“Assalammualaikum, cantik,” ujar Al yang berbicara di via telepon pada istrinya. Mengingat ia dan Lisa sempat cekcok jadi ia harus lebih bersikap manis pada istrinya itu.
“Waalaikumsalam,” jawab Lisa.
“Waalaikumsalam suamiku yang tampan. Jawabannya seharusnya kaya gitu.”
“Mas, kamu ngapain nelfon tengah malam begini?”
“Maaf aku ganggu tidur kamu ya?”
“Udah tau ganggu, masih aja ditelfon.”
“Kamu jangan judes gitu dong sama aku. Kamu marah ke aku?”
“Gak.”
Mendengar suara-suara membuat Manda terbangun. Wanita itu membuka matanya dan melihat Al duduk bersila di sampingnya. Pria itu sepertinya sedang menelepon seseorang. Siapa? Siapa yang pria itu telfon di jam segini?
“Sayang, Papah beliin aku tiket ke Bali, pria tua itu juga udah boking kamar hotel buat aku 3 hari di sana. Papah minta aku hanimun sama Manda. Aku cerita ini ke kamu supaya kamu gak salah paham sama aku. Dan aku minta perizinan dari kamu. Apa kamu ngebolehin atau gak? Aku harapnya kamu bilang enggak sih.”
“Terserah kamu, Mas.”
“Kok terserah sih. Aku minta pendapat kamu loh.”
“Ya aku gak tau, Mas. Keputusan ada di kamu.”
“Tapi aku butuh pendapat kamu.”
“Ya udah, pergi aja.”
“Kamu gapapa?”
“Ya aku gapapa. Kamu dan Manda memang harus pergi hanimun, kan. Supaya kalian cepat punya momongan dan orang tua kamu akan senang.”
“Tapi, Sayang…”
“Udah Mas, aku mau tidur. Besok banyak yang harus aku kerjakan. Good night.”
“Kok good night? Bukan i love you?”
Lisa memutuskan panggilan.
“Sayang!”
“Halooo!”
“Sayang!”
“Ahhrggt!”
“Kayanya Lisa marah,” ucap Manda. Al langsung memandanginya.
“Kamu nguping pembicaraan aku?” tanya pria itu.
“Aku gak sengaja bangun dan gak sengaja dengar pembicaraan kamu sama Lisa.”
Al menyimpan ponselnya di atas meja. Ia berbaring kembali.
“Kalau gak mau pergi batalin aja,” ucap Manda.
“Tapi kalau aku batalin pasti mamah ngira aku ingkar janji. Aku mau saat Lisa pulang nanti mamah memperlakukan baik istriku itu,” ucap Al dalam hatinya.
“Aku akan pergi. Lisa juga memperbolehkan.”
“Ya udah bagus.” Manda memiringkan posisinya. “Ayo kita tidur lagi. Besok kita harus berangkat pagi karena jadwal tiketnya pagi.”
“Tidur aja duluan. Gak usah ngajak-ngajak.” Al memiringkan posisinya membelakangi wanita itu.
***
“Manda,” panggil Arya.
“Iya, Pah.”
Arya menghampiri wanita itu. Saat ini Al sedang tidak bersama wanita itu jadi ini kesempatan baginya.
“Ini.” Arya memberikan sesuatu pada menantunya itu.
“Ini apa, Pah?”
“Nanti kamu beri ini ke Al, campurkan ke minumannya saat kalian udah mau tidur.”
“Maksud Papah ini obat…”
“Simpan baik-baik jangan sampai Al tau. Kasih dia selama kalian di sana. Kalau gak dengan cara ini Papah yakin dia gak akan menyentuh kamu.”
“Tapi Pah, Papah yakin ini obatnya aman?”
“Iya itu aman.”
Manda tersenyum. “Makasih ya Pah.” Ia memeluk mertuanya itu.
Al datang menghampiri mereka dengan membawa koper pakaiannya. “Udah siap?” tanyanya pada istri keduanya.
Manda mengangguk.
“Maaf ya, Mamah gak ikut nganterin kalian sampai Bandara,” ucap Resi.
“Papah juga gak bisa, maaf ya.”
“Gapapa, Ma, Pah,” balas Manda.
“Kalian baik-baik di sana. Dan Al, kamu jaga Manda ya,” ujar Resi.
Al memberikan anggukan terpaksa.
“Ayo,” ajak Al.
“Mah, Pah, kami pamit,” pamit Manda.
Arya dan Resi memberikan anggukan.
Manda masuk ke dalam mobil duluan. Dan Al sengaja belakangan karena ada hal yang ingin ia katakan pada Mamahnya sebalum ia pergi. Ia tiba-tiba memeluk wanita tua itu dan berbisik kepadanya. “Mah, aku udah tepati janji aku. Mamah juga harus menempati janji Mamah.”
“Baik. Mamah akan tepati dan kamu juga harus buktikan jika kamu benar-benar menerima Manda. Mamah akan tunggu kabar baik dari kamu. Mamah harap hanimun kamu ini bukan tipuan dari kamu. Mamah harap Manda segera mengandung anak kamu,” bisik Resi.
Al melepaskan pelukannya. “Aku pamit.”
Resi mengangguk. Setelah Al masuk ke dalam mobil dan mobil itu pergi Arya mendekati istrinya itu.
“Mah, Al ngomong apa ke Mamah?”
Resi tersenyum pada suaminya. “Dia bilang dia akan baik ke Manda selama kita juga baik ke Lisa.”
“Terus Mamah bilang apa?”
“Mamah mengiyakan.”
“Ya udah, ayo kita masuk.” Arya merangkul istrinya, membawa wanita tercintanya itu masuk ke dalam rumah besar mereka.
***
Selama di perjalanan menuju Bandara, antara Al dan Manda tidak saling bicara. Al sibuk dengan pikirannya yang memikirkan Lisa dan Manda hanya sibuk memerhatikan wajah pria itu sambil menebak-nebak apa yang ada dipikiran lelaki itu.
Setelah sampai di Bandara pun mereka tidak saling bicara. Sebenarnya Manda ingin mengobrol dengan pria itu namun ia memilih mengurungi niatnya karena ia melihat dari wajah pria itu yang tampak murung dengan tatapan mata yang kosong. Al terlihat tidak senang dengan keberangkatan mereka. Ia yakin pria itu pasti sedang memikirkan Lisa.
Selang menunggu keberangkatan pesawat Manda sempatkan waktunya untuk menelepon Lisa. Ia ingin berbicara pada wanita itu. Namun sudah beberapa kali ia mencoba meneleponnya akan tetapi Lisa tidak mengangkat panggilannya. Sehingga sudah waktunya pesawat berangkat dan akhirnya ia gagal menghubungi wanita itu.
Di dalam pesawat Al juga tidak berbicara pada Manda. Pria itu malah menidurkan dirinya. Manda yang duduk di samping Al, ia meraih tangan pria itu dan menggenggamnya.
“Maaf Al, bukannya aku mau buat kamu sedih. Tapi aku cuma mau di dekat kamu. Aku gak mau kehilangan kamu. Aku gak mau buat kesalahan lagi. Aku mau di sisi kamu.” Ia menyederkan kepalanya di pundak pria itu. Sampai ia ketiduran.
Pesawat mendarat. Al terbangun dan mendapati Manda yang tertidur di pundaknya. Ia memandangi wajah wanita itu. Tidak bisa dipungkiri setiap kali melihat wajah wanita itu secara dekat seperti saat ini, ia selalu teringat akan kebersamaan di masa lalunya bersama wanita itu.
Manda cinta pertamanya. Jujur seorang pria tidak bisa melupakan sepenuhnya cinta pertama mereka. Ini mungkin agak menyakitkan bagi beberapa perempuan karena pasangan mereka sejatinya masih mengingat cinta pertama mereka. Walaupun sudah berusaha melupakannya tapi tetap ada satu nama yang tidak bisa mereka lupakan yaitu cinta pertama mereka. Namun bukan berati hal ini membuat pria tidak mencintai sepenuhnya pasangan mereka yang sekarang. Cinta pertama bagi mereka seperti tempat dimana yang tidak bisa dilupakan namun bukan tempat mereka selalu berlabuh di sana.
Perasaan Al pada Manda sebenarnya tidak pernah hilang. Rasa itu hanya stuck ketika wanita itu berhenti mencintainya. Meninggalkanya dan memilih mencintai orang baru. Begitu juga dengannya yang memilih mencintai orang baru yaitu kepada Lisa dan menghentikan rasa cintanya kepada wanita yang saat ini bersamanya.
Bagaimana pun perasaan itu pernah begitu besar hingga pada satu titik ia dikecewakan, dicampakan. Bahkan ia sangat dibuat frustasi dan hampir memilih mengakhiri hidupnya. Ia begitu putus asa ditinggal wanita itu. Sampai akhirnya ia bertemu dengan wanita yang bisa menyembuhkan lukanya. Akan tetapi wanita itu kembali lagi sekarang. Wanita itu bahkan sudah menjadi istrinya. Ia memang pernah punya mimpi untuk menikahi wanita itu. Namun di saat itu ketika ia belum menemukan seseorang yang baru. Kini ia memiliki keduanya dan bingung harus bersikap adil yang seperti apa. Ia sebenarnya takut rasanya kembali untuk wanita yang bersamanya saat ini dan rasanya pada Lisa memudar.
Manda tersadar. Al cepat memalingkan wajahnya.
“Apa kita sudah sampai?” tanya wanita itu.
“Iya,” jawab Al singkat. Ia beranjak dari kursinya. “Ayo.” Al mengulurkan tangannya tanpa sadar.
Manda melihat tangan pria itu lalu menatap Al. Ia menyambut tangan itu.
Al langsung membawa Manda keluar dari pesawat. Manda yang saat ini tangannya digandeng oleh Al merasa takjub. Ia serasa mimpi. Entah pria itu kenapa tapi ia senang Al menyentuh tangannya. Akhirnya ia bisa berjalan bergandengan tangan lagi setelah sekian lama.
***
Al dan Manda tiba di hotel. Setelah menaruh barang-barang mereka. Manda melihat-lihat sekitaran hotel. Fasilitas semua lengkap di hotel tersebut, ukurannya juga luas dan hotel ini sangat terlihat mewah. Ada kolam renang dan pemandangan di luar hotel juga bagus di mana langsung terlihat pantai.
“Papah kamu gak salah milih tempat, di sini bagus banget,” ucap Manda saat Al datang mendekat. Pria itu bukan menghampirinya tapi menuju kolam renang dan duduk di pinggiran kolam.
“Hotel ini punya Papah,” ujar Al sambil menggelantungkan kakinya di air.
“Really?” Manda takjub.
“Iya.”
“Wah, Papah kamu keren banget.” Manda duduk di samping Al. Ia harus lebih mendekatkan dirinya pada pria itu agar hubungan mereka semakin baik.
“Papah emang orang yang hebat. Cuman sayang, dia punya anak seperti aku yang tidak ambisius. Maka dari itu dia sangat ingin aku segera memiliki anak dengan harapan dia akan punya penerus. Kalau aku bukan anak tunggalnya pasti aku bukan siapa-siapa sekarang. Kamu pun pasti gak akan mau sama aku.”
Manda menoleh menatap wajah pria itu. Tangannya menggapai tangan pria itu dan menggenggamnya. “Kamu juga hebat kok. Papah kamu sayang juga sama kamu. Kamu itu beruntung tau karena punya orang tua yang dari kecil mendidik kamu, menaruh harapan sama kamu, dan papah kamu juga bangga sama kamu. Gak semua orang tua apalagi seorang ayah yang memuji langsung anaknya. Buktinya waktu Papah kamu menghubungi aku, Papah bilang ke aku kaya gini. Manda, kamu masih ingat Al, kan. Sekarang Al udah jadi direktur loh. Dia memimpin perusahaan besar dan perusahaannya juga sukses. Dia kini banyak dikenal dan sudah bekerja sama dengan beberapa perusahaan besar. Papah diam-diam membanggakan kamu. Kamu jangan mikir yang aneh-aneh sama orang tua kamu. Mereka sangat sayang sama kamu.”
“Aku gak percaya omongan kamu.” Al melarikan tangan Manda yang memegangi tangannya.
Manda memandangi air kolam. “Terserah mau percaya atau enggak. Yang penting aku berkata yang sebenarnya.”
“Kita berenang ajak yuk? Daripada sedih terus. Kita di sini kan, mau senang-senang,” ajak wanita itu.
“Gak.”
“Ayo berenang. Kita lomba renang siapa yang kalah nanti dikasih hukuman. Gimana?”
“Airnya dingin. Males.”
“Laki kok takut sama air.”
“Gak takut, ngehindar aja.”
Manda punya ide. Ia berdiri.
“Mau ngapain kamu?” Al curiga.
“Aku mau ambil baju renang.”
“Ohh.”
Ketika Al menghadap air lagi, Manda pun dengan sigap mendorong Al ke dalam kolam namun sialnya pria itu berhasil bertahan dan malah Al yang jadi menarik tangannya dan langsung menjatuhkannya ke kolam. Ia pun tercebur dan basah kuyup.
“Sialan kamu,” maki Manda yang kesal.
Al berdiri. “Harusnya aku yang ngomong kaya gitu,” ucapnya sambil menujuk Manda.
Manda menyiram Al dengan air. Pria itu malah pergi bukan malah ikut bermain air bersamanya.
“Ah, gak seru,” gumam Manda. Karena sudah terlanjur basah ia pun bermain di kolam sendirian sampai puas. Berenang, menyelam, dan bermediasi di dalam air.
Al ke kamar. Ia mengambil ponselnya yang terletak di atas nakas. Ia menelepon istrinya namun Lisa tidak mengangkat panggilannya. Ia coba berulang kali namun wanita itu tetap tidak mengangkat telfon darinya.
“Dia ngapain sih sampai-sampai gak sempat ngangkat telfon dari aku?”
Al memutuskan mengirim pesan saja.
[Sayang, aku udah sampai di Bali. Sekarang aku udah di hotel.]
[Kamu lagi apa?]
[Kenapa dihubungi gak bisa? Kamu marah?]
[Kamu jangan lupa jaga kesehatan ya. Makan jangan sampai telat. Jangan begadang. Dan jangan berhenti ya cinta sama aku.]
[Aku sayang kamu. I love you.]
Al menyimpan kembali ponselnya. Ia merebahkan tubuhnya.
***
Lisa melihat notifikasi pesan yang masuk di ponselnya. Pesan itu dari suaminya dan ia belum membuka pesan-pesan itu. Ia tadi juga sengaja tidak mengangkat telfon dari Manda dan suaminya. Tidak tahu kenapa saat ini ia tidak ingin diganggu siapapun. Ia tidak ingin bicara dan berinteraksi kepada suaminya dan istri kedua suaminya itu.
Saat ini ia merasa sangat hampa. Ia sedih dan memilih menyendiri. Setiap malam ia menangis. Ia merasa penderitaannya bertambah. Waktunya bersama sang suami juga berkurang. Sekarang rasanya ia benar-benar sendiri. Walaupun ia yang menghindar duluan namun ia lakukan itu karena ia belum siap saja harus berpapasan dengan istri lain dari suaminya. Harus melihat wajah wanita itu setiap waktu, makan bersama, tidur bersama suaminya pun harus bergiliran. Pokoknya ia belum siap menghadapi itu semua. Untuk di waktu sekarang ia merasa belum sanggup.
“Lis.” Bu Asri menghampiri Lisa di kamar.
“Eh Bu.” Lia berdiri menyambut Bu Asri yang sudah merawatnya sejak kecil. Wanita itu sudah seperti ibu kandung baginya.
“Ibu dengar, suami kamu datang ke sini ya semalam.”
“Iya Bu.”
Mereka sama-sama duduk di pinggir ranjang.
“Kok gak kasih tau Ibu.”
“Maaf Bu, Lisa lupa. Soalnya Al datangnya udah kemalaman dan siangnya langsung pulang.”
“Lis.”
“Iya, Bu.”
“Ibu perhatikan kamu terus murung. Kamu ada masalah?”
Lisa sangat ingin bercerita tentang masalahnya. Namun mengingat kondiri Bu Asri yang belum benar-benar sehat membuatnya menahan untuk tidak menceritakan masalahnya pada wanita yang sudah merawatnya dengan tulus itu.
“Gapapa, Buk. Lisa baik-baik aja.”
“Kamu jangan bohong loh ke Ibu, Lis.”
“Gak, Bu. Lisa baik-baik aja.”
Bu Asri memegang pundak wanita yang sudah seperti anak kandungnya itu. “Kalau ada apa-apa, jangan sungkan cerita ke Ibu.”
Lisa tiba-tiba meneteskan air matanya dan memeluk Bu Asri.
“Lisa sebenarnya gak baik-baik aja, Bu. Mas Al, Mas Al, Buk… hiks…”
“Suami kamu kenapa?”
“Mas Al menikah lagi… hiks…”
“Ya Allah…” Bu Asri pun terkejut mendengarnya. Sebagai sama-sama wanita pasti ia bisa merasakan perasaan yang dirasakan Lisa. Ia mengerti dan memahaminya meski tidak pernah mengalaminya. Karena sebagai wanita tentu ia tidak ingin dipoligami karena ia bisa tahu sakitnya akan seperti apa nantinya. Perasaan tentu akan terasa sangat hancur.
Lisa menangis di pelukan Bu Asri. Ia benar-benar meluapkan semua perasaan sedihnya yang ia pendam selama ini.
“Kamu yang sabar ya, Nak. Ibu tau pasti berat tapi kamu harus tegar.”
***