RAFKA membawa mobil menuju kediaman Dhara dan Marya. Seusai sholat subuh tadi, Marya memintanya untuk mengantarkan Aeril bersama. Bukan main senang hatinya saat ini. Tidak biasanya Marya yang meminta, biasanya juga selalu dilarang. Sampai saja dia rumah Dhara, Rafka keluar dari mobil dengan senyum yang sedari tadi sulit untuk di kontrol. Tombol bel ditekan. “Siapa yang datang pagi-pagi begini?” tanya Dhara. Mereka baru selesai sarapan. “Om Rafka dong.” Aeril sudah kegirangan, “Mommy, biar Ril yang buka pintu.” Ujarnya. Dia turun dari kursi dan berlari ke arah ruang utama. Marya menatap punggung Aeril yang menjauh. Dia menghela napas berat sambil menoleh pada Dhara. “Maafkan aku, Ra.” Ujarnya perlahan. Dhara mengerutkan dahi, “Meminta maaf untuk apa? kamu gila, tidak ada hujan tidak a

