Udara dingin kota ini membuat raga enggan beranjak. Selimut tebal masih menyelimuti. Sayup-sayup terdengar suara Adzan dari Mesjid.
"Ndok, ayo bangun. Kita Solat subuh bareng" terdengar suara ayah memanggilku. Aku seperti Dejavu, kembali ke masa kecil dulu, dimana setiap Subuh, ayah akan sangat sabar membangunkan kami bertiga, aku,Mas
Yoga dan Mas David. Dan seperti biasa, aku adalah yang paling malas. Itu dulu. Sekarang aku adalah wanita matang yang sudah kenyang pengalaman. Segera aku beranjak. Udara dingin tak boleh menghalangiku menjalani ibadahku.
Berjalan kaki menuju Mesjid Desa adalah healing tersendiri buat diriku. Bayangkan, kabut masih membungkus alam, angin dingin bertiup kencang, berjalan diantara tanaman hortikultura yang tertata rapi, ditemani alunan merdu suara Adzan dari Mesjid, serasa begitu dekat dengan sang Pencipta. Sepintas, aku melihat Rara dan Intan, teman sesama peserta Praktek Kerja Lapangan. Mereka berdua tinggal di rumah warga yang berbeda. Aku diijinkan untuk tinggal dirumah orang tuaku, dan ini juga disebabkan campur tangan pak Danu.
Sholat subuh berjalan dengan khusyuk, dalam keheningan alam raya, dibalut udara dingin disertai angin semilir. Air mata masih menjadi kawan. Sudah dua Minggu, tetap saja aku masih suka terbawa suasana jika menyangkut hubungan spiritual dengan sang pencipta. Warga sudah mulai beranjak, meninggalkan Mesjid, aku pun bergegas merapikan Sajadah.
'Haii Lia, sarapan bareng yuk?" Mbak Rara sudah berdiri menungguku.
"Hayuk mbak. Sarapan dirumah Lia aja yah mbak. Ibu biasanya sudah masak yang hangat-hangat' aku menawarkan sarapan bersama.
"Trima kasih Lia. Tapi mbak bawa bekalnya. Tadi sudah sempat dimasakin ibu asuh."
"Kalau begitu Lia minta dibekalin ibu aja. Kita sarapannya di Perkebunan aja gimana mbak?"
"Lia, boleh numpang seduh kopi yah dirumah Lia? Tadi mbak buru-buru soalnya" pinta mbak Rara.
"Siap mbak. Beres kalo kopi mah" aku segera bergegas kembali ke rumah.
Bekal sudah disiapkan ibu, Termos berisi kopi 3in1 lengkap dengan gelas kertas sekali pakai, cukup untuk 10 orang sepertinya. Tak lupa aku memeluk ibu kemudian pamit berangkat Kerja lagi. Aku segera bergegas menuju titik pertemuan dengan rekan-rekan kerjaku.
Ditengah perkebunan Tembakau terdapat saung milik pekerja yang boleh kami gunakan sebagai base camp. Kami masing-masing sudah mulai berkutat dengan Lembar Kerja. Waktu berjalan sangat cepat disaat kami berburu data.
Tak terasa sudah waktunya makan siang. Saat lagi membersihkan diri, ketua regu kami, Mas Bayu,mengabari bahwa akan ada team pengawas yang akan mengunjungi kami sore hari nanti. Kami segera kembali ke Home base di Kantor Pengawas perkebunan guna menyiapkan beberapa data temuan dan hasil pengamatan kami. Tepat pukul 15.00 wib, team pengawas tiba. Mereka terdiri dari 4 orang pegawai senior yang ditugaskan menilai kesiapan dan perkembangan kami selama Praktek di Lapangan.
"Perkenalkan, saya Derry, saya saat ini bertugas memeriksa kesiapan kalian untuk ujian mendatang. Kami akan melakukan sesi wawancara dengan kalian, satu per satu, besok pagi."
Disanalah awal mula aku mengenal sosok lelaki yang bernama Derry, yang akan mengisi berlembar-lembar kisah penuh drama, penuh dosa dan penuh air mata dalam hidupku.
***********
Pengecekan kesiapan kami, akan mulai dilaksanakan. Tepat pukul 09.00 WIB, sesi wawancara dimulai. Peserta pertama, Mas Bayu, sang ketua regu. Mulus tanpa kendala. Satu persatu peserta dipanggil, sampai tiba giliranku.
"Nathalia Himawan. Biasa dipanggil Lia. Tinggi badan 167cm. Berat Badan 55kg. Kamu cocoknya jadi model" Pak Derry memulai sesi wawancara.
"Saya pak" aku menjawab dengan senyum alami. Tidak dipaksakan.
"Ok Lia. Kita mulai dengan persiapan kamu. Makalah yang kamu tulis, sudah kami baca. Tidak ada yang perlu diperbaiki. Cuma , berhubung kamu orang keuangan, akan lebih baik kamu membahas soal untung dan rugi yang ada di kawasan perkebunan sini. Kamu bisa meminta data catatan produksi, harga penjualan Komoditas mentah, komoditas siap export dan juga Catatan Neraca akhir tahun harus kamu lihat. Apakah usaha yang dilakukan oleh Petani binaan cukup untuk memenuhi permintaan Bahan Baku dari Bagian produksi Selama 5 tahun terakhir. Gimana Lia? Kamu bisa menganalisanya? Jika bisa, saya akan memberikan poin plus buat kamu." Rasanya penjelasan pak Derry, seperti seorang guru yang sedang membuka wawasan berpikir anak didiknya. Aku bahkan tak bisa menjawab tentang makalah yang sudah aku susun. Ok. Masih tersisa 2 Minggu lagi sebelum Presentasi dihadapan Direksi Area Jawa Tengah dan jajaran pimpinan lainnya. Aku akan melakukan tepat seperti yang dijabarkan Pak Derry.
