ADZAN subuh mulai bergema. Rafka perlahan membuka mata ketika suara panggilan itu menyeruak di gendang telinganya. Mata dan wajahnya di usap agar bisa di buka lebih lebar. Dia tersenyum ketika membuka mata, wajah Aeril yang pertama dia lihat. “Baru Aeril. Belum dapat Mommy nya.” Gumam Rafka sambil tersenyum sendiri. Semoga cepat dia dapatkan hati wanita itu sepenuhnya. Tangan kekarnya naik mengusap wajah Aeril yang masih lena tidur. Dia mencium ubun-ubun bocah itu perlahan. Demi Allah, sungguh dia sayang pada Aeril. Apapun yang terjadi, dia sanggup pasang badan paling terdepan untuk menjaga bocah ini. Rafka menekan tombol lampu di meja kecil. Mulailah ruangan yang tadi remang menjadi sedikit lebih terang. “Ril, bangun sayang. Sudah subuh, yuk kita sholat bareng.” Ujar Rafka sambil men

