Persetujuan

2080 Words
Al memarkirkan mobilnya. "Udah sampai ya," ucap Manda sambil tersenyum pada pria yang duduk di sampingnya. "Turun," pinta pria itu. "Kamu?" "Aku akan tetap di sini." Ia merogoh saku belakang celananya. Membuka isi dompet dan mengambil kartu ATM. "Ini." Ia memberikan kartu itu pada Manda. Manda mengambil kartu itu. "Loh, kita kan, harus milih baju pernikahan kita bersama, Al." "Kamu bisa milih gaun kesukaan kamu sendiri. Lagipula siapa yang peduli dengan pernikahan itu." "Al!" "Apa?" "Kamu kenapa sih kaya gini, aku ini calon istri kamu! Aku ini akan jadi calon ibu untuk anak-anak kamu!" "Keluar!" "Al!" "Keluar atau-" "Atau apa? Kamu mau mengancam aku?" "Atau aku gak pernah mau menikahi kamu!" Manda menghela napas panjang. "Oke, aku keluar. Tapi awas ya kalau kamu ninggalin aku." "Sana cepat keluar!" "Iya bawel!" Manda keluar dari mobil. Ia mengetuk kaca mobil. Al membuka kaca jendela tersebut. "Apa lagi?" "Cuma mau bilang, i love you." Bukannya dapat balasan i love you too, Al malah menutup kaca jendela mobilnya. Manda menghela napas panjang. “Sabar, kamu harus sabar Manda.” Ia pun melenggang pergi. Sepeninggalan Manda, Al segera menyalakan mesin mobilnya dan beranjak pergi tanpa diketahui wanita itu. *** Setelah lebih dari 3 jam memilih gaun pengantin akhirnya Manda memutuskan pulang. Ia keluar dari butik menuju parkiran. Akan tetapi ia tidak menemukan mobil Al. Ia mencari-cari akan tetapi tetap tidak menemukan mobil mantan kekasihnya itu. "Al! Kamu tega banget sih ninggalin aku," gerutunya. Manda merasa kesal. Ia mencoba menghubungi pria itu namun panggilannya tidak terjawab. Mau tidak mau akhirnya ia pulang menggunakan taksi. Sampai di rumah, Manda melihat Aldevaro yang sedang bersantai menonton televisi bersama Lisa. Pasangan itu terlihat mesra dengan Al yang merangkul Lisa. Suasana hatinya menjadi panas melihat pemandangan itu. Ia pun segera pergi ke kamarnya dengan perasaan yang kesal karena Al meninggalkannya tadi. Lisa menurunkan tangan Al yang merangkulnya. "Sayang, mau sampai kapan kamu marah sama aku?" tanya Al. Al tidak mendapatkan jawaban. Al membuka ponselnya dan memperlihatkan foto pada Lisa. "Sayang, liat deh rumahnya bagus, kan?" Lisa melirik sedikit. Al diam-diam tersenyum melihat Lisa yang curi pandang ke layar ponselnya. "Rumah ini buat kita berdua. Gimana, kamu suka gak?" Lisa lagi-lagi melirik tapi pura-pura tidak peduli. Al merangkul Lisa lagi. "Aku tadi ke sini loh, rumahnya bagus. Estetik juga, kamu pasti suka." Lisa berdiri dan menatap pria itu. Ia tidak mengatakan apa-apa. Ia melenggang pergi setelah menatap tajam suaminya itu. Al segera menyusul. Mereka kini berada di kamar. "Sayang, mau sampai kapan sih kamu marah sama aku?" "Sayang, please... ngomong jangan diem terus. Aku tau kamu marah soal aku dan Manda. Tapi jangan diem kaya gini. Kamu harus dengar penjelasan aku dulu." "Aku gak ada hubungan apa-apa sama Manda. Sumpah." Ia memohon seraya menggenggam tangan sang istri. Lisa meneteskan air mata. "Mas, apa benar yang lebih pantas sama kamu itu Manda bukan aku? Kata mamah yang harusnya bersanding dengan kamu itu Manda bukan aku, Mas..." "Sayang, kamu gak boleh bilang gitu. Kamu jangan dengerin mamah." Al menghapus air mata Lisa lalu memeluknya. Perlahan Lisa melepaskan pelukan suaminya. "Harusnya sejak awal aku sadar, Mas. Aku memang gak pantes sama kamu. Aku wanita gak punya sedangkan kamu punya segalanya. Menerima kamu mungkin keputusan yang salah." Pria itu menatapnya. "Maksud kamu apa? Kamu menyesal menikah sama aku?" Lisa menundukan kepalanya, menyembunyikan air mata yang menetes jatuh dari kedua matanya. Al mengangkat wajah wanita itu. "Sayang, kamu dengar aku. Aku tulus cinta sama kamu. Aku gak peduli mamah atau papah yang tidak menyukai kamu. Aku gak peduli mereka mau bilang apa tentang kamu. Bagi aku kamu wanita yang luar biasa. Kamu gak boleh ngomong kaya tadi lagi ya." Ia memeluk kembali istrinya. "Maafin aku yang banyak salah sama kamu. Maafin aku..." Lagi, Lisa melepaskan pelukan pria itu. "Gapapa, Mas." Ia duduk dipinggir ranjang dengan wajah yang muram. Al ikut duduk dan memandangi istrinya yang terlihat terpukul itu. "Sayang... maafin aku." Lisa meraih tangan suaminya itu. Kembali ia meneteskan air mata. Wanita mana yang tidak sedih jika suaminya ingin menikah lagi. Al ikut meneteskan air matanya. Ia pun memeluk Lisa dengan erat seraya mengucapkan maaf berulang-ulang kali. *** "Bagaimana Al, apa kamu sudah siap menikahi Manda?" Pagi sekali Resi datang menemui putranya hanya ingin menanyakan hal itu. Al menghela napas berat. "Mah, aku bahkan baru bangun tidur. Mamah sudah menyuguhkan pertanyaan semacam itu." "Mamah hanya ingin memastikan." "Oh iya, apa istri kamu udah setuju? Ya walaupun setuju atau tidaknya dia, mamah gak peduli, tapi mamah khawatir aja, takutnya dia menuntut kamu untuk tidak menikahi Manda." "Mah, sebaiknya mamah pergi. Ini masih pagi dan aku mau lanjut tidur. Kasihan juga Lisa nanti dia kebangun gara-gara mendengar suara mamah." "Wanita pemalas itu, jam segini harusnya dia sudah bangun." "Mah!" "Iya mamah pergi." Resi melenggang pergi. Al masuk kembali ke dalam kamarnya. Tak lupa menutup pintu dan menguncinya. Ia kembali ke ranjang dan memeluk tubuh ramping Lisa dari belakang. Ia membelai rambut Lisa dan mencium leher wanita itu sampai membuat Lisa terbangun dan berbalik menghadapnya. "Aku bangunin kamu ya, maaf..." Lisa tidak tersenyum. Ekspresi wajah wanita itu datar saja. "Kamu masih marah sama aku?" Al mengusap lembut wajah Lisa. "Mas." Akhirnya Lisa buka suara. Al tersenyum senang. "Alhamdulillah akhirnya istri aku mau ngomong juga. Kenapa Sayang, emm?" "Aku mau kamu jujur." "Jujur apa?" "Kamu serius akan menikah lagi?" Pandangan Al tertunduk. Lisa meraih tangan pria itu. "Kalau kamu nikah lagi, jangan lupa sama aku ya, Mas..." Matanya berkaca-kaca. "Aku... aku minta maaf sebelumnya karena gak bisa jadi istri yang baik. Sampai-sampai kamu harus punya istri lain." Mata Lisa akhirnya meneteskan cairan bening. Ucapan Lisa menusuk d**a Al. Ia pun memeluk wanita itu. "Aku gapapa, Mas. Aku gapapa... hiks..." "Mana mungkin kamu gapapa. Aku tau kamu hancur, Sayang. Aku tau kamu sakit hati. Kamu gak perlu bohong sama aku. Aku yang harusnya minta maaf bukan kamu." "Aku gapapa, Mas..." Dibalik kata gapapa, Lisa menyembunyikan lukanya yang sangat luar biasa. "Aku gak mau menikah lagi, Sayang. Tapi..." "Aku paham, Mas. Hiks..." *** Sudah beberapa hari berlalu dan tepat di hari ini adalah pernikahan antara Al dan Manda yang akan segera terlaksana dalam beberapa menit lagi. Al masuk ke dalam kamarnya. Ia melihat Lisa yang duduk termenung di pinggir ranjang. Ia hampiri wanita itu dan berdiri di depannya. "Sayang," panggilnya. Lisa mengangkat pandangannya dan tersenyum tipis pada suaminya yang berpakaian rapi itu. Terlihat gagah dan tampan, sama persis seperti hari pernikahan mereka di 4 tahun yang lalu. Al meraih kedua tangan wanita itu. "Aku... aku akan segera menikahi Manda. Apa kamu mengizinkan aku untuk menikahinya?" Ragu Al mengatakannya tapi ia harus mengatakannya karena izin dari istrinya sangat penting baginya. Lisa terdiam lama. Setitik air mata jatuh menetes dari wajah cantik wanita itu. "Jika kamu tidak mengizinkan, aku akan membatalkan pernikahan ini." Perlahan Lisa mengukir senyum. "Terserah Mas aja. Aku ikut apa yang mau Mas lakukan," jawabnya sederhana. "Kamu yakin?" Lisa menunduk. "Tidak ada yang mau suaminya mendua, Mas. Tapi... aku bisa apa. Aku gak mau bikin kamu susah, Mas. Jika aku bilang tidak maka orang tua kamu sangat kecewa dan kamu bisa kehilangan semuanya. Mana mungkin aku membiarkan kamu hidup sulit hanya karena keegoan aku," batinnya. "Sayang, tolong jujur sama aku. Jika kamu minta aku batalin pernikahan ini aku akan batalin sekarang juga." Lisa menggeleng. "Jangan Mas. Aku gapapa kok." Ia melepaskan genggaman tangan suaminya. "Menikahlah dengan Manda. Mamah dan papah pasti sangat senang jika kamu memperistri Manda. Manda wanita yang sempurna untuk dijadikan istri. Dia baik, cantik, dan mamah suka sama dia. Menikahlah dengannya, Mas. InsyaAllah aku ikhlas. Semoga dengan kamu menikahi Manda, kamu akan segera menjadi sosok ayah." Berat Lisa mengatakan hal yang diucapkannya tersebut. Al menangis. Ia pun memeluk Lisa. "Maafin aku, Sayang." "Al, ayok!" panggil Resi yang sudah tidak sabaran ingin segera pergi. Lisa melepaskan pelukan suaminya. "Pergilah Mas." Al menggenggam tangan Lisa. "Tapi..." Lisa melepaskan genggaman tangan suaminya itu. "Pergilah, Mas." "Al, ayok!" panggil Resi lagi. "Nanti kita telat, orang-orang udah nungguin kita." Sebelum pergi. Al mencium kening Lisa. "Sayang, maaf..." Ia akhirnya melenggang pergi meninggalkan Lisa. Berat langkahnya untuk pergi. Ia sangat merasa bersalah pada Lisa. Namun ia tidak bisa berbuat banyak. Wanita itu juga sudah setuju namun tetap ia merasa bersalah karena akan berpoligami. "Hiks..." Lisa menumpahkan kesedihannya setelah kepergian sang suami yang sangat ia cintai. Ia benar-benar hancur. Ia benar-benar patah hati. *** Al telah tiba di gedung tempat pernikahannya dengan Manda. Banyak kerabat papahnya yang datang. Begitu juga dengan kerabat ibunya. Selain itu rekan bisnih kedua orang tuanya juga menghadiri. Para tamu undangan begitu ramai. Semua orang terlihat sangat menikmati hari pernikahan ini. Semua terlihat senang, hanya ia yang merasa hampa. Raganya mungkin berada di tempat mewah ini namun pikirannya ada di rumahnya. Memikirkan Lisa yang saat ini sendirian di rumah. Al menoleh ke sampingnya, ada wanita yang tersenyum padanya. Manda, siapa lagi. Sebentar lagi ia akan melakukan ijab kabul dan wanita itu akan menjadi pendamping hidupnya. Sungguh menyebalkan. Ia menghela napas panjang. Sangat menyebalkan sekali karena ia harus menikahi mantan kekasihnya yang tukang selingkuh itu. "Sudah siap?" tanya Pak penghulu. "Tentu dia sudah siap," jawab Arya yang sangat bersemangat dengan pernikahan putranya. Kali ini ia sangat senang dengan pernikahan putranya itu karena pasangan dari putranya itu adalah pilihannya. "Maaf Pak, tolong beri saya waktu sebentar lagi," pinta Al. "Al, kamu nunggu apa lagi?" tanya Resi. Al masih menunggu seseorang. Ia sangat berharap Lisa datang dan menghentikan pernikahan ini. "Pak, segera lakukan," pinta Arya. "Pah, tunggu dulu." "Lakukan saja Pak, jangan dengarkan dia." "Baik," balas Pak penghulu. "Kita mulai saja. Karena saya tidak bisa menunggu terlalu lama. Nak Al, silakan jabat tangan ayah handa dari mempelai wanita," pinta Penghulu. "Al, ayok," pintar Resi karena Al tak kunjung menjabat tangan ayah Manda. Al menghela napas berat. Ia menjabat tangan ayah dari Manda dan ijab kabulpun terucapkan dengan hanya sekali percobaaan. "Gimana para saksi, sah?" "SAH!" "Alahmadulillah." Manda tersenyum dengan sangat lebar. Ia meraih tangan Al dan mencium punggung tangan pria itu. Tanpa ragu ia juga memeluk pria yang sudah jadi suaminya itu. "Sekarang kita sudah jadi suami istri," bisik Manda. Al melepaskan pelukan wanita itu. "Semuanya aku permisi, aku harus ke belakang sebentar." Al pamit pergi tanpa peduli orang-orang yang memperhatikannya. Sampai di toilet Al menangis. Ia merasa menghianati Lisa. Kini ia benar-benar berpoligami. Ia sungguh merasa bersalah atas apa yang telah ia lakukan. Lama Al tidak kembali. Manda merasa khawatir, wanita itupun pamit untuk menyusul suaminya yang tidak kembali dari toilet itu. Tiba di toilet Manda melihat Al yang sedang merokok dengan wajah yang tampak frustasi. "Apa kamu menangis, Sayang?" Ia melihat mata Al memerah seperti orang yang sedang berduka. Al mengalihkan pandangannya. Manda mendekat dan memberikan pelukan pada pria itu. "Aku janji akan membahagiakan kamu. Kamu gak usah sedih, aku yakin Lisa akan bahagia dengan pernikahan kita. Dia juga setuju kan, jika kamu menikahi aku. Jadi kamu gak usah merasa bersalah sama dia." Al mendorong Manda. "Hubungan kita hanya sebatas status jadi gak usah mikir aku akan benar-benar menganggap kamu sebagai istri aku." "Al, aku perjelas ya. Mau kamu bersikap gimana sama aku. Aku akan tetap baik ke kamu. Aku akan tetap melayani kamu sebagai suami aku. Gak peduli kamu terima atau gak. Pokoknya aku akan jadi istri yang baik. Terutama aku akan memberikan kamu keturunan dimana Lisa yang yang sampai detik ini belum juga bisa ngasih kamu anak. Kamu tenang aja, aku akan hamil cepat dan manjadikan kamu sosok ayah," ujar Manda panjang lebar. "Kamu pikir pernikahan hanya tenang keturunan?" "Memang enggak. Tapi hadirnya sosok anak itu adalah pelengkap dalam pernikahan. Memang sih banyak yang menikah tapi gak memiliki anak, tapi tentu pasangan yang lebih bahagia itu pasangan yang memiliki garis keturunan." "Jadi, anak itu cukup penting dalam sebuah ikatan pernikahan. Aku hanya ingin memberikan kamu kebahagiaan yang lebih Al. Perlu kamu tau, aku mau jadi istri kedua kamu karena aku mencintai kamu dan ingin kamu mendapatkan apa yang kamu impikan. Bohong jika kamu gak kepengen punya anak. Aku tau kamu sangat menyukai anak kecil dan ingin jadi sosok ayah." Lagi-lagi Manda berkata panjang lebar. "Tau apa kamu soal aku. Jika memang kamu cinta sama aku ngapain kamu menghianati aku." "Anggap aja waktu itu aku wanita bodoh yang tega menduakan, kamu. Sekarang aku ingin hubungan kita lebih baik lagi. Aku sudah berubah dan aku sadar kamu adalah laki-laki yang baik untuk aku." "Bulshit." Muak dengan kata-kata Manda, Al beranjak pergi meninggalkan wanita itu. "Sabar Manda, sabar. Kamu harus sabar menghadapi suami kaya dia. Kamu harus optimis, kamu pasti bisa dapatin hati dia lagi." Manda tersenyum. Ia segera menyusul suaminya itu. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD