Pengorbanan Cinta?

841 Words
Subuh pagi ini, begitu Syahdu. Aku terbuai dalam mimpi Indah,tertidur pulas dalam pelukan sesosok lelaki tanggung dan kekar. Lelaki pertama dalam hatiku, Cinta pertamaku. Bunyi pesan masuk di Handphone Indra, memaksaku untuk membuka mata. "Aa, Dea pengen ketemu aa Indra hari ini" "Harus hari ini aa, ayah Dea marah besar" "Aa Indra gak bisa menghindar terus dari Dea, Dea hamil aa an...... " Aku tak sanggup lagi membaca isi pesan di BBM Indra. Air mata tanpa terasa sudah membasahi pipiku. Aku bergegas membersihkan diri, menyambar baju dan tas, lalu aku berlalu pergi. Diluar, sedang hujan rintik-rintik. Rasanya seperti hujan juga ikut menghiburku, dengan menutupi jejak air mataku. Ya, hujan dan air mata adalah teman paling sempurna. Saat kamu ingin menangis ditempat umum, lakukanlah pada saat sedang hujan. Tak ada orang yang akan tau, apa yang sedang terjadi padamu. Aku terus saja berjalan,menerobos cuaca dingin. Air mataku, jauh lebih deras alirannya jika dibandingkan dengan butiran air hujan. Aku Terluka. Aku patah. Aku hancur. "Tuhaaaaan, akan seperti apa nasibku kedepan? Jawab aku Tuhaaaannn....! " Aku menjerit sekencang-kencangnya, diantara gemuruh petir di angkasa. Aku terkulai lemas, berlutut,dan terus meratapi diriku sendiri. Aku tak tau lagi, aku harus kemana, mengadu dan berkeluh kesah tentang deritaku. Aku bahkan sudah melangkah terlalu jauh, bersama Indra. Terlalu terlena sehingga tak menyadari jika hal-hal kecil seperti ini bisa terjadi kapan saja. ************* Seseorang menyentuh pundakku, memelukku hangat kemudian membantuku berdiri dan memapahku untuk masuk dan duduk didalam mobilnya. Indra menatapku lembut. Menangkup wajahku, dan mencium keningku. Indra pasti sudah paham, keadaan hatiku. Dia terus saja menggenggam tanganku dengan tangan kirinya, sambil fokus mengemudikan mobilnya menuju tempat tinggalku. Waktu masih menunjukan Pukul 6 pagi. Sari menyambut kedatangan kami dengan tatapan penuh amarah. "Kamu apain Lia sih Indra? Kamu bener-bener gak sayang sama Lia. Kuliahnya jadi berantakan belakangan ini, semua Karena kamu" Sari terus saja ngomel, mengeluarkan uneg-uneg yang ada didalam hatinya. Aku melepaskan tangan Indra dan mendorong tubuhnya menjauh. "Pergilah, tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan" Aku berbalik dan akan melangkah meninggalkan Indra, tetapi Indra menarik kencang tanganku dan kemudian memeluk erat tubuhku. "Aa cinta sama Lia. Jangan tinggalkan Aa dalam keadaan seperti ini. Aa butuh Lia ada disamping Aa, untuk menyelesaikan masalah ini bersama" Aku muak mendengar perkataan Indra. Plaaaakkk....!! Refleks, aku menampar keras pipi Indra. "Berani berbuat, kamu harus bertanggung jawab. Jangan mau seenak perutmu saja. Perempuan, habis manisnya kau ambil, kemudian dia kau buang. Aku, Lia Himawan, aku tidak akan menuntut apapun dari kamu Indra." "Jika dikemudian hari aku juga mengalami seperti Dea, aku hamil anakmu, kamu tenang saja, aku tidak akan meminta tanggung jawab kamu" entah kekuatan dari mana yang aku dapat, aku begitu percaya diri melepaskan Indra. Indra masih ingin berbicara padaku, tapi aku sudah berlalu. Berjalan cepat menuju ke kamarku, untuk menenangkan diri. Sari membantuku mengganti bajuku, dan mengeringkan rambutku. Air mataku masih saja mengalir deras, mengalahkan lebatnya air hujan diluar sana. Dini membawakan aku segelas s**u hangat. "Trima kasih banyak Din" Dini tersenyum dan kemudian membelai pundakku. "Kamu istirahat dulu. Kita akan kuliah pagi jam 9. Nanti kami bangunkan jam 8 yah?" Dini mencoba menetralisir keadaan,biar aku lupa dengan luka yang baru saja terjadi. "Indra menghamili Dea, Anak Ekonomi. Dea minta Indra untuk tanggung jawab, karena ayah Dea sudah tau Dea Hamil" aku terbata-bata, bercerita pada kedua sahabatku. Sari kaget, sampai-sampai gelas kopinya lepas dari tangannya. "Kamu gak hamil juga kan Lia?" "Ndak mungkin Lia hamil Sari, Lia ndak mau ambil resiko itu saat ini. Iya kan Lia?" Dini berusaha meyakinkan diri. "Gak Din,Sar, aku gak hamil. Indra bisa mengatur agar saat sedang bercinta, spermanya tidak keluar didalam sini" aku tersipu malu saat bercerita. "Enak sih memang Li, saat sedang bersama pacar kita, apalagi bercinta semalam suntuk. Aku membayangkan kamu dan Indra saja, bikin aku horni pagi-pagi" Dini menggodaku. Aku tersenyum. Untung ada dua mahluk cantik ini, yang sudah tamat dengan yang namanya penghianatan dan luka akibat Cinta. Aku bisa bercerita tanpa malu-malu pada Mereka. Terlalu banyak air mata, membuatku kelelahan dan tertidur. Dalam tidurku pun, aku masih menangis. Sekalinya jatuh cinta, mampu menarik dan menghempaskan jiwaku kedalam jurang terjal yang kelam dan dingin. Aku terpuruk. Haruskah aku tetap menjaga hati dan cintaku untuk Indra semata? Rasanya seperti hati ini sedang diremas-remas hingga remuk, hancur berkeping-keping. Aku tak bisa terus begini. Aku harus bangkit, dan menatap lagi masa depanku. Hidup ini hanya sekali, jika saat ini aku terpuruk, aku harus bisa bangkit lagi. Aku bahkan tidak bisa membedakan, apakah ini karena salahku atau kah Indra memang sengaja ingin mengambil keuntungan dari tubuhku. Aku tak bisa membedakan antara Cinta dan nafsunya Indra. Dan sekarang, aku dikhianati,Terluka dan hancur. Tapi, didalam lubuk hatiku yang paling dalam, aku tau jika hatiku dan tubuhku, masih milik Indra semata. Aku akan menjaga hatiku agar tidak diisi lelaki lain. Aku akan tetap ada disisi Indra, saat dia butuh bantuanku. Bahkan jika dia memintaku untuk bercinta suatu saat nanti, aku akan melayaninya karena tubuhku sudah jadi milik Indra seorang. Aku akan mencintai Indra dengan caraku, walau pada akhirnya aku tau, mungkin Indra bukan untukku. Aku akan berkorban untuknya. *********
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD