“Mah, tolong panggilkan Al dan Manda,” pinta Arya yang saat ini sedang berada di ruang keluarga.
“Memangnya ada apa, Pah?” tanya Resi yang penasaran.
“Papah punya hadiah buat mereka.”
“Buat Mamah gak ada?”
“Kan udah tadi.”
“Mamah cuma bercanda.”
“Mamah bikin papah kaget aja.”
“Maaf Pah. Kalau gitu Mamah panggilkan mereka dulu ya.”
Arya mengangguk.
Resi pergi ke kamar menantunya lebih dulu. Sampai di sana ternyata menantunya itu sedang di balkon.
“Kamu ngapain di sini?” tanyanya.
Manda menoleh. “Eh, Mamah.”
“Kamu lagi mikirin apa?”
“Gak mikirin apa-apa, Mah. Cuma liat pemandangan aja. Banyak bintang malam ini.”
“Nanti masuk angin loh.”
“Mamah tenang aja, aku gak akan kenapa-napa kok.”
“Papah manggil kamu tuh, katanya dia ada hadiah buat kamu.”
“Oh ya?”
“Iya. Papah ada di ruang keluarga. Temuin sana.”
Manda mengangguk. Wanita itu segera ingin pergi menemui Papah mertuanya.
“Tunggu,” tahan Resi.
Manda berbalik badan.
“Kamu liat Al?”
“Dia di kamarnya, Mah.”
“Ya udah kamu pergi sana temuin papah.”
Manda mengangguk lalu pergi.
“Anak itu udah menikah sama Manda masih aja pisah kamar,” gumam Resi.
Resi pergi ke lantai tiga. Ia ke kamar putranya. Sampai di sana ia langsung masuk karena kamar putranya itu tidak dikunci.
“Tumben kamu gak ngunci kamar kamu.” Ia menghampiri putranya yang sedang berbaring di ranjang. Ia duduk di pinggir tempat tidur.
Al mendudukkan dirinya. “Mamah mau ngapain ke sini?”
“Ada yang mau Mamah sampaikan. Tapi sebelum itu Mamah mau tanya dulu ke kamu. Kapan kamu akan sekamar dengan Manda? Sekarang kan, sedang tidak ada Lisa. Jadi kamu harusnya tidur sama Manda. Ini malah pisah ranjang. Kalau gak Mamah suruh kamu gak ada inisiatif sendiri untuk tidur sama Manda.”
“Sebelum Al jawab. Boleh gak Al nanya ke Mamah?”
“Mau nanya apa?”
“Kenapa sih Mah, Mamah gak pernah nanya kabar Lisa? Udah beberapa hari loh Lisa gak pulang. Mamah gak ada inisiatif gitu buat nanya kabar istri aku yang namanya Lisa? Istri aku bukan cuma Manda. Aku punya istri yang namanya Lisa yang udah menikah sama aku selama 4 tahun. Tapi gak sekalipun Mamah pernah nanyain tentang dia. Kabar dia, kesukaan dia apa, dia gak suka apa, ulang tahunnya kapan. Mamah merestui aku menikahi dia, tapi kehadiran dia gak Mamah anggap,” ujar Al panjang lebar membuat Mamahnya bungkam.
“Kalau Mamah mau aku baik sama Manda, Mamah juga baik ke Lisa. Gimana, bisa?” tanya Al.
Resi berpikir panjang.
“Mamah hargai Lisa, Mamah tanya kabar dia, Mamah senyum ke dia, Mamah ajak dia jalan-jalan, Mamah tanya dia suka apa dan gak suka sama apa, Mamah beliin dia hadiah, Mamah rayain ulang tahun dia bareng aku, dan Mamah sayang ke dia. Itu impian aku Mah dari sebelum aku menikahi Lisa. Mamah tau gak, setiap malam Lisa nangis karena dia sedih gak dapat perhatian dari Mamah dan Papah. Dia juga cerita sama aku kalau dia cemburu liat kedekatan Mamah sama Manda. Dia iri sama Manda karena Mamah sayang banget sama wanita itu sedangkan sama dia enggak. Mamah sadar gak selama 4 tahun Lisa tinggal sama kita Mamah gak pernah nanya ke dia, Lisa kamu senangkan tinggal di sini? Lisa menderita Mah, tinggal sama kita. Dan aku yakin itulah sebabnya kenapa dia sulit hamil. Dia setiap waktu sedih, setres, banyak hal yang membuat dia kecewa di rumah ini. Mentalnya rusak. Tapi dia gak pernah nunjukin sedihnya ke kalian. Dia tetap baik ke kita semua. Dia tetap senyum ke Mamah walaupun Mamah gak pernah senyum ke dia. Dia selalu ajak Mamah jajan-jalan tapi Mamah selalu nolak karena Mamah malu jalan sama menantu yang bukan dari keluarga kaya. Lisa juga sering beliin Mamah hadiah tapi gak pernah Mamah terima. Dia juga suka memfoto Mamah diam-diam karena Mamah gak pernah mau diajak foto berdua sama dia. Kasihan ya istriku, dari lahir dia gak punya orang tua dan ketika sudah menikah pun orang tua suaminya gak menganggap dia,” lanjut Al.
Mendengar keluh kesah Al membuat Resi jadi ingat momen ketika ia bersama Lisa.
“Mah, jalan yuk,” ajak menantunya itu.
“Saya sibuk.” Ia menolaknya.
“Mah, aku punya hadiah buat Mamah.”
“Saya gak mau.”
“Tapi Mah.”
“Saya bilang gak mau.”
“Ya udah, Mah. Maaf ya Mah, hadiah dari Lisa jelek ya.”
“Mah, foto bareng yuk.”
“Saya gak mau foto sama kamu.”
“Mah, kabar mamah gimana? Sehat, kan?”
“Saya sehat.” Ia menjawabnya tapi ia tidak pernah balik bertanya tentang kabar wanita itu.
Menantunya selalu melempar senyum padanya namun ia tidak pernah membalas senyuman itu.
Resi mengingat semua momen itu.
Al meraih tangan Mamahnya. “Mah, kapan Mamah baik ke Lisa? Udah 4 tahun Mamah cuek ke dia. Mamah gak bosan cuek ke menantu Mamah yang bernama Lisa itu?”
Resi menghela napas panjang. “Baik, Mamah akan baik ke Lisa. Tapi, kamu harus berprilaku adil sama Manda. Kamu harus memperlakukan Manda seperti kamu memperlakukan Lisa.”
“Mamah gak perlu khawatir. Aku akan baik ke Manda jika Mamah menganggap Lisa menantu Mamah.”
“Oke, Mamah janji. Kamu juga harus janji.”
“Aku janji.”
Resi berdiri. “Papah kamu punya hadiah buat kamu. Temuin dia sekarang. Dia pasti nungguin kamu.”
“Papahnya dimana?”
“Di ruang keluarga.”
“Mamah duluan. Aku akan menyusul”
Resi mengangguk dan melenggang pergi.
***
Al duduk di sebelah Manda.
“Sepertinya bukan aku satu-satunya yang dikasih hadiah,” ucap pria itu sambil menoleh ke istri keduanya.
“Hadiahnya memang untuk kalian berdua,” balas Arya. “Ini.” Ia menunjukkan 2 tiket pesawat. “Ini tiket untuk kalian ke Bali. Kalian akan hanimun di sana 3 hari. Papah juga sudah boking kamar hotel spesial untuk kalian.”
Al tidak mengambil tiket itu. Manda yang mengambilnya karena ia melihat tidak ada inisiatif Al untuk menerima tiket itu.
“Makasih, Pah,” ucap Manda sambil tersenyum manis.
“Sama-sama Sayang,” balas Arya.
“Nikmati ya waktu bahagia kalian,” ujar Resi.
“Baik, Mah.”
“Papah gak konfirmasi dulu ke aku?” protes Al.
“Kalau nanya dulu ke kamu pasti kamu menolak.”
Al melarikan pandangannya pada mamahnya. “Gak juga,” balasnya. “Aku mau kok. Kapan lagi bisa liburan gratis. Aku juga udah lama gak liburan, jadi aku akan sangat senang kalau tau Papah akan membelikan aku tiket pesawat ke Bali.”
“Mimpi apa kamu sampai ngomong kaya gitu?”
“Aku mimpi kalian bersikap baik pada Lisa makanya aku juga baik ke kalian.” Al beranjak dari kursinya. “Aku mau istirahat dulu. Makasih tiketnya dan kamar hotelnya.” Ia beranjak pergi.
“Pah, Mah, aku juga mau pamit ke kamar.”
Ketika mendapatkan anggukan dari kedua mertuanya Manda pun berlalu pergi.
Tiba di kamar saat Manda membuka pintu ia cukup terkejut melihat Al ada di kamarnya. Bahkan pria itu sudah berbaring di ranjang. Ia menutup pintu dan menguncinya. Ia melangkah dan menyimpan tiket pesawat yang diberikan Papah mertuanya kedalam laci.
“Kamu tidur di sini disuruh sama mamah?” tanya Manda.
“Kamu gak suka aku tidur di sini?” Al balik bertanya.
“Bukan gitu maksud aku.”
“Kalau gak suka ya udah aku pergi.” Al turun dari ranjang dan saat ia melangkah pergi Manda menarik tangannya.
“Aku suka kamu di sini,” ucap wanita itu.
Al kembali berbaring di ranjang.
“Aku mau ganti baju,” kata wanita itu.
“Ya udah ganti aja. Gak usah laporan ke aku,” balas Al judes.
Manda ke lemari. “Tutup mata kamu.”
“Aku pernah liat tubuh telanjang kamu. Jadi kenapa aku harus tutup mata. Lagian aku gak akan nafsu liat kamu.”
Manda mengambil handuk yang bergantungan di pintu lemari. “Sialan!” umpat wanita itu sambil melempar Al dengan handuk.
Al melempar kembali handuk itu dan ditangkap oleh Manda.
“Tubuh Lisa lebih bagus daripada kamu,” ucap pria itu membuat Manda kesal.
“AL!”
“Apa?” Ejek Al. “Emang kenyataannya tubuh Lisa lebih bagus daripada kamu. Tubuh kamu banyak dikotori oleh tato dan tubuh Lisa putih bersih.”
“Al, kamu bisa diem gak?! Gak usah bandingkan aku dengan Lisa! Kami punya keistimewaan masing-masing!”
“Dan Lisa tentu lebih istimewa dari kamu.” Al terus mengejek.
“Al cukup!” teriak Manda.
“Kalau Lisa aku ejek dia akan tertawa dan balik mencandai aku. Itulah istimewanya dia.” Al terus memuji istri pertamanya. Ia sengaja memanas-manasi wanita itu.
“Kamu menyebalkan banget sih, Al!”
“Makasih pujiannya.”
Manda berbalik badan. Ia malas ribut dengan pria menyebalkan itu. Ia pun segera mengganti pakaiannya. Ketika Al melihat wanita itu melepaskan pakaiannya cepat pria itu membelakangi wanita itu.
Manda selesai mengganti pakaiannya. Ia naik ke atas ranjang, berbaring di sebelah Aldevaro.
“Ngapain kamu pakai baju kaya gini?” tanya Al yang risih karena Manda memakai baju dinas seorang istri.
“Kenapa memangnya? Katanya kamu gak akan nafsu.”
“Ganti!”
“Gak mau.”
“Ganti gak!”
“Gak mau! Ini baju aku. Terserah aku kalau mau makai baju ini. Memangnya kenapa? Kamu nafsu liat aku?”
“Gak. Aku biasa aja.”
“Ya udah, abaikan aja kalau gitu.”
“Dasar kepala batu!”
“Dasar mesum.” Manda balas mengejek.
Al diam. Ia mengubah posisinya. Ia memiring membelakangi wanita itu.
“Kamu tidur di sini apa karena kamu udah bisa nganggep aku sebagai istri kamu?” tanya Manda penasaran.
“Gak juga,” jawab Al cuek.
“Terus karena apa?”
“Aku mau jadi pria baik aja.”
“Apa itu artinya kamu akan belajar menerima aku?”
“Gak juga.”
“Terus apa?”
“Aku sedang berproses jadi gak usah banyak taruh harapan dan berharap lebih.”
“Berarti kamu lagi proses menerima aku sebagai istri kedua kamu.”
“Jadi istri kedua kok bangga,” sindir Al.
“Udah nikah 4 tahun kok belum punya anak.” Manda balik menyindir.
Al tidak terima itu sebagai candaan. Ia menjadi diam karena marah.
Manda pun merasa ucapannya keterlaluan. Ia tidak bermaksud, niatnya hanya bercanda. “Al kamu marah ya? Maaf aku bercanda doang kok. Jangan dianggap serius. Kamu bercandanya juga gak lucu sih jadi aku ikutan bercandain kamu.”
Al tidak buka suara.
Manda melingkarkan tangannya ditubuh pria itu. “Sayang, kamu benaran mau hanimun ke Bali?”
Al melarikan tangan Manda dari tubuhnya. Namun wanita itu memeluknya kembali.
“Kamu yakin mau ke Bali sama aku?” tanya Manda lagi.
“Kalau kamu gak yakin gak usah ikut,” jawab Al ketus.
“Aku akan ikut. Kata kamu tadi kan, kamu lagi berproses jadi aku akan mengikuti proses pendekatan kamu ke aku.”
“Kamu bisa diem gak sih, aku mau tidur.”
“Selamat tidur suamiku. Muahhh.” Wanita itu mencium Aldevaro.
Al menghapus bekas ciuman wanita itu. Ia menarik selimu dan menutupi seluruh tubuhnya.
Manda berbalik. Mereka sama-sama saling memunggungi. Manda terlihat sedih. Walaupun Al sudah tidur di sebelahnya ia merasa hanya raga pria itu yang ia miliki tidak dengan hatinya.
Al membuka selimut. Ia penasaran akan satu hal dan sangat ingin ia pertanyakannya. “Gimana dengan pria itu?”
“Kamu bilang mau tidur.”
“Gimana dengan pria itu?” Al kembali bertanya.
“Pria yang mana?”
“Dia.”
“Dia siapa?”
“Laki-laki yang membuat kamu meninggalkan aku.”
“Kamu penasaran?”
“Aku hanya ingin tahu. Kenapa kamu malah balik ke aku? Bukannya kamu lebih suka ke dia?”
Manda tertawa. Menertawakan dirinya. “Aku memang lebih suka ke dia waktu itu, tapi ternyata dia lebih suka ke orang lain.”
“Ternyata karma itu ada ya.”
“Kamu pasti masih ingat banget saat aku ninggalin kamu.”
“Itu momen paling nyakitin banget sih bagi aku. Bisa-bisanya aku secinta itu sama kamu. Untung setelah itu aku menemukan perempuan yang lebih menghargai aku.”
“Kamu gak penasaran nasib pria yang membuat kita putus itu?”
“Emang dia kenapa?”
“Dia hidup bahagia. Dia udah menikah dan udah jadi ayah.”
“Kenapa kamu bisa tau sejauh itu?”
“Karena aku mengintip kehidupan dia di story. Kami masih saling save nomor tapi berakhir jadi penonton story.”
“Berati kamu masih ada rasa sama dia?”
“Enggak. Setelah aku tau dia punya wanita lain harusnya aku memutuskan dia, tapi malah dia yang memutuskan aku lebih dulu. Aku penasaran aja dan menunggu dia dapat masalah namun hidupnya malah bahagia. Malah aku yang hidupnya menderita. Mana setelah kami putus aku malah suka lagi ke kamu dan nyesal udah ninggalin kamu.”
“Harusnya kamu suka ke orang baru agar hidup aku bahagia. Kamu datang malah buat masalah di kehidupan aku.”
“Maaf. Tapi aku sebenarnya gak ada niat untuk bisa sama kamu lagi. Tapi siapa sangka orang tua kamu menghubungi aku dan mengatakan kamu akan menikahi aku. Tentu aku gak mau kehilangan kesempatan untuk bisa sama kamu lagi. Aku ingin memperbaiki hubungan kita yang sempat renggang.”
“Kamu egois.”
“Apa salahnya aku mencari kebahagian aku.”
“Salah karena aku ini udah jadi suami orang.”
“Laki-laki tidak masalah punya lebih dari satu wanita. Jadi yang aku lakukan tidak salah.”
“Wajar aja pria itu selingkuh. Dia baru sadar perempuan yang dia kencani wanita yang tidak waras.”
“Hei, dulu kamu juga mengencani aku bahkan hubungan kita sangat lama.”
“Namun setelah kamu pergi aku sadar, mata aku udah terbuka ternyata wanita yang pernah menjadi kekasihku adalah wanita yang kehilangan akal sehatnya.”
Manda berbalik mengahdap Al. “Kurang ajar!” Dia spontan menggelitik pria itu. Al pun menggeliat kegelian. Dulu mereka sering saling mengelitik seperti ini. Ketika posisi Manda tidak sengaja di atas tubuh Aldevaro, mereka terdiam sejenak lalu Al mendorong wanita itu.
“Apa yang kamu lakukan, hah?” ujar Al sambil menjauhkan tubuhnya dari wanita itu.
Jantung Manda berdebar-debar kencang. Ia terus menatap Al. Ia merasa ingin menggila. Ia ingin lepas kendali. Wanita itupun nekat mencumbui Al.
Al yang tidak terima dengan keagresifan Manda ia pun mendorong wanita itu walaupun Manda kembali terus merayunya, mencoba merangsangnya. Ia tetap terus mendorong wanita itu sampai Manda akhirnya berhenti memperkosanya.
“Al, beri aku nafkah batin!” pinta paksa wanita itu. “Aku udah lama nunggu momen ini. Please sentuh aku! Aku kangen dengan sentuhan kamu! Beri aku sekarang Al, please…”
“Kamu memang gak waras. Kamu harus ke psikolog,” ucap Al.
“Al, apa aku udah gak menarik di mata kamu? Bilang aku gak menariknya dimana supaya aku bisa memperbaikinya?”
“Kamu bukannya gak menarik tapi aku yang berhenti tertarik sama kamu!” tegas Al.
“Lebih baik kamu tidur. Orang yang kurang sehat lebih baik tidur lebih awal. Lebih baik lagi gak usah bangun-bangun,” ucap pria itu.
“Alll! Kamu kok gitu sih. Kamu mau aku mati?”
“Jika itu dapat memperbaiki keadaan aku kenapa enggak.”
“Sialan kamu!!!” Manda memukul Al pakai bantal.
Al tidak meladeni wanita gila itu. Lebih baik ia tidur.
***