Leo

2330 Words
“Eh pangantin baru udah bangun, gimana malam pertamanya?” tanya Resi. Manda dan Al saling melihat satu sama lain. Lalu pria itu mengalihkan pandangannya dan duduk di kursi meja makan yang berhadapan dengan mamahnya. Manda ikut duduk di kursi yang bersampingan dengan Aldevaro. “Kok gak ada yang jawab sih,” ujar Resi sembari memberi selai di rotinya. “Sejak kapan kalian rajin sarapan?” Al melahap rotinya. Resi memandangi Manda. “Semenjak ada Manda. Mamah dan Papah jadi semangat sarapan bersama kamu,” jawabnya. “Iya kan, Pah?” “Iya,” sahut Arya. “Tega kalian.” Al beranjak dari kursinya. “Kalian tidak pernah perhatian pada Lisa, tapi kalian begitu peduli pada perempuan ini.” Al memandangi Manda kemudian memandangi kedua orang tuanya. “Kalian pilih kasih!” Ia beranjak pergi. “Al!” panggil Resi sambil berdiri. “Aldevaro!” teriaknya lagi namun putranya itu mengabaikannya. “Udah, biarin aja dia pergi.” Arya tidak begitu peduli dengan sikap putranya itu. “Tapi, Pah.” “Kamu hanya buang energi. Dia tidak akan mendengarkan kamu. Biarin aja.” Resi duduk kembali. Ia mengatur napasnya. “Mah.” Manda buka suara. “Iya Sayang, kenapa? Kamu gak suka rotinya?” Manda menggeleng. “Em… kenapa Al berkata seperti itu? Apa yang dia katakan benar, apa kalian tidak memperlakukan Lisa dengan baik?” Resi memandangi suaminya. “Tidak, itu tidak benar,” sanggah Arya. “Kami memperlakukan Lisa dengan baik. Tapi kami tidak terlalu akrab dengan dia. Hubungan kami dengan dia kurang begitu dekat, jadi Al salah paham terhadap kami.” “Iya,” tambah Resi. “Mamah tidak begitu kenal dengan Lisa. Tidak seperti kamu, kami kan sudah kenal lama sama kamu. Kamu teman sekolah Al, jadi wajar aja perlakuan kami ke kamu lebih daripada Lisa. Karena kita sudah mengenal lama. Kamu pun sudah kami anggap seperti anak sendiri.” “Tapi… Lisa itukan menantu kalian.” “Iya dia menantu kami. Tapi kami tidak begitu dekat dengan dia. Mamah sudah mencoba untuk lebih akrab sama dia, tapi karena dia wanita yang tidak terlalu banyak bicara jadi mamah sulit melakukan pendekatan sama dia. Dia wanita yang pendiam, mamah juga bingung kenapa Al bisa menyukai wanita itu. Padahal dia tidak menarik sama sekali. Dia juga tidak memiliki keluarga yang jelas.” Manda tidak bicara lagi. Ia memakan sarapannya. Ia juga tidak mau terlalu jauh ikut campur dalam urusan antara orang tua Al dan Lisa. Ia mau fokus pada urusannya dulu, yaitu mendapatkan hati Al kembali dan memberikan pria itu seorang anak. *** “Selamat Pak atas pernikahan keduanya,” ucap seorang teman kepada Aldevaro yang sedang melamun di kursi kebesarannya sebagai direktur. “Aku gak nyangka, kau tega mempoligami Lisa.” Pria itu duduk di atas meja. “Aku kira kau akan setia sampai mati ternyata kau malah menikahi cinta pertamamu Al.” “Diam kau!” Al menunjuk pria itu. “Sekarang bagaimana nasib Lisa?” tanya pria yang memiliki nama Leo itu. “Dia baik-baik aja, semoga.” Leo menghela napas. Ia turun dari atas meja. Ia berdiri gagah di depan Aldevaro yang kelihatannya sedang sangat pusing itu. “Kau izin tidak nikah lagi ke dia?” “Izin, lah.” “Dia bilang apa?” “Terserah katanya.” Leo memukul kepala Aldevaro. “Dasar bodoh!” “Aisshh! Kau ini kenapa?” “Itu artinya dia gak setuju kau menikah lagi, bodoh!” omel Leo. “Hah?” “Kau memang bodoh Al.” Al berdiri. “Tapi dia bilang lakukan aja, Mas. Itu artinya dia setuju.” “Itu artinya dia pasrah bodoh!” Sekali lagi Leo memukul kepala temannya itu sekaligus bosnya. Al kembali duduk sambil menghela napas. “Udah terlanjur terjadi. Lagian aku tetap gak bisa menolak. Si Arya dan Si Resi itu terlalu egois!” Ia mengepal tangannya. “Mereka orang tuamu, harusnya kau bisa meminta pengertian pada mereka.” “Kau tau sendiri mereka seperti apa. Aku menyesal terlahir sebagai anak mereka. Andai aku bisa milih lebih baik aku jadi yatim piatu.” “Keadaan Lisa aman, kan?” Leo menjemaskan istri temannya itu. “Aku gak tau.” “Gak tau! Suami macam apa kau ini hah!” “Dia pulang kampung sekarang. Bi Asri sakit jadi dia harus mengurus wanita tua itu dan menjaga anak-anak di sana sementara.” “Jadi Lisa di panti, kasihan. Pasti dia lagi sedih sekarang,” ucap Leo dalam hati. “Mikirin apa kau?” tanya Al yang melihat Leo yang melamun. “Gak ada apa-apa. Aku pamit mau lanjut kerja.” Leo beranjak pergi dari ruang Aldevaro. Al menghela napas panjang. “Kira-kira Lisa lagi apa ya, sekarang? Aku kangen banget sama dia.” “Telfon aja deh.” *** Leo duduk di ruang kerjanya sebagai manager. Ia sudah lama bekerja di sini. Ia juga sudah lama menjadi teman Aldevaro begitupun dengan Lisa. Ia lebih dulu mengenal Lisa daripada pria itu karena ia dan Lisa sama-sama dari panti asuhan yang sama. Bisa dibilang mereka besar bersama dan menjadi teman sejak lama. Namun keberadaannya kurang begitu diperhatikan oleh Lisa. Makanya yang mendapatkan Lisa bukan dia tapi Aldevaro. Padahal ia tidak kalah tampan dari pria itu namun ia terlalu pengecut dalam mengutarakan perasaannya sehingga keduluan sama Al. “Apa sebaiknya aku menelepon Lisa?” “Baiklah, aku akan menghubunginya.” Ia mengambil ponselnya dan segera menelepon Lisa. “Maaf nomor yang anda tuju sedang berada di panggilan lain,” ucap operator. “Ah, sial. Pasti Al lebih dulu yang meneleponnya.” “Aargghh!” *** “Sayang, kamu lagi apa?” tanya Aldevaro pada istrinya dibalik telfon. “Aku lagi nyiapin makanan buat anak-anak,” jawab Lisa yang sibuk mempersiapkan makan siang untuk anak-anak panti. “Kamu gak kangen aku?” tanya Al dengan manja. “Biasa aja tuh.” “Ihh, kamu kok gak kangen sih? Aku kangen loh sama kamu. Tadi malam aku tidur sendirian. Gak ada kamu aku susah tidur, gak ada yang bisa aku peluk.” “Jadi Mas Al gak tidur sama Manda,” ucap Lisa dalam hati. Tanpa sadar ia tersenyum. “Kamu cepetan pulang dong, besok pulang ya. Aku jemput.” “Aku kan, udah bilang. Aku seminggu di sini.” “Ya udah, aku susul kamu aja.” “Gak.” “Kenapa? kenapa sih gak boleh? Kamu gak kasihan sama aku? Nanti aku meninggal loh gara-gara terlalu kangen sama kamu.” “Apaan sih Mas, malu didengar sama anak-anak.” Suara anak-anak tertawa. “Mereka dengerin ucapan aku?” “Iya, mereka dengar semuanya.” “Astaga, aku jadi malu nih.” “Udah dulu ya, Mas. Aku sibuk.” “Kamu pikir aku gak sibuk, aku sibuk juga tau. Tapi aku sempatkan waktu aku buat kamu. Masa kamu gak nepatin waktu buat aku.” “Udah Mas, anak-anak udah kelaparan. Aku harus kasih mereka makan dulu.” “Suruh mereka makan sendiri.” “Mas, kamu apaan sih. Udah ya telfonnya. Nanti lanjut lagi.” “Tapi…” Tutttt “Aisshhh, dimatiin sama dia. Ah, untung sayang kalau enggak udah aku pelet kamu.” Al meletakkan ponselnya. Baru beberapa detik, ponselnya berdering. Ia cepat mengeceknya, namun notifikasi itu tanda pesan masuk dari Manda. [Hari ini pulang jam berapa?] “Ngapain sih nanya-nanya.” Awalnya ia tidak mau membalas tapi teringat kembali dengan amanah pria tua itu. Akhirnya ia balas. {Terserah aku pulangnya jam berapa!} [Jam delapan ya, kata mamah kamu akan pulang jam delapan biasanya.] {Gak usah tungguin aku!} [Nanti aku akan masakin kesukaan kamu. Jangan gak pulang ya.] “Dasar wanita keras kepala! Udah dibilang gak usah ditungguin masih aja kekeh!” {Terserah!} [Oke.] Al tidak membalas lagi. Ia abaikan. [I love you.] “f**k you,” umpat Al. *** Manda terus melihat jam di ponselnya. Sudah jam 9 tapi suaminya juga belum pulang. Ia menunggu Al dari jam 7 dan sudah 2 jam ia menunggu di sofa ruang tamu. Saking bosannya ia rebahan sambil memain game cacing. Walaupun matanya sudah mengantuk dan cacingnya sudah sampai gemuk namun belum ada tanda-tanda Al pulang. Ia menghela napas panjang. “Ternyata jadi istri yang baik selelah ini. Apa Lisa juga begini selama 4 tahun menjadi istri Al?” Suara mobil masuk garasi. Lisa segera bergegas membukakan pintu. Ia tersenyum saat Al berjalan menghampirinya. Ketika Al sudah di hadapannya, ia kira pria itu akan menyapanya namun senyum untuknya pun tidak. Pria itu menyelonong masuk tanpa menghiraukan kehadirannya. Manda menutup pintu. Ia segera berlari mengejar suaminya. “Sayang, kok kamu pulangnya telat?” Al tidak menjawabnya. “Sayang, aku udah siapkan air hangat buat kamu.” Tidak dihiraukan lagi. Sampai di kamar Al. “Aku bantuin lepasin jas kamu.” Ia malah didorong saat mencoba membantu pria itu. “Sini aku bantu.” Ia berinisiatif membatu Al melepaskan sepatu. “Gak usah,” tolak pria itu. Manda menghela napas. Ia putus asa. “Ngapain kamu masih di sini, pergi sana!” usir Al. “Aku nungguin kamu dari jam 7. Aku juga udah buatkan makanan untuk kamu. Aku juga udah siapkan air mandi kamu. Tolong hargai,” tegas Manda. “Aku capek. Aku mau istirahat. Kamu keluar sekarang!” “Al!” “Apa!?” “Aku tunggu kamu di maja makan!” Wanita itu lalu pergi. Al duduk di pinggir ranjang. Ia melepaskan dasinya. “Aarrghh!” teriaknya sambil melempar dasinya. *** Al yang sudah mandi dan berganti pakaian tidur, ia menuruni tangga dan pergi ke dapur. Ia melihat Manda yang menunggunya di meja makan sambil ketiduran. Ia berdehem sambil duduk di kursi meja makan. Manda terbangun. Ia langsung melihat ke suaminya. Ia tersenyum melihat Al yang datang setelah lama ia tunggu. “Kamu masak semua ini?” Al melihat begitu banyak hidangan. Dan semua hidangan itu adalah makanan kesukaannya. “Iya.” Manda mengambilkan Al nasi dan lauk pauknya. “Kamu makan yang banyak ya. Supaya saat Lisa pulang dia senang karena melihat kamu sehat.” “Dia akan lebih senang jika gak ada kamu!” ketus Al. “Ucapan kamu sangat jahat.” “Aku hanya bicara fakta. Dia pasti pergi karena kamu!” “Bukan. Dia pergi karena kangen kampungnya. Dia juga kangen anak-anak panti.” “Darimana kamu tau soal itu?” “Aku menelepon dia tadi. Ternyata Lisa itu anak panti. Pantinya berada di perkampungan yang jauh dari sini. Tadinya aku ada niat kesana, tapi ternyata tempatnya sangat jauh.” “Jangan dekat dengan Lisa!” “Kenapa?” “Pokoknya jangan dekati Lisa! Aku gak suka!” “Istri kedua harus dekat dengan istri pertama.” “Harusnya gak ada istri kedua dalam pernikahan.” Manda terdiam. Al memakan makannya. “Gak enak.” “Masa sih gak enak.” Manda mencoba makanannya. “Enak kok.” “Gak enak karena aku makannya di depan kamu.” “Perkataan kamu nyakitin aku loh, Al.” Al berhenti makan. Ia menatap Manda. “Dan datangnya kamu menyakiti perasaan aku dan Lisa. Harusnya kamu gak di sini!” Ia beranjak dari kursi dan meninggalkan Manda. “Al!” teriak Manda namun pria itu tidak memerdulikannya. Manda menangis. “Non kenapa?” Bi Surti mendengar tangisan dan ia mencari sumber suara itu dan menemukan Manda yang menangis di meja makan. “Al Bi, hiks…” “Den Al melakukan apa sama Non?” “Dia gak sayang sama aku. Bahkan dia gak menghargai aku.” Bi Surti berusaha menenangkan Manda. “Non yang sabar ya, mungkin Den Al lagi banyak masalah. Biasanya Den Al memang begitu, kadang juga berantem sama Non Lisa kalau dia lagi ada masalah di kantornya.” Manda mengusap air matanya. “Al juga pernah berantem Bi, sama Lisa?” “Iya, tapi jarang. Pernikahan kan, memang gak selalu akur Non. Suami istri wajar kalau berantem.” “Bi, Manda kenapa?” tanya Resi yang datang menghampiri pembantu dan menantunya. “Ini Nyonya, Non Manda nangis gara-gara den Al.” “Manda, kamu gapapa?” tanya Resi sambil memeluk menantu kesayangannya. “Aku gapapa, Mah.” “Al harus dikasih pelajaran.” “Jangan Mah, aku gapapa kok.” “Dia harus dimarahi. Kamu istirahat di kamar ya, Mamah akan temui dia.” “Tapi Mah-“ “Udah gapapa.” Resi dengan kesal datang menemui putranya. Wanita tua itu dengan terburu-buru pergi ke kamar Aldevaro. Sampai di sana ia langsung menjewer kuping putranya. “Aduh Mah, sakit!” Al yang mulanya rebahan kini tertarik dan terpaksa turun dari ranjang. “Ampun Mah, ampun.” “Minta maaf sama Manda!” Resi berhenti menjewer kuping Aldevaro. “Aku gak ada salah, kenapa harus minta maaf?” Resi menjewer kembali kuping putranya itu. “Aduh Mah, sakit!” “Dia nangis gara-gara kamu! Pokoknya kamu harus minta maaf!” “Mamah buat salah sama Lisa dan buat Lisa nangis hampir tiap hari tapi mamah gak pernah tuh minta maaf sama Lisa. Jadi kenapa aku harus minta maaf pada Manda?” “Anak kurang ajar!” Resi menambah hukumannya dengan mencubit pinggang Al. “Aduh Mah, sakit Mah! Udah!” “Minta maaf!” “Oke aku minta maaf!” Resi berhenti muncubit putranya itu. “Aku akan minta maaf, puas Mamah!” “Mamah mau malam ini kamu dan Manda tidur bersama. Anggap saja itu sebagai permohonan maaf kamu. Kamu gak boleh nolak!” “Tapi…:” “Kalian harus cepat punya anak!” Al menghela napas. “Dalam sebulan mamah mau pernikahan kamu dan Manda sudah membuahkan hasil!” “Mama kira Manda itu kucing yang mudah banget buat bunting! Dimana-mana itu Mah, hamil itu butuh proses!” “Manda wanita yang subur. Dia akan mudah hamil gak seperti Lisa. Tinggal kamunya aja yang rajin usahanya. Kamu harus buat dia hamil, mamah gak mau tau!” Resi melenggang pergi. “Dasar orang tua!” gerutu Al. “Dia pikir semudah itu buat hamil, aku yang menikah dengan Lisa saja yang hampir berusaha tiap hari belum ada hasilnya. Ini lagi disuruh menghamili Manda dalam sebulan, mana mungkin!” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD