Sesuatu yang menjanggalkan

2424 Words
Manda meraba-raba sampingnya namun ia tidak menemukan apa yang ia cari-cari. Ia membuka matanya dan Al sudah tidak ada di sampingnya. Ia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya sambil mendudukkan dirinya. “Kemana dia?” Ia melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 9 pagi. Ia kesiangan. Harusnya ia bangun lebih pagi agar bisa membuatkan sarapan untuk suaminya supaya Al sayang padanya karena ia menjadi istri yang baik. Namun sayang ia malah bangun telat. Tapi, ia jadi senyum-senyum sendiri ketika teringat akan kejadian tadi malam. Ah, ia sangat merasa bahagia. Akhirnya ia mendapatkan apa yang ia mau selama ini. Ia berangsur turun dari ranjang dan langsung pergi mandi. Setelahnya ia berpakaian dan berhias diri. Ia keluar kamar mencari keberadaan suaminya. Namun ia sudah memeriksa ke semua tempat tetapi ia tidak menuman pria itu. “Apa dia pergi jalan-jalan tanpa mengajakku?” Ia mengambil ponselnya dan menghubungi suaminya itu, namun Al tidak menjawab panggilannya. “Aaarhh! Kamu kemana sih, Al?” “Nyebelin banget!” *** Jam 9 malam. Al pulang ke hotelnya. Ia membuka pintu dan langsung berhadapan dengan istri keduanya. Wanita itu melipat tangan di atas d**a sambil menatapnya dengan sangat tajam. “Darimana aja kamu?” tanya wanita itu. Al tidak menjawab. Ia menyelonong masuk ke dalam rumah, ia pergi menyalakan televisi lalu duduk di sofa dengan santai. Manda menyusul suaminya itu. “Al, jawab aku! Kamu darimana dan kenapa baru pulang jam segini?!!” Al menoleh menatap wanita itu. “Urusannya dengan kamu apa?” tanyanya dengan memandang sinis wanita itu. Manda menunjuk dirinya sendiri. “AKU INI ISTRI KAMU!” “Terus?” “Kamu wajib beritahu aku, kamu pergi kemana aja dan kenapa baru pulang jam segini?!” Al menaikan satu alisnya. “Kalau aku gak mau?” Manda kesal. Ia mengambil remote tv lalu mematikan televisi. “Hidupkan kembali!” tekan Al dengan wajah kesal. “GAK! Sebelum kamu kasih tau aku, aku gak akan nyalain TV-nya.” Al merebut remot TV itu dari Manda dan ia dengan mudah mendapatkannya. Ia menyalakan TV kembali dan fokus menatap layar televisi. “AL!” teriak Manda. “Jangan ganggu aku,” pinta Al. “Kamu jahat!” Manda merajuk dan wanita itupun masuk ke dalam kamar. Al masih memikirkan soal malam kemarin. Ia masih bertanya-tanya pada dirinya kenapa ia melakukan itu kepada Manda. Padahal jika ia baik-baik saja tidak mungkin ia melakukannya. Lagipula malam kemarin ia merasa tidak bisa mengendalikan dirinya padahal ia tidak pernah seperti itu. Kejadian malam itu seolah bukan dari keinginannya sendiri. Akan tetapi kenapa ia bisa melakukan itu? Apa wanita itu mempeletnya? Benarkah? Apa wanita itu bermain pelet? Apakah pelet itu benar-benar nyata adanya? Al mengacak rambutnya. Ia pusing memikirkannya dari pagi hingga sekarang. Dan ia belum menemukan jawabannya. *** “Lis, bibir kamu pucat, kamu gapapa?” tanya Bu Asri. Lisa meletakkan teh hangat yang ia buat untuk Bu Asri di atas meja. Wanita itu memang suka pagi-pagi meminum teh hangat makanya ia rutin membuat teh pagi-pagi untuk wanita yang sudah ia anggap seperti ibu kandungnya itu. “Aku pusing dan ngerasa mual Bu, udah dari tadi subuh. Rasanya pusing banget dan mual,” jawab Lisa sambil mendudukkan dirinya. “Kamu masuk angin mungkin.” “Gak tau juga Bu.” Lisa memegangi mulutnya karena merasa mual kembali dan ingin muntah. “Ya udah. Kamu masuk ke dalam dan istirahat aja. Nanti ibu ambilkan obat.” “Gak usah Bu, aku gapapa.” “Lisa, dengerin Ibu. Ibu gak mau anak ibu sakit. Ibu baru aja sembuh masa anak ibu yang sekarang sakit. Kamu istirahat aja ya.” Lisa mengangguk, ia pun masuk ke dalam rumah dan pergi ke kamarnya. Bu Asri yang bersantai di teras meneguk minumannya yang dibuat oleh Lisa. “Semoga anak itu tidak kenapa-napa.” *** Masa hanimun Al dan Manda di Bali akhirnya berlalu juga. 3 hari yang mereka habiskan bersama begitu berat bagi Al dan pria itu merasa sangat bersalah kepada istri pertamanya karena ia sudah menyentuh Manda selama 3 hari berturut-turut. Ia juga tidak tahu apa yang terjadi padanya, mengapa ia begitu tertarik pada wanita itu setiap malam sehingga ia tidak bisa mengendalikan dirinya. Sedangkan Manda merasa sangat happy karena selama ia berada di Bali suaminya sangat memanjakannya di ranjang walaupun setiap siang hari pria itu sangat menyebalkan dan membuatnya frustasi karena sikap pria itu yang keterlaluan padanya. Namun ia sangat senang bisa menghabiskan malam dengan indah bersama pria itu meski menggunakan alat bantu. Tapi tak apa, ia cukup bersyukur. Lagian yang ia lakukan tidak berdosa karena hubungannya dengan Al sudah halal jadi tidak masalah jika ia menggunakan obat agar bisa berhubungan dengan pria yang menyebalkan itu akan tetapi ia sangat mencintainya. Dalam pesawat Manda begitu manja pada Al. wanita itu terus menempel-nempelkan dirinya ke Aldevaro. Terus menggandeng lengan Al dan menyederkan kepalanya di pundak pria itu. Al sangat merasa risih dan meminta wanita itu besikap normal akan tetapi Manda tidak mendengarkannya dan tetap bermanja-manja padanya. Al dan Manda tiba di rumah pada malam hari. Mereka disambut oleh Resi dan Arya dengan rasa senang. Kedua orang tua Al begitu menanti-nanti kembalinya mereka. Resi memeluk Manda dengan erat karena sangat merindukan menantunya itu. Sedangkan Al langsung masuk kedalam rumah tanpa menyapa mamah dan papahnya terlebih dahulu. Setelah melepas rindu, Resi dan Arya mengajak menantunya itu masuk kedalam dan berbincang-bincang di ruang keluarga. Kebetulan sekali di sana pun ada Al yang sedang beristirahat karena merasa sangat lelah. “Gimana bulan madu kalian?” tanya Resi penasaran. Sebelum menjawab Manda memandangi Al dan tersenyum pada pria itu. “Kenapa memandangiku, kamu gak akan menemukan jawaban apa-apa di mukaku,” ucap Al judes. “Al, kamu kenapa sih bersikap begitu pada Manda?” tegur Resi. “Aku gak apa-apa Mah, jangan marahin Al.” Manda membela suaminya. “Tuh, Mamah dengar sendiri, kan. Dia gak kenapa-napa. Jadi Mamah gak usah berlebihan.” “Mamah malas ngomong sama kamu. Bikin naik darah aja.” “Ya udah, gak usah ngobrol sama aku. Aku juga malas ngobrol sama Mamah.” “Udah-udah,” lerai Arya. “Kalau kalian ribut terus kapan Manda akan cerita tentang hanimun kalian.” Al berdiri ingin beranjak pergi. “Gak ada yang menarik di hanimun kami,” ucapnya lalu pergi. “Benar yang dikatakan, Al?” tanya Resi. Manda tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. “Syukurlah. Jadi kamu dan Al sudah…?” Resi sangat penasaran. Manda mengangguk. Arya dan Resi saling pandang memandang. Kedua orang tua itu tersenyum bahagia. “Makasih ya Pah, kalau bukan berkat Papah mungkin aku dan Al belum melakukannya.” “Iya sama-sama.” “Mamah senang banget. Semoga seterusnya kamu dan Al semakin dekat dan cepat memberikan kami momongan.” “Aamiin,” ucap Manda dan Arya berbarengan. *** Manda masuk ke dalam kamarnya. Tadinya sebelum masuk ia berharap ada Al di kamarnya namun ternyata pria itu tidak ada. Ia menaruh barang-barangnya. Ia juga membersihkan dirinya. Setelahnya ia pergi ke lantai 3 tepatnya ke kamar suaminya. Saat ia mau membuka pintu ternyata kamar pria itu terkunci. Ia mengetuk pintu. “Sayang, buka pintunya dong!” “Sayang! Buka dong pintunya!” Ia mengetuknya lagi. 5 detik kemudian pintu terbuka. “Mau apa?” tanya Al. Tanpa menjawab. Manda masuk kedalam kamar pria itu padahal Al tidak mempersilakan wanita itu memasuki kamarnya. “Kamu tidur di sini malam ini?” tanya wanita itu sambil duduk di pinggir ranjang. “Jangan duduk di situ!” larang Al. “Kenapa?” “Itu kasurku dan Lisa.” “Apa Lisa tidur di sebelah sini?” “Aku bilang jangan duduk di situ!” Manda berdiri. Ia beralih duduk ke sofa. “Enak banget ya jadi Lisa, punya suami yang sayang banget sama dia. Aku juga mau kamu sayang ke aku, Al.” “Bukannya udah pernah.” Al berbaring ke ranjangnya. “Kapan?” “Kamu udah pikun?” “Ohh, maksud kamu waktu kita masih pacaran. Beda dong Al, aku maunya sekarang.” “Gak bisa.” “Why? Aku kan, istri kamu.” “Istri aku cuma Lisa.” “Al, aku ini istri kamu juga.” Al diam saja. “Malam ini kamu gak tidur di kamar aku?” tanya wanita itu. “Aku akan tidur di sini.” “Tapi Lisa kan, belum pulang. Kamu masih bisa tidur sama aku.” “Kamu belum puas juga, selama kita di Bali kita udah tidur bareng. Aku mau tidur di sini. Aku kangen kamar ini.” “Aku belum puas. Soalnya kalau Lisa pulang pasti kamu gak akan tidur sama aku lagi, kan?” Al diam saja. Manda menghampiri Al. “Sayang, izinkan aku tidur di sini sama kamu. Malam ini aja, please….” “Kamar ini cuma untuk aku dan Lisa. Aku gak akan biarin wanita lain tidur di sini.” “Tapi Al…” Manda memasang wajah sedinya. “Keluar.” Manda menggenggam tangan pria itu. “Al, aku mohon… sekali ini aja.” “Aku bilang keluar, Manda.” Wajah Manda cemberut. “Ya udah, aku keluar.” Ia beranjak pergi. Ketika di ambang pintu ia menoleh, berharap Al mencegahnya pergi namun pria itu tidak mengatakan apapun. Ia pun pergi dengan perasaan sedih. *** Seminggu sudah Lisa di Panti, hari ini adalah hari kepulangannya. Ia pamit pada Bu Asri. Wanita itu menahannya untuk pergi namun Lisa memilih tetap pulang ke rumah suaminya. Lisa merasa agak sedih hari ini karena Al tidak datang menjemputnya. Padahal ia punya kejutan untuk pria itu akan tetapi Al malah tidak datang. Ia memang tidak berkabar akan pulang hari ini pada Al karena ia berpikir suaminya itu akan ingat jika ia sudah seminggu di Panti maka ia akan pulang. Namun Al malah tidak datang. “Bu, Lisa pamit.” “Hati-hati ya. Nanti main lagi ke sini. Jangan lupa jaga kesehatan kalian.” “Baik Bu,” jawab Lisa dan Leo. Leo ditugaskan menjemput Lisa atas keinginan Bu Asri. Bu Asri meminta Leo untuk mengantar Lisa pulang karena ia merasa suaminya Lisa tidak akan datang dan benar dugaannya Al benar-benar tidak datang menjemput Lisa. Leo dan Lisa pun masuk ke dalam mobil. Mereka segera berangkat dan meninggalkan panti. Lisa yang duduk di depan bersama Leo membuat pria itu terus melihat Lisa. Sambil menyetir sesekali Leo memandangi wajah Lisa yang terlihat sedih itu. “Lis, Al gak tau kamu akan pulang?” tanya Leo memulai percakapan supaya perjalanan mereka tidak membosankan jika hanya terus diam. “Aku udah bilang sama dia kalau aku akan seminggu di Panti, tapi dia gak datang hari ini. Mungkin dia sibuk jadi lupa,” jawab Lisa. “Kamu gak hubungi dia?” “Gak.” “Kenapa, kalian lagi marahan?” Lisa menggeleng. “Aku sengaja gak kasih tau dia kalau aku pulang hari ini. Aku harap dia menghitung hari dan datang tanpa diminta,” jelas Lisa. “Kamu yang sabar ya, Lis.” Lisa tersenyum menunjukkan pada Leo bahwa ia baik-baik aja meski hanya di atas kepura-puraan. “Aku juga kecewa sama Al,” ujar Leo. “Dia harusnya mementingkan kamu daripada urusan manapun.” “Al gimana di kantor, Leo?” tanya Lisa mengalihkan pembiraan. “Akhir-akhir ini dia kurang fokus. Setiap presentasi ada aja kejadian.” “Kejadian apa?” “Suka lupa sama materi rancangannya, untung klien gak pada kabur.” “Dia juga agak beda,” lanjut Leo. “Beda?” “Iya. Aku perhatikan dia suka melamun dan kaya gak semangat kerja.” “Apa karena aku?” Batin Lisa. “Kira-kira Lisa tau gak ya, kalau Manda itu mantan pacaranya Al?” Leo bertanya-tanya dipikirannya. “Lisa,” panggil Leo. Lisa menoleh memandangi pria itu. “Al pernah cerita sesuatu ke kamu gak?” “Cerita sesuatu? Kayanya gak deh. Emang Al punya rahasia?” Leo cengengesan. “Gak ada sih.” Ia sebaiknya tidak membocorkan hal itu. Takutnya nambah masalah. Setelah 8 jam perjalanan akhirnya Lisa sampai di tempat mertuanya. Jam 3 sore ia baru tiba di tempat tinggalnya itu. Ia pun mengucapkan terima kasihnya pada Leo karena sudah repot-repot mengantarnya. “Leo makasih banyak ya.” “Iya sama-sama, Lis.” “Kamu memang teman baik aku yang selalu ada buat aku. Makasih sekali lagi.” Setiap kali Lisa menyebut Leo sebagai teman setiap kali pula pria itu merasa sedih. Karena ia sebenarnya ingin memiliki hubungan yang lebih dari teman pada wanita itu. Namun apa daya Lisa sudah menjadi istri dari sahabatnya sendiri. “Mau mampir dulu?” tawar Lisa. “Gak usah, Lis. Lain waktu aja soalnya udah ini aku mau ke suatu tempat, ada urusan jadi buru-buru. Maaf ya.” “Gapapa. Kalau gitu hati-hati.” Leo tersenyum. “Aku pamit dulu, assalammualaikum.” “Waalaikumsalam.” Leo pergi dan Manda pun memberikan lambaian tangan. Sebelum masuk rumah Lisa mengucapkan salam namun tidak ada orang yang menjawabnya. Ia pun masuk kedalam karena pintu tidak dikunci. Ketika ia sampai di ruang keluarga ia melihat mamah mertunya. Ia tersenyum sambil menundukkan kepala memberikan rasa hormatnya pada wanita itu. Diluar dugaannya wanita itu membalas senyumnya dan lalu menghampirinya. Ketika jarak mereka sudah dekat mertuanya itu tiba-tiba memeluk dirinya. “Kamu udah pulang Lis, Mamah kangen sama kamu,” ucap Resi sambil memeluk Lisa. “I-i-iya, Mah.” Lisa begitu kaget karena ini pertama kalinya Mamah memeluk dirinya dan bersikap sebaik ini padanya. Ini dia yang mimpi atau mamahnya yang salah minum obat? Resi melepaskan pelukannya. “Kamu apa kabar?” “A-a-aku baik, Mah.” “Syukurlah.” “Mamah kabarnya gimana?” “Mamah sudah pasti baik-baik aja. Oh ya, kamu pulang diantar siapa?” “Leo, Mah.” “Loh, kok kamu diantar Leo?” Lisa menunduk. “Mas Al lupa kalau aku pulang hari ini.” “Astaga anak itu, bisa-bisanya dia lupa jemput kamu.” “Gapapa, Mah.” “Ya udah, kamu istirahat ya. Kamu pasti kecapean.” Lisa mengangguk. Ini terasa aneh. Mamah sangat bersikap aneh padanya. Wanita itu senyum padanya, memeluknya, dan menanyakan kabarnya. Sebelumnya tidak pernah. Namun kenapa hari ini wanita itu besikap berbeda? Sebenarnya ia senang jika mertuanya itu sudah berubah. Akan tetapi perubahannya sangat janggal. Tidak ada angin tidak ada hujan wanita itu tiba-tiba saja bersikap baik. Bukankah sangat menjanggalkan? “Mah.” “Iya.” “Mamah kenapa?” “Maksud kamu?” “Mamah bersikap baik ke aku.” Resi tersenyum. “Mamah kan, mertua kamu wajar kalah Mamah baik ke kamu.” “Tapi…” “Udah, mending kamu istirahat dan bertemu Al, dia pasti kangen sama kamu. Mamah mau lanjut nonton lagi.” Wanita itu meninggalkan Lisa. “Apa mamah benar-benar berubah? Atau…” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD