“Al!”
Seseorang memanggil Aldevaro. Ia menoleh. Pria itu menghampirinya sambil tersenyum padanya. Ketika pria itu sudah di hadapannya, pria itu menepuk pundaknya.
“Terima kasih,” ucap pria tua itu.
“Saya akan segera pergi. Kamu tau sendiri saya sudah tua dan harus terapi hampir setiap hari. Umur saya mungkin tidak lama lagi. Maka dari itu saya ingin menyampaikan sesuatu pada kamu.”
“Apa Om belum sembuh juga?” tanya Al pada pria tua itu.
“Jangan panggil saya Om, panggil Ayah. Kamu inikan menantu saya.”
Al menunduk. Pria tua itu adalah ayah dari Manda, ayah kandungnya. Dulu ia dan pria itu sempat dekat. Namun keadaan berubah sejak Manda berulah. Bukan ia yang menjauhi pria itu akan tetapi keadaanlah yang mengubahnya. Sejak ia dan Manda putus semuanya tak lagi sama. Termasuk hubungannya dengan ayah kandung dari mantan kekasihnya itu yang kini resmi menjadi istri keduanya.
“Kamu tau sendiri sakit saya apa. Saya gak akan pernah sembuh.” Pria tua itu mempererat memegangi pundak Al. “Tolong jaga Manda. Selama ini dia sudah menderita. Saya yakin kamu pria yang baik, Al. Saya juga ingin meminta maaf atas perbuatan anak saya itu di masa lalu. Dia tidak benar-benar menghianati kamu. Waktu itu saya yang salah. Dia begitu karena saya gagal menjadi ayah yang baik untuk dia. Bahkan sampai detik ini dia masih membenci saya. Jadi tolong jaga dia dengan baik. Kamu adalah kebahagian dia.”
“Tapi Om, saya…”
“Tolong jaga dia.” Pria itu tersenyum lalu beranjak pergi meninggalkan Aldevaro.
“Sayang!” Manda datang menghampiri Al.
Al ingin menghindari wanita itu, namun Manda lebih dulu menarik tangannya. “Kamu mau kemana?”
“Aku mau pulang.” Al melepaskan pegangan Manda.
“Tapi acara kita belum selesai.”
“Aku gak peduli!”
“Belum waktunya pulang. Kamu harus tetap di sini.” Resi menghampiri putranya.
“Aku gak mau ninggalin Lisa sendirian di rumah, Mah. Kasihan dia.”
“Lisa bukan anak kecil, Al! Dia bisa mengurus dirinya sendiri!”
“Tapi Mah!”
“Mah, gapapa kalau Al mau pulang,” ujar Manda.
“Gak boleh,” tekan Resi.
“Mah!”
“Cukup Al! Dengerin mamah, kamu gak boleh pulang sebelum acara selesai. Ngerti kamu!”
Al mendengus kesal.
Manda meraih tangan mertuanya. “Mah, biarin aja Al pulang. Lisa sendirian di rumah, pasti Lisa butuh Al sekarang,” mohonnya.
“Manda sayang, kamu gak perlu mikirin perempuan itu. Kamu fokus aja sama pesta pernikahan kamu. Sekarang kamu dan Al pergi temui para tamu. Mereka pasti menunggu kalian.” Resi meraih tangan Aldevaro dan meraih tangan Manda lalu ia menyatukan kedua tangan pasangan itu. “Ayo temui para tamu.”
Al melepaskan tangan Manda. “Aku bisa pergi sendiri.” Ia melangkah duluan.
Manda menghela napasnya.
“Sudah, gapapa. Nanti Al pasti sayang ke kamu. Ayo, kamu sama mamah aja.”
Manda tersenyum sambil menganggukan kepala.
***
“Nanti kalian mau hanimunnya kemana?” tanya Resi sambil melihat ke kursi depan, melihat sepasang pengantin baru.
“Apa mau ke luar negeri?” tanya Arya yang duduk di kursi belakang bersama istrinya.
“Aku terserah Al, aja,” jawab Manda sambil menoleh ke Aldevaro yang menyetir mobil.
“jadi mau dimana, Al? Nanti papah siapkan tiketnya untuk kalian,” ujar Arya.
“Aku gak akan kemana pun. Aku hanya akan pergi dari rumah bersama Lisa,” jawab Al dengan ketus.
Mendengar perkataan Aldevaro membuat hati Manda menjadi sedih. Wanita itu menunduk diam.
“Oke kalau kamu maunya seperti itu,” balas Arya.
“Tapi, Pah.” Resi tidak setuju dengan tanggapan suaminya.
“Kalau kamu pindah sama Lisa, kamu juga harus membawa Manda,” lanjut Arya.
Al mengerem mobil mendadak membuat orang-orang kaget.
“Al, kamu ingin kami mati?” tanya Resi yang hampir jantungan.
“Hanya aku dan Lisa yang akan pindah, wanita ini tetap akan bersama kalian,” tekan Aldevaro.
Manda hanya diam menahan perih di hatinya.
“Tidak!” tolak Arya. “Jika kamu pergi, kamu juga harus membawa Manda,” pintanya.
“Pah! Aku udah melakukan apa yang Papah mau! Harusnya Papah menepati janji, bukannya Papah bilang ketika aku menikahi dia aku boleh pergi dari rumah bersama Lisa!”
“AL!” bentak Arya, ia tambah emosi dibuat putra semata wayangnya itu.
“Gapapa, Pah. Aku tidak perlu ikut bersama Lisa dan Al.” Manda tidak mau pertengkaran antara ayah dan anak itu semakin panjang. Lebih baik ia mengalah. Lagian ia tidak akan sanggup jika harus menyaksikan kemesraan Al dengan Lisa setiap hari. Takutnya ia mati termakan api cemburu.
“Aku lebih nyaman tinggal bersama mamah dan papah,” tambahnya. “Aku lebih senang tinggal bersama kalian.”
Arya menghela napasnya. “Manda, kamu gak perlu baik sama dia.” Ia menunjuk putranya. “Dia akan ngelunjak jika kamu terlalu baik sama dia.”
Lisa tersenyum. “Gapapa, Pah. Seorang istri memang harus baik pada suaminya. Lagian juga aku ini istri kedua Al, jadi wajar jika dia mengutamakan istri pertamanya.”
“Kamu gak usah bersikap manis sama aku. Aku gak akan meleleh dengan sikap munafik kamu itu,” ketus Al.
“Al, jaga bicara kamu! Manda ini istri kamu!” Resi mengomel.
“Istri apa sih Mah, dia ini cuma alat agar aku bisa memberikan kalian cucu!”
“Aldevaro!” teriak Resi.
Al tidak mau peduli lagi. Ia melanjutkan perjalanan. Sudah terlalu larut sekarang, ia cemas pada istrinya yang ditinggal sendirian di rumah. Sebenarnya ia dan Manda harusnya menginap di hotel malam ini. Namun ia dan Manda buat kesepakatan untuk menolak hal itu. Tentu ia memaksa Manda agar membujuk orang tuanya untuk pulang ke rumah saja dan rencana itu berhasil.
***
Tiba di rumah Aldevaro langsung pergi ke kamarnya. Ia membuka pintu. “Sayang, aku pulang.” Ia menutup pintu kembali. “Sayang!” Ia mencari keberaan Lisa namun ia tidak menemukan wanita itu dimana pun. Ia juga sudah memeriksa kamar mandi dan hasilnya nihil.
Al mulai panik. Tidak biasanya jam segini istrinya belum tidur. Bahkan wanita itu tidak ada di kamar sekarang.
“Sayang!”
“Lisa!”
“Sayang! Kamu dimana!”
Al semakin panik. Ia keluar kamar dan mencari keberadaan Lisa sambil memanggil-manggilnya. Orang-orang yang mendengar suaranya jadi merasa terganggu.
“Kamu nyari apa sih?” tanya Resi yang merasa bising sebab putranya itu teriak-teriak di malam hari. Padahal ia sangat capek dan mau istirahat. Namun putranya itu malah buat keributan.
“Mah, Lisa gak ada di rumah, Mah. Dia gak ada,” ucap Al yang sangat cemas.
“Gak ada gimana. Dia udah tidur kali.”
“Enggak, Mah. Aku udah cek di kamar. Aku udah cari dia dimana-mana.”
“Ah, mungkin dia ke rumah Rara.”
“Enggak mungkin, Mah. Lisa gak pernah gak pulang kalau main ke rumah Rara.”
“Siapa tau hari ini dia menginap di sana.”
“Ada apa, Mah?” tanya Manda yang mendatangi mereka. Melihat wajah Al yang panik membuatnya jadi bertanya-tanya.
“Ini si Al nyariin Lisa,” jawab Resi.
“Emang Lisa kemana?”
“Gak tau.”
“Al, kamu udah coba telfon?” tanya Manda pada suaminya yang terlihat sangat cemas itu. Bahkan wajah pria itu sampai pucat saking khawatirnya.
Al baru mengingat soal menelepon istrinya. Ia merogoh sakunya untuk mengambil HP, tapi ternyata ponselnya tidak ada di sakunya. Ia baru ingat ia meletakkan ponselnya di tempat tidur. Ia buru-buru ke kamar. Sampai di kamar ia segera menghubungi istrinya.
“Sayang, ayo angkat.”
Beberapa detik kemudian.
“Halo, Mas.” Suara Lisa terdengar.
Al menghela napas lega. Ia mendudukkan dirinya di pinggir ranjang.
“Sayang, kamu dimana?”
“Aku khawatir banget sama kamu.”
“Sekarang bilang kamu dimana, aku jemput kamu.”
“Gak usah, Mas.”
“Cepat bilang kamu lagi dimana sekarang?”
“Aku di panti.”
“APA!” Al kaget sambil berdiri.
“Kamu gak usah cemasin aku. Aku baik-baik aja di sini.”
Al duduk kembali. “Sayang, kenapa kamu pulang kampung tiba-tiba? Kenapa kamu gak obrolin ke aku dulu? Kamu marah sama aku makanya kamu pergi?”
“Aku kangen Bu Asri, Mas. Kebetulan juga beliau sedang sakit. Jadi aku harus pulang untuk merawat beliau.” Lisa tidak berkata jujur sepenuhnya. Ia pergi sebenarnya karena merasa sedih akan suaminya yang menikah lagi. Ia pulang ke tempat asalnya hanya sebagai perlarian saja.
“Tapi kenapa kamu gak kabarin aku dulu, Sayang?”
Lisa yang di panti meneteskan air matanya.
“Besok aku akan jemput kamu.” Perjalanan ke panti membutuhkan waktu 8 jam. Jadi untuk menjembut Lisa sekarang tidak memungkinkan. Jadi Al akan menjemput istrinya itu di hari esok saja.
“Gak usah, Mas. Aku akan seminggu di sini. Aku harus merawat Bu Asri dan menjaga anak-anak di sini.”
“Tapi Sayang, aku gak bisa jauh-jauh dari kamu. Aku gak bisa ditinggal lama sama kamu. Siapa yang akan ngurus aku? Kamu gak rindu apa sama aku nanti? Besok pokoknya kamu harus pulang.”
“Gak bisa, Mas. Aku udah janji sama Bu Asri. Aku akan di sini selama satu minggu. Lagipula… sudah ada, Manda, kan. Kamu lebih baik fokus ke dia dulu sekarang. Kalian kan, pengantin baru. Jadi mungkin kamu dan dia harus merencanakan hanimun.” Berkata seperti ini membuat d**a Lisa berkecamuk.
“Kamu ngomong apa sih. Aku gak perlu hanimun. Aku perlunya kamu. Pokoknya aku akan j****t kamu besok.”
“Kalau kamu kukuh jemput aku, aku akan marah besar sama kamu. Biarin aku di sini. Aku senang berada di sini.” Lisa menutup telfonnya.
“Sayang! Sayang! Aishhh!” Al mencoba menelepon Lisa kembali namun wanita itu malah memutuskan panggilannya.
Ada notifikasi pesan masuk dari Lisa. Al segera membacanya. “Aku mau tidur. Jangan ganggu dan jangan jemput aku besok kalau kamu gak mau perang dunia ketiga!”
Al menghela napas berat. “Dasar istri kepala batu!” Ia melempar ponselnya di kasur. Ia merebahkan tubuhnya. Baru saja terlelap sebentar, ada pula yang mengetuk pintu kamarnya.
“Siapa?!” Ia berteriak. Tidak ada jawaban tapi pintu kamarnya terus saja ada yang mengetuk. Dengan terpaksa ia membuka pintu.
“Mau apa kamu?” Ternyata orang yang mengganggunya itu Manda.
“Aku ke sini atas perintah mamah kamu. Mamah nyuruh kamu tidur di kamar aku,” jawab wanita itu.
“Gak!” tolak Al mentah-mentah.
“Tapi malam ini malam pertama kita.”
“Terus kenapa? Kamu berharap aku unboxing gitu?”
Manda menunduk malu.
“Bukannya sudah pernah. Lagian aku gak akan mau menyentuh kamu lagi.” Al masuk ke kamarnya. Saat ia mau menuntup pintu Manda menahannya.
“Kamu gak boleh perlakukan aku seperti ini, Al.” Manda meneteskan air mata kesedihannya.
Melihat wanita itu menangis jadi mengingatkan Al pada permintaan ayah wanita itu. “Sialan, kenapa pria tua itu malah memberi amanah padaku. Bikin repot saja,” ucapnya dalam hati.
“Gak usah nangis.” Kalau bukan karena amanah dari pria itu ia tidak akan pernah mau peduli pada wanita di depannya ini. “Kamu balik ke kamar kamu duluan, nanti aku akan ke sana.”
Manda menghapus air matanya. “Kamu janji?”
“Udah sana pergi. Aku harus mandi dulu.”
Manda mengangguk lalu berlalu.
Al menutup pintu kamarnya. Ia rebahan lagi, merenggangkan otot-ototnya yang terasa sangat pegal. Karena sangat merasa ngantuk akhirnya ia terlelap.
2 jam kemudian Al terbangun tiba-tiba. Ia baru ingat ia harus membersihkan dirinya. Ia segera bergegas mandi. Ketika sudah membersihkan diri ia mengingat perkataannya pada Manda bahwa ia akan menemui wanita itu. Ia ragu untuk pergi tapi setiap kali ia mengurungkan niatnya untuk menemui wanita itu ia malah teringat terus akan amanah ayah wanita itu.
Dengan berat hati akhirnya ia memutuskan untuk pergi menemui Manda. Ketika sampai di depan pintu kamar wanita itu, ia ragu mengetuk pintu. Namun ketika ia memegangi gagang pintu ternyata pintunya tidak terkunci. Ia rasa Manda sengaja melakukannya. Perlahan ia masuk ke dalam kamar. Kamar gelap, hanya lampu tidur yang menyala. Ia menutup pintu kembali dan menguncinya. Ia melihat Manda yang sepertinya sudah tidur. Ia tidak ingin seranjang dengan wanita itu, tapi malangnya di kamar ini tidak ada sofa jadi tidak ada tempat yang bisa ia tiduri kecuali ranjang. Dengan terpaksa ia naik ke atas tempat tidur dan berbaring di sebelah cinta pertamanya itu.
DEG
Jantungnya berdebar tiba-tiba saat tubuh Manda berbalik menghadapnya. Wajah wanita itu tepat di depan mukannya.
“Astaga, kenapa aku harus deg-degan?” ucapnya dalam hati.
Tiba-tiba mata Manda terbuka dan Al dibuat kaget oleh wanita itu.
“Makasih udah datang,” ucap Manda dengan suara khasnya yang lembut saat bicara.
Al menautkan kedua alisnya saat Manda tiba-tiba memejamkan mata dan bibir wanita itu memanyun dan perlahan mendekati bibirnya. Hasrat seorang pria timbul di diri Al, ia yang ingin menolak namun hasrat prianya yang besar malah membuatnya menyambut hangat bibir waniat itu yang kini sudah bersentuhan dengan bibirnya.
Awalnya hanya sentuhan. Perlahan Manda membuka mulutnya dan mereka saling berciuman. Al yang sudah tenggelam akan nafsu mulai bermain lebih. Tangannya mulai beraba di sisi lain. Begitu juga dengan Manda. Kini permain semakin jauh dan kini posisi Manda sudah berada di bawah tubuh Aldevaro. Al yang sedang dimabukkan hasrat berpikir jika saat ini ia bersenang-senang dengan istri tercintanya yaitu Lisa.
Manda yang kehabisan napas membuatnya menghentikan ciuman mereka. Ketika Al membuka matanya ia kaget karena ia baru sadar bahwa ia sedang bersama Manda bukan Lisa. Ia segera melompat dari tempat tidur dan mengusap bibirnya yang basah karena berciuman dengan wanita yang ia benci.
Manda mendudukan dirinya. “Kenapa, Sayang? Apa permainan aku kurang bagus?”
Al tidak mengatakan apa-apa. Ia pergi ke kamar mandi. Ia membasuh wajahnya, mulutnya, dan tangannya yang juga bersentuhan dengan tubuh wanita itu.
“Bisa-bisanya aku mengira dia Lisa. Sialan,” gerutunya.
Manda berbaring kembali. Ia meneteskan air matanya. Merasa sedih karena dapat menebak jika Al yang tadi menciumnya pasti kerena mengira ia adalah Lisa.
***