Happy reading
Typo koreksi
***
'Terlalu berharap bisa menyakitkan'
... Fersia Raxenta ...
***
Murid-murid SMA PELITA mulai berbondong-bondong keluar dari kelas mereka menuju gerbang untuk pulang. Jam sekolah sudah berakhir dan mereka bisa segera mengistirahatkan tubuh dan otak setelah selesai belajar. Begitu pula dengan Fersia. Gadis itu berjalan di koridor santai, di belakangnya ada Fanny yang juga baru keluar kelas bersama Hani teman sebangkunya.
"Kamu langsung pulang, Fan?" Tanya Hani kepada murid baru di kelas mereka.
"Hmm, rencananya. Memangnya kenapa, Han?" Baliknya bertanya pelan.
"Tadinya aku mau ajak kamu gabung sama anak-anak yang lain. Kita mau nongkrong di kafe dekat sekolah sebentar."
"Oh, begitu. Maaf ya, lain kali aku ikut gabung. Hari ini aku sudah janji sama orangtua aku buat pulang cepat." Ujarnya memberi alasan.
Hani mendengar itu manggut-manggut mengerti.
"Oke. Sans aja. Kalau begitu aku duluan ya, takut teman-temanku nungguin."
Fanny mengangguk mengiyakan, siswi bernama Hani tadi berjalan lebih dulu kala tidak jauh dari tempat mereka sudah ada beberapa siswi berbeda kelas yang menunggu.
Pandangan Fanny teralihkan ke arah Fersia yang berjalan menuju gerbang, tidak ke arah parkiran seperti hari terakhir ia melihat gadis itu bersama dengan Fathur.
"Kenapa dia nggak ke area parkir?" Bisiknya bertanya seorang diri.
Fanny melihat beberapa motor yang masih berjejer. Motor milik Fathur masih ada di sana, tapi Fersia tidak menghampirinya.
"Apa sekarang Fathur nggak pulang bareng cewek itu ya." Gumamnya pelan.
Tak lama selang beberapa detik saja, Fanny melihat segerombolan anak laki-laki keluar dari area belakang parkiran motor sekolah mereka. Salah satunya adalah Fathur, pemuda itu berjalan dengan senyum menawan yang membuat hatinya semakin terpikat.
Fanny bergegas menghampiri Fathur kala pemuda itu sudah hampir sampai di dekat motornya.
"Fathur." Panggilnya membuat pemuda itu menoleh.
Anak laki-laki yang lain melihat ke arahnya. Fanny tidak mempedulikan mereka, tatapannya hanya tertuju pada pemuda tampan di depannya.
"Oh, elo. Ada apa?"
"Aku boleh minta nomor telepon kamu. Waktu itu kita belum sempat tukeran nomor handphone." Ujar gadis cantik itu.
Cie cie.
Suara riuh teman-teman Fathur membuat pemuda itