Manda pulang dengan begitu banyak membawa belanjaan. Resi menyambut kedatangan wanita itu dan menyapanya dengan begitu ramah.
"Kamu darimana aja Sayang, kok jam segini baru pulang?"
"Maaf Tante, aku tadi nyariin hadiah dulu buat Al. Aku harus cari yang bagus supaya dia suka. Aku juga punya hadiah untuk Tante dan Om." Ia memberikannya pada wanita itu. “Ini, semoga Tante dan Om suka.”
"Ya ampun, kamu memang memantu yang baik. Makasih ya."
Manda mengangguk.
"Tante benar-benar senang bisa punya menantu kaya kamu."
"Oh ya Tente, bisa gak hadiah ini tante aja yang kasih ke Al."
"Loh kok Tante yang kasih."
"Aku takut Al gak mau terima kalau dia tau aku yang beliin dia hadiah."
"Dia pasti mau kok. Kamu samperin aja, dia ada di lantai atas. Tadi lagi nonton mungkin masih ada di sana."
"Tapi Tante..."
"Udah, gapapa."
"Ya udah kalau gitu Tante, aku nemuin Al dulu."
Resi mengangguk.
Manda segera ke lantai atas. Ke lantai 3 dan ia mendapati Al di ruang tv dan pria itu tertidur di sofa. Manda menghampirinya dan meletakkan tas belanjaannya di atas meja. Ia duduk di pinggir sofa yang dibaringi Al dan ia ingin mengusap rambut pria itu, namun gagal.
"Jangan sentuh suamiku!" Lisa datang memperingati Manda untuk tidak menyentuh miliknya.
Manda sedikit kaget dengan Lisa yang muncul tiba-tiba. Namun ia tetap bisa tenang. Ia berdiri dan melempar senyuman pada Lisa. Senyuman yang begitu manis. Seolah diantaranya dengan Lisa tidak terjadi apa-apa.
"Gak usah senyum ke aku," pinta Lisa dengan ketus.
"Lisa, kamu tenang dulu. Kita bisa ngobrol baik-baik."
"Baik-baik? Gak ada yang perlu kita obrolin! Sekarang kamu pergi!"
"Lisa, kamu marah sama aku?"
"Apa perlu aku jawab?!"
"Lisa, aku sebenarnya tidak ingin mencari musuh. Aku ingin kita berteman baik. Aku…”
"Pergi!" usir Lisa.
"Oke aku pergi." Manda mengambil barangnya dan melangkah pergi. Namun tiba-tiba ia berbalik menghadap Lisa. "Aku lebih dulu mengenal Al. Aku lebih dulu yang mencintai dia. Aku gak ada maksud ingin menghancurkan rumah tangga kalian. Aku hanya-“
“Pergi!”
“Baik aku akan pergi.” Manda melenggang pergi.
Sepeninggalan Manda, Lisa menangis. Ia memandangi wajah suaminya sampai meneteskan air mata dan air mata itu jatuh di wajah Al dan membuat Al sadar. Pria itu langsung mendapati Lisa yang sedang menangisinya.
Lisa segera menghapus air matanya dan ingin pergi tapi tangannya dicekal oleh suaminya. Kini mereka saling menatap satu sama lain. Al pun menarik wanita itu dan langsung mencium bibir Lisa. Saat Lisa mencoba lari darinya ia membekap erat tubuh wanita itu dan terus melumat bibir sang istri meski Lisa tidak membalas ciumannya dan terus memberontak darinya.
Merasakan Lisa yang terdesak olehnya, Al pun melepaskan ciumannya. Kini wanita itu tepat di depan wajahnya. Mereka saling menatap dan Al melihat mata istrinya yang dipenuhi air mata itu.
"Maaf... aku..."
PLAK!
Lisa menampar Al.
"Kamu nampar aku?" Mata Al tampak marah menatap istrinya itu.
"Tega kamu Mas, sama aku..." lirih Lisa. Ia pun masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu.
"Sayang, buka pintunya!"
"Biarin aku masuk!"
"Sayang, aku minta maaf!"
"Sayang, buka Sayang!"
"Iya aku salah! Aku minta maaf!"
"Lisa, aku mohon Sayang... aku mohon dengerin aku..."
Lisa yang dibalik pintu hanya menangis sambil menutup mulutnya agar tangisannya tidak didengar oleh suaminya. Hatinya sangat sakit. Ia benar-benar merasa sangat-sangat hancur.
Putus asa karena Lisa tidak membukakan pintu untuknya, Al pun kembali ke sofa. Dan cuma bisa duduk merenung di sana. Tak lama kemudian suara pintu terbuka. Ia menoleh dan melihat pintu kamar terbuka. Cepat ia ke sana dan masuk ke dalam kamar. Ia mendapati Lisa yang berbaring di ranjang dengan posisi memunggunginya.
Al ingin menyentuh istrinya itu, namun takut. Ia memilih untuk tetap berdiri memerhatikan istrinya.
"Sayang."
"Lisa."
"Aku tau kamu belum tidur. Aku tau kamu nangis. Kamu boleh pukul aku. Kamu boleh melakukan apapun sama aku. Tapi tolong jangan diamin aku kaya gini."
Lisa terus meneteskan air matanya. Bahkan mata wanita itu sudah sangat sembab akibat menangis tanpa henti.
Al beranjak ke ranjang. Ia berbaring dan memeluk Lisa.
"Sayang, aku benar-benar minta maaf..."
Lisa berangsur turun dari ranjang meninggalkan Al. Ia memilih untuk pergi ke sofa. Ia tak mau bersentuhan dengan suaminya itu.
"Sayang, mau sampai kapan kamu menghindari aku? Aku ini suami kamu. Kamu gak percaya sama aku? Aku udah kasih tau kamu kan, kalau aku dipaksa menikahi Manda sama papah. Aku gak ada niat sedikitpun untuk memadu kamu."
"Terus kenapa kamu mau, Mas?" tanya Lisa dengan suara serak karena menangis terlalu banyak.
"Aku gak mau! Tapi aku gak bisa nolak keinginan Papah."
"Itu yang aku benci dari kamu, Mas."
Perkataan Lisa memancing amarah Al. Pria itupun datang menghampiri Lisa. "Maksud kamu apa ngomong gitu? Kamu pikir aku laki-laki lemah yang takut sama orang tua? Yang mau aja dibodohin sama orang tua aku sendiri. Kamu pikir aku pria seperti itu, hah!?"
"Kamu memang seperti itu, Mas. Setiap kali aku direndahkan oleh orang tua kamu, kamu hanya menyuruh aku sabar dan mengabaikan mereka. Sedangkan kamu tidak melakukan apa-apa. Kamu terus membiarkan aku direndahkan dan semakin dibenci orang tua kamu."
"Lisa!" Bentak Al.
Lisa terlonjak kaget karena dibentak suaminya untuk pertama kali.
"Hiks... aku benci sama kamu, Mas..." Lisa beranjak pergi keluar kamar.
"Aaargghrr," ucap Al frustasi.
Malam yang sudah larut membuat suasana rumah sangat hening. Lisa melangkah ke dapur. Ia duduk di meja makan dan menangis di sana.
Al menyusul Lisa. Ia mencari keberadaan istrinya sampai mendengar suara tangisan yang suaranya terdengar dari arah dapur. Ia ke sana dan melihat Lisa yang menangis di meja makan. Ia dekati. Tangannya ingin menyentuh pundak wanita itu namun ia tak berani melakukannya. Ia duduk di kursi samping Lisa. Ia meraih tangan Lisa dan menggenggamnya.
"Aku minta maaf... aku yang salah. Kamu benar, aku memang lelaki pengecut. Tapi aku harus gimana, mereka orang tua aku Lisa. Mereka keluarga yang aku punya. Mereka yang membesarkan aku. Jadi mana mungkin aku tidak menuruti keinginan mereka. Aku berharap sama kamu, kamu bisa ngerti posisi aku."
Perlahan Lisa melepaskan tangannya dari genggaman Al.
"Aku diminta papah untuk menikah dengan Manda. Aku sangat minta maaf sama kamu. Kedatangan Manda ke rumah ini keinginan papah dan mamah agar aku dan dia menikah," jelas Al.
Lisa berdiri. "Aku paham, Mas." Ia melangkah pergi. "Jangan ganggu aku, aku ingin sendiri," ucapnya ketika berhenti melangkah sejenak.
"Baiklah. Istirahatlah dan tidur yang nyenyak."
Lisa melanjutkan langkahnya.
***
"Morning calon menantu," sapa Resi saat Manda ikut bergabung di meja makan untuk sarapan pagi. Suasana berubah semenjak wanita itu datang. Dimana jika dulu Resi dan Arya tidak pernah sarapan pagi bersama Al dan Lisa kini kedua orang tua itu rutin sarapan di meja makan bersama-sama.
"Morning Tante, Om, dan Al," balas Manda sambil mendudukan dirinya di kursi samping Aldevaro karena pagi ini kursi itu tidak ditempati Lisa. Lisa tak ada di meja makan saat ini dan hal itu membuat Manda senang karena ia bisa duduk berdekatan dengan pria yang sempat jadi kekasihnya itu.
"Al, Lisa mana?" tanya Manda.
Al tidak menjawab. Ia mengabaikan wanita itu dan fokus pada rotinya.
"Tante, Om, Lisa kemana?"
"Tidak udah pedulikan wanita itu. Kamu fokus sarapan aja ya," jawab Resi.
"Baik Tante."
Selesai sarapan dan semua orang beranjak dari meja makan kecuali Al.
"Den, Non Lisa kemana? Tumben gak ikut sarapan?" tanya Bi Surti sambil membersihkan meja makan.
"Lagi gak enak badan," jawab Al. "Ini saya lagi mau buatkan dia bubur. Semoga aja dia suka."
"Wah, Non Lisa beruntung banget punya suami kaya Aden. Perhatian banget, bibi jadi iri deh."
"Saya yang beruntung Bi punya istri kaya Lisa. Dia wanita luar biasa sedangkan saya banyak kurangnya."
Al selesai membuatkan bubur untuk istrinya. Ia pamit pada Bi Surti dan beranjak ke lantai atas.
Ia mengetuk pintu kamar. "Sayang, aku buatin kamu bubur nih!"
"Sayang! Kamu belum bangun ya?!"
Ia mengetuk pintu lagi. "Sayanggg! Ini aku bawain bubur kesukaan kamu loh! Buka sayang!"
"Lisa yang cantik! Suamimu ini nungguin kamu loh! Bukain dong! Nanti buburnya keburu dingin!"
Al menghela napas. "Apa dia masih marah?"
"Sayang! Aku taro buburnya di depan pintu ya! Aku harus berangkat kerja! Love you sayang!" Al meletakkan bubur itu ke lantai.
"Aku berangkat!" Al beranjak pergi dengan wajah murung.
Sampai di lantai bawah Al bertemu Arya. Langkahnya pun terhenti ketika pria itu memegang pundaknya.
"Papah sudah transfer uang ke rekening kamu. Hari ini kamu gak perlu kerja, cukup pergi sama Manda untuk membeli baju pernikahan kalian."
"Aku tidak mau!" tolak Al.
Arya menepuk pundak Al. "Papah belum selesai bicara. Papah sudah membelikan kamu rumah yang bisa kamu tempati bersama Lisa. Alamatnya sudah papah kirim di hp kamu, kamu bisa liat langsung ke sana. Gimana, papah menepati janji, kan. Maka dari itu kamu juga harus menepati janji kamu juga." Ia tersenyum.
Al mengecek ponselnya dan benar papahnya mengirimkan sebuah alamat dan sebuah gambar rumah yang terlihat bagus. Haruskah ia merasa senang?
"Apa ini?"
"Iya, itu rumah untuk kamu dan Lisa. Kamu sudah bisa tinggal di sana jika kamu sepakat untuk menikah dengan Manda."
"Kalian sedang membicarakan apa?" tanya Manda yang muncul tiba-tiba.
"Tidak, bukan apa-apa," jawab Arya.
"Sudah mau berangkat?" tanya Arya pada calon menantunya itu.
Manda mengangguk.
"Al, tolong jaga Manda dan perlakukan dia dengan baik."
Al diam saja.
Manda menggandeng tangan Al. "Om, kami berangkat."
"Iya, hati-hati."
"Ayo." Manda menarik Al dan mereka berduapun pergi bersama.
Saat sampai di teras rumah Al langsung melepaskan gandengan tangan Manda.
"Al, aku ini calon istri kamu. Wajar dong kalau aku gandeng tangan kamu."
Al tidak mengatakan apapun. Dia bersegera menuju mobilnya dengan wajah kesal. Manda segera menyusul dan masuk ke dalam mobil. Duduk di depan di samping Al yang menyetir.
"Ngapain kamu duduk di sini? Itu kursi Lisa bukan buat kamu!"
"Lisa tidak ikut kan, jadi kursi ini gak ada pemiliknya jadi aku bebas duduk di sini!"
Malas berdebat dengan Manda, Al menyalakan mesin mobil dan beranjak pergi.
***
Lisa membuka pintu kamar. Ia mendapati semangkuk bubur di depan pintu. Ia mengambilnya, mencium aromanya yang begitu menggoda. Namun ia tidak memakannya, ia meletakkan kembali bubur itu di tempat semula.
Lisa melangkah pergi ke lantai bawah. Di bawah tidak sengaja ia bertemu ibu mertuanya yang sedang berdiri melihat foto yang menempel di dinding.
"Lisa, kemari," panggil Resi.
Lisa mendatangi ibu mertuanya.
"Kamu lihat." Resi menunjuk foto pernikahan Lisa dan Al yang terpajang di dinding dengan ukuran yang besar.
"Itu foto pernikahan kamu dan Al. Harusnya bukan kamu yang di dalam foto itu melainkan Manda."
Lisa cuma bisa tertunduk diam dengan perasaan sakit hati yang bergejolak.
"Saya yakin kamu pasti sudah tau mengenai Al dan Manda yang akan segera menikah. Saya harap kamu tidak berulah. Saya harap kamu tidak membuat pernikahan itu gagal. Jika kamu tidak mau kamu bisa berpisah dengan Al dan biarkan Al bahagia bersama Manda."
"Mah, tapi aku..."
"Saya tidak mau mendengar alasan apapun dari kamu."
Lisa meraih kedua tangan Resi_memohon. "Mah, aku mohon jangan lakuin ini ke aku. Jika pernikahan Manda dan Al karena aku yang belum bisa memberikan keturunan maka beri aku waktu, Mah. Aku yakin aku bisa hamil. Aku akan memberikan mamah cucu. Aku sehat-sehat aja kok Mah, Mah plaase... beri aku waktu."
Resi menepis tangan Lisa. "Apa waktu 4 tahun menurut kamu waktu yang sebentar? Saya sudah cukup lama bersabar menunggu kamu memberikan keturunan pada Al, tapi apa. Sampai detik ini kamu juga belum hamil, kan. Kamu itu mandul! Gak akan pernah punya anak!"
Lisa meneteskan air mata kesedihannya. "Mah, aku gak mandul Mah. Aku gak mandul... hiks..."
"Dengar ya, Lisa. Saya sudah memutuskan Al akan menikahi Manda. Lagipula Manda memang lebih layak bersanding dengan putra saya daripada kamu!" Resi melenggang pergi.
"Mah... aku mohon beri aku waktu..." lirih Lisa. Tetapi ibu mertuanya itu tidak memerdulikannya.
***