"Trima kasih banyak pak Derry. Ini sangat membuka wawasan saya. Makalah akan saya lakukan perbaikan dalam waktu satu Minggu ke depan. Jika berkenan, saya akan mengirimkan Draft nya ke email pak Derry. Apakah boleh saya melakukannya pak?" tatapan pak Derry sangat lembut padaku. Senyum manisnya tak pernah hilang dari wajah ganteng itu. Hatiku, jangan engkau goyah saat ini. Aku merutuki diriku sendiri.
"Silahkan Lia. Ini kartu nama saya" Aku berdiri dan berjalan ke arah pak Derry, menjulurkan tangan ingin menerima kartu namanya. Alhasil, Pak Derry menjabat tanganku lembut.
"Kita belum berkenalan. Saya Derry. Derry Nugroho" Katanya yakin sambil menjabat erat tanganku.
"Namaku Lia Pak"
"Perbaiki makalah kamu, Yakinkan dirimu bahwa kamu bisa lulus dengan nilai terbaik. Yakinkan Jajaran direksi bahwa kamu pantas ada dalam Platform ini".
Pak Derry menjabat erat tanganku,telapak tangan kirinya menepuk telapak tangan kananku yang sedang dijabat erat olehnya. Ada gelanyar aneh disana, tapi aku menepisnya dengan segera.
"Trima kasih banyak Pak Derry. Aku sangat menghargai ini". Perlahan aku melepas genggaman tangan pak Derry kemudian aku permisi keluar dari ruangan.
Aku tidak mau berprasangka buruk. Aku bahkan belum mengenal pak Derry Nugroho dengan baik. Seutas senyum aku sematkan diwajahku, menunjukan bahwa duniaku masih baik-baik saja.
********************
Hari menjelang sore. Lembayung senja sudah menunjukan diri di ufuk barat. Sunset diatas perkebunan Tembakau, ditemani secangkir kopi hangat, dinikmati bersama teman-teman terbaik, adalah salah satu nikmat Allah yang harus selalu kita syukuri. Alam terlalu indah untuk dilewatkan. Setelah diskusi panjang, saling memberikan nasihat dan support sesama rekan kerja, disinilah kami berakhir. Menikmati secangkir kopi diujung senja.
"Lagi pada ngapain ini? Boleh bergabung?" Pak Derry menghampiri kami.
"Silahkan pak Derry. Dengan senang hati. Silahkan bergabung pak." Mas Bayu menyambut kedatangan pak Derry. Kami memberikan ruang duduk agar pak Derry juga bisa menikmati sunset ini bersama.
"Pak Derry mau minum kopi?" Mbak Rara menawarkan kopi hangat dan Beliau menerima dengan gembira.
"Waaah, baru tau saya kalo sunset diatas perkebunan tembakau ini indah juga. Trima kasih yaa guys kalian sudah menunjukan ini pada saya." Pak Derry benar-benar jujur soal perasaannya. Dalam keadaan santai begini, beliau bisa berbaur laksana teman.
"Sunset di perkebunan Tembakau ini salah satu yang terindah di Temanggung. Ada juga perkebunan teh yang letaknya sekitar 5KM dari sini pak" kami semua terlibat percakapan santai.
"Oh Ya? waah, saya mesti sering-sering berkunjung ke Temanggung nih kalo alamnya seindah ini. Rasanya sedang liburan, bukan sedang bekerja" Pandangan mata pak Derry tertuju pada sunset yang sedang berwarna jingga.
"Lia tau banyak daerah sini?"
"Saya asli Temanggung pak Derry" jawabku dengan lantang. Ada rasa bangga karena mereka semua menyukai alam Temangung.
"Asli sini? Rumah kamu disini Lia?" pak Derry seperti tidak percaya padaku.
"Iya pak Derry. Rumah orang tua mbak Lia disini. Kami sering numpang makan dirumah Lia pak, hehehehe.." Mas Bayu bercerita.
"Waah, pantesan kamu tau banyak daerah sini Lia. Hasil wawancara kami dengan penduduk lokal juga mereka pada mengenal kalian semua. Terutama Lia, sangat dikenal disini. Semoga team kalian akan jadi team terkuat nanti" Pak Derry bahkan tak bisa menyembunyikan rasa bangganya pada team kami.
"Siap. Trima kasih supportnya pak!" Mas Bayu lebih banyak berbaur dengan pak Derry.
Senja semakin tenggelam. Burung-burung kecil sudah mulai bergerak kembali ke sarangnya, tanda waktu Magrib akan segera tiba.
'Kita Sholat bersama di Mushola dekat kantor boleh?"
"Oh boleh banget pak. Ayok, sudah mau Magrib" Mas Bayu segera memberi kode pada kami untuk bergabung dengan pak Derry menunaikan ibadah Sholat Magrib berjamaah.
Saat Sholat berlangsung, tatapanku tak bisa aku alihkan dari gagahnya seorang Derry Nugroho yang sedang menjadi Imam saat ini, sedangkan aku adalah Makmumnya. Tidak hanya aku sebenarnya, tetapi ragaku mengabaikan kehadiran orang lain. Dosakah aku mengagumi dirinya,walaupun hanya dalam hati saja? Tak ada yang tau akan takdir dan garis hidup yang sudah dituliskan Allah buat setiap hambaNya.
**************