“Mas,” panggil Lisa.
Al membuka matanya dan ia langsung melihat Lisa di depan matanya. Ia bergegas bangun dan langsung memeluk wanita itu.
“Kamu udah pulang? Aku kangen banget sama kamu, Sayang. Kenapa kamu gak kabarin aku kalau kamu pulang hari ini?”
Lisa melepaskan diri dari Al. “Kenapa kamu gak jemput aku, Mas?”
“A-a-aku…”
“Kamu udah lupa sama istri pertama kamu, Mas?”
Al menggengam tangan Lisa. “Gak gitu, Sayang.”
“Terus apa?”
“A-a-aku lupa kamu pulang hari ini. Kamu juga kenapa gak kabarin aku?”
“Aku sengaja gak kabarin kamu. Aku kira kamu akan nunggu aku dan terus menghitung hari kepulangan aku. Ternyata aku salah. Kamu udah berubah gak kaya dulu lagi.” Lisa mendudukan dirinya di pinggir ranjang. “Kamu gak sayang aku lagi.”
Al ikut duduk dan menggenggam tangan istrinya. “Sayang, aku gak seperti yang kamu pikirin. Aku masih sayang sama kamu. Please… maafin aku.”
“Udah lah, Mas. Aku malas debat sama kamu. Aku capek mau istirahat.” Lisa merebahkan tubuhnya. Ia memiringkan posisinya membelakangi Aldevaro.
“Sayang, aku benar-benar minta maaf.”
“Kamu gak kerja hari ini, Mas?” tanya Lisa setelah lama diam.
“Aku lagi gak enak badan. Jadi bolos kerja.”
Mendengar Al sakit, Lisa langsung bergegas bangun dan memeriksa jidat suaminya itu. “Kamu deman?”
Al mengangguk lalu bermanja-manja dengan istrinya itu. “Iya, aku lagi sakit.” Ia memeluk Lisa. “Aku pusing banget dan mual juga. Kata Mamah mungkin masuk angin.”
Lisa tersenyum. Ia membalas pelukan suaminya. Tiba-tiba pintu terbuka dan wanita itu muncul.
“Sayang, aku bawakan obat untuk kamu,” ucap Manda lalu ia melihat Al dan Lisa berpelukan. Perasaannya tiba-tiba tidak nyaman.
Lisa ingin melepaskan pelukannya namun Al menahannya.
“Gak perlu. Obat aku udah ada di sini,” ucap Al. Obat yang ia maksud adalah Lisa.
“Ya udah.” Tanpa bertele-tele Manda langsung pergi.
Setelah Manda pergi Al melepaskan Lisa.
“Mas, kamu kenapa bersikap begitu sama Manda? Aku jadi gak enak sama dia.”
“Gak usah pedulikan dia.”
Al duduk dan ia menarik Lisa agar duduk di sebelahnya.
“Kamu jangan marah ya sama aku. Aku gak sengaja gak jemput kamu. Aku benar-benar lupa.”
“Gapapa Mas, aku udah maafin kamu kok. Kamu juga lagi sakit kan, jadi aku maklumin.”
“Makasih ya.”
“Iya, Mas.”
***
Makan malam, semua berkumpul di meja makan. Al, Lisa, Arya, Resi, dan Manda. Semua sibuk dengan makanan mereka kecuali Manda yang diam-diam memerhatikan Lisa. Wanita itu sudah kembali dan ia merasa terasingkan oleh suaminya. Al tampak sangat senang dengan kembalinya Lisa dan Manda merasa sedih karena waktunya bersama Al hanya akan sedikit.
“Manda, kamu kenapa? kok makanannya gak dimakan?” tanya Resi yang melihat menantunya itu yang hanya mengaduk-aduk makananya tapi tidak dimakan-makan.
“Kamu lagi gak enak badan?” tanya Arya.
“Enggak kok Pah. Aku baik-baik aja. Aku lagi gak nafsu makan aja. Masih kenyang soalnya,” jawab Manda.
Sedangkan Lisa dan Al tidak menanggapi apapun. Mereka berdua sibuk dengan makanan mereka.
“Kamu harus makan. Nanti sakit loh,” ujar Resi pada menantu kesayangannya itu.
“Benar yang dikatakan Mamah kamu, kamu harus makan. Setidaknya sedikit biar gak sakit perut nanti,” timbal Arya.
Lisa sudah menghabiskan makannya.
“Sayang, kamu kenyang gak makannya?” tanya Al.
“Kenyang,” jawab Lisa.
“Gak mau nambah?”
“Aku udah kenyang.”
“Yakin?”
“Yakin, Mas.”
Al mengusap kepala Lisa dengan tengan kirinya. “Istri aku memang pinter,” ucapnya.
Arya, Resi, dan Manda memandangi Lisa dan Al.
“Aku juga udah selesai ni. Kita ke kamar yuk,” ajak Al.
“Kamu duluan aja. Aku mau bantu Bi Sutri beres-beres.”
Al menarik tangan Lisa. “Ayo, kamu kan capek dari perjalanan jauh jadi mending istrirahat aja.”
“Aku gak capek, Mas. Aku udah biasa aja.”
“Gak, kamu harus ikut aku ke kamar.”
“Enak banget jadi Lisa,” batin Manda yang merasa cemburu.
Lisa yang malas berdebat akhirnya ia mengikuti keinginan Al. Mereka berduapun beranjak ke kamar.
“Manda, kamu gapapa?” tanya Resi. Ia melihat wajah menantunya itu jadi murung ketika melihat kemesraan Al dan Lisa.
“Aku mau ke kamar, Mah.” Manda langsung pergi. Ia menyusul Al dan Lisa. Ia berjalan di belakang pasangan itu. Rasanya ia sangat cemburu. Melihat Al yang menggenggam tangan Lisa membuatnya merasa iri. Ia juga ingin diperlakukan seperti itu namun Al sangat acuh dengannya.
“Mas, Manda kenapa ngikutin kita?” bisik Lisa.
“Abaikan aja. Mungkin dia mau ke kamarnya.”
“Aku gak enak diliat dia Mas, dia kan istri kamu juga.” Lisa melepaskan genggaman tangan Al. Ia berjalan lebih cepat mendahului suaminya.
“Sayang, tunggu!” Al mengejar istrinya itu.
Sudah tiba di lantai 2. Manda tidak bisa mengekori pasangan itu lagi. Ia masuk ke dalam kamarnya dan ia menangis di dalam karena merasa tidak dicintai oleh Aldevaro.
***
Tiba di kamar Lisa langsung berbaring di ranjang. Wanita itu menutup matanya.
“Udah mau tidur?” tanya Al sambil berbaring di samping Lisa.
Lisa memunggungi pria itu dan ia tidak bicara apa-apa.
Al menghadap punggung istrinya. Ia melingkarkan tangannya di tubuh wanita itu.
“Walaupun aku undah punya 2 istri. Tetap kamu istri aku satu-sataunya.” Al mencoba merayu. Namun tidak mumpan karena Lisa tidak meresponnya.
“Aku tau kamu kecewa sama aku. Tapi kecewanya jangan lama-lama.”
“Bu Asri ingin aku pisah dari kamu,” ucap Lisa.
“APA!” kaget Al karena ia tidak menginginkan hal itu terjadi.
“Kamu gak setuju kan, Sayang?” Al cemas.
“Tadinya aku ingin setuju.”
“APA! Kamu kok tega sama aku?”
Lisa mendudukan dirinya. Al juga ikut duduk. Mereka duduk saling berhadap-hadapan.
“Aku gak siap dipoligami, Mas,” jujur Lisa.
“Aku tau aku salah. Tapi udah terlanjur, Sayang. Kamu juga memberi aku izinkan untuk menikahi Manda.”
“Tapi jujur Mas, aku gak siap dipoligami.”
Al menggenggam tangan Lisa. “Aku janji gak ada yang berubah walaupun aku udah punya 2 istri sekarang. Aku juga sangat mencintai kamu dan antara aku dan Manda gak ada perasaan apa-apa.”
“Tapi kamu udah tidur kan, sama dia Mas?”
Al menunduk.
“Jawab aku, Mas.”
“Iya, aku udah tidur sama dia selama kami di Bali. Tapi aku benar-benar gak tau Sayang, kenapa aku melakukan itu? Seperti ada yang mendorong aku untuk melakukannya. Aku yakin dia pasti melakukan sesuatu ke aku. Maafin aku ya.”
Lisa meneteskan air matanya. Harus berbagi suaminya adalah hal yang berat baginya.
Al menghapus air mata itu. “Sayang, maafin aku.”
“Gapapa, Mas. Kamu memang wajib menafkahi batin dia.”
“Sayang, kamu jangan ninggalin aku ya. Aku mohon jangan minta pisah dari aku.”
Lisa menghela napas panjang.
Al memeluk Lisa. “Please, jangan pergi.”
***
Lisa keluar dari toilet kamarnya. “Mas.” Ia memanggil suaminya.
Al yang sedang memakai dasi menoleh. “Iya Sayang, kenapa?”
“Ini.” Lisa memberikan tespeck kepada suaminya itu.
“Hasilnya apa? Negatif lagi ya?” Al yang sudah sering dikecewakan oleh hasil tespack jadi ia tidak menaruh harapan lagi. Ia sudah menerima kekurangan dalam pernikahannya dengan Lisa. Jadi ia tidak terlalu kecewa jika hasilnya negatif.
“Liat dulu,” pinta Lisa.
“Aku gak ngerti soal beginian.”
Lisa tiba-tiba menangis.
Al yang melihat istrinya mengeluarkan air mata ia pun langsung menenangkan wanita itu dengan memeluknya.
“Udah gapapa. Aku kan, udah pernah bilang ke kamu, kalau kita gak bisa punya anak ya udah gapapa. Aku ikhlas. Yang penting hubungan kita baik-baik aja.”
“Mas, aku, aku, aku hamil, Mas. Hiks…”
“APA?” Al melepaskan pelukannya. “Kamu bilang apa tadi?”
“Aku hamil, Mas. Hiks…”
“Ka-ka-kamu hamil?” Mata Al berkaca-kaca.
Lisa mengangguk-anggukan kepalanya. Sebenarnya ia sudah melakukan tespeck saat di panti dan rencananya kehamilannya ini jadi kejutan untuk suaminya ketika pria itu menjemputnya di Panti namun ternyata pria itu tidak datang. Dan tadi ia melakukan tes lagi karena takutnya waktu di Panti kemarin bisa saja hasilnya salah dan ternyata setelah ia cek kembali ternyata hasilnya tetap sama, tespeck menunjukkan hasil bahwa ia positif hamil.
“Alhamdulillah…” Al langsung sujud syukur. Setelah penantinyan bersama Lisa selama 4 tahun akhirnya mereka bisa dikarunia anak juga.
Al bangkit berdiri dan langsung memeluk istrinya. “Sayang, aku akan jadi ayah dan kamu akan jadi ibu. Kita akan jadi orang tua. Makasih sayang, makasih.”
Mereka menangis haru.
***
Al berlari menuruni anak tangga. Ketika tiba di lantai satu ia berteriak-teriak mengumumkan istrinya yang akhirnya mengandung.
“Mah! Pah! Lisa hamil! Aku akan jadi ayah!” Teriak lelaki itu.
“Kalian dimana?! Aku akan jadi ayah! Lisa sudah postif hamil!”
Resi keluar kamar karena mendengar suara keributan di luar. Ia melihat putranya yang kelihatannya sangat bahagia.
“Al, kamu berisik sekali, ganggu aja.”
Al langsung memeluk mamahnya itu.
“Mah, aku ada kabar bagus buat mamah dan papah.”
“Kabar apa?”
“Lisa Mah, Lisa.”
“Kenapa dia?”
Al melepaskan pelukannya. “Lisa HAMIL MAH!”
“Lisa, hamil? Kamu yakin?”
Al mengangguk. “Iya Mah, Lisa hamil. Akhirnya mamah punya cucu.”
“Serius kamu?”
Al memberikan tespack Lisa ke Mamahnya. “Ini Mah, ini buktinya. Kata Lisa tespack ini menunjukkan dia hamil.”
Resi melihat tespack itu dan ternyata benar tespack itu menujukkan garis positif. Resi yang tahu Lisa positif hamil merasa senang karena akhirnya ia menjadi nenek akan tetapi di satu sisi ia memikirkan Manda karena harapannya wanita itulah yang hamil karena ia pikir Lisa tidak akan bisa punya anak alias mandul.
“Ada apa ini ribut-ribut?” tanya Arya menghampiri putra dan istrinya.
Melihat Arya datang Al pun memeluk papahnya itu. “Pah, aku akan jadi ayah. Dan Papah akan jadi kakek.”
“Maksud kamu Manda hamil?” tanya pria tua itu.
Al melepaskan pelukannya. “Lisa, Pah. Lisa yang hamil,” jelas Al.
“Lisa hamil?” Arya masih kurang percaya karena ia yakinnya Lisa itu tidak bisa punya anak karena menantu pertamannya itu mandul.
“Iya Pah, Lisa hamil. Aku akan jadi ayah. Mah, tunjukkan hasilnya ke Papah.”
Resi memberikan tespack itu pada suaminya.
Arya mengamati tespack itu. “Ini cara ngeliatnya gimana?”
“Aku juga gak tau. Tapi kata Lisa tespack itu menunjukkan bahwa dia hamil.”
“Emang iya, Mah?” Arya kurang percaya dan ia menanyakan lagi pada istrinya. Karena hanya perempuan yang mengerti cara menggunakan tespack itu.
“Iya Pah, itu menunjukkan positif hamil.”
“Jadi Lisa gak mandul?”
“Aku bilang juga apa. Istriku itu gak mandul. Dia bisa hamil,” ucap Al yang heboh dari tadi karena sangat bersemangat sebab ia akan menjadi ayah.
Arya tersenyum. Ia menepuk pundak putranya itu. “Selamat ya.”
“Iya Pah, makasih.”
“Mah, Mamah gak beri aku selamat?” tanya Al pada Mamahnya yang tiba-tiba jadi diam dan wajah perempuan tua itu semacam bimbang.
“Selamat kamu akan jadi ayah,” ucap resi datar.
“Mamah kok kaya gak senang Lisa hamil? Bukannya mamah sangat ingin punya cucu?”
“Mamah senang kok.”
“Pokoknya aku akan buat perayaan besar-besaran untuk Lisa. Mamah dan Papah setuju, kan?”
Arya dan Resi saling pandang.
“Kalian pokoknya harus setuju.”
“Al,” panggil Resi.
“Apa, Mah?”
“Kamu yakin Lisa mengandung anak kamu?”
“Maksud Mamah apa ngomong kaya gitu?”
“Al, kamu pikir dong. Lisa baru pulang dari Panti dan tiba-tiba dia hamil. Kamu gak curiga?”
“Mah, cukup! Lisa hamil anakku! Mamah jangan mengada-ada!”
“Mamah hanya mencurigai bukan menuduh.”
“Mamah keterlaluan!” Al beranjak pergi ke atas. Ia kecewa dengan mamahnya itu. bisa-bisanya menuduh istrinya yang enggak-enggak. Ia sangat yakin anak yang dikandung Lisa itu anaknya. Lisa tidak mungkin selingkuh dan istrinya itu tidak akan mungkin berbohong.
“Mah, mamah kenapa ngomong kaya gitu?” tanya Arya ke Resi.
“Mamah curiga aja, Pah.”
“Harusnya kita senang Lisa sudah hamil. Berarti dia bisa membuktikan kalau dia gak mandul.”
“Terus gimana dengan Manda, Pah?”
“Ya gak gimana-gimana. Dia tetap istri Al.”
“Papah kok memihak Lisa?”
“Papah gak mihak siapa-siapa. Papah udah cukup senang karena akan meminang cucu. Dan papah gak akan diejek teman-teman papah lagi. papah juga bisa memamerkan cucu papah ke mereka.”
“Tapi nasib Manda kasihan, Pah. Kalau Lisa hamil otomatis Al pasti sangat perhatikan pada Lisa dan mengabaikan Manda.”
“Ya udah, kalau gitu kita doakan Manda cepat hamil juga supaya seimbang.”
“Papah mah, susah paham situasi. Manda baru aja nikah sama Al. setidaknya perlu satu bulan baru dia bisa hamil itupun kalau mereka sering berhubungan dan kalau udah takdir buat Manda hamil.”
“Apapun itu, yang penting papah udah lega sekarang karena Papah akan punya cucu.”
Arya beranjak pergi.
Resi menghela napas berat. “Ada-ada aja. Kenapa harus Lisa dulu yang hamil? Kanapa bukan Manda aja.”
“Mah, lagi apa?” Manda menghampiri mertuanya.
“Eh menantu Mamah udah bangun.”
“Mah, tadi aku liat Al. Dia girang banget. Emang ada apa sih?”
Resi jadi tidak tega memberitahu menantunya itu. Takutnya Manda jadi kepikiran yang enggak-enggak.
“Mah, kok diam?”
“Lisa hamil. Makanya Al senang banget.”
Mendengar kabar Lisa hamil membuat perasaan Manda menjadi sedih karena dengan Lisa hamil berarti perannya di rumah ini tidak ada lagi. Rencana awal dari pernikahannya dengan Al adalah memberikan momongan untuk pria itu. Namun jika Lisa sudah bisa memberikan Al anak berarti ia sudah tidak berguna di rumah ini lagi. Lantas akankah kedua orang tua Al tidak memihaknya lagi? Apa ia akan segera tersingkirkan dari rumah ini?
“Mah, berarti aku udah gak diperlukan lagi dong jadi istri Al kalau gitu?” tanyanya lirih.
“Gak sayang, kamu tetap istri Al. Kamu juga harus berusaha agar cepat hamil. Kalau kamu hamil Al juga akan senang dan perhatian ke kamu.”
“Mamah gak akan minta aku pisah sama Al?”
“Enggak Kamu tetap akan jadi menantu mamah. Kamu akan tetap jadi istri, Al.”
“Tapi Mah, Al…”
“Udah, kamu tenang aja. Mamah akan bantu kamu kok. Papah juga akan bantu kamu. Jadi kamu gak usah mikirkan yang aneh-aneh. Oke?”
Manda memberikan anggukan.
***