“Pah, jadi kapan Al dan Manda menikah?” tanya Resi pada suaminya yang sedang menyederkan punggung di kepala ranjang sambil membaca koran.
“Secepatnya,” jawab Arya.
“Secepatnya itu kapan?”
“Pokoknya dalam waktu dekat. Setelah Al memberitahu Lisa dan wanita itu menyetujuinya dan setelah itu Al dan Manda menikah.”
“Jika Lisa tidak setuju gimana?”
“Terserah. Al dan Manda akan tetap menikah.”
Resi tersenyum senang. Manda memang menantu yang ia idam-idamkan sejak lama. Tidak seperti Lisa yang statusnya yatim piatu dan miskin. Sejak awal ia memang terpaksa merestui Al menikahi wanita itu.
“Tapi Pah, apa Al akan benar-benar menikahi Manda? Gimana kalau dia hanya membohongi kita?”
“Tidak mungkin. Dia pasti akan melakukan apa yang aku perintahkan!”
“Benar juga kata Papah. Kita orang tuanya, tidak mungkin dia lebih memilih wanita mandul itu.”
“Iya. Jadi mamah gak usah khawatir." Arya mengusap kepala istrinya. "Al pasti akan menikah dengan Manda.”
Resi menyandarkan kepalanya di pundak sang suami. "Iya, Pah." Ia tersenyum.
***
Al selesai berpakaian. Ia naik ke atas ranjang_berbaring dan melingkarkan tangannya di tubuh istrinya yang berbaring membelakanginya.
“Sayang, kamu udah tidur?”
Lisa berbalik menghadap Aldevaro. Ia melempar senyum. "Belum."
“Aku kira kamu udah tidur.” Al membelai rambut sang istri.
"Mas..."
"Iya Sayang, kenapa?"
Lisa memasang wajah sedih. "Kapan ya Mas, kita bisa punya anak?"
"Kamu yang sabar ya." Al mengusap kepala Lisa.
“Kenapa ya, Tuhan belum juga mengizinkan aku untuk hamil? Padahal kita udah menikah 4 tahun. Kita juga udah cek semuanya dan dokter bilang aku dan kamu sehat-sehat aja. Tapi kenapa aku belum bisa hamil juga? Apa jangan-jangan aku memang gak bisa hamil.”
“Sayang, kamu gak boleh ngomong kaya gitu. Aku gapapa kok kalau gak punya anak. Terpenting di samping aku ada kamu. Memiliki kamu udah membuat aku bahagia. Jadi gak punya anak pun gak apa-apa,” ucap Al menghibur istrinya. Ia tidak mau istrinya itu sedih walaupun sebenarnya ia sangat ingin menjadi seorang ayah. Akan tetapi ia tidak ingin menuntut istrinya agar cepat hamil karena sang istri pasti terbebani dan bersedih.
Lisa menghela napas panjang. “Tapi aku ingin memberi kamu keturunan, Mas. Aku iri banget sama Rara yang baru aja nikah 2 bulan lalu tapi dia udah hamil. Sedangkan aku udah nikah 4 tahun sama kamu tapi gak hamil-hamil.”
“Sayang, gak boleh iri. Tuhan udah punya rencana untuk kita. Mungkin Tuhan sengaja belum mengkarunia kita anak supaya kita bisa mesra-mesraan terus berdua. Kaya pengantin baru dan nanti kalau udah waktu yang tepat baru Tuhan kasih kita momongan," ucap Al menghibur sang istri yang sedang sedih itu.
“Tapi… mamah dan papah menginginkan aku segera hamil. Kasihan mereka yang belum dikasih cucu sama kita. Kamu kan, anak tunggal. Mereka pasti sangat mengharapkan cucu dari kamu, Mas."
“Ya udah, kita program bayi tabung aja.”
Lisa menggeleng.
“Kenapa?”
“Kamu kan, tau Mas. Program bayi tabung itu biayanya besar. Mamah kamu pasti gak setuju. Dan lagi belum tentu berhasil. Kalau gagal mamah akan sangat marah sama aku. Aku gak mau mamah semakin benci aku, Mas,” jelas Lisa.
"Kita adopsi aja," usul Al.
Lisa menggeleng lagi. "Aku maunya darah daging kamu, Mas. Darah daging kita berdua."
Al tersenyum lalu memeluk istrinya. “Suatu saat nanti aku yakin kamu pasti akan mengandung anak aku. Gak usah sedih ya, sekarang kita berusaha aja agar usaha kita membuahkan hasil.”
Al melepaskan pelukannya dan menatap dalam wanita yang di depan wajahnya itu. "Mau usaha malam ini?" tanyanya sambil senyum lebar dan menaikan satu alis tebalnya.
Lisa cemberut.
"Katanya mau punya anak."
"Tapi aku capek banget Mas, hari ini. Aku lagi gak mood juga."
Aldevaro menghembuskan napasnya. "Tadi katanya pengen cepat punya anak. Tapi pas diajak malah gak mau," sindirnya.
"Kamu gak marah, kan?"
"Dikit."
"Jangan marah ya."
Al cemberut. "Mas, jangan marah..."
Al memunggungi Lisa. "Aku tidur aja deh."
"Mas..." Lisa berusaha membuat Al menghadapnya lagi. "Mas..., Mas Al... jangan ngambek dong..."
Akhirnya Al kembali menghadap istrinya itu.
Lisa tersenyum. "Ya udah, aku mau. Tapi jangan marah lagi."
“Beneran ya mau.”
“Iyaa aku mau.”
“YES!”
Al jadi bersemangat. Ia mendudukkan dirinya dan cepat membuka bajunya. Ia menatap mata Lisa, perlahan ia memajukan kepalanya.
“Aku mau mencium kamu.” Al meneguk salivanya. “Apakah boleh?”
Lisa memukul d**a suaminya. “Kita sudah menikah bertahun-tahun, apakah harus minta izin lagi?”
Al tertawa. Kemudian tangannya menelusup masuk di lekukan leher Lisa. Perlahan ia memajukan wajahnya. Mereka saling menutup mata. Ketika bibir Al sudah mendarat di bibir mungil Lisa, tiba-tiba ada pula yang mengetuk pintu kamar mereka.
Al dan Lisa membuka mata mereka kembali.
"Siapa sih, ganggu aja," gerutu Al yang merasa kesal karena terganggu dengan tamu yang tidak diundang itu.
"Cek dulu gih," pinta Lisa.
"Ah males, kita lanjut aja."
Ia kembali ingin mencium Lisa tapi istrinya itu malah mendorong wajahnya.
"Cek dulu, Mas. Mungkin mamah atau papah. Siapa tau penting."
“Kita lanjut aja, udah nanggung nih.”
“Mas…”
Al menghela napas. "Ya udah iya."
Al turun dari ranjang dan beranjak menuju pintu tanpa memakai bajunya. Ia tetap bertelanjang d**a dengan celana pendek selutut. Al membuka pintu kamar dan ternyata orang yang mengganggunya itu Manda. Melihat wajah Manda ia cepat menutup pintu kembali sebelum Lisa melihat wajah wanita itu.
"Siapa Mas?" tanya Lisa.
"Mamah," jawab Al berbohong. "Aku ngobrol bentar dulu sama mamah ya."
Lisa mengangguk.
Al segera keluar kamar dan menutup pintu dengan rapat. Ia segera menarik tangan Manda dan membawa wanita itu menjauh dari kamarnya.
"Mau apa kamu?" tanya Al setelah mereka berada di lantai 2, posisinya tidak jauh dari kamar wanita itu.
Manda salfok melihat tubuh Aldevaro yang bertelanjang d**a. Tubuh pria tampan itu sangat seksi dan menggodanya. Ia meneguk salivanya.
Al menyadari Manda memperhatikan tubuhnya. "Kenapa, tergoda melihat tubuhku?" tanyanya pada wanita itu.
"Habis ngapain kamu, Al?"
"Bukan urusan kamu!"
Manda ingin menyentuh d**a Al tapi pria itu cepat menepis tangan wanita itu.
"Kenapa Al, bukannya aku juga udah pernah menikmati tubuh kamu. Bahkan aku lebih dulu daripada istri kamu. Kamu masih ingat kan, kejadiannya?”
"Diam kamu!"
Manda tersenyum. "Kamu pasti masih ingat. Kamu adalah laki-laki pertama yang menyentuh aku. Waktu itu kita masih sangat muda, kamu mengajak aku nonton film dewasa dan kita mencobanya. Aku masih sangat ingat muka polos kamu waktu itu. Sangat lucu, apalagi ketika melihat wajah ketakutan kamu ketika aku bilang aku gak datang bulan. Kamu sangat panik dan mengira aku hamil. Lucunya lagi kamu mengatakan kamu siap bertanggung jawab dan akan menikahi aku. Betapa sangat cintanya kamu sama aku saat itu."
Al mengepal tangannya. “Gak usah mengungkit masa lalu! Aku juga menyesal mengenal kamu! Sekarang kamu mau apa, hah!? Mau menghancurkan aku lagi?”
"Calm down. Aku gak cari ribut. Aku nemuin kamu cuma ingin tanya satu hal kok. Kapan kamu akan bilang ke Lisa jika kamu akan menikahi aku?"
"Terserah aku mau bilangnya kapan!"
"Jangan terlalu lama ya, nanti aku sendiri yang akan mengatakannya pada dia. Kamu gak mau kan, jika itu sampai terjadi."
"Awas aja kalau kamu sampai berani melakukannya!" Al muak dengan wanita itu. Ia pun beranjak pergi.
“Tunggu!”
Al berhenti melangkah.
“Apapun yeng terjadi, bagaimana pun sikap kamu sekarang ke aku. Aku gak akan pernah nyerah, aku akan terus bertahan sampai kamu kembali mencintai aku. Itu janji aku dan tebusan atas rasa bersalah aku ke kamu,” ujar Manda.
"Terserah,” balas Al lalu ia melenggang pergi.
***
“Perkenalkan, aku Manda.”
Pagi ini Lisa bertemu langsung dengan Manda di meja makan. Wanita itu mengulurkan tangannya memperkenalkan diri kepada Lisa.
Lisa menjabat tangan wanita itu dan tersenyum ramah. “Aku Lisa. Istri Aldevaro.” Ia memperjelas.
Manda tersenyum begitu juga dengan Lisa. “Jadi ini istrinya Al,” ujar Manda dalam hati. “Dia wanita yang cantik.”
Lisa melepaskan jabatannya. Ia melihat Manda melirik suaminya. Ia merasakan perasaan yang aneh. Tidak tahu kenapa ia merasa cemburu dengan wanita itu dan takut jika wanita itu menyukai suaminya.
“Hari ini hari yang spesial. Jadi sebagai perayaan kita sarapan pagi bersama,” ucap Resi.
“Lisa, saya harap kamu memperlakukan Manda dengan baik. Dia tamu spesial di rumah ini,” tambah pasangan dari Arya itu.
“Iya, Mah,” balas Lisa.
“Tunggu apa lagi, ayo kita makan,” ajak Arya.
Mereka semua makan dengan lahap kecuali Lisa. Diam-diam Lisa memperhatikan Manda yang terus memandangi suaminya itu. Wanita itu bahkan melempar senyuman manis pada Al, membuatnya termakan api cemburu. Namun ia cukup tenang karena suaminya tidak memperdulikan wanita itu. Sang suami malah terus meliriknya bukan membalas lirikan Manda.
Selesai sarapan Lisa membantu Bi Surti membereskan piring kotor. Sedangkan yang lainnya asik mengobrol di meja makan. Sambil mencuci piring Lisa memerhatikan Manda yang lagi-lagi cari perhatian pada suaminya. Bahkan wanita itu sengaja pindah tempat duduk di samping suaminya. Ia merasa kesal dengan wanita itu. Namun ia cuma bisa kesal dalam diam.
Al beranjak dari kursinya. “Mah, Pah, aku pamit berangkat kerja.”
Arya dan Resi mengangguk.
Al menghampiri Lisa. Memeluk wanita itu dan memberi kecupan di kening Lisa. “Sayang, aku berangkat. Kamu baik-baik ya, di rumah. Kalau ada apa-apa langsung kasih tau aku.”
Lisa mengangguk.
“Dia sangat beruntung,” ucap Manda dalam hati sembari melihat Al yang memperlakukan Lisa dengan sangat istimewa. Ia merasa cemburu.
“Aku pergi dulu,” pamit Al pada istrinya.
“Hati-hati.” Lisa melempar senyuman manis.
Al mengangguk.
Ketika Al melangkah pergi, Manda beranjak pergi menyusul pria itu.
“Al, tunggu,” tahan Manda ketika ia berhasil menyusul Al di teras rumah.
Al berbalik menghadap Manda. Sialnya wanita itu seketika memeluk dirinya.
“Hati-hati ya,” ucap Manda dengan suara khas lembutnya.
Al langsung mendorong wanita itu.
“Al, kamu apa-apaan sih,” kesal Manda.
“Kamu yang apa-apaan!”
“Gak usah kasar bisa, kan. Aku ini calon istri kamu.”
Al langsung menutup mulut Manda. “Jangan katakan itu!”
Manda melepaskan tangan Al yang membekap mulutnya. “Kenapa? Takut ketahuan Lisa? Mau sampai kapan kamu merahasikan soal perjodohan kita? Bentar lagi kita juga akan menikah. Lisa juga akan segera tau, kan. Jadi untuk apa ditutup-tutupi.”
Al memilih bungkam dan pergi. Ia malas jika terus beradu mulut dengan Manda.
Manda menghela napas panjang. “Aku harus lebih banyak sabar kayanya.” Ia melenggang masuk ke dalam rumah. Ia kembali ke meja makan dan di sana ia dapati Lisa yang duduk sendirian. Kebetulan sekali. Ia hampiri wanita itu dan duduk di hadapannya.
Ia melempar senyuman manis. “Lisa, apa kamu mau menemani aku berbelanja? Ada yang ingin aku beli. Pertama pakaian karena aku akan sangat lama berada di rumah ini.”
"Berada lama di sini?" Ucap Lisa membatin.
"Kamu bisa kan, temani aku?" tanya Manda lagi.
“Iya boleh,” jawab Lisa.
Manda tersenyum kembali. “Kamu serius?”
Lisa mengangguk.
“Kayanya kita bisa jadi teman dekat deh.”
"Tapi kenapa aku malah ingin yang sebaliknya," ucap Lisa dalam hati.
“Kamu mau kan, kalau kita jadi teman?”
“Iyaa,” jawab Lisa singkat.
“Dia bersikap dingin, apa karena dia membenci kehadiran aku?” Manda membatin.
“Ya udah, kita bisa pergi sekarang,” ajak Manda antusias. Ia tidak peduli dengan sikap Lisa yang dingin itu. Ia ingin dekat dengan wanita itu dan ingin tahu apa yang menyebabkan Al jatuh cinta kepadanya. Adakah yang spesial dari wanita itu? Ia penasaran.
“Aku siap-siap dulu.”
Manda mengangguk.
Lisa yang belum make-up pun segera ke lantai tiga, ke kamarnya. Ia berhias diri agar terlihat lebih cantik. Ia tidak mau kalah saing dengan wanita itu.
***
“Lisa, maaf sebelumnya. Aku gak maksud apa-apa. Aku cuma mau tanya aja, kalau boleh tau kenapa kamu dan Al belum memutuskan untuk punya anak?” tanya Manda seraya menyetir mobil milik ayah Aldevaro yang ia pinjam untuk berpegian bersama Lisa.
“Apa karena kamu takut tubuh kamu berubah? Soalnya ada teman aku yang juga gak memutuskan punya anak karena mereka sayang sama tubuh mereka. Ya gapapa sih menurut aku, soalnya di zaman sekarang gak punya anak itu ya gak masalah. Atau karena kamu belum siap aja dan menunggu waktu yang tepat?” tanya Manda yang hati-hati dalam bicara karena ia takut nanti Lisa salah paham padanya.
Lisa tidak menanggapi wanita itu. Ia hanya membisu.
“Maaf, kalau pertanyaan aku lancang. Gak perlu kamu jawab juga kok. A-a-aku… aku cuma mau ngobrol aja sama kamu sebenarnya. Tapi bingung mau ngobrolin apa, jadi… jadi aku gak sengaja nanya hal kaya tadi. Maaf ya, Lisa.”
Lisa tersenyum tipis sambil menghela napas. “Bukanya aku belum siap punya anak atau takut tubuh aku berubah. Tapi memang Tuhan belum ngizinin aku dan Al punya anak. Aku dan Al udah berusaha. Tapi sampai sekarang gak ada hasil. Tapi kami gapapa jika masih berdua. Jadi kamu gak usah merasa bersalah. Aku gapapa kok, santai aja,” jelasnya.
“Sekali lagi aku minta maaf. Semoga kalian segera memiliki momongan.”
Tidak mengaminkan. Lisa hanya diam.
“Nanti aku akan traktir kamu makan siang,” ucap Manda yang ingin menebus rasa bersalahnya pada Lisa.
“Kamu mau makan apa?” tanyanya.
Lisa tidak memberikan jawaban, hanya diam dengan wajah murung.
“Dia pasti marah. Astaga Manda, lagi-lagi kamu buat masalah. Harusnya kamu menjadi temannya bukan malah musuhnya.” Lisa berdebat dengan dirinya dipikirannya.
***
Tiba di pusat perbelanjaan. Tiba-tiba Manda menggandeng tangan Lisa. Membuat wanita itu cukup kaget apalagi Manda melempar senyuman yang begitu sangat manis.
“Kenapa dengan wanita ini?” tanya Lisa dalam hati. “Apa dia sebenarnya… gak, itu hanya ada di film. Gak mungkin aku menemukan wanita seperti itu di dunia nyata.”
“Ayo,” ajak Manda. Ia menarik Lisa bersamanya. Namun gandengan tangan mereka lepas karena Lisa melepaskan genggamannya.
“Aku bisa jalan sendiri,” ucap Lisa.
Manda meraih tangan Lisa lagi. “Ayo sama-sama. Kita kan, teman.”
“Teman?”
Manda mengangguk. “Ayo.”
Mereka berjalan kembali dengan bergandengan tangan seperti dua saudara perempuan yang saling menyayangi.
“Lisa, menurut kamu ini bagus gak?” tanya Manda sambil menunjukkan baju yang ia taksir.
Lisa terdiam sejenak. Sedang berdebat dengan pikirannya. Ia heran karena Manda sangat memperlakukannya dengan baik. Seolah mereka seperti teman baik.
“Lisa, bagus gak?” tanya Manda lagi.
“Iya bagus.”
“Kamu mau juga gak? Ukuran baju kamu apa? Kita beli gembaran.”
“Gak usah. Baju aku banyak di rumah.”
Manda tertawa. “Baju aku juga banyak di rumah. Tapi yang modelan kaya gini kamu pasti belum punya juga, kan?”
“Iya juga sih,” jawab Lisa dalam hati.
“Mau ya?” tanya Manda lagi.
Lisa menggeleng.
“Ya udah, aku aja kalau gitu.” Manda tidak mau memaksa Lisa, takutnya wanita itu tambah marah padanya.
Manda beranjak ke kasir.
Lisa menghela napas panjang. "Apa dia tertarik denganku bukan dengan suamiku?" Ia menggelengkan kepalanya. “Apa yang sedang kau pikirkan Lisa. Sangat tidak masuk akal.” Ia segera menyusul Manda.
Beberapa jam di mall akhirnya Manda selesai berbelanja. Ia pun mengajak Lisa untuk makan siang sesuai yang ia janjikan pada wanita itu.
Mereka ke restoran. Sambil makan Manda bercerita begitu banyak tentang Aldevaro sampai membuat Lisa risih. Walaupun kerisihan wanita itu tidak ia perlihatkan pada Manda.
“Lisa, apa kamu tau kalau aku…” Wajah Manda tiba-tiba sangat serius memandangi Lisa.
“Apa?"
Ekspresi Manda seketika berubah. Kembali santai dan manis. “Bukan apa-apa.”
“Apa yang sebenarnya ingin wanita ini katakan?” tanya Lisa dalam hati. Ia jadi penasaran.
“Lisa, kamu pasti senang banget ya punya suami seperti, Al. Dia tampan, baik, pintar, perhatian, dan sangat bertanggung jawab. Kamu pasti sangat bahagia bisa punya suami sesempurna Al.”
“Iya, aku sangat bahagia punya dia.”
“Aku jadi iri deh sama kamu.”
“Kamu juga akan mendapatkan pria yang baik nanti.”
“Tentu, tapi… apa mungkin ada pria yang sama persis seperti Al? Kalau gak ada gimana?”
"Ya udah, kamu gak usah menikah aja."
Manda terdiam.
“Aku cuma bercanda.”
Manda tersenyum. “Aku sangat ingat menikah, Lis. Aku ingin punya suami yang baik, anak yang banyak, dan bahagia sampai tua.”
“Semoga tercapai,” ucap Lisa.
Manda memajukan kepalanya agar lebih dekat dengan Lisa. “Lisa.”
“Apa?”
“Aku mau tanya satu hal sama kamu. Seandainya Al menikahi lagi, apa kamu tidak keberatan?”
Pertanyaan wanita itu membuat Lisa jadi kepikiran. Apa ia siap jika hal itu benar-benar terjadi?
“Lisa, jangan melamun.”
“Ah, enggak kok.”
“Jadi tanggapan kamu gimana?”
“Soal apa?”
“Yang aku tanyakan barusan.”
“Aku gak tau.”
Manda memundurkan kepalanya. “Kok gak tau?”
Lisa mengangkat pandangannya menatap Manda. “Kalau kamu punya suami, apa kamu rela dipoligami?” Ia balik bertanya.
Pertanyaa itu membuat Manda jadi teringat pada ibunya yang menikah dengan seorang pria yang sudah beristri. “Gapapa,” jawabnya.
Jawaban Manda membuat Lisa terkejut. “Kamu rela dipoligami?”
Manda mengukir senyum. “Iya, aku rela. Selagi suami aku bisa bersikap adil dan dia bahagia, aku gak masalah. Bagaimana dengan kamu?”
Lisa menunduk. “Aku tidak tau. Aku harap Al tidak melakukannya.”
Manda menunduk mendengar kalimat terakhir Lisa.
***