tua kamu gak marah-marah lagi sama kita berdua.” “Pasti dong, Sayang. Mamah dan Papah pasti senang banget dengan kehamilan kamu. Mereka akan segera jadi kakek dan nenek dan kita akan jadi orang tua.” “Aamiin.” Pintu kamar mereka terbuka. Lisa dan Al melihat siapa yang datang dan rupanya itu Mamah Al. Lisa pun segera mengubah posisinya. Mertuanya itupun menghampirinya. “Lisa, selamat ya,” ucap Resi sambil tersenyum pada menantunya. “Makasih, Mah.” Resi mendudukkan dirinya. Ia menggapai perut Lisa dan memberikan usapan lembut. “Mamah senang dengar kamu hamil. Mamah juga mau minta maaf karena sebelumnya mamah ngira kamu itu mandul.” “Iya Mah, aku udah maafin Mamah kok.” “Makanya Mah, kalau ngomong jangan suka sembarangan,” celetuk Al. Lisa mencubit suaminya itu karena berbicara tidak sopan pada orang tua. “Mas, kamu gak boleh ngomong gitu ke Mamah.” “Gapapa Lisa, Mamah memang salah.” “Akhirnya ngaku juga,” gumam Al. Resi mengalihkan pandangannya ke putranya. “Al, jaga Lisa baik-baik. Mamah gak mau terjadi sesuatu yang gak diinginkan. Ini kehamilan pertama Lisa, jadi kamu harus ekstra jaga dia.” “Gak usah Mamah suruh pun aku pasti jagain istri aku, Mah,” balas Al. “Mas, jangan ngomong kaya gitu ke mamah,” protes Lisa. Suaminya itu memang suka ketus kalau bicara pada orang tuanya. Ia jadi tidak enak pada mertuanya itu. Memang selama ini sikap mertuanya membuat suaminya kesal, namun bukan berarti suaminya itu boleh bersikap tidak sopan pada orang tua. “Lisa, kamu jaga baik-baik ya kandungan kamu. Jangan sampai hal yang tidak diinginkan terjadi. Kamu tau sendiri, kamu sulit hamil. Maaf kalau ucapan Mamah agak kasar tapi mamah gak maksud menyinggung kamu. Mamah cuma gak mau terjadi sesuatu pada kandungan kamu,” ucap Resi panjang lebar. “Iya, Mah,” balas Lisa. “Kalau gitu Mamah pamit dulu.” Lisa mengangguk. Ketika mertunya itu sudah di ambang pintu, langkahnya terhenti dan berbalik menghadapnya kembali. “Oh ya, kalian tidak mau periksa ke dokter kandungan? Ya untuk memastikan aja kalau hasil tespack itu tidak salah, dan kalian juga bisa tau kondisi anak kalian,” usul Resi. Perkataan wanita itu agak menyakitkan bagi Lisa namun ada benarnya juga. “Gimana Mas?” tanya Lisa ke suaminya. “Ya udah, ayo kita periksa.” Resi tersenyum lalu pergi. “Tapi Mas…” “Kenapa lagi?” tanya Al sambil memakai kemeja, bersiap-siap untuk berangkat. “Aku takut.” Al mengusap kepala istrinya. “Takut apa?” Lisa menunduk. “Gimana kalau hasil tespacknya salah? Gimana kalau aku gak beneran hamil?” Al menghela napas panjang. Ia kembali duduk dan merangkul istrinya yang sedang cemas berlebihan itu. “Sayang, apapun hasilnya nanti. Gak ada yang berubah. Aku akan terima apapun. Kamu gak usah khawatir. Kalau memang udah takdir kita jadi orang tua, pasti hasilnya tetap sama.” “Tapi Mas, gimana dengan orang tua kamu?” “Udah-udah. Gak usah banyak mikir ini-itu. Terpenting sekarang kita pergi dulu. Hasilnya kita serahkan pada yang di atas. Oke?” Lisa diam saja dengan wajah tertunduk. Al mengangakat dagu wanita itu. “Sayang, udah dong. Ayo kita berangkat. Jangan sedih terus.” Lisa memberikan anggukan. *** “Gimana hasilnya, Dok?” tanya Al pada dokter wanita yang duduk di hadapannya. Setelah melewati beberapa tes kini tinggal hasilnya yang ia tunggu. Dokter cantik itu tersenyum. Al yang deg-degan menunggu hasilnya pun menggenggam tangan istrinya. Tangan wanita itu terasa dingin dan wajah sang istri terlihat sangat bimbang. “Selamat Pak, anda akan menjadi ayah,” jawab Dokter itu lalu tersenyum kembali. Al dan Lisa akhirnya bisa bernapas lega. Mereka saling pandang-pandangan lalu Al memeluk istrinya itu dengan rasa bahagia yang tidak terkira. Lisa pun meneteskan air mata kebahagiannya. “Sebelumnya saya minta maaf, tapi saya harus menyapaikan ini sama Bapak dan Ibu,” lanjut Bu Dokter. Al dan Lisa melepaskan pelukan mereka dan fokus pada sang dokter. “Dok, apa ada masalah sama kandungan istri saya?” tanya Al cemas. “Jadi gini, ibu Lisa ini usia kandungnya sudah memasuki minggu kedua. Tapi dengan berat hati saya katakan kandungan ibu Lisa ini lemah. Dan maaf saya harus katakan bahwa itu artinya resiko kegugurannya pun besar,” jelas Dokter cantik itu. Mendengar penjelasan dokter membuat perasaan Lisa terluka. Ia yang baru saja bahagia ini kembali dilukai oleh pernyataan bahwa kandungannya lemah dan memiliki kemungkinan besar untuk keguguran. Ia terlukai sekali mengetahui kabar buruk itu. Al menggenggam tangan Lisa. Ia menguatkan istrinya. “Dok, istri saya baik-baik aja tapi kenapa kandungannya bisa lemah?” protes Al. “Kandungan lemah bisa terjadi karena faktor-faktor tertentu, Pak. Salah satunya faktor bawaan atau keturunan. Dan masalah kandungan lemah ini bisa terjadi pada siapapun karena rahim setiap ibu hamil itu berbeda-beda.” “Tapi bisa diatasi kan, Dok?” Dokter melempar senyuman agar pasiennya tidak tertalu tegang. Karena setiap permasalahan pasti ada jalan keluarnya. Sebagai seorang dokter tentu memiliki beberapa upaya dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi setiap pasiennya. “Tentu, Pak. Kelemahan pada kandungan bisa diatasi dengan melakukan pemeriksaan rutin sehingga proses perkembangan calon janin diketahui. Dan yang paling penting kondisi ibu hamil harus selalu sehat. Kesehatan ibu hamil harus stabil karena kesehatan ibu yang mengandung sangat berpengaruh terhadap janin yang di dalam kandungannya.” “Dan terakhir yaitu tindakan medis. Tapi ini dilakukan apabila cara yang saya sebutkan tadi itu sudah tidak efektif dilakukan dan apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Jadi Bapak sebaiknya jaga kesehatan istrinya dengan ekstra dan jangan sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan terjadi,” jelas Ibu Dokter panjang lebar agar pasiennya paham dan tidak banyak tanya lagi sebab masih banyak pasien di luar sana yang menunggu antrian. Al mengangguk paham. *** Setelah pulang dari rumah sakit Al dan Lisa ke restoran untuk makan siang. “Mas, kita kenapa gak langsung pulang aja sih?” tanya Lisa. Ia kurang setuju suaminya mengajak ia makan siang di tempat ini. Karena ia lebih suka makan di rumah daripada di luar. Selain lebih hemat makan di rumah, ia juga anak rumahan jadi memang lebih suka menghabiskan waktu di rumah. “Kenapa, makanan di sini gak enak?” tanya suaminya itu. Lisa menggeleng. “Bukan gak enak. Tapi aku…” “Sayang, jarang loh kita punya waktu makan berdua di luar kaya gini. Sekalian juga perayaan kehamilan kamu. Hari ini itu hari spesial kita. Jadi kita gak usah buru-buru pulang ke rumah.” Lisa menghela napas berat. “Aku senang Mas, akhirnya aku hamil. Tapi kenapa kandungan aku lemah? Udah 4 tahun nunggu, aku gak mau kehilangan bayi kita.” “Gak ada yang mau kehilangan, Sayang. Kamu fokus aja jaga anak kita. Gak usah mikir yang aneh-aneh. Fokus jaga kesehatan kamu dan mikir yang positif-positif aja.” Al tersenyum. Lisa mengangguk pelan. “Sekarang kamu makan.” Al menyuapi Lisa. Orang-orang yang berada di sekitar meja pasangan itu pun memerhatikan Al yang sedang menyuapi Lisa. Bagi perempuan yang melihatnya merasa sangat cemburu karena pasangan mereka tidak seromantis pasangan yang sedang dilihatnya. *** Al dan Lisa tiba di rumah. Ketika mereka tiba di ruang tengah, keduanya langsung duduk di sana untuk bersantai sejenak karena lelah. Resi melihat putra dan menantunya pulang. Ia buru-buru menemui keduanya. “Gimana hasilnya?” tanya wanita itu sambil duduk. “Baru juga sampai, udah disodorkan pertanyaan aja,” sewot Al. “Mamah bukan nanya ke kamu. Mamah nanya ke Lisa. Gimana Lis, hasilnya?” Lisa tersenyum tipis. “Apa itu artinya, cepat kasih tau Mamah?” Resi yang tak sabaran ini membuat Lisa semakin tersenyum. “Alhamdulillah, aku hamil Mah.” “Syukurlah… Mamah bahagia dengarnya. Selamat kalau gitu.” “Iya, Mah. Maaf ya Mah aku baru bisa sekarang buat Mamah senang.” “Gak usah minta maaf, Sayang. Kamu gak salah kok,” protes Al. “Tapi tetap aja Mas, aku udah buat mamah nunggu bertahun-tahun. Mamah pasti capek nunggu aku hamil dan sekarang baru terwujud.” “Terserah kamu deh.” “Udah, kalian gak usah pada ribut. Terpenting sekarang Lisa sudah hamil dan kalian harus jaga baik-baik anak itu.” “Iya Mha, pasti,” sahut Lisa. “Mamah ke dapur dulu kalau gitu. Mamah akan suruh Bi Surti masak yang enak-enak buat kita malam ini. Sebagai perayaan untuk kalian berdua.” Lisa tersenyum sambil mengangguk. Wanita tua itupun pergi. *** Semua berkumpul di meja makan ketika makan malam. Suasana di meja makan berbeda dari biasanya. Malam ini suasana begitu menyenangkan karena Arya dan Resi terus berbicara mengenai calon cucu mereka. Mereka membicarakan jenis kelamin calon cucu mereka yang masih di dalam kandungan menantunya itu. Mereka berharapnya anak itu laki-laki sehingga bisa meneruskan bisnis keluarga. Selain itu mereka juga sudah berandai-andai bermain bersama cucunya dan mengantar cucunya itu ke sekolah. Mereka juga sudah memikirkan masalah nama yang akan diberikan pada cucunya itu. “Kira-kira nanti kita kasih apa ya namanya?” tanya Arya. “Harus nama yang bagus dan memiliki arti kepemimpian agar dia jadi orang yang hebat,” usul Resi. “Papah setuju,” sahaut Arya. Al memandangi Lisa. Ia tersenyum pada istrinya itu. Pria itu sangat senang saat ini. Akhirnya ia bisa mewujudkan mimpi kedua orang tuanya. Ia pun tidak perlu bimbang lagi dengan istrinya yang suka diomeli mamahnya. Sekarang rumah tangganya dengan Lisa sudah diberi pelengkap. Orang tuanya juga senang dan tidak menyalahkan istrinya lagi. Al mengelus perut Lisa. “Apapun jenis kelaminnya, anak ini tetap akan jadi anak yang hebat,” ucapnya. Lisa mengelus perutnya. “Terpenting dia sehat terlahir sehat tnapa kurang apapun,” ucap wanita itu. Anaknya terlahir laki-laki ataupun perempuan ia tidak masalah. Terpenting bagi seorang ibu hanya ingin anaknya terlahir sehat. Bisa hamil saja sudah anugerah terhebat untuknya. Jadi apapun jenis kelaminnya nanti anak itu akan tetap menjadi anak yang istimewa baginya. Manda sedari tadi hanya diam. Ia terasa asing. Orang-orang sibuk membicarakan kehamilan Lisa sehingga ia diabaikan. Papah dan mamah Al terlihat sangat senang dengan Lisa sekarang dan ia jadi tidak dihiraukan. Rasanya sungguh menyakitkan baginya, namun mau bagaimana lagi. Inilah resiko menjadi orang ketiga. Jika ia tidak mencintai Aldevaro ia tidak akan mau diposisi ini. Ia lakukan ini demi cinta pada pria itu dan demi dicintai kembali oleh mantah kekasihnya itu. *** “Selamat ya Lisa.” Ketika Manda mendapati Lisa sendirian ia pun menghampiri wanita itu dan memberikan ucapan selamat. “Makasih,” balas Lisa dingin. “Aku boleh duduk?” tanya Manda. Lisa mengangguk. Manda pun duduk di sofa yang sama dengan Lisa. “Aku turut senang dengan kehamilan kamu. Sekali lagi aku ucapkan selamat, akhirnya kamu dan Al punya momongan juga.” Lisa lagi-lagi mengangguk dengan mata yang tertuju pada layar televisi. Mereka lama terdiam sebelum Manda berbicara kembali. “Karena kamu udah hamil, mungkin peran aku di rumah ini gak dibutuhin lagi. Bisa jadi Al akan menceraikan aku. Walalupun mamah bilang aku akan tetap jadi istri Al, tapi itu gak menjamin Al akan mempertahankan pernikahannya sama aku.” Manda ngomong begini karena ia hanya ingin bercerita pada Lisa untuk melepaskan kegundahannya. Ia hanya mengungkapkan perasaannya saat ini. Dimana ia merasa takut kehilangan sosok yang baru saja ia dapatkan kembali. Selain itu ia juga tidak punya teman curhat, ia tidak punya teman dan hanya Lisa yang bisa ia anggap sebagai temannya. “Jujur, aku iri sama kamu Lisa. Kamu disayang banget sama Al. Dia cinta banget sama kamu. Aku selalu kurang beruntung dalam percintaan,” lanjut wanita itu. “Setiap kali aku melihat kamu dan Al aku selalu berharap bisa mendapatkan kasih sayang yang sama. Maaf kalau aku ngomong kaya gitu. Aku gak tau mau cerita sama siapa, jujur ya Lisa, aku gak pernah dapat perhatian dari sosok ayah. Hanya satu pria yang pernah sayang sama aku tapi dia udah berubah. Memang aku yang salah karena aku udah ninggalin dia. Aku nyesel banget, hiks…” Manda meneteskan air matanya. Lisa menoleh memandangi wanita yang duduk di sampingnya. Ia tidak tahu harus mengatakan apa pada wanita itu. Ia kasihan akan nasib wanita itu, namun di satu sisi wanita itu menyabalkan karena telah menjadi istri kedua suaminya. Bukankah banyak pria di luar sana, tapi kenapa malah milih suaminya? “Sayang!” Al datang dan melihat Manda yang sedang duduk bersama istrinya. Melihat wanita itu membuat senyum Al langsung memudar. “Kamu ngapain di sini?” tanya Al pada wanita itu dengan ketus. Manda menghapus air matanya. “Dia gak ngapa-ngapain, Mas. Dia cuma nonton.” Lisa yang menjawab karena ia malas jika terjadi keributan antara suaminya dengan wanita itu. “Sini.” Al menarik Lisa. “Aku gak akan ngapa-ngapain Lisa,” ujar Manda. “Ayo.” Al membawa Lisa pergi tanpa memperdulikan istri keduanya itu. Manda menghela napas panjang. “Nasib jadi istri kedua ya begini, diabaikan terus,” gumamnya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD