Bab 13. Si Cewek Club

1001 Words
Happy reading Typo koreksi *** 'Gue emang nakal, tapi gue mau tetap terlihat baik di mata cewek yang gue sayang' ... Fathur Artha Putra ... *** Jam pelajaran kembali berlangsung, di dalam kelasnya Fanny melirik ke arah punggung belakang gadis bernama Fersia dari tempat duduknya yang berbeda barisan. Kekasih Fathur itu duduk berdua dengan seorang siswi, namun tampak keduanya tidak ada percakapan sama sekali. "Kamu lihatin apa?" Pertanyaan dari teman sebangku Fanny menyentak gadis itu sehingga ia pun menoleh kikuk. "Ah, aku nggak lihatin apa-apa kok." Siswi bernama Hani yang duduk dengannya itu melirik ke arah dimana Fanny tadi melihat. "Kamu masih penasaran sama Sia ya?" Tanyanya tepat sasaran, Fanny menggeleng kaku dengan tawa ringan. "Nggak kok, biasa aja." balas Fanny santai. Hani pun membalas, "Cuma mau kasih saran aja, lebih baik kamu nggak perlu deh berurusan sama Sia. Apalagi Sia itu kan pacarnya Fathur. Kalau macam-macam pasti kita yang kena imbas." "Kenapa begitu?" Keponya jadi penasaran. "Hmm ... gimana ya. Mungkin karena Fathur suka banget kali ya sama si Sia. Jadi kalau ada yang cari gara-gara pasti langsung habis sama tuh cowok." Papar Hani asal menebak. Fanny manggut-manggut, sejenak menatap punggung gadis itu lagi sebelum akhirnya ia mencoba kembali fokus ke arah papan tulis di depannya mendengarkan penjelasan sang guru. Kenapa Fathur bisa suka banget sama itu cewek ya. Tanyanya dalam hati. Di tempat lain berbeda kelas, Fathur dkk duduk dengan riuh saat guru yang harusnya mengajar di kelas mereka tidak masuk mengajar. Tegar menepuk bahu pemuda di sebelahnya lalu berkata. "Tol, cewek di kantin itu, cewek yang ada di club waktu itu kan?" Pertanyaan itu membuat Fathur menoleh ke arahnya. Flashback on. Fathur berjalan ke arah teman-temannya setelah pamit kepada gadisnya itu saat di kantin. Wajah kagetnya tidak bisa di tutupi, bahkan saat ia sudah duduk ke tiga sahabatnya langsung menatap pemuda tampan itu heran. "Kenapa lu, Tol?" Tanya langsung Tegar yang memiliki jiwa kepo setengah mampus tersebut. "...." yang di tanya tidak menjawab, justru hanya menyugar rambutnya kasar. Plak "Oii, ada apaan sih? Itu cewek siapa?" Hah Fathur terlonjak kala Tegar yang kesal menabok punggung belakangnya cukup kuat. Pemuda itu akhirnya menatap para sahabatnya satu-satu. Belum sempat ia berucap, seorang gadis yang membuatnya kaget itu menghampiri meja mereka dan menyapa sahabat-sahabatnya dengan nada akrab. "Hai, kalian semua apa kabar?" Kini semua pasang mata tertuju pada adegan di meja milik Fathur dkk. Bagaimana dengan Fersia, kekasih pemuda tampan itu hanya diam di kursi dan bahkan ia langsung keluar usai menghabiskan makanannya tanpa peduli. Hal itu membuat Fathur menggeram sebal. "Oh, hai juga. Maaf elo siapa ya?" Tegar bertanya. Gadis cantik yang berdiri di sisi meja Fathur menjulurkan tangannya dengan senyum manis tercetak merekah. "Aku Fanny." "Fanny." Cicit mereka semua kecuali Fathur tentunya. "Fanny saha ya?" Tanya Tegar lagi. Brak. Suara kursi di dorong ke belakang membuat mereka melihat ke arah sumber suara. Fathur sudah berdiri, dan langsung melengos setelah pamit kepada para sahabatnya cepat. "Sorry, guys. Gue mau ke Sia dulu. Biasa masih kangen nih." Tuturnya sengaja menekankan kalimat kangen saat Fanny masih memandangnya dengan dahi mengkerut. Belum sempat di balas oleh mereka, pemuda itu sudah keluar area kantin meninggalkan bisikan heboh anak-anak SMA PELITA. "Dih, si t*i kabur duluan terus dia." Decak Tegar. Flashback off. "Hmm." Gumam Fathur menjawab pelan. "WOW! HAHAHA MAMPUS DAH LO." Suara heboh pemuda itu membuat mereka menjadi tontonan di kelas. Bugh Fathur memukul tangan Tegar yang kini tergelak kesal. "Berisik, Njing." Umpat Fathur melotot marah. "Cewek di club kapan?" J yang lupa ikut menyuarakan pertanyaannya. Tegar duduk miring ke arah sahabatnya itu, lalu berbisik pelan. "Cewek yang di bawa Fathur keluar pas malam menang balap kemarin. Itu loh, cewek yang pakai baju ketat waktu itu." J tampak berpikir sejenak, sebelum melihat wajah kusam Fathur. "Oh, cewek itu. Terus kenapa muka elo sekarang jadi kaya benang kusut? Ada kejadian yang nggak kita tahu kan? Yakin gue." J menyimpulkan sendiri. Melihat wajah tidak biasa Fathur tentu saja dia hapal betul, jika ada yang terjadi antara sahabatnya itu dengan cewek bernama Fanny tadi. "Gue nggak mau Sia tahu soal Fanny." Ucap Fathur pelan nyaris tidak terdengar. "Lah kenapa? Kan dia cuma cewek yang kebetulan lewat aja, Tur? Bukan cewek-cewek ONS elo juga." Fathur menggeleng pelan. "Gue udah pernah tidur sama tuh cewek." 1 2 3 4 Jeda beberapa detik membuat suasana di dua meja kelas tiba-tiba menjadi hening. Tegar membulatkan matanya terkejut, cukup kaget. Karena Fathur biasanya ONS hanya dengan cewek-cewek beda sekolah dengan mereka atau perempuan di atas umur mereka. Pemuda itu sekarang pasti tidak mau Sia memutuskannya jika nanti ada masalah gara-gara ONS yang ia lakukan di dalam kehidupan bebas mereka selama ini. "Parah, gila, edan emang elo, Tol." Seru Tegar menggeleng heran. "Gue takut si Fanny itu bilang yang nggak-nggak sama Sia." "Ya, elo ngomong aja coba sama tuh cewek. Ancam aja dulu, siapa tahu dia takut kan?" Tegar mencoba memberi nasihat. Akmal dan J manggut-manggut setuju. "Katanya dia satu kelas juga kan sama cewek lo." Selak Akmal memberitahu hal yang ia tahu tentang cewek di kantin tadi menambah kekusutan di mimik wajah sahabatnya. "Huh, bangke emang." Gerutu Fathur resah. Pemuda itu hanya khawatir Sia tahu kalau dia sering tidur sama cewek-cewek nakal di luaran sana. Yang Sia tahu dia hanya balapan liar saja, bukan ONS. "Perlu kita yang turun tangan nggak, buat peringatin tuh cewek." Fathur langsung menggeleng cepat. "Nggak, biar gue aja." Ujarnya di balas anggukan mengerti para sahabatnya. "Tenang aja Bro, tuh cewek nggak akan berani bocorin pernah itu sama elo kok. Yakin deh." Ucap Tegar menyemangati pemuda di sebelahnya seraya menepuk bahu Fathur pelan. Fathur berdehem, dalam otaknya ia tengah memikirkan cara agar bisa membuat Fanny tutup mulut soal kejadian malam itu. Apalagi itu terjadi karena dia hanya membantu si cewek dari pengaruh obat perangsang. Gue harus cepat-cepat bikin tuh cewek bungkam. Tidak peduli, apapun caranya Fathur hanya berharap Sia tetap berada di sisinya meski Fathur sebenarnya sadar jika dirinya bukanlah pemuda baik-baik untuk gadisnya itu. Aku cuma nggak mau semakin jelek terlihat di mata kamu, Sia. **** Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD