"Mas, kamu kenapa?" tanya Lisa sembari menyimpan tasnya di atas meja, ia melihat sang suami yang duduk di tepi ranjang dengan wajah yang terlihat kesal.
Al menarik kedua sudut bibirnya. "Aku gapapa." Ia menarik tangan Lisa dan membuat sang istri duduk di pangkuannya, ia pun mencium leher jenjang wanita itu lalu memeluknya. "Kok kamu pulangnya cepet? Biasanya kalau ke rumah Rara lama banget bahkan sampe suka lupa pulang."
Lisa tertawa kecil. Ia berdiri dan menghadap sang suami. "Tiba-tiba aja aku kangen kamu makanya aku pulangnya cepet."
Al tersenyum lebar. Ia berdiri dan memeluk Lisa dengan sangat erat. "Tumben istri aku kangen sama suaminya."
Lisa melepaskan pelukan Al. "Mas..."
"Iya Sayang, kenapa?"
Wajah Lisa tiba-tiba berubah murung. Ia mendudukan diri di pinggir ranjang.
Al ikut duduk. Ia menggenggam tangan Lisa. "Kamu kenapa? Ada masalah?"
"Aku gak suka Manda Mas. Gapapa jika dia tetap ingin tinggal di sini. Tapi bisa gak, kita pindah rumah aja?"
Al memalingkan pandangannya sembari melepaskan tangan Lisa.
"Mas..." Lisa menggenggam tangan Al.
"Tadi aku liat Mamah sama Manda, mereka lagi nonton. Mamah akrab banget sama Manda. Mereka keliatannya deket banget, tapi kok Mamah gak gitu sama aku? Bahkan waktu aku lewat di depan mereka, aku kaya angin aja. Apa aku gak sebergarga itu di mata mamah?”
Al membalas menggenggam tangan Lisa. "Sayang, berapa kali aku bilang. Kamu gak usah peduliin mamah. Kamu kan tau mamah orangnya kaya gimana. Jadi kamu abaikan aja ya."
"Tapi Mas, aku cemburu sama Manda. Mamah itu kan, ibu mertua aku. Masa ibu mertua aku lebih dekat dengan wanita lain. Aku juga mau diperhatikan, Mas."
Al menghela napas panjang. "Iya aku paham, tapi..."
"Mas, aku capek hidup kaya gini terus. Sampai kapan Mas aku harus pura-pura gapapa ketika kedua orang tua kamu benci sama aku. Aku pengen kita punya kehidupan sendiri. Cuma ada aku sama kamu. Gak bisa apa kita pindah aja dan hidup berdua aja gitu?"
"Kamu kan tau, aku anak satu-satunya. Aku gak bisa ninggalin rumah ini, Sayang. Mamah dan papah gak bakalan ngijinin aku pergi dari sini. Aku udah pernah coba kan, dan kamu dengar sendiri kalau mamah dan papah sangat menentang permintaan aku itu."
"Terus sampai kapan Mas kamu biarin aku menderita sendirian di rumah ini? 4 tahun Mas aku berusaha buat gapapa setiap kali orang tua kamu nyakitin aku. Aku berusaha sabar, tapi sekarang aku benar-benar gak bisa Mas."
"Apa karena Manda?"
"Iya, karena dia juga. Aku tau, Manda pasti gak akan pergi dan menetap di rumah ini. Aku gak bisa nahan sakit lebih jauh karena wanita itu. Aku cemburu sama dia, Mas. Aku gak tahan jika terus melihat kedekatan dia sama orang tua kamu. Aku iri sama dia, Mas. Aku juga pengen diperhatikan sama mamah dan papah. Tapi itu gak akan mungkin. Jadi lebih baik aku pergi aja dari sini."
Al mengelus kepala Lisa lalu memeluknya. "Maaf ya Sayang, akan aku usahakan kali ini."
"Makasih Mas."
"Tapi kamu jangan sedih lagi ya, aku janji akan lebih berusaha lagi agar kita bisa punya kehidupan sendiri."
Lisa mengangguk.
***
Lisa sudah tidur nyenyak. Al beranjak keluar dari kamarnya. Ia ke lantai bawah. Ia berjalan menuju suatu kamar. Ia mengetuk pintu kamar itu sampai sang pemilik membukakan pintu.
"Mah, aku mau bicara sama papah," ujar Al pada mamahnya.
"Papah kamu udah tidur."
"Aku mau bicara hal yang penting."
"Besok aja." Resi mau menutup pintu namun putranya itu menahannya.
"Tunggu, ini soal Manda."
Resi tidak jadi menutup pintu kamar mendengar Al menyebut nama Manda. "Hal apa yang mau kamu omongin?"
Al mengepal tangannya. "Aku akan segera menikahi wanita itu."
Resi tersenyum. "Kamu serius?"
Al menghela napas berat. Ia mengangguk.
"Oke, mamah bangunin papah kamu dulu." Resi masuk ke dalam kamar. Ia membangunkan Arya yang tertidur pulas.
"Pah, bangun Pah."
"Pah, bangun."
Arya membuka mata. "Kenapa Mah?"
"Ayo bangun dulu. Al mau ngomong sesuatu ke papah."
Arya duduk. "Soal apa?"
"Soal Manda. Dia mau menikahi Manda."
"Mamah yakin?"
Resi mengangguk.
Arya berangsur turun dan pergi menemui Aldevaro.
"Pah, aku mau ngomong sama papah," ujur Al saat melihat papahnya.
"Ya udah ayo."
Mereka berdua ke ruang tengah.
"Jadi gini Pah, aku... aku akan menuruti kemauan papah. Aku akan menikahi Manda secepatnya, tapi dengan satu syarat."
"Jadi gini permain kamu. Bisa-bisanya ya kamu memberi papah ancaman."
"Aku gak mengancam papah. Aku cuma minta papah ngabulin persyaratan aku, dan aku akan melakukan apa yang papah mau."
"Ya udah, apa persyaratannya?"
"Izinkan aku dan Lisa pergi dari rumah ini. Biarkan aku dan Lisa punya rumah sendiri. Aku janji walaupun aku udah gak tinggal di sini aku akan tetap menemui kalian setiap hari."
"Jadi itu mau kamu. Gak, papah gak akan mengizinkan kamu pergi dari rumah ini!"
"Pah!"
"Apa?"
"Aku udah gedek Pah! Aku juga mau mandiri! Aku udah beristri dan aku tentu ingin memiliki kehidupan sendiri!"
"Kamu pikir kamu bisa mandiri? Haha, selama kekayaan yang kamu punya itu berasal dari papah maka kamu gak bisa mandiri Al! Kamu tetap berada di bawah pengawasan papah."
"Ya udah, kalau gitu jangan harap aku akan menikahi Manda!" Al beranjak pergi.
"Baik! Papah izinkan kamu pindah dari sini!"
Al berbalik.
"Dengan satu syarat," lanjut Arya. "Nikahi Manda dalam minggu ini dan kamu boleh punya rumah sendiri. Gimana?"
Al mematung.
***
Lisa membuka matanya dan di hadapannya ada sosok Al yang berdiri di samping ranjang yang tersenyum padanya.
Lisa mendudukan dirinya. "Mas, ini jam berapa?"
"Tujuh."
"Ya ampun aku kesiangan. Kamu kok gak bangunin aku Mas?"
Al duduk di pinggir ranjang. "Hari ini aku gak kerja. Aku mau ajak kamu dinner, kamu mau kan?"
"Tumben banget."
"Udah lama kan, kita gak kencan. Jadi aku pengen aja berduan sama kamu. Mau ya."
Lisa tersenyum lebar sambil mengangguk.
"Ya udah siap-siap sana. Mandi terus dandan yang cantik."
"Oke." Lisa beranjak dan segera membersihkan dirinya.
Al yang tadinya tersenyum manis merubah ekspresinya menjadi datar. Ia beranjak ke luar kamar. Pergi ke ruang tengah dan duduk melamun di sana.
Arya datang. Duduk berhadapan dengan putranya yang tampak murung itu. "Gimana, udah siapkan?"
Al mengangkat pandangannya. Ia diam saja menatap Arya.
"Siap gak siap kamu harus siap. Kita sudah sepakat, kan?"
Al menundukkan pandangannya.
"Kamu itu laki-laki, gak boleh lemah hanya karena satu wanita. Kita ini memiliki kebebasan untuk melakukan apapun yang kita mau. Jadi gak usah terlalu merasa bersalah."
Al kembali menatap Arya. "Aku bukan laki-laki b******n seperti Papah!"
Arya menghampiri putranya itu dan langsung menamparnya.
PLAK!
Al diam membisu sembari menatap bengis papahnya.
"Anak nakal seperti kamu pantas mendapatkannya." Arya lalu pergi meninggalkan Aldevaro.
Tidak lama setelah Arya pergi, Lisa pun datang. "Mas, aku udah siap." Wanita itu menghampiri Al.
Al melempar senyuman. "Wah, cantiknya istriku."
"Mas, wajah kamu kenapa?" Lisa melihat pipi Al yang memerah.
"Gapapa kok, ini tadi ada nyamuk gigit pipi aku, eh nyamuknya kabur malah pipi aku yang memar. Hahaha, dasar nyamuk nakal."
Lisa diam saja dengan senyum yang dibuat-buat. Ia yakin suaminya berbohong karena memar di wajah sang suami terlihat seperti bekas tamparan bukan karena tepukan ingin membunuh nyamuk.
Al menggandeng tangan Lisa. "Ayo kita berangkat."
Mereka beranjak pergi.
Manda melihat Al dan Lisa yang gandengan tangan menuju keluar rumah.
"Suatu hari nanti tangan aku juga akan kamu genggam seperti wanita itu.”
***
Sampai di restoran Al dan Lisa menempati meja yang sudah Al pesan untuk istri tercintanya itu. Pria itu juga memesan makanan spesial untuk wanita yang sudah 4 tahun menjadi pendampingnya itu.
"Mas, kamu nyiapin semua ini untuk aku?" tanya Lisa yang kagum.
Al mengangguk.
Lisa memegang dagu Al. "Suami aku romantis banget sih."
"Iya dong."
Mereka bedua pun makan dengan tenang sambil mengobrol hal-hal kecil. Setelah makanan Al habis ia menatap istrinya itu dengan sangat dalam.
"Mas," panggil Lisa tapi Al tak bergeming.
"Mas..."
"Mas..."
"Iya, Sayang." Lamunan Al buyar.
"Kamu mikirin apa sih, Mas?"
Al menundukan pandangannya.
Lisa meraih tangan Al. "Kalau ada sesuatu cerita sama aku."
Al tersenyum dan balik menggenggam tangan Lisa.
"Kita akan punya rumah," ucap Al.
"Rumah?"
Al memberi anggukan.
"Rumah kita berdua?"
"Iya Sayang, rumah kita berdua."
Mata Lisa berkaca-kaca. Akhirnya setelah sekian lama ia bisa merasakan punya rumah sendiri. Tanpa terbebani lagi oleh kedua mertuanya.
"Kita akan punya rumah sendiri. Kamu senang, kan?"
Lisa mengangguk. "Aku seneng banget, Mas. Makasih Mas, makasih."
Al mengusap lembut tangan sang istri. "Iya sama-sama."
Beberapa detik kemudian ekspresi wajah senang Al tiba-tiba berubah.
"Mas, kok wajah kamu jadi sedih? Apa ada masalah?"
"Sebenarya..." Baru saja Al ingin bicara tapi tiba-tiba ada yang datang menghampiri mereka.
"Hai," sapa seorang wanita yang baru saja menghampiri Al dan Lisa.
Lisa melihat wanita itu. "Manda..." Ia melihat Manda.
Manda tersenyum. "Boleh aku duduk?"
Tidak ada yang memberikan jawaban. Manda mengambil kursi di meja sebelah, ia pun duduk di samping Lisa.
"Mas, kok ada dia?" tanya Lisa pada Al.
Al tidak bisa memberikan jawaban apa-apa. Ia hanya bisa diam dan menghindari tatapan istrinya. Jujur ia juga tidak tahu kenapa Manda bisa ada di sini. Mungkinkah ini rencana papahnya?
"Aku juga diajak Al ke sini. Katanya dia mau ngomong sesuatu pada kita," ucap Manda.
"Mas, apa itu benar?" Mata Lisa terlihat kecewa.
"Gak itu gak benar, Sayang. Aku benar-benar gak tau kenapa dia bisa ke sini."
"Masa sih Al, kamu gak tau. Bukannya kamu yang ngundang aku ke sini. Kata Om Arya kamu ngajak aku ketemuan di sini."
"Sayang sumpah, aku gak ngundang dia."
"Al, kamu jangan gitu ya. Aku ke sini karena katanya kamu ingin ngomong sesuatu ke Lisa tentang hubungan kita."
"Hubungan?" Lisa tambah bingung.
Manda melihat makanan yang di meja. "Sepertinya kalian memulai tanpa menunggu aku ya."
"Mas," panggil Lisa yang sudah mulai emosi. Ia benar-benar tidak mengerti kenapa suaminya itu mengundang Manda padahal suaminya bilang tadi hanya mereka berdua karena mereka sudah lama tidak kencan bersama.
"Mas, ini maksudnya apa?"
"Jadi gini Lisa, Al sebenarnya ingin mengatakan sesuatu ke kamu. Tapi kamu jangan kaget ya."
"Mas, maksud kamu apa? Kamu jangan bikin aku bingung gini."
"Maaf Sayang," lirih Al. "Aku... memang sebenarnya mau bilang sesuatu ke kamu. Tapi please... kamu jangan marah dulu. Tapi aku benar-benar gak merencanakan ini semua. Aku ingin bilang ke kamu di waktu yang tepat. Soal Manda yang datang ke sini aku benar-benar gak tau. Aku yakin pasti papah yang merencanakan semua ini."
"Udah Mas, kamu gak perlu jelasin apapun. Cukup kasih tau aku kenapa Manda di sini? Apa maksud semua ini?"
Al menggigit bibirnya. Tak tega jika harus mengatakannya sekarang.
"Al, apa perlu aku yang bilang padanya?" tanya Manda.
"Kamu menyembunyikan apa dari aku, Mas?" Desak Lisa.
Al menggenggam tangan Lisa. "Sayang, please... kamu tenang dulu."
"Tenang kamu bilang Mas, Mas aku benar-benar curiga sama kamu dan perempuan ini! Kamu gak macem-macem kan Mas, di belakang aku?" Air mata Lisa mengalir jatuh denga deras.
"Maaf sebelumnya Lisa. Sebenarnya aku dan Al dijodohkan. Aku dan Al akan menikah," terang Manda.
"Menikah..." lirih Lisa kaget.
Lisa mematung, syok berat, perlahan air matanya bercucuran. Ia menatap suaminya yang tampak merasa bersalah itu. Ia menghela napas panjang. Ia berdiri dan kembali menatap Al dengan penuh kekecewaan. Tak tahan dengan perasaan yang begitu menyakiti dirinya, ia pun berlari pegi dengan kehancuran.
"Sayang!" Al beranjak. Manda menarik tangannya. Ia menatap wanita itu dengan kebencian. Perlahan Manda melepaskan tangan pria itu dan membiarkan Al mengejar Lisa.
Manda menghela napas berat, “Maaf, Lisa.”
***
Al menarik tangan Lisa_menghentikan wanita itu. "Sayang, dengerin dulu penjelasan aku."
Lisa menepis tangan suaminya itu dan lanjut pergi. Al terus mengejarnya sampai di pinggir jalan.
"Sayang, aku mohon dengerin aku dulu."
"Sayang, please..."
Al terus memohon.
"Sayang, aku anterin kamu dulu dan kita obrolin baik-baik ya. Aku mohon sama kamu, kamu jangan salah paham sama aku."
"Taxi!" Lisa memerhentikan taxi.
"Sayang, Sayang, dengerin aku dong."
Taxi berhenti, Lisa segera membuka pintu.
Al menarik tangan Lisa. "Sayang, dengerin aku dulu."
Lisa mendorong suaminya itu. Ia menutup pintu taxi dan meminta supir segera pergi.
"Jalan pak."
"Baik, Mbak."
"Sayang!" terial Aldevaro.
Al segera ke parkiran. Ia cepat ke mobilnya dan menyusul Lisa.
Di dalam taxi Lisa terus menangis. Ia sangat merasa hancur. Pria yang ia pikir akan setia dengannya malah ingin menikah lagi. Pria yang janji tidak akan meninggalkannya malah memiliki wanita lain. Dan pria yang katanya sangat mencintainya malah berbagi cinta dengan wanita lain.
"Hiks... kamu tega sama aku Mas..."
"Kenapa kamu lakuin ini ke aku, Mas..."
"Kenapa Mas... hiks... hiks... hiks...."
***
"Manda! Manda! Manda!" teriak Al sambil membanting stir mobil.
"Sial! Sial! Sial!"
"Apa yang kamu lakuin Al, kamu menghancurkan orang yang kamu cinta, bodoh! Bodoh! Bodoh!"
Tiba di rumah. Lisa keluar dari taxi dan cepat melangkah masuk. Al segera memarkirkan mobilnya dan mengejar Lisa.
Ketika Lisa melewati ruang tengah, ia melihat papah dan mamah Al yang juga melihat ke arahnya. Kedua orang itu malah tersenyum melihat dirinya yang sedang menangis ini. Hatinya tambah hancur dan melangkah lebih cepat menuju kamarnya.
Al yang melihat kedua orang tuanya yang tampak senang melihat pertengkarannya dengan Lisa membuatnya sangat jengkel.
"Apa yang kalian lihat! Sekarang kalian puas kan, melihat rumah tangga aku dan Lisa berantakan!" Ketus Al berapi-api.
Arya dan Resi malah tersenyum.
Al melanjutkan mengejar Lisa. Sampai di kamar ia tidak melihat Lisa. Namun ketika mendengar tangisan yang bersumber dari kamar mandi, ia beranjak ke sana.
"Sayang, aku minta maaf..." Ia mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi.
"Sayang, aku gak maksud merahasiakannya dari kamu. Aku takut Sayang, aku takut kamu ninggalin aku. Please... dengerin penjelasan aku dulu..."
Lisa yang di dalam kamar mandi terus menangis sejadi-jadinya.
Al menggedor-gedor pintu. "Sayang! Sayang!" Saking emosinya ia menendang pintu lalu mengacak-acak rambutnya. Ia juga melempar jasnya dan dasinya. Ia beranjak duduk di ranjang dan memukul-mukul kepala ranjang.
Lisa mengusap air matanya. Ia juga membasuh wajahnya. Cukup tenang ia pun keluar kamar mandi. Suaminya langsung menghampirinya dan memeluknya.
"Sayang, aku benar-benar minta maaf sama kamu. A-a-aku disuruh papah dan mamah buat menikahi wanita itu. Aku sama sekali gak suka sama Manda. Mamah dan papah yang maksa aku menikahi dia."
Lisa melepaskan pelukan Al. Ia beranjak duduk di pinggir ranjang. Al menghampirinya lagi.
"Aku mau kamu keluar!" Usir Lisa.
"Tapi sayang aku-"
"KELUAR MAS! AKU GAK MAU LIAT WAJAH KAMU! AKU BENCI SAMA KAMU MAS! Hiks..."
"Sayang, aku..."
"KELUAR!"
Al pergi keluar. Ia mengalah. Sekarang ia benar-benar bingung dan takut Lisa akan meminta pisah darinya.
Al duduk di sofa ruang tengah. Tak lama kemudian papahnya datang dan duduk di hadapannya.
"Gimana, apa kamu udah memberitahu Lisa tentang rencana pernikahan kamu sama Manda?" tanya pria itu.
Al diam saja dengan menatap sinis papahnya itu.
"Dilihat dari raut wajah kamu tampaknya kamu sudah memberitahu dia."
"Pah! Papah kenapa sih Pah gak pernah memberi kebebasan untuk aku? Selama ini aku udah berusaha menjadi anak yang baik, semua yang papah bilang ke aku selalu aku turutin. Aku bekerja dengan baik, gak pernah sekalipun aku memalukan papah di depan siapapun. Tapi kenapa papah masih aja ngelunjak terhadap aku, Pah!"
"Sudah melakukan yang terbaik? Haha, kebaikan apa Al? Kamu itu membuat malu papah semenjak menikah dengan Lisa! Orang-orang mengejek papah karena punya menantu miskin! Kamu gak tau itu, kan? Semenjak kamu menikah dengan Lisa, papah dipandang rendah sama orang-orang."
"Jadi maksud papah Lisa aib di keluarka kita, gitu?!"
"Iya memang, dia itu aib di keluarga kita!"
Al berdiri. "CUKUP PAH! LISA ITU ISTRIKU!"
"DIA WANITA YANG BAIK! PAPAH YANG GAK PERNAH BERSYUKUR PUNYA MENANTU SEPERTI LISA! DIA BISA APA AJA! DIA PINTER MASAK! DIA WANITA APA ADANYA! DIA JUGA PANDAI MERAWAT AKU DAN PERHATIAN PADA KALIAN! DIA JUGA PINTER DALAM HAL APAPUN! DIA WANITA YANG HEBAT!"
Arya menyeringai. "Itulah mengapa dia lebih cocok jadi pembantu bukan menantu!"
Al yang tidak terima akan perkataan papahnya itu, ia pun ingin melayangkan pukulan di wajah lelaki itu namun terhalang karena mamahnya datang dan menghentikannya.
"Al, apa kamu sudah gila?!" Resi menghentikan tangan Aldevaro yang hampir saja menampar suaminya.
"Papah yang sudah gila! Beraninya lelaki tua ini menghina istriku!"
"Aldevaro! Jaga bicara kamu! Dia ini papah kamu!"
"Aku menyesal terlahir menjadi anak dari kalian! Kalian tidak pantas menjadi orang tua!" Dengan perasaan kesal Al pun pergi meninggalkan kedua orang tuanya itu.
"Pah, Papah gak apa-apa?" tanya Resi.
"Aku gapapa."
"Al jadi di luar batas semenjak mengenal wanita miskin itu. Aku sudah tidak tahan jika harus melihat dia masih berhubungan dengan Lisa. Apa perlu kita usir saja wanita itu dan mintanya meninggalkan Al?" tanya Resi.
"Tidak usah. Aku sudah punya rencana. Tanpa kita minta wanita itu juga akan pergi dengan sendirinya." Arya tersenyum licik.
***