Tanpa pengucapan selamat tinggal. Al pergi meninggalkan panti. Sebelum benar-benar pergi, ia memandangi panti tempat istrinya dibesarkan itu. Di tempat itu dimana anak-anak tumbuh tanpa orang tua. Apa bedanya dengan ia yang memiliki orang tua tapi peran orang tua yang harusnya menyayangi, mencintai anak-anaknya, dan membiarkan anak mereka tumbuh dengan kasih sayang dan menjadi apa yang dingingkan. Namun ia tidak mendapatkan semua itu. Keluarganya yang terlihat harmonis hanya ketika di depan orang banyak. Namun ketika semua pulang ia hanya menjadi boneka yang hidupnya penuh batasan. Tidak bebas, penuh tekanan, mental dibuat rusak, dan hidup dengan kepura-puraan.
Tidak terasa air matanya meleleh jatuh. Andai bisa memilih ia lebih baik hidup tanpa orang tua. Lebih baik menjadi yatim piatu. Harusnya jika hadirnya ini hanya beban bagi orang tuanya, buang saja ia dan biarkan ia hidup bebas tanpa aturan yang harusnya tidak ada dalam sebuah keluarga.
Harus menjadi orang hebat, harus menguasai banyak hal, berteman harus kepada orang-orang kompeten, harus banyak prestasi, harus menjaga nama baik ayahnya, harus punya pendamping yang setara dengannya, harus memberikan penerus untuk orang tuanya. Semua aturan seperti itu dibuat untuknya. Hanya satu yang ia berhasil melanggarnya, namun lihatlah hasilnya karena aturan itu dilanggar orang yang ia cintai harus terluka olehnya. Sudah banyak yang membuatnya tertekan sejak kecil kini ditambah lagi. Bahkan tekanan itu sekarang berdampak juga pada orang lain. Ia benar-benar merasa muak. Namun mau bagaimana. Sejahat-jahatnya orang tuanya mereka tetaplah orang tuanya. Anak tetaplah sebagai anak yang diwajibkan mentaati, menghargai, menghormati, menyayangi, dan mencintai orang tuanya walaupun kedua orang tuanya berprilaku tidak baik.
***
Manda membuka pintu. Ia tersenyum lebar melihat suaminya yang sudah kembali.
Ia memeluk pria itu. “Sayang, akhirnya kamu pulang. Aku khawatir banget sama kamu.”
Al tidak membalas pelukan wanita itu. Ia cuma diam dengan raut wajah yang sangat terlihat frustasi.
“Makasih Sayang, udah kembali.”
Manda merasa kecewa karena Al tidak membalas memeluknya. Ia melepaskan pelukannya. Ia menatap pria itu.
“Kamu kenapa?” Ia melihat wajah Al yang terlihat murung.
Pria itu tidak memberikan jawaban. Namun dari cara pria itu menatapnya ia tahu bahwa pria itu menjadi seperti itu karena dirinya.
Manda menunduk.
“Siapa yang datang?” tanya Resi menghampiri menantunya. Ia tadi mendengar bel berbunyi dan dugaannya benar yang datang adalah putranya. Kini ia melihat wajah anak tunggalnya itu yang sekarang sedang melihat ke arahnya.
“Akhirnya kamu pulang juga Al. Darimana aja kamu, hah!? Harusnya kamu di sini temani Manda bukan malah pergi!” omel wanita tua itu.
“Gara-gara perempuan gak berguna itu kamu mengabaikan Manda! Ingat Al, Manda ini sekarang udah jadi istri kamu!”
“CUKUP, MAH! CUKUP MENYALAHKAN LISA!”
Mendengar amarah Al yang membludak membuat Manda kaget.
“Berani kamu membentak, Mamah hah! Anak gak sopan!”
“Mah, Al, udah. Kalian jangan ribut.” Manda ingin melerai. Ia tidak ingin ada pepecahan di rumah ini. Dan ia tidak mau terjadi sesuatu pada mertuanya karena wanita itu sudah cukup tua jadi takutnya terjadi sesuatu pada wanita tua itu.
“Kamu jangan ikut campur!” pinta Al pada istri keduanya itu.
“Tapi…”
“Masuk ke kamar kamu! Sekarang!”
“Tapi…”
“AKU BILANG PERGI! PERGI!”
Sekali lagi Manda dibuat kaget dengan pria itu. Ia meneteskan air mata ketakutannya dan pergi sesuai yang diingikan pria itu.
“Kamu gak boleh bersikap kaya gitu pada Manda! Dia itu istri kamu!” Resi sangat emosi saat ini karena tidak terima menantu kesayangannya diperlakukan tidak baik oleh putranya itu.
Al melangkah mendekati mamahnya. “Istri? Mamah bilang istri. Aku juga punya istri yang namanya Lisa! Tapi Mamah gak pernah nganggep dia, mamah gak pernah sayang ke dia. Tapi kenapa Mah, hanya Manda yang Mamah perlakukan seperti itu? Lisa juga istriku, Mah! Dia juga istriku!” Mata Al memerah.
PLAK
Kesabaran Resi memuncak sampai ia bermain tangan.
“Mau sampai kapan Mah, mau sampai kapan menganggap aku anak kecil? Aku udah 29 tahun, sebentar lagi aku kepala tiga. Tapi sampai sekarang aku masih diperlakukan seperti anak kecil. Aku gak boleh ini, aku gak boleh itu. Aku hanya boleh melakukan apa yang Mamah suka dan Papah suka. Aku suka heran, sebenarnya aku ini darah daging kalian apa bukan? Kenapa kalian tega sekali membuat aku menderita? Apa Mamah gak pernah sadar aku gak punya teman sampai sekarang? Hanya satu yang aku punya itupun Mamah gak suka aku berteman sama dia hanya karena dia bukan orang kaya seperti kita. Aku suka heran, apa kalian hanya tertarik pada uang di dunia ini? Apa hidup kalian hanya penuh ambisi dengan kekayaan?”
PLAK
Sekali lagi Al mendapatkan pukulan.
“Kamu gak bakalan pernah ngerti! Mamah melakukan semua ini demi kebaikan kamu! Kamu yang sekarang jauh lebih baik daripada Mamah dan Papah! Penderitaan kamu gak sebanding seperti kami dulu! Kamu hanya mengeluh akan kemauan Mamah dan Papah. Kami tidak pernah menyiksa kamu. Apa susahnya sih untuk kamu menyetujui apa yang kami inginkan. Semua yang kami lakukan tidak merugikan kamu. Di mata kamu mungkin Mamah dan papah sangat jahat. Tapi kamu gak pernah melihat sedikit aja kebaikan kami. Kamu lupa, sekeras-kerasnya kami pada akhirnya kami membiarkan kamu berteman sama teman kamu yang bernama Leo itu dan kami memberikan dia pekerjaan sebagai manajer di kantor kamu. Dan setidak inginnya kami kamu menikahi wanita yang bukan pilihan kami akhirnya kami menyentui kamu menikah wanita itu. Dan sekarang walaupun wanita itu tidak dapat memberikan apa-apa pada kita, bahkan Mamah tidak memaksa kamu meninggalkan wanita itu. pada akhirnya Mamah dan papah membiarkan kamu mempertahankan pernikahan kalian. Apa kamu gak sadar bahwa Mamah dan papah sudah mengalah demi kamu? Apa kamu berpikir kami hanya orang tua egois? Apa kami tidak menyayangi kamu? Mamah sangat menyayangi kamu, Al. Mamah rela mati demi kamu.” Resi meneteskan air mata kesedihannya. “Lalu apa sulit untuk kamu untuk memberikan keinginan sederhana untuk Mamah? Mamah sudah tua Al, mungkin umur Mamah gak akan lama lagi. Yang Mamah mau hanya ingin melihat kamu punya anak. Melihat anak Mamah jadi sosok ayah yang baik. Jadi orang tua yang baik dan tidak sekejam kami. Hiks…”
Al mengepal tangannya. Lagi ia dibuat merasa serba salah.
Resi menghapus air matanya. “Maaf kalau Mamah banyak menuntut kamu.” Ia beranjak pergi meninggalkan putranya denga tetesan air mata. Ia sudah lama sekali tidak menangis. Entah kenapa saat ini pertahanannya runtuh.
***
Resi duduk di sofa pojok kamarnya. Wanita tua itu menangis sambil menutup mulutnya. Ia tidak ingin siapapun mendengar tangisannya, karena mungkin saja ada putranya di depan pintu kamarnya. Ia sudah lama sekali tidak menangis seperti ini. Ia selalu menegarkan dirinya dan tidak ingin terlihat lemah di depan suami dan putranya.
Sebenarnya ia seorang ibu yang rapuh. Sebenarnya ada rahasia yang ia sembunyikan dari putranya itu. Namun ia tidak akan pernah menceritakannya. Masalahnya terlalu besar dan memang lebih baik disembunyikan rapat-rapat. Kini ia tumbuh menjadi ibu yang jahat di mata putranya. Padahal ia tidak bermaksud begitu. Namun trauma di masa lalu membuatnya jadi ibu yang seperti ini.
“Maafkan Mamah, Al.” Ia mengusap air matanya.
Aldevaro berdiri di depan kamar orang tuanya. Ia memang marah pada kedua orang tuanya. Namun ia tidak bisa membenci kedua orang itu. Ia juga bukan anak yang baik dan orang tuanya juga bukan orang tua yang baik. Mereka sama-sama kurang baik dalam hubungan keluarga. Namun ia sadar sejahat apapaun orang tuanya mereka juga pernah berbuat baik padanya. Yang dikatakan mamahnya tadi benar. Kedua orang tuanya memang bersikap semaunya namun mereka terkadang rela mengalah juga. Pada akhirnya ia mendapat restu menikahi Lisa. Ia diperbolehkan berteman dengan Leo dan malah orang tuanya itu memberikan pekerjaan untuk teman malangnya itu. Dan pada akhirnya ia tidak dipaksa meninggalkan wanita yang ia cintai.
Al mengetuk pintu kamar Mamahnya.
Tok tok tok!
Resi menghapus air matanya. Ia beranjak membukakan pintu.
Al menatap orang yang melahirkannya itu. Lalu ia memeluknya. Ia tidak berkata apapun. Tidak ada kata maaf yang keluar dari mulutnya. Ia hanya memeluk dan menangis di bekapan ibunya itu.
Resi menepuk-nepuk pundak putranya yang bertubuh tinggi itu. Membuat sang putra harus membungkuk ketika memeluknya.
“Anak Mamah sudah sangat besar. Waktu benar-benar cepat berlalu. Mamah semakin tua dan kamu sudah tumbuh menjadi pria yang gagah.”
Mereka berdua saling menangis dalam pelukan.
Resi melepaskan pelukan mereka. Ia memegangi wajah putra semata wayangnya itu. “Anak Mamah sangat tampan. Mamah sangat bangga sama kamu. Kamu anak yang hebat dan menjadi orang baik.”
Al menghapus air mata mamahnya dengan ibu jarinya. Lagi-lagi ia hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Resi menggenggam tangan putranya itu. “Mamah mohon, sebenci apapun kamu sama Manda. Kamu gak boleh kasar sama dia. Kamu harus jaga sikap kamu. Kamu tau kan, seenggak sukanya Mamah sama Lisa, pernah tidak kamu melihat Mamah kasar sama dia? Enggak, kan. Jadi kamu harus jaga dia. Kamu tau kan, dia juga bukan wanita yang hidupnya baik-baik aja. Dia juga wanita yang tumbuh tidak seberuntung kamu. Keluarganya hancur, ibunya di KDRT. Waktu kecil dia sering disiksa ayahnya. Dia jadi anak broken home dan akhirnya ibunya menikah lagi dan menjadi istri kedua. Kamu pasti bisa ngerasa betapa sulitnya hidup Manda. Jadi, kamu harus membahagiakan dia. Janji ya, janji sama Mamah.”
Al melepaskan genggaman mamahnya. Ia memegangi pundak wanita itu. “Aku gak akan janji apa-apa. Aku hanya ingin Mamah sehat dan Mamah harus jaga kesehatan Mamah.” Ia lalu pergi meninggalkan wanita tua itu.
***
Al membuka pintu kamarnya. Di dalam kamar ia mendapati Manda yang duduk di pinggir ranjang. Saat melihatnya wanita itu langsung berdiri menghadapnya.
“Kamu ngapain di sini? Ini bukan kamar kamu.”
“Kamu dan mamah gimana?”
“Kami baik-baik aja.” Al duduk di sofa sambil melepaskan jasnya.
Manda duduk di samping Al tapi jaraknya tidak dekat.
“Al, kamu gak boleh gitu sama mamah kamu.”
“Aku udah biasa berantem sama mamah. Jadi kamu gak usah peduli.”
Manda menggapai tangan suaminya itu. “Al, mamah kamu itu udah tua. Kesehatannya juga udah menurun. Kamu harusnya ngalah aja. Orang tua itu semakin tua egonya semakin besar karena mereka semakin sensitif akan suatu hal.”
Al melarikan tangannya dari Manda. “Terus aku harus diam aja gitu sedangkan yang mamah lakukan itu salah.”
“Ngalah bukan berarti kalah. Kamu cukup diam agar masalah gak tambah besar. Orang tua itu rentan akan sesuatu dan kamu pasti tidak ingin mamah kamu kenapa-napa, kan. Jadi lebih baik kamu hindari aja.”
Al menatap mata Manda. “Aku heran, kenapa kalian sangat cocok. Sama-sama ingin didengar tapi gak pernah mau memahami keadaan aku.” Ia beranjak ke ranjang. Ia berbaring di tempat tidurnya itu.
“Aku mau istirahat. Lebih baik kamu pergi.”
Manda berdiri. “Baik, aku akan pergi.” Sebelum ia pergi, ia menghampiri pria itu. Ia melepaskan sepatu yang masih Al pakai.
Al menatap wanita itu.
“Aku hanya melakukan tugas aku sebagai istri.” Setelah melepaskan sepatu Aldevaro Manda pun pergi dari kamar pria itu.
Setelah Manda pergi, Al mendudukan dirinya. Ia melepaskan dasinya. Ia melepaskan kemejanya dan menyisahkan kaos oblong putihnya. Ia beranjak lagi ke sofa. Ia mengambil foto pernikahannya yang terpajang di atas meja.
“Sayang, aku benar-benar bingung. Sekarang aku gak hanya punya kamu. Aku harus membagi perhatian aku ke orang lain. Katanya pria yang berpoligami harus berprilaku adil pada istri-istrinya. Memang adik itu ada ya?”
“Seperti apa adil itu? Aku hanya punya satu hati. Jika satu harusnya hanya diberi ke kamu. Harusnya gak bisa dibagi lagi. Rasanya gak akan maksimal jika dibagi setengah-setengah. Gak seimbang. Kamu punya satu hati yang kamu kasih ke aku. Sedangkan aku hanya ngasih kamu setengah hati. Gak adil. Gak ada yang adil dalam berpoligami. Tuhan mengizinkan berpoligami hanya ketika manusia bisa berprilaku adil. Sebenarnya itu hanya tipuan, Tuhan hanya ingin menguji manusia. Manusia yang egois pasti termakan tipuan itu. Dan sekarang aku terjebak di dalamnya.”
“Kamu wanita yang baik dan pasti aku cintai. Dan Manda sepertinya juga sudah menjadi wanita yang lebih baik dari sebelumnya. Aku bisa melihat ketulusan wanita itu. Namun jika aku belajar mencintainya lagi, maka secara perlahan cinta aku ke kamu berkurang karena aku udah membagi cinta aku ke orang lain.”
“Aku benar-benar bingung. Harus jalan mana yang aku ambil. Meninggalkan Manda, maka aku akan menyakiti dia, mamah dan papah. Meninggalkan kamu itu gak akan mungkin!”
“Aaaahh, aku gak tau. Aku bisa gila memikirkan hal semacam ini. Bikin kepalaku sakit.”
Ia meletakkan foto pernikahannya. Ia merebahkan tubuhnya di sofa. Dia melihat langit-langit kamarnya. “Aku gak pernah dekat dengan Tuhan, pantas saja Tuhan memberikan aku cobaan seberat ini. Aku terlalu sibuk dunia dan lupa tempat pulang sebenarnya. Aku lucu, aku ingin hidupku lebih baik tapi hubunganku dengan Tuhan saja tidak aku perbaiki.”
***