Sudah Tiga bulan berlalu, Training Dasar Leadership yang sedang aku ikuti, akan segera memasuki tahap akhir, Praktek Lapangan selama kurang lebih satu bulan dilanjutkan dengan Ujian Akhir.
Kami sedang mengikuti pengarahan akhir sebelum pengumuman Penempatan Lokasi Praktek lapangan diumumkan.
"Sebagai pegangan kalian selama di lokasi Praktek Lapangan, kalian tetap akan mendapatkan gaji bulanan, fasilitas transportasi juga disediakan dan akomodasi yang memadai. Semua disediakan oleh perusahaan,kalian hanya harus fokus belajar dan mempersiapkan diri untuk menjadi Leader dan kalian harus Lulus pada seleksi akhir. Manfaatkan kesempatan selama satu bulan kedepan untuk aplikasi ilmu yang sudah kalian pelajari. Satu lagi, kalian akan menjadi Leader, Junior Manager. Saat bekerja nantinya kalian akan memiliki beberapa anak buah atau Sub Ordinat yang menjadi tanggung jawab kalian sebagai Leader. Pelajari juga penerapan Budaya Karyawan yang tercipta di tempat kalian praktek nanti. Bagaimana menghandle Sub Ordinat yang malas, yang Nakal, Penerapan sistem pemberian Reward and punishment, karena ini biasanya akan menjadi Hot Topik saat ujian Lisan. Pergunakan kesempatan ini untuk benar-benar mematangkan pola pikir kalian sebagai Leader. Ok, cukup sekian, trima kasih semua, sampai bertemu kembali satu bulan kedepan" Mas Daniel mengakhiri arahannya.
"Selamat Siaaaang mas Daniel" gemuruh suara peserta Training membalas ucapan salam fasilitator bernama Daniel.
Kami kembali menunggu pengumuman lokasi penempatan kami untuk pelaksanaan Praktek Lapangan.
"Selamat siang, apakah ada yang bernama Nathalia Himawan?" Seseorang pria muda dengan seragam Safari hitam, berperawakan tegap sedang berbicara depan pintu ruangan kelas.
"Saya mas. Saya Nathalia Himawan"
"Silahkan ikut saya mbak Lia." Aku terlihat agak ragu untuk melangkah. Beberapa rekan sejawat melihatku dengan tatapan bingung.
"Mas, maaf kalau boleh tau ada apa yah mas?" aku berjalan mendekati si mas berseragam safari tersebut.
"Saya Ajudannya pak Danu mbak Lia. Beliau menunggu mbak Lia di ruangan di lantai 15." Sedikit lega karena hal ini tidak terkait kerjaan.
"Mas, maaf, boleh tau nama mas?"
"Oh saya Arief mbak"
"Gini mas Arief, saya ijin dulu sebentar ke bagian Training yah? Takutnya nanti mereka berpikir saya tidak disiplin".
"Silahkan mbak Lia. Saya tunggu didepan pintu keluar saja" aku mengangguk ramah pada mas Arief.
Sebelum saya menyampaikan niat untuk meminta ijin pada mas Daniel, Mbak Lestari, kepala divisi Training sudah melambaikan tangan padaku.
"Lia, silahkan langsung ke atas saja. Ditunggu Pak Direktur diatas. Beliau sudah meminta ijin sebelumnya untuk bertemu kamu tadi" mbak Tari berdiri dan kemudian mengantar aku menuju ke Lift dimana Mas Arief sedang berdiri menungguku.
"Mbak Tari, Trima kasih. Lia mohon ijin sebentar bertemu Pak Danu"
"Lama juga gak papa Lia, wong pak Danu koq yang menentukan semua nasib kami disini. Mana bisa saya membantah" Senyum manis tersungging di wajah mbak Lestari. Aku menangkap itu adalah senyum tulus, tidak dibuat-buat. Semoga mbak Tari tidak salah pengertian.
*********
Pintu Lift lantai 15 terbuka. Woow. Aku terkesima. Kesan mewah terpancar jelas disana. Padahal ini masih lorong jalan dari pintu lift menuju ke ruang tunggu. Kembali aku dibuat terkesima dengan kemewahan yang terpampang nyata di ruang tunggu Lantai 15. Lantai 15 memang dikhususkan untuk Direktur Operasional perusahaan. Setiap Direktur memiliki Lantai terpisah untuk memudahkan mereka bekerja dengan para Asisten dan Staf ahlinya. Mataku tak henti terbelalak dan bibirku tak henti mengucapkan kata wow.
Terdengar bunyi langkah kaki, ditandai dengan bunyi khas sepatu high heels beradu dengan lantai. Seorang wanita cantik dengan potongan body bak model tersenyum padaku.
"Halo mbak Lia, saya Tania. Saya sekertaris pak Danu. Mbak Lia silahkan ikut saya. Ibu sudah menunggu mbak Lia" suaranya merdu sekali, berbicara dengan lembut dan teratur dengan artikulasi sangat jelas. Tapi tunggu, dia bilang ibu??
"Maaf mbak Tania, Ibu yang dimaksud ini ibu Rastanty?"
"Iya mbak Lia. Ibu sudah menunggu"
mbak Tania tersenyum lebar.
Syukurlah, yang ingin bertemu adalah tante Rastanty sehingga saya tidak perlu terlalu sungkan dan gugup jika bertemu Om Danu. Bagaimanapun, beliau Atasanku sekarang. Dan beliau termasuk dalam jajaran orang penting yang harus aku hormati.
"Halo Liaaa, lama tidak bertemu" kehangatan yang selalu mendamaikan hati sudah identik dengan Tante Rastanty. Aku menjulurkan tanganku,menjabat tangan Tante Rastanty dan tidak lupa, Salim yang sudah menjadi kebiasaanku. Tante Rastanty meraih pundakku dan memelukku erat.
"Koq gak pernah main ke rumah si nak? Tante kesepian dirumah. Om sibuk terus, Lidya masih stay di Bandung, Nak Lia juga sudah sibuuuk. Kapan bisa nginap dirumah?"
"Tante, Lia minta maaf belum sempat main ke rumah. Jadwal Lia padat bener. Tante jangan marah yaah" Aku memeluk erat lengan wanita cantik di depanku.
Sebenarnya aku sengaja menghindar, mengingat posisi Om Danu dan juga aku yang masih karyawan baru yang sedang dalam masa pendidikan.
"Tante, Lia besok berangkat. Belum tau kemana sih penempatannya. Prakteknya selama sebulan"
"Lia gak minta ke Om untuk lokasi penempatannya mau dimana?"
"Gak Tante. Lebih baik tidak. Lia berusaha menjaga suasana kerja tetap fair. Lia khawatir teman-teman Lia akan berpikir yang tidak-tidak Tante"
"Kamu memang anak baik Lia. Anak yang sangat spesial buat Tante dan Om. Tidak salah kamu kami anggap anak. Semoga suatu saat nanti, saat Tante dan Om sudah gak ada didunia ini lagi, Lia dan Lydia tetap akan menjadi saudara dan saling menyayangi. Amin Ya Robbal Alamin"
"Amin ya Rabbal alamin" aku mengaminkan doa dan harapan Tante Rastanty.
Kami berdua masih ngobrol dengan asik ketika om Danu keluar dari ruang kerjanya.
"Haloo Lia, hebat kamu nak. Nilai kamu luar biasa semua. Diatas rata-rata. Selamat yaa Lia"
"Siap pak Direktur. Trima kasih"
"Loh loh, koq pak Direktur?"
"Lia mohon maaf om. Lia tidak nyaman kalau harus memanggil dengan sebutan Om di lingkungan kantor. Mohon ijin, Lia tetap akan tetap memanggil dengan sebutan Pak Direktur" aku menundukkan kepalaku dan memberi tanda hormat.
"Tidak salah saya merekomendasikan kamu untuk masuk ke perusahaan ini. Semoga semakin banyak karyawan dengan akhlak baik, etitude baik dan juga berhati tulus seperti kamu nak"
"Amin. Trima kasih banyak pak Dir"
Setelah ngobrol cukup lama, aku mohon pamit karena masih ada pembagian wilayah untuk Praktek kerja.
"Lia, Tante tidak sempat menyiapkan oleh-oleh untuk bekal kamu di lokasi Praktek nanti, Tante sudah siapkan sedikit bekal buat kamu gunakan membeli semua keperluan kamu disana nanti" Tante Rastanty memberikan sebuah amplok coklat yang cukup tebal menurutku. Antara bingung dan takut, aku tak bisa menolak pemberian beliau.
"Nak Lia, Tolong jangan ditolak yah. Ini antara seorang ibu dan anaknya" Om Danu menepuk pundak kiriku, seakan menegaskan bahwa ini memang sudah kami siapkan buat anak kami.
"Trima kasih banyak Tante. Trima kasih banyak Pak Dir. Akan Lia gunakan untuk keperluan Lia selama sebulan nanti "
"Oh iya, Lokasi Praktek kamu sudah ada. Silahkan langsung dilihat di papan pengumuman. Semoga kamu Happy dengan lokasi tujuan kamu nanti. Om Permisi dulu yah. Hati-hati di jalan, salam buat ibu dan ayah nanti yah". Om Danu menjabat tanganku dengan sangat erat.
"Kamu memang anak yang luar biasa Lia. Semoga karier kamu akan baik di perusahaan ini."
"Trima kasih banyak Pak Dir"
Aku kemudian pamit pada Tante Rastanty. Saat berjalan keluar, aku melangkah dengan tergesa-gesa karena penasaran dengan tempat Kemana akan kutuju. Lift rasanya sangat lambat bergerak. Setelah Sampai ke lantai tujuan, aku berjalan dengan terburu-buru menuju papan pengumuman.
Temanggung.
Temanggung? Aku pulang kampung?
"Yeeeeeaaaiiiiii" tanpa sadar aku berlompat dan berteriak kegirangan. Aku akan pulang untuk waktu sebulan ini. Lokasi Praktekku ada di Temanggung, artinya, aku akan berada disisi ibu dan ayah selama sebulan.
Pantas saja tadi pak Danu menitipkan salam buat ayah dan ibu. Beliau sudah tau kemana saya akan ditempatkan. Atau, ini ada campur tangan beliau juga?
Ah sudahlah, aku tak ingin berpikir. Aku hanya ingin Pulang. Aku ingin mengadu pada ibu, tentang beratnya perjuangan anakmu ini bu.
-------------------