HARIS dan Aeril duduk di bangku taman. Setelah kejadian tadi, Haris langsung membawa Aeril ke mobilnya untuk mengambil kotak emargancy. Setelahnya dia membawa Aeril ke bangku taman yang ada di situ. Agar lebih leluasa untuk mengoleskan obat. Tatapan Aeril tidak lepas dari memandang wajah Haris. Pria itu sekarang sedang membersihkan luka yang ada di sikunya. Wajah Haris tidak luput dia perhatikan setiap incinya, Aeril tersenyum. “Apa ini sakit?” tanya Haris dengan keningnya berkerut-kerut sendiri melihat luka Aeril. Sekarang dia mau mengoleskan obat merah. Senyap. Tidak ada jawaban dari Aeril, karena bocah itu masih asyik memandang wajah Haris. Tangan Haris berhenti, dia menoleh pada sosok comel yang mendongak memandangnya. Haris tersenyum. “Aku tahu aku tampan. Jangan menatap ku seper

