“Akhirnya pekerjaan selesai juga.” Al menyelesaikan pekerjaannya lebih awal karena ia berangkat lebih pagi. Alasannya sederhana karena hari ini ia ingin menemui istrinya. Jika ia menyelesaiakan pekerjaannya lebih awal maka ia bisa berangkat lebih cepat dan sampai di sana tidak terlalu malam hanya sekitar jam sepuluan.
Al bersegera meninggalkan kantor. Ia begitu sangat bersemangat karena akan pergi menemui Lisa. Ia tidak perlu memberitahu istrinya itu jika ia akan datang karena pasti Lisa akan menyuruhnya untuk tidak pergi. Ia akan buat kejutan untuk wanita yang ia cintai itu.
Sebelum berangkat menemui Lisa, ia pergi ke pusat perbelanjaan dulu. Ia membeli makanan untuk anak-anak dan membelikan hadiah untuk Lisa. Ketika semua barang yang ia inginkan sudah dibeli ia pun berangkat.
Butuh delapan jam perjalanan untuk sampai di kampung tempat panti istrinya berada. Meski ngantuk dan lelah ia berjuang untuk tetap kuat agar ia sampai lebih cepat tanpa harus berhenti untuk istirahat. Ketika melewati beberapa jam, akhirnya ia tiba di tempat Lisa berada.
Ia turun dari mobil. Ia tersenyum lebar karena merasa sangat senang bisa bertemu istri yang sangat ia cintai. Ia membuka bagasi mobil. Ia mengeluarkan barang-barang yang ia beli untuk anak-anak panti dan hadiah untuk istrinya.
Ia berjalan menuju panti. Ketika tiba di depan pintu. Ia meletakkan barang bawaannya kecuali hadiah yang ingin berikan untuk istrinya. Sebelum memencet bel, ia ngaca dulu di jendela panti. Ia membenarkan posisi rambutnya agar terlihat lebih tampan dan ia juga merapikan pakaianya agar ketika Lisa melihatnya, wanita itu akan terpesona dengan penampilannya yang sangat sempurna.
Ketika ia sudah merasa penampilannya perfect ia pun memencet bel.
Lisa yang di kamar mendengar suara bel. “Siapa pula yang bertamu malam begini?” tanya wanita itu.
“Apa ada anak-anak yang iseng?”
Lisa beranjak memeriksanya. Ketika sudah di depan pintu ia segera membukanya dan ketika itu muncul seorang pria di hadapannya yang melempar senyum lebar padanya, dan mengedipkan mata padanya.
“Mas, kamu…”
“Iya ini aku, Sayang.” Al memeluk istrinya itu dan mengecup puncak kepala sang istri. “Aku datang.” Ia mengusap kepala Lisa.
Lisa terharu dan meneteskan air matanya.
“Aku gak mungkin lupa sama kamu. Mana bisa aku lupa sama orang yang aku cintai. Mana bisa aku lupa sama orang yang sayang banget sama aku.”
Lisa melepaskan pelukan suaminya. Ia menatap pria itu.
“Ya ampun istri aku nangis.” Al mengusap air mata Lisa. “Udah ya nangisnya. Aku kan, udah di sini.” Ia memeluk wanita itu lagi_menenangkannya.
Lisa mempererat pelukan mereka. Ia tidak ingin kehilangan prianya. Ia tidak ingin pria dalam pelukannya ini jauh-jauh darinya dan sebenarnya ia tidak ingin membagi pria itu pada wanita manapun.
“Aku punya hadiah.” Al merenggang pelukan mereka.
“Suami aku hobi banget ngasih hadiah.”
“Iya dong.” Al menunjukkan hadiah untuk istrinya itu. “Ini buat istri aku yang paling cantik dan paling-paling segalanya.”
Lisa mengambilnya. “Apa ini isinya?”
“Diliat dong.”
Lisa mengintip paper bagnya. “Wah.” Ia mengambil isinya dan hadiah itu sebuah buka. Ia sangat suka membaca jadi buku adalah barang yang sangat ia sukai.
“Kamu tau aja aku kehabisan stok buku.”
“Tau dong. Masa sebagai suami aku gak tau.”
Lisa memeluk suaminya itu. “Makasih ya, Mas.”
“Sama-sama, Sayang.” Al mengusap kepala wanita yang ia cintai itu.
“Oh iya, aku ada beliin makanan buat anak-anak.” Al melepaskan pelukan mereka. Ia mengambil belanjaan yang ia beli. “Tapi anak-anak udah pada tidur ya?”
“Iya, anak-anak udah pada tidur.”
“Yah, sangat disayangkan sekali. Kalau gitu buat kita aja.”
Lisa mencubit pinggang Al. “Gak boleh gitu.”
“Aduh! Sakit, Sayang!”
“Sssttt, jangan berisik nanti anak-anak bangun.”
“Lepasin dulu cubitannya.”
“Eh maaf-maaf.”
“Yuk kamar yuk.” Al menggandeng tangan Lisa. “Aku capek banget nih.”
Lisa mengangguk. Ia menutup pintu dan menguncinya. Mereka menuju ke kamar. Sampai di kamar Al langsung duduk di ranjang yang ukurannya tidak besar, hanya 120 X 200. Ukuran kasur yang hanya muat satu orang. Bisa dua orang jika dipaksakan tapi akan terasa sangat sempit.
“Kamu tidur di sini?”
“Iya,” jawab Lisa sambil manaruh hadiah yang diberikan suaminya ke dalam laci.
“Gak empuk dan kecil.” Ia mencium aroma kasur itu. “Dan bau apek. Kamu betah tidur di sini? Emang gak buat sakit pinggang dan batuk-batuk?”
“Mas, di sini panti bukan hotel bintang lima. Lagian aku udah terbiasa karena tinggal di sini dari bayi.”
Al berdoa. “Semoga gak ada kutu kasur di sini. Aamiin.”
Lisa tertawa melihat tingkah lucu suaminya itu.
“Orang berdoa gak boleh diketawain.”
“Abisnya kamu lucu banget, Mas.” Lisa tertawa lagi.
Al tersenyum memperhatikan istrinya yang terlihat bahagia itu. “Aku senang liat kamu ketawa.”
Lisa terdiam.
Al berdiri dan meraih kedua tangan Lisa. “Aku janji sama kamu, aku akan tetap jadi orang yang sama. Aku akan jadi suami yang terbaik buat kamu. Aku tetap Aldevaro yang kamu kenal.” Ia memeluk wanita itu. “Jangan khawatir cinta aku gak akan terbagi ke wanita manapun. Tetap ke kamu satu-satunya. Aku cinta banget sama kamu.”
Lisa diam dalam bekapan tubuh suaminya. Ia sedang tidak ingin bicara apapun. Saat ini ia hanya ingin menghabiskan waktu bersama suaminya. Ia tidak ingin membahas apapun yang dapat melukai hatinya. Diam adalah obat tenang baginya.
Al melepaskan pelukannya. “Aku mau mandi.”
“Ya udah, mandi gih biar seger.”
“Tapi aku lupa bawa baju ganti.”
“Tanang aja, aku ada bawa baju kamu.”
“Kok bisa?”
“Aku sengaja bawanya karena kalau aku kangen kamu aku bisa peluk baju kamu. Udah aku semprot parfum kamu juga biar baunya sama kaya kamu.”
Al tersenyum sambil menatap istrinya itu. wanita di depannya ini memang sangat mencintainya. Ia tidak salah memilih wanita itu menjadi istrinya. Hanya saja kedua orang tuanya tidak sadar betapa mengagumkannya wanita itu.
“Makasih ya, Sayang.”
“Gak usah makasih.”
“Kamu istri yang baik, maaf ya atas perlakuan orang tua aku ke kamu.” Mata Al memerah, ingin menangis.
“Kamu nangis, Mas?”
Al mengusap matanya. “Enggak.”
“Bohong.”
Sekali lagi Al memeluk istrinya itu. “Maafin aku.”
“Iya, aku udah maafin kamu.”
Al melepaskan pelukannya. Ia tidak boleh larut dalam kesedihan terlalu jauh. Malam ini harus menjadi momen yang menyenangkan.
“Aku harus segera mandi. Handuknya mana?” tanya.
“Itu.” Lisa menunjuk di belakang pintu.”
“Oh iya.”
“Ya udah pergi mandi sana.”
“Siap tuan putri.”
Al beranjak ke kamar mandi sedangkan Lisa mengambilkan pakaian ganti untuk suaminya itu.
***
Al memandangi istrinya yang sedang membaca buku yang ia berikan. “Kamu belum mau tidur?” tanyanya.
“Masih mau baca.”
“Sampai kapan?”
“Sampai bosan.”
“Kapan bosannya?”
“Ya gak tau.”
“Kok gak tau?”
“Karena belum bosan.”
Al cemberut. “Kamu gak pengen…”
“Aku pengennya baca buku.”
Al menghela napas sambil memposisikan tubuhnya menghadap langit-langit kamar. “Susah ya minta jatah sama istri,” keluhnya.
Lisa menutup bukunya. Al langsung menoleh ke arahnya.
“Sudah selesai bacanya?” tanya pria itu.
Lisa mengangguk.
“Akhirnya…” Al bersyukur.
Lisa merebahkan tubuhnya. Ia menarik selimut sampai menutupi dadanya. “Good night, Mas. I love you.” Ia memejamkan mata.
“Loh, kok langsung tidur sih?”
“Apalagi? Aku udah ngantuk.”
“Kamu gak mau kasih aku hadiah gitu?”
“Hadiah apa? Aku gak punya uang buat balas hadiah kamu.”
“Gak harus pakai barang balasnya. Aku mau kamu aja.”
Lisa membuka matanya. “Kamu mau ini?” Ia menunjuk bibirnya.
“Lebih dari kiss.”
“Tapi…”
Belum selesai Lisa bicara, Al langsung melumat bibirnya. Sampai-sampai wanita itu dibuat kaget karena Al melakukannya tiba-tiba.
“Aku akan membahagiakan kamu malam ini,” ucap pria itu lalu melanjutkan kembali ciumannya.
***
“Manda, kamu tau gak Al kemana? Kenapa dia gak pulang semalam?” Resi ke kamar menantu kesayangannya untuk mempertanyakan keberadaan putranya yang tidak pulang semalaman.
Lisa yang duduk di pinggir ranjang memberikan gelengan kepala. “Aku gak tau Mah, dia gak kasih kabar apapun.”
“Dia pasti menyusul wanita itu.” Resi duduk di sebelah Manda. “Wanita itu selalu saja bikin masalah. Harusnya Al berada di sisi kamu karena kalian baru aja menikah. Gak sepantasnya dia ninggalin kamu sendiri di sini. Kalian harusnya pergi hanimun. Perempuan itu merusak semuanya.”
Manda cuma diam mendengar mertuanya merungut. Ia malas untuk ikut campur. Jika ikutan pasti masalah tambah ruwet. Ia malas meladeni orang tua itu karena ia tidak mau cari musuh di rumah ini. Ia tidak mau memenangkan satu pihak. Siapapun yang salah dan benar ia tidak mau ikutan. Ia mau fokus saja pada tujuan awalnya. Ia tidak ingin cari musuh. Ia netral dan tidak ingin menjelekkan siapapun.
Resi menghadap Manda. “Sayang, kamu yang sabar ya. Mamah akan bicara sama Al dan akan buat dia perhatian sama kamu. Mamah akan buat dia berprilaku adil. Dia harus memperlakukan kamu sama seperti yang dia lakukan ke Lisa.”
“Makasih, Mah.” Hanya itu yang Manda katakan.
“Iya. Kalau gitu Mamah pamit dulu ya. Kamu jangan banyak pikiran. Kamu harus tenang dan banyak-banyak istirahat agar tubuh kamu selalu fit sehingga nanti mudah buat hamilnya.”
“Baik, Mah.”
Resi beranjak meninggalkan Manda.
Sepeninggalan mertuanya Manda merenung. Harapan-harapan yang ia taruh pada hubungannya dengan Al mungkin sulit untuk menjadi nyata dan mungkin memakan banyak waktu. Ia juga bingung harus bersikap apa dan bagaimana agar pria itu menghargainya sebagai seorang istri. Tidak harus langsung mencintainya juga tidak apa. Setidaknya ia dihargai dulu. Namun mengaingat Al sangat membencinya dan pria itupun juga sudah menemukan wanita yang sangat dicintainya maka kemungkinan untuk mendapatkan pria itu sangatlah sulit.
***
Al memperhatikan Lisa yang sedang bermain bersama anak panti. Ia pantau wanita itu dari jauh. Ia perhatikan dengan saksama. Wanita itu terlihat bahagia, dia tertawa, dia tersenyum, dan wanita itu terlihat sangat terlihat mengagumkan.
Ia mengukir senyuman melihat istrinyanya itu. Ia selalu dibuat jatuh cinta pada wanita itu. Lisa wanita yang sangat luar biasa di matanya. Wanita itu sempurna. Dia cantik, tegar, mandiri, pekerja keras, rajin, pintar, baik, apa adanya, kalem, lemah lembut, setia, tulus, dan banyak lagi pokoknya. Ia benar-benar dibuat kagum oleh wanita itu setiap hari. Walaupun wanita itu bukan dari kalangan orang kaya namun terlihat sangat istimewa.
“Dia memang wanita yang luar biasa. Aku beruntung jadi suaminya,” ucapnya.
“Mas, kamu kapan pulang?” Lisa menghampiri suaminya. Ia sudah selesai bermain bersama anak-anak. Sekarang waktunya anak-anak masuk kelas untuk belajar. Sedangkan ia waktunya istirahat karena ada guru yang bertugas mengajarkan anak-anak. Di sini ia hanya membantu saja dan menyisihkan waktu untuk bermain bersama anak-anak.
“Kamu ngusir aku?” tanya Al.
Lisa duduk di samping suaminya. “Kamu ke sini izin gak sama mamah dan papah? Dan… istri baru kamu?”
“Emang aku anak kecil harus izin ke mamah dan papah. Apalagi izin ke Manda, buat apa? Dia gak penting.”
“Aku takut kalau kamu lama-lama di sini tanpa izin, nanti aku yang disalahkan. Kamu mau aku disalahkan?”
“Enggak, lah. Istri aku gak salah apa-apa.”
“Ya udah kamu pulang sekarang. Aku takut mereka nyalahin aku lagi.”
“Kamu ikut aku pulang ya.”
Lisa memberikan gelengan kepala.
“Kanapa gak mau pulang? Kita ke rumah baru aja gimana?”
Lisa menunduk. Sejujurnya ia tidak mau pulang karena belum siap melihat Manda yang sekarang statusnya sebagai istri dari suaminya. Ia juga belum siap melihat kedekatan Manda dengan mertuanya. Walaupun pulang ke rumah baru ia juga tidak mau karena diawal pernikahan Manda dan suaminya akan membuat masalah jika ia dan suaminya pindah ke rumah baru. Mertuanya akan menyalahkannya atas hal itu. Ia ingin menghindari hal-hal semacam itu. Sekarang ia hanya ingin menangkan diri sendiri sampai ia sudah siap menerima keadaan. Entah, apakah ia benar-benar menerimanya atau hanya akan berpura-pura.
“Sayang, harus berapa kali aku bilang. Kamu istri aku satu-satuanya dan kamu gak usah pedulikan mamah dan papah. Fokus aja ke masa depan kita berdua. Gak usah pedulikan hal lain. Kita fokus biar bisa punya anak dan fokus melebih baikkan hubungan pernikahan kita.”
“Aku masih harus di sini, Mas. Jangan paksa aku unntuk pulang. Nanti kalau sudah waktunya aku pasti pulang kok.”
Al menghela napas berat. Ia kurang setuju kemauan istirnya itu. Namun kalau ia tetap kekeh meminta istrinya ikut bersamanya pasti wanita itu akan tidak suka dengan pemaksaanya. Ia serba salah.
“Mas, tolong biarkan aku lebih lama di sini.”
“Aku tau kamu keras kepala ingin tetapi di sini karena Manda, kan?”
“Enggak,” bantah Lisa.
“Gak usah bohong.”
“Enggak, Mas.”
“Kalau enggak pasti kerena papah dan mamah.”
“Enggak, Mas.”
“Jangan bohong sama aku! Aku tau perasaan kamu Lisa! Gak usah pura-pura gapapa di depan aku! Sepintar-pintarnya kamu menyembunyikan perasaan kamu aku tetap tau kamu gak baik-baik aja! Jadi please jujur sama aku! Aku ini suami kamu! Mau sampai kapan kamu kaya gini? Diamnya kamu gak akan merubah apapun, Sayang.”
“Karena percuma Mas, aku bicara! Kamu juga gak bisa buat apa-apa, kan! Kamu tetap aja gak bisa menolak kemauan orang tua kamu! Secara gak langsung kamu sengaja menduakan aku, Mas!”
“Sengaja kamu bilang!?”
“Terus kalau gak senangja kenapa kamu tetap menikah Manda, Mas!? Katanya kamu tau perasaan aku! Hiks… terus kenapa kamu tetap menikah lagi?!”
Al mengepal tangannya. Ia kehabisan kata-kata.
“Ujung-ujungnya kamu tetap kan, memiih orang tua kamu! Kamu lebih mementingkan mereka jadi buat apa juga aku bilang enggak sama kamu! Aku juga sadar diri Mas, tentu orang tua kamu lebih berharga dari aku!”
“KAMU BERHARGA BAGI AKU, LISA! KAMU ISTRI AKU!”
“Tapi tetap aja kan Mas, kamu pilih orang tua kamu!”
“Ya karena mereka orang tua aku, Lis! Aku juga bingung harus milih siapa karena kamu dan orang tua aku sama-sama penting bagi aku!”
“Ya udah kalau gitu, kamu pura-pura aja gak tau perasaan aku, Mas! Pura-pura aja kamu taunya aku gak kenapa-napa!”
“Tapi bagaimana bisa aku liat senyum palsu kamu, Lisa!”
“Gapapa, Mas. Aku gak apa-apa. Aku akan baik-baik aja. Kamu gak usah terlalu peduli sama kamu.”
“Kamu istri aku gimana mungkin aku gak peduli!”
“Kamu sekarang udah punya 2 istri, Mas. Kamu gak hanya punya aku tapi juga punya Manda, dan sekarang harusnya kamu ke dia. Adanya kamu di sini malah membuat mamah dan papah tambah membenci aku.”
Al lagi-lagi kehabisan kata-kata. Ia hanya dapat mengehela napas kasar.
“Pulang, Mas,” usir Lisa.
Al menatap wanita itu. Ia melihat mata Lisa yang memerah.
“Aaarggt!” Ia berteriak kesal. Ia menghembuskan napasnya. “Kenapa keadaan kita harus berubah rumit kaya gini?”
“Aku gak tau, Mas.” Selesai bicara Lisa meninggalkan Aldevaro.
“Sayang!” panggil pria itu.
“Sayang!”
“Lisaaa!”
Wanita itu mengabaikannya.
“Aaarrggt!”
***