Kejadian tak Terduga

2254 Words
“Kamu mau makan apa?” tanya Manda sambil mendudukan dirinya di samping Al. Pria itu sedang menonton televisi. Anehnya pria dewasa itu menonton film kartu yaitu film Naruto. “Terserah,” jawab Al acuh. “Enaknya makan apa ya?” Manda menyenggol siku Al. “Kasih ide dong, jangan bilang terserah.” Al menunjuk layar televisi. “Kamu mau makan itu?” Manda melihat adegan Naruto makan ramen bersama Sakura, Kakashi, dan Sasuke. “Bukan.” “Terus?” Al menatap Manda. “Kamu sama bodohnya seperti Sakura.” Manda mengepal kedua tangannya lalu memukul-mukul Al karena ia tidak terima dibilang bodoh. “Kamu jahat banget sih! Masa bilang istri sendiri bodoh!” Al tidak melawan wanita itu. Ia membiarkan wanita itu berhenti sendiri. Manda berdiri. “NYEBELIN!” Ia beranjak pergi dengan perasaan kesal. Al meraih ponselnya yang ia simpan di sampingnya. Ia mengecek ponselnya ternyata pesan yang ia kirim pada istrinya belum dibalas bahkan belum dibaca. “Lisa, kamu kenapa sih? Aah!” “Telfon aja deh.” Ia menghubungi Lisa. “Halo,” sapa Lisa dibalik telfon. Al mengecilkan volume televisi. “Alhamdullah…” ucap syukur pria itu. Akhirnya wanita itu mengangkat telfon darinya. “Sayang, kamu kemana aja sih? Aku telfon gak diangkat, aku chat gak dibaca gak dibales. Kamu marah sama aku, ha?” “Tadi aku sibuk.” “Suara kamu kenapa?” Suara Lisa terdengan berbeda. “Aku lagi serak dan pilek.” “Kok bisa?” Al menjadi cemas. “Udah minum obat, kan? Kamu jangan ngapa-ngapain dulu. Kamu istirahat, tiduran dan jangan banyak gerak. Oke?” “Aku cuma serak dan pilek, Mas. Bukan sekarat.” “Pokoknya kamu harus banyak-banyak istirahat. Apa aku sebaiknya ke sana aja biar bisa jagain kamu?” “Jangan ngacok deh Mas, kamu itu sekarang lagi di Bali. Dan aku gak sakit parah.” “Aku khawatir banget sama kamu.” “Lisa, boleh ibu bicara sama suami kamu.” Suara Bu Astri terdengar. “Boleh Bu.” Lisa memberikan ponselnya pada Bu Asri. Al jadi deg-degan karena Bu Asri mau bicara dengannya. Padahal wanita itu sebelumnya tidak pernah bicara dengannya di via telfon. Mereka juga tidak akrab dan ia merasa Bu Asri tidak suka dengannya. Dari ia pacaran sama Lisa ia merasa Bu Asri kurang menyetujui hubungannya dengan Lisa. “Assalammualaikum,” sapa Bu Asri. “Waalakumsalam Bu.” Keringat dingin mulai bermunculan di wajah Al. Ia merasa sangat gugup. Bu Asri menjauh dari Lisa. Ia sengaja melakukannya agar Lisa tidak mendengar percakapannya dengan Al. “Ibu mau tanya sama kamu, tolong jawab jujur.” “Baik Bu,” ucap Al sambil mengusap keringat yang membasahi wajahnya. “Apa benar kamu menikah lagi?” Bak petir menyambar di siang bolong. Al terkejut dengan pertanyaan wanita itu. Ia harus jawab apa dan bagaimana? “Halo Al, kamu dengar suara ibu?” “De-de-dengar Bu,” jawab Al terbata-bata. “Kalau dengar kenapa pertanyaan ibu gak dijawab?” “Astaga, aku harus gimana ini?” Al membatin. “Bu, ibu udah sehat?” Al mengalihkan pembicaraan. “Ibu udah baik-baik aja.” “Alhamdulillah. Al senang dengarnya.” “Semoga udah ini ibu balik nanya kabar aku,” ucap Al dalam hati. “Al.” “Iya Bu.” “Jawab pertanyaan ibu, apa benar kamu menikah lagi? Apa benar kamu menduakan Lisa?” Al menghembuskan napas beratnya. Ia benar-benar tertekan dengan pertanyaan Bu Asri. “Iya Bu.” Sudah tidak bisa menghindar lagi akhirnya ia mengaku saja. “Ibu kecewa sama kamu.” Bu Asri katakan kekecewaannya. Karena ia tidak terima Lisa dipoligami. “Bu, maaf. Al minta maaf sebesar-besarnya ke Ibu.” “Kamu pernah janji ke Ibu akan buat Lisa bahagia. Tapi kenapa kamu malah menduakan Lisa, Al? Ibu sangat kecewa sama kamu. Kalau memang dari awal kamu tidak benar-benar menginginkan Lisa kenapa kamu menikahi dia?” “Bu, Al gak pernah ada niat sedikitpun ingin mempoligami Lisa.” “Terus kenapa kamu memadu dia?” “Al terpaksa, Bu.” “Apapun alasan kamu. Ibu tidak pernah terima kamu mempoligami Lisa. Jika kamu lebih memilih istri kedua kamu, lepaskan saja Lisa. Ibu tidak tega melihat Lisa menderita. Jika kamu udah gak bisa membahagiakan Lisa kembalikan Lisa kepada ibu.” “Bu, aku sayang banget sama Lisa. Aku gak mau pisah sama dia, Bu. Aku gak mau meninggalkan Lisa. Aku terpaksa menikah lagi Bu karena dipaksa orang tua. Aku mohon sama Ibu, jangan minta aku menjauhi Lisa. Aku gak mau kehilangan dia.” Tuttt Bu Asri mengakhiri panggilan. Ia kembali menemui Lisa. “Ini.” Bu Asri mengembalikan ponsel Lisa. “Mas Al, udah nutup telfonnya?” “Ibu yang tutup.” “Kenapa?” “Ibu kecewa sama suami kamu.” Lisa menunduk sedih. “Kalau kamu merasa gak nyaman suami kamu mempoligami kamu. Kamu merasa menderita, sebaiknya kamu tinggalkan aja. Kamu berhak bahagia, Lisa. Ibu sangat membenci poligami walaupun dalam agama kita diperbolehkan. Menurut ibu, manusia biasa tidak pantas berpoligami! Hanya orang tertentu dan benar-benar bisa adil yang boleh melakukannya.” “Tapi Bu, aku sayang sama Al. Aku masih mencintai suamiku. Di dunia ini aku gak punya siapa-siapa kecuali Ibu dan Mas Al. Aku gak mau kehilangan salah satu dari kalian. Hiks…” Bu Asri memeluk Lisa. “Ibu serahkan semuanya ke kamu. Terpenting bagi Ibu, kamu gak menderita. Kalau memang kamu merasa mampu bertahanlah. Tapi kalau kamu gak kuat gak ada salahnya untuk melepaskan, Lis.” Lisa menangis di pelukan Bu Asri tanpa berkata-kata lagi. *** Al ke dapur. Setelah berbicara dengan Bu Asri energinya terkuras dan membuatnya menjadi lapar. Tiba di dapur ia melihat banyak makanan di meja makan. Dan makanan itu menu favoridnya. Ia langsung duduk dan menghirup aroma makanan yang membuanya semakin merasa lapar. “Gimana, kamu suka ‘kan?” tanya Manda sambil mendudukan dirinya di kursi yang berhadapan dengan suaminya. “Aku masih ingat kamu itu suka masakan rumahan. Kaya tumis kangkung, ikan goreng, telur dadar, dan sambel walaupun kamu gak terlalu suka pedas. Ini semua aku buat demi kamu.” “Kapan kamu belanja beginian?” tanya Al. Perasaan ia tidak melihat Manda ke luar hotel. Terus darimana wanita itu mendapatkan bahan-bahan makanan ini? “Aku suruh ojek online yang belanja. Jadi aku gak perlu repot ke supermarket. Aku pintar, kan?” “kamu pemalas bukan pintar,” jawab Al dan membuat wanita itu lagi-lagi menjadi kesal kepadanya. “Bisa gak sih puji aku sekali aja. Semua ini aku yang masak loh. Mana ada perempuan yang malas mau masak kaya ginian.” “Ini itu hidangan sederhana. Aku pun bisa buat sendiri.” “Ah! Kamu menyebalkan banget!” “Aku lapar. Malas berdebat sama kamu.” Al mengambil makanan. Saat Al mau menyuap makanannya ia ingat akan sesuatu. “Ini gak ada rancunnya, kan?” “Kamu pikir aku mau membunuh kamu, ha?” “Maybe.” “Suami resek!” gumam Manda. *** Sangat melelahkan dan butuh istirahat. Al menjatuhkan tubuhnya di kasur. Sudah saatnya ia tidur. Mata ngantuk dan perut kenyang merupakan momen yang pas untuknya memejamkan mata dan bermimpi indah setelah melewati perjalanan panjang dan tekanan batin karena Bu Asri. “Udah mau tidur?” tanya Manda. “Hem.” “Kayanya ini waktu yang pas,” ucap Manda dalam hati. “Mau aku buatkan teh hangat dulu gak?” “Gak.” “Ya udah, aku ambilkan air putih aja.” Manda melenggang pergi. “Hei! Aku gak haus!” teriak Al. Masa bodoh Manda tetap ke dapur mengambilkan minuman untuk suaminya. Sampai di dapur Manda mengambil segelas air putih lalu ia mengelurkan sesuatu dari saku celananya. Ia membuka bungkusan barang itu lalu ingin mencampurkannya di minuman Al. “Apa perlu aku melakukan ini?” Ia ragu mencampurkan minuman Al dengan obat yang diberikan papah mertuanya. “Tapi jika aku gak pakek cara ini, belum tentu Al mau menyentuhku dengan sukarela. Kasih ajalah.” Manda segera mencapurkan serbuk obat itu kedalam minuman Al lalu ia mengaduknya dengan rata. “Semoga malam ini akan jadi malam indah.” Ia beranjak ke kamar. Sampai di kamar ia langsung memberikan minuman itu kepada suaminya. “Ini buat kamu.” Al membuka matanya dan melihat Manda yang memberikannya segelas air putih. “Aku gak haus.” “Kamu harus minum dulu sebelum tidur supaya kamu gak punya masalah pencernaan. Minum sebelum tidur itu baik banget buat pecernaan, bisa terhindar dari sembelit juga.” “Kamu maksa banget jadi orang.” “Ya udah kalau kamu gak mau. Aku simpan sini aja. Kalau kamu haus tinggal minum.” Manda meletakkan minuman itu di atas nakas samping tempat tidur. Ia beranjak pergi ke kamar mandi. Ia belum sempat mandi tadi karena sibuk masak. Ketika wanita itu selesai mandi ia melihat ke arah minuman yang ia taruh di atas nakas namun gelas itu masih terisi penuh yang tandanya Al belum meminum minuman itu. Ia cemberut. “Sepertinya akan gagal,” gumamnya. Ia memakai pakaiannya. Setelah memakai baju tidur seksinya ia pun naik ke atas tempat tidur. Berbaring di samping suaminya. “Sayang, kamu udah tidur?” tanya Manda memastikan. Tidak ada jawaban dari pria itu. “Al, kamu udah tidur?” Ia nanya lagi sambil menoel-noel pipi suaminya itu namun tidak ada respon dari pria itu yang menandakan suaminya sudah tertidur pulas. Manda kesal. Ia menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya. *** Jam 12 malam. Al terbangun karena merasa tenggorokannya kering dan sakit. Ia pun mendudukan dirinya. Saat ia berangsur turun dari ranjang untuk pergi ke dapur ia tidak sengaja menoleh dan melihat ada minuman. Ia baru ingat dengan minuman itu. Tanpa ragu ia meminumnya sampai tidak tersisa. Tenggorokannya terasa sangat lega. Ia kembali berbaring dan melanjutkan tidurnya. 1 jam berlalu. Manda yang setengah sadar mengeluarkan desahan dari mulutnya. Ada tangan yang menyelusup masuk di dalam pakaiannya. Ada tangan kekar yang meremas-remas p******a wanita itu dan sesekali mengusap bagian sensitif lainnya. Manda keenakan dan saat ia benar-benar sadar dan membuka matanya ia mendapati Al menindih tubuhnya. Wanita itu tersenyum. Ia melihat Al yang sedang menikmati tubuhnya. Ia pasrah dengan semua yang dilakukan pria itu terhadapnya. Ia kembali memejamkan mata saat Al mencium bibirnya. Menciumnya dengan sangat hati-hati. Lembut dan sangat terasa nikmat. Ia benar-benar merasa bahagia saat ini karena akhirnya Al menyentuhnya. Setelah sekian lama tidak berhubungan dengan pria itu dan sangat membuat rindu kini semua terbayarkan. Al tidak pernah gagal dalam memberikannya kenikmatan. Pria itu sangat hebat bermain di ranjang dan membuatnya dimabuk kepayang. Satu persatu kancing baju Manda dilepaskan oleh Al yang saat ini sangat b*******h tingkat tinggi. Ketika wanita itu sudah bertelanjang d**a Al lanjut membuka celana dalam Manda. Lanjut ia kembali melumat bibir wanita itu. Manda melingkarkan tangannya di leher suaminya itu. Kemudian wanita itu membantu Al melepaskan baju. Wanita itu juga membantu Al melepaskan celana. Al menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka yang kini tidak memakai sehelai benang pun. Al membuat jarak diantara paha Manda. Ia siap memasukan barang berharganya ke dalam tubuh wanita itu. “Apa boleh aku memasukkannya sekarang?” tanya pria itu. Malu-malu Manda memberikan anggukan. Pipi wanita itu bahkan memerah. Ketika Al memasukkan miliknya secara perlahan, Manda mengigit bibirnya. “Sakit,” ucap Wanita itu sambil meremas lengan Al. Al berhenti dahulu lalu kembali memasukkan barangnya lebih dalam. “Apa masih sakit?” Manda menggeleng. Al lebih merapatkan tubuhnya ke Manda. Supaya rasa sakit Manda tidak terlalu terasa ia pun sambil berciuman dengan wanita itu dan Manda membalas ciumannya sampai barang miliknya benar-benar masuk dan Al mulai memaju mundurkan tubuhnya. Al terus memaju mundurkan barangnya sampai Manda lemas namun pria itu juga belum sampai pada puncaknya. Ia terus berusaha sampai pada titik namun Manda sudah keluar beberapa kali tapi ia belum juga keluar. “Aku udah gak kuat,” rintih Manda yang sudah merasa sangat kewalahan. “Sabar, Sayang.” Al mencium kening Manda. “Apa obat itu yang membuat Al sekuat ini?” Manda membatin. Saat ini yang ada dipikiran Al hanya satu yaitu ingin memuaskan dirinya. Pria itu juga melakukannya ke Manda karena ia tidak bisa mengendalikan dirinya. Yang ada dipikirannya sekarang hanya ingin merasa puas dan ia juga tidak tahu kenapa nafsunya begitu tinggi sehingga ia kehilangan akal sehatnya. “Sayang, apa belum juga?” tanya Manda yang sudah merasa sangat kelelahan. Al tidak menjawab. Ia terus mempercepat gerakannya hingga akhirnya ia sampai puncak. Tubuhnya pun lemas dan menjatuhkan tubuhnya di sebelah Manda. “Makasih, Sayang.” Manda mengecup pipi Aldevaro. Al sudah tidak sadarkan diri. Pria itu langsung ketiduran. Manda menarik selimut. Menyelimuti tubuh Al. *** Cahaya matahari memantul di kaca jendela dan membuat cahaya menyindari wajah Aldevaro. Pria itu terbangun. Ia mendudukan dirinya dan mengumpulkan kesadarannya. Ketika ia menunduk melihat tubuhnya yang tidak memakai baju ia terkejut. Matanya tidak sengaja melihat ke bawah dan menemukan semua pakaiannya berserak di lantai. Tidak hanya bajunya namun juga baju Manda bahkan pakaian dalam mereka juga di sana. Cepat ia menyerbak selimutnya dan melihat dirinya telanjang. Ia juga menyerbak selimut Manda dan melihat wanita itu yang juga tidak memakai apa-apa. Ia terkejut dan cepat menutup mulutnya karena suara kepanikan hampir saja mau keluar dari mulutnya itu. “Apa yang telah aku lakukan? Bagaimana bisa aku berbuat itu pada wanita sialan ini?” Ia membatin. Sebelum Manda sadar ia bergegas memakai pakaiannya. Ia segera pergi dari hotel. Karena tidak menerima kenyataan ia pun lari dari hotel untuk mencari udara segar dan memulihkan kembali kesadarannya karena ia mereka kurang sehat karena sudah menyentuh Manda. Padahal ia membenci wanita itu namun bagaimana mungkin ia bisa berhubungan badan dengan wanita itu. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD