Siapa Manda?

2218 Words
Di perjalanan pulang Manda dan Lisa saling diam. Mereka berdua sibuk dengan pemikiran masing-masing. Lisa yang sibuk dengan pikirannya yang cemas akan hadirnya Manda. Sedangkan Manda cemas jika Al tidak menikahinya dan ia ragu jika pun menikah dengan Al nanti ia tidak bisa menyingkirkan Lisa. “Manda.” Lisa memecahkan keheningan. “Iya Lis.” “Kamu kenal dengan Al sejak kapan?” Manda tersenyum mengingat masa lalunya bersama Al. Waktu pertama kali ia mengenal pria itu. “Sudah lama, sejak aku dan dia kelas 10 SMA. Kami kebetulan sekelas waktu itu. Aku dan dia juga jadi teman dekat bahkan sangat dekat,” ucapnya sambil mengingat masa lalunya yang penuh dengan kenangan besama Aldevaro. “Apakah artinya mereka sempat berhubungan?” tanya Lisa dalam hati. “Dulu Al sangat berbeda dengan sekarang. Dia dulu tidak sedingin saat ini. Al yang dulu adalah murid yang nakal dan sangat pecicilan. Namun tingkahnya itu yang membuat dia populer di sekolah bahkan disukai para wanita. Dia jadi pria idaman pada masa itu.” “Al sangat tampan. Banyak yang mengagumi dia. Gak salah jika kamu menyukai dia juga. Karena Al memang disukai banyak orang,” tambah Manda. “Termasuk kamu?” Lisa menoleh ke arah Manda. Manda terdiam lalu ia tertawa. "Apa pertanyaan aku lucu?" tanya Lisa. Manda kembali terdiam. "Apa kalian pernah memiliki hubungan yang lebih dari teman?" Manda menggigit bibir bawahnya. “Apakah kalian pernah pacaran?” tanya Lisa ambigu. "Apa kamu yakin ingin tau?" Manda balik bertanya. Lisa menghela napas panjang. "Kamu yakin gak akan sakit hati jika tau sesuatu antara aku dan Al?" tanya Manda lagi. Lisa mengigit bibirnya sambil mengepal tangannya. "Lisa," panggil Manda. Lisa menoleh. “Tanya pada Al, dia akan memberikan jawabannya.” Lisa mengalihkan pandangannya pada jendela kaca mobil. “Entah lah, dia memberikan kamu jawaban yang benar atau kebohongan. Akupun tidak akan peduli,” batin Manda. *** "Aku pulang." Aldevaro masuk ke dalam rumah. Ia mencari-cari keberadaan Lisa. Biasanya wanita itu akan menyambutnya dan menunggunya di sofa ruang tamu. "Kemana dia? Apa dia udah bosan menjadi istriku?" Ia terus berjalan sampai di ruang tengah. "Nah itu dia." Ia melihat Lisa duduk di sofa sendirian dengan tangan berlipat di atas d**a. Entah kenapa pirasatnya jadi buruk. Kadang jika istrinya terlihat seperti itu berarti sedang marah padanya. "Kali ini aku salah apa lagi," gumam Al. Tepat di belakang sofa yang diduduki Lisa, ia berdehem. "Sayang." Lisa berdiri dan berbalik menghadap Aldevaro. Matanya menatap tajam pada pria itu. "Haduh... dia kenapa lagi ini," batin Aldevaro. "Sayang, kamu kenapa?" tanyanya. Lisa menghampiri suaminya itu dan langsung menarik tangan Al dan membawanya menuju ke kamar. "Sayang, kamu kenapa sih? Pelan-pelan, tangan aku sakit." Tiba di lantai 3 dan di pintu kamar mereka, Lisa melepaskan tangan Aldevaro. Ia membuka pintu. "MASUK." Al pasrah dan masuk ke dalam kamar. Lisa menyusul dan menutup pintu serta menguncinya. "Sebenarnya Manda itu siapa, Mas!?" tanya Lisa sangat penasaran. Al melepaskan diri dari Lisa. Ia duduk di pinggir ranjang dengan tenang. "Kamu ini kenapa?" "Jawab dulu Manda itu sebenarnya siapa?" "Dia bukan siapa-siapa." "Mas, aku gak lagi bercanda ya. Manda itu siapa kamu?" Al berdiri dan menenangkan istrinya. "Sayang, Manda itu bukan siapa-siapa aku. Lagian kamu kenapa tiba-tiba jadi gini sih. Emang wanita itu bilang apa ke kamu, ha?" Lisa menundukan wajahnya dengan raut sedih. "Dia gak bilang apa-apa. Tapi aku curiga kamu dan dia dulu memiliki hubungan yang lebih dari teman." "Ya ampun... kamu cemburu ya. Sini-sini aku peluk." Al memeluk Lisa dan mengelus lembut punggung wanita cantik itu. “Jangan cemburu ya, Sayang. Wanita itu bukan siapa-siapa aku kok. Aku gak mungkin suka sama dia. Dia aja yang menyukai aku karena maklumlah suamimu ini terlalu tempan jadi banyak wanita yang mau." Lisa melepaskan pelukan Al dan menonjok perut pria itu. "Aduh, kok aku dipukul sih." "Dasar genit!" Lisa duduk di ranjang. "Hei, suamimu ini gak genit tapi terlalu tampan aja jadi banyak yang suka. Tapi tenang aja tetap kamu jadi pemenangnya." "Dasar! Sana mandi!" "Gimana kalau kita mandi bareng?" "GAK!" "Oke, aku mandi tapi kamu jangan marah-marah lagi." Lisa tetap memasang wajah kesalnya. "Ayo senyum dulu. Kalau gak senyum aku gak mau mandi." “BODO!” “Eh gak boleh gitu ya, sama suami. Gak sopan! Minta maaf.” “GAK!” “Minta maaf!” “GAK!” Al menghela napas berat. “Dasar istri kepala batu.” Lisa mencebikkan bibirnya dengan raut wajah yang masam. Al tertawa. Ia mencubit kedua pipi wanita itu. “Kamu lucu banget sih, Sayang. Gemes banget.” Lisa tersenyum. “Nah kan, cantik.” Al memeluk Lisa. “Aku sayang banget sama kamu.” Ia melepaskan pelukannya dan memberikan kecupan di kening wanita itu. “Aku mandi dulu ya, Cantik.” Ia beranjak. Lisa menarik tangan suaminya itu. “I love you.” Al mengusap kepala Lisa. “I love you, too.” *** Al mencuci wajahnya lalu menatap dirinya di cermin. "Apa Manda berniat ingin membeberkan hubungannya denganku pada Lisa?" "Awas aja kalau dia berani. Perempuan itu sungguh gak tau malu!" "Dia pikir aku akan suka lagi sama dia, jangan harap! Setelah semua yang udah dia lakukan padaku dan berharap hubungan kita akan membaik seperti dulu. Mimpi saja kau Manda!" Beberapa menit kemudian Al keluar dari kamar mandi. Ia melihat istrinya yang duduk melamun di pinggir ranjang. "Masih marah?" Lisa mengangkat wajahnya. Al mendekat. “Mikirin apa lagi?” “Pakai dulu baju kamu, Mas.” "Iya Sayang.” Al yang hanya berbaluk handuk itupun beranjak ke lemari. Ia memakai pakaian, setelah itu ia hampiri Lisa dan duduk di samping wanita itu. Ia menyadarkan kepala istrinya itu di pundaknya. "Kamu curiga aku ada hubungan sama Manda?" tanyanya. Lisa diam saja. "Tadi siang mamah bilang ke aku kalau kamu sama Manda pergi berdua. Apa benar?” “Iya,” jawab Lisa dengan dingin. "Kemana?" Lisa tidak memberi jawaban. “Kalian ngobrolin apa aja?” “Dia bercerita tentang kamu. Dia bilang kamu dulu sangat populer di sekolah. Kalian sangat akrab dan menjadi teman dekat.” Lisa mengubah posisinya menghadap suaminya. Ia meraih tangan kekar pria itu. “Apa dulu kamu dan Manda sepasang kekasih, Mas?” Al meneguk salivanya karena gugup dengan pertanyaan sang istri. “Kalian dulu pacaran?” Al sengaja menguap. “Aku ngantuk nih. Kita tidur aja yuk.” “Kamu jangan mengalihkan pembicaraan, Mas. Sebenarnya maksud kedatangan Manda ke sini apa? Pasti ada tujuannya, kan?” Al bungkam. Lisa menunduk sedih. “Kamu gak akan ninggalin aku kan, Mas?” Al menggenggam kedua tangan wanita itu. “Aku gak akan pernah ninggalin kamu. Apapun yang terjadi kita akan tetap sama-sama.” Lisa meneteskan air matanya. "Mas, apa kamu akan sama Manda? Aku lihat papah dan mamah sangat perhatian pada Manda. Apa mereka ingin Manda yang jadi istri kamu bukan aku?" Al menghapus air mata Lisa. Ia pun memeluknya. Ia tidak berkata apa-apa. Ia meneteskan air matanya. Ia sangat mencintai wanita dalam pelukannya ini. Ia tidak ingin menyakitinya dan tidak ingin terpisah dengannya. "Hiks... aku gak mau kehilangan kamu, Mas." Lisa membalas pelukan sang suami. "Kamu tau kan, aku gak punya siapa-siapa selain kamu." "Iya... aku juga gak mau kehilangan kamu." Al menghapus air matanya. Ketika Lisa sudah tenang Aldevaro melepaskan pelukannya. Ia menggenggam kedua tangan sang istri dan menciumnya. “Aku janji sama kamu. Aku gak akan pergi ninggalin kamu. Selamanya kita akan tetap sama-sama.” Ia mengangkat kedua sudut bibir wanita itu agar tersenyum. "Sekarang kamu istirahat ya. Tapi kamu udah makan malam, kan?" Lisa mengangguk. Al membantu Lisa berbaring, ia juga menyelimuti wanita itu. Ia ikut berbaring dan menghadap sang istri sambil mengelus rambut wanita yang dicintainya itu. Ia juga memberikan ciuman pada kedua pipi Lisa dan mencium bibir sang istri. “I love you, Sayang.” "I love you, too." Al mencium kening Lisa. "Good night. Semoga mimpi indah." Lisa tersenyum dan memejamkan matanya. Beberapa menit berlalu dan memastikan Lisa benar-benar sudah tidur, Al pun berangsur turun dari ranjang. Ia beranjak keluar kamar. Al ke lantai 2. Ia berhenti di depan pintu kamar seseorang dan mengetuk pintu tersebut. Beberapa detik menunggu akhirnya Manda membuka pintu kamarnya. "Ternyata kamu," ujar Manda. “Ada apa?” Al langsung mendorong Manda masuk ke dalam kamar. Ia juga ikut masuk dan menutup pintu serta menguncinya agar orang lain tidak memergokinya yang sedang berada di kamar mantan kekasihnya itu. "Apa kamu rindu sama aku, Al?" tanya Manda sambil mendudukkan dirinya di pinggir ranjang. "Dengar ya, aku gak mau kamu mengatakan pada Lisa soal hubungan kita di masa lalu!" tekan Aldevaro. Manda berdiri. Ia mengusap lembut tangan pria itu lalu memeluknya. "Kenapa? Bukannya dia istri kamu. Harusnya kalian saling terbuka. Apa kamu takut Al, jika Lisa tau dan dia mikir kamu masih menaruh perasaan pada aku? Apa jangan-jangan memang benar kamu masih menyimpan rasa sama aku?" Al mendorong tubuh Manda. "Berapa kali aku bilang, aku gak ada perasaan apapun lagi sama kamu! Kecuali kebencian!" “Kamu tau kan, ada pepatah yang mengatakan bahwa benci bisa jadi awal percintaan.” PLAK Tangan Aldevaro melayang menampar wajah wanita itu. Manda menetesan air matanya sambil memegangi wajahnya. “Apa kamu belum puas nyakitin aku! Dan sekarang kamu mau menghancurkan rumah tangga aku!” Manda menahan yang tangisannya. “Aku gak ada niat menghancurkan rumah tangga kamu, Al.” “Terus apa?! Hah!” “Aku ingin kamu mencintai aku lagi, Al! Aku ingin kita sama-sama lagi, hiks… aku udah berusaha buat melupakan kamu… tak gak bisa…” Manda meraih tangan Al. “Aku minta maaf sama kamu… aku benar-benar minta maaf…” Al menepis tangan wanita itu. Ia segera ingin pergi tapi Manda mencekal tangannya. "Tunggu." Manda menurunkan sedikit leher bajunya, memperlihatkan tulisan tato di dadanya yang tertulis nama Aldevaro. "Liat, aku bahkan belum menghapus nama kamu. Begitu juga dengan perasaan aku sama kamu. Aku masih mencintai kamu, Al. Hiks…" Al menyentakkan tangannya. "Aku gak peduli!" Ia beranjak pergi meninggalkan kamar Manda. "Hiks…” “Dasar wanita gila!” umpat Al yang berada di luar kamar. *** Al masuk kedalam kamarnya. Lisa yang bangun segera pura-pura tidur. Wanita itu terbangun saat menyadari suaminya tidak ada di sampingnya. "Kamu dari mana Mas, kenapa kamu terlihat kesal," ucap Lisa dalam hati. "Sialan!" Al menonjok tembok. Lisa kaget melihat suaminya yang memukul tembok. Tapi ia pura-pura tidur karena tidak ingin suaminya tahu jika ia sadar ketika suaminya pergi tadi. "Aaargghrr!" Al mengacak rambutnya frustasi. Ia berdiri menatap istrinya yang berbaring di ranjang. "Hanya perempuan ini yang kamu cintai, Al. Lupakan wanita jahat itu," batinnya berucap. Al ke kamar mandi. Ia membasuh wajahnya dan membersihkan luka di tangannya. Ia tenangkan dirinya. Setelah itu ia kembali tidur di samping istrinya. Ia juga memeluk wanita itu dan berulang kali mengatakan maaf. *** “Al, apa kamu sudah bilang ke Lisa jika kamu akan menikahi Manda?” tanya Resi yang sedang duduk santai bersama Manda, calon menantunya yang sangat ia senangi. “Mamah mau kamu dan Manda segera menikah agar mamah segera meminang cucu,” tambah wanita paruh baya itu. Manda tersenyum senang mendengar perkataan calon mertuanya. Al menghela napas berat. Untung saat ini istrinya sedang tidak ada di rumah. Jika ada pasti nambah masalah. “Papah mau kamu menikahi Manda secepat mungkin," ucap Arya. “Pah, Mah. Kalian gak mikirin perasaan Lisa. Aku belum siap untuk bilang ke dia. Lisa pasti sangat sedih jika tau aku dan Manda akan menikah. Aku belum siap untuk terus terang ke Lisa,” jelas Al. “Terus mau nunggu berapa lama lagi sampai kamu benar-benar siap? Kamu gak akan pernah siap, Al. Siap tidak siap kamu harus bilang ke Lisa. Papah gak mau tau, pokoknya kamu dan Manda harus segera menikah. Kamu gak kasihan sama Manda, dia udah rela-relain jauh-jauh ke sini hanya untuk menikah sama kamu. Dia benar-benar mencintai kamu sampai dia rela menjadi istri kedua kamu. Dia gak apa-apa jika kamu masih ingin mempertahakan pernikahan kamu dengan Lisa. Kamu harusnya bersyukur bisa memiliki Manda karena dia rela membantu kamu untuk segera memiliki keturunan," ucap Arya panjang lebar. "Apa yang dikatakan papah kamu itu benar, Al," tambah Resi. "Mah, mamah itu perempuan sama seperti Lisa. Apa mamah gak mikirin perasaan Lisa. Kalau mamah di posisi Lisa apa mamah mau suami mamah menikah lagi? Mamah mau seandainya papah mau beristri lagi, ha?" Resi terdiam. "Pah, apa papah tega menghianati mamah jika papah di posisi aku?" Arya melihat ke istrinya. Dan ia cuma bisa diam. Al melarikan pandangannya pada Manda. "Dan kamu Manda, kamu itu wanita pintar, cantik, kaya, dan masa depan kamu cerah. Apa kamu gak bodoh jika milih jadi istri kedua aku, dan bahkan aku gak akan menganggap kamu sebagai istri aku." "Gapapa," jawab Manda. "Aku udah punya segalanya. Jadi apalagi yang aku cari. Aku hanya ingin di samping orang yang aku cintai, yaitu kamu," lanjut wanita itu. Arya dan Resi tersenyum. "Kamu dengar Al?" tanya Arya. "Kalian memang benar-benar gila!" Al berdiri dan menatap kedua orang tuanya. "Kalian terlalu egois! Aku masih bisa menerima jika aku tidak punya anak! Tapi kalian yang terlalu egois sampai memojokkan aku untuk menikahi wanita lain!” Al kesal. Ia melenggang pergi, namun langkahnya terhenti ketika Arya mengatakan sesuatu. Pria itu berdiri. “Kalau kamu gak mau ya udah! Jangan anggap kami lagi keluarga!" Ancam Arya. Al mengepal. Ia menoleh memandangi sang ayah dengan tatapan sinis lalu pergi tanpa sepatah katapun. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD