Bab 28. Kesempatan Dari Fathur

1327 Words
Happy reading Typo koreksi **** 'Gue nggak butuh harta, gue cuma butuh keberadaan kalian itu nyata' ... Fathur Artha Putra ... **** "Thank you, Siska." "Sama-sama, thank juga elo udah mau ngobrol bareng gue. Maaf gue jadi bikin keributan tadi sama cewek elo. Kalau gitu gue balik duluan ya." Pamit perempuan bernama Siska tadi kepada Fathur. Pemuda itu mengangguk mengiyakan. Sekali lagi, Fathur meneguk habis minuman berakoholnya. Ia menoleh ke arah lain, ketika merasa masih ada sosok yang membuat kegadhan beberapa saat lalu. Wajah takut Fanny terlihat jelas olehnya, gadis itu berdiri dengan kepala tertunduk dalam. "Kenapa elo jadi pendiam sekarang? Kemana sikap bar-bar elo tadi, bikin malu aja." Seru Fathur ketus. Fanny mendongak hingga pandangannya bertemu dengan pemuda tampan itu. Fanny melangkah sekali untuk mendekat ke sisi Fathur. "Maaf. Aku terlalu terbawa emosi." Ucapnya penuh sesal. "Elo sok mengancam gue tentang Sia, dan barusan elo main jambak rambut orang seenaknya. Maksud elo apa ngelakuin hal itu semua. Gue nggak pernah minta elo bersikap kaya gitu. Kita juga cuma ketemu semalam doang dan elo bertingkah seolah-olah elo pacar gue." Sinis Fathur membuat gadis itu memilin jemarinya gugup, mendadak Fanny kehilangan keberaniannya. "Gue tanya sekali lagi. Maksud elo apa bersikap kaya tadi, Fanny?" Ulang Fathur kali ini jauh lebih tenang. Sebenarnya, ia masih marah atas tindakan memalukan yang di buat Fanny kepada Siska tadi. Tapi, salah satu cara membuat cewek-cewek di sekitarnya menurut kepadanua hanya dengan bersikap baik. Karena itu, Fathur berusaha menahan amarahnya saat ini. "Maaf Fathur, aku ... aku--" gagapnya takut-takut. "Elo kenapa?" "Aku suka sama kamu Fathur. Dan aku mau kamu jadi pacar aku." Hah. Kedua bola sempat membeliak kaget beberapa detik, sebelum ia melihat Fanny dari ujung kepala sampai kaki. Gadis itu kini memakai dress merah maroon di atas lutut dengan sedikit make up. Fathur akui, Fanny gadis yang cantik. "Tapi, elo tau kalau gue udah punya pacar kan." Mengangguk mengerti, Fanny menatap Fathur penuh harap. Tidak masalah baginya jika harus menjadi yang kedua. Asalkan Fathur bisa membagi waktu bersamanya. "Aku tau. Dan aku nggak akan mempermasalahkan itu." Sahutnya. "Yakin? Gue nggak bisa belain elo kalau ada Sia di dekat kita nanti. Karena prioritas nomor satu gue tetap Sia sampai kapanpun." Ujar Fathur sedikit membuat hati Fanny tersentil. "Aku yakin, tapi aku mohon kasih aku kesempatan buat jadi pacar kamu. Aku berjanji akan bersikap baik bahkan sama Sia." Pemuda tampan itu menaikkan siku sebelah tangannya dan ia letakkan di atas meja bar, pemuda itu tampak berpikir keras dengan kembali meneguk gelas terakhirnya hingga tandas. "Elo janji nggak akan bikin gue kesal. Perlu elo ingat. Gue nggak suka sama cewek yang nggak penurut. Gue nggak suka di bantah pengecualian hanya berlaku buat Sia. Gue paling nggak suka di ancam. Gue paling nggak suka terima chat spam nggak jelas yang bikin memori hp gue penuh. Gue nggak suka cewek yang suka merengek kaya anak kecil." Fathur menjedanya sesaat memandang gadis di depannya lekat. "Apa elo nggak keberatan sama semuanya?" Ucapnya bertanya. "Iya." Fanny manggut-manggut mantap tanpa berpikir lagi. Fathur tersenyum geli dalam hatinya. Sedangkan Fanny berpikir tidak apa. Asal dia bisa berada di sekitar Fathur dan hanya menunggu waktu Fanny yakin bisa membalikkan keadaan mereka. Cukup membuat Fathur ketergantungan dengannya, Fanny pun yakin bisa menyingkir Sia dari prioritas pemuda itu dan hanya ada dirinya seorang yang menjadi milik pemuda itu. "Oke, gue kasih elo kesempatan. Asal elo nggak bikin gue kesal kaya tadi. Jangan pernah bersikap nggak sopan apalagi sama Sia. Gue nggak suka ada yang jelek-jelekin Sia di hadapan gue langsung mau pun di belakang gue. Elo mengerti kan?" "Iya, aku paham. Apa ... apa sekarang aku sudah jadi pacar kamu?" Tanyanya malu-malu bersemu. Pemuda itu balas menganggukkan kepalanya. "Gue kasih elo kesempatan buat kali ini. Jadi ... coba ke sini." Pinta Fathur melambaikan jemari telunjuknya meminta Fanny mendekat ke arahnya. Grep Dengan sekali hentak tangan Fathur menyentak pinggang gadis itu hingga berdiri tepat di antara kedua kakinya. Fathur tersenyum menawan membuat Fanny harus menahan napas saking terkejut atas tindakan pemuda tampan itu. "Fathur." Cicit Fanny di balas suara kekehan merdu milik Fathur yang merasa lucu dengan respons gadis cantik di hadapnnya sekarang. Sebelah tangan Fathur terangkat membelai pipi gadis itu lembut. "Kalau elo jadi cewek gue. Elo harus selalu terbiasa dengan sikap gue yang ini. Bahkan gue...." Ia menjeda lalu mendekatnya mulutnya ke sisi telinga Fanny lalu berbisik. "Bahkan gue bisa minta lebih dari ini. Elo ngerti kan." Lanjutnya bernada serak. Blush Wajah Fanny semakin merah padam, mengangguk kaku. Kedua tangannya terkepal kuat di sisi tubuhnya karena salah tingkah. Gadis itu bahkan menundukkan kepala tidak berani menatap kedua mata Fathur saat ini yang terlalu mempesona. "Ayo, pulang. Gue antar elo pulang. Sebagai pacar yang baik, gue harus antar elo meskipun posisi elo cuma nomor dua." Ucap Fathur bernada santai lalu pemuda sedikit menjauhkan tubuh gadis itu lagi hingga dirinya bisa segera berdiri dari duduknya. Fanny tidak marah ketika Fathur mengatakan nomor dua kepadanya. Ia balas tersenyum tipis, dengan hati berbunga-bunga. Kini, ia memiliki tingakatan status hubungan dengan pemuda itu. Dan Fanny tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang sudah Fathur berikan kepadanya untuk menjadi pacar kedua pemuda itu. Aku pasti jadi nomor satu buat kamu, Fathur. **** Ctek "Kenapa baru pulang? Kamu kemana aja Fathur?" Fathur yang baru membuka pintu terlonjak kaget melihat sosok ibunya yang baru saja menyalakan saklar lampu. Beruntung ia tidak mabuk malam ini. Fathur pun memilih diam, mengabaikan keberadaan ibunya di ruang tengah pada dini hari. "Fathur. Mama tanya kamu, Nak. Apa kamu nggak bisa jawab pertanyaan Mama dulu." Seru Adinda sang mama berusaha menahan intonasi suaranya agar tidak membangunkan suaminya yang tengah tidur. "Kenapa aku harus jawab Mama." "Fathur, kamu habis minum-minum Nak." Celetuknya kala tersadar mencium sisa bau alkohol dari putranya. "Cuma dikit." Balas Fathur santai. "Astaga, Nak. Kenapa kamu minum-minum. Kalau papa kamu tahu dia pasti bisa ngamuk. Fathur bisa tidak kamu nggak buat masalah di rumah ini. Kamu harus menurut sama Mama dan papa, Nak." Fathur mendesis mendengar ucapan ibunya. "Mama sama papa memangnya udah bisa jadi orangtua yang baik selama ini. Apa kalian tahu apa aja kesukaan aku, juga hal yang nggak aku suka selama 18 tahun ini? Aku yakin jawaban cuma satu NGGAK. IYA KAN?" sentak Fathur geram. Mata Adinda terbelalak mendengar hal itu dari putranya. "Kamu tahu Mama dan papa sibuk juga buat siapa? Bahkan uang yang selama ini kamu pakai itu hasil jerih payah kerja kami Fathur. Mama dan papa bekerja keras demi kasih kamu kecukupan tanpa kekurangan apapun." Seru Adinda membalas tidak suka atas tindakan tidak sopan putranya. "Wah hebat." Puji Fathur mengejek. "Terima kasih banyak karena Mama repot-repot harus cari uang buat memenuhi kebutuhan aku di rumah ini. Tapi, sayangnya aku nggak butuh itu semua. Tanpa uang kalian aku bisa hidup dan makan. Bahkan kalau dengan nyawa aku sendiri bisa buat aku dapat uang buat beli makanan. Aku lebih rela kasih nyawa aku daripada harus hidup dari uang Mama dan papa yang bikin tenggorokkan aku sakit." Lanjut pemuda itu tenang dengan sorot mata dingin. "Fathur. Jaga bicara kamu, Nak. Kamu nggak sadar sedang bicara sama siapa hah." Adinda pun semakin terpancing emosi.  Kekehan Fathur terdengar membahana mengisi ruang tengah di rumahnya tersebut. "Hahaha ... lucu banget. Kalau aku nggak sadar sama sekali, orang yang lagi berdiri di hadapan aku ini ternyata memang ibu kandung aku. Ma, jangan bilang diri Mama sebagai ibu kalau Mama sendiri nggak pernah kasih aku kasih sayang dan perhatian nyata seorang ibu. Ya, aku amat berterima kasih sudah di lahirkan. Tapi kehadiran aku bukan buat kalian abaikan dengan kesibukan kalian mengejar harta." Fathur menghela napas gusar. "Maaf Fathur ngantuk, selamat malam Ma." Adinda terpaku, wanita paruh baya itu hanya bisa diam menatap punggung putranya yang mulai menjauh dan hilang di balik pintu kamar. Di balik bilik, Bi Asi melihat dan mendengar dengan jelas perdebatan majikan dan anak majikannya tersebut. Bi Asi terlihat sedih dan iba, melihat bagaimana anggota keluarga di rumah ini tidak pernah akur satu sama lain. Ya Tuhan, pasti Aden merasa tertekan banget sekarang. **** Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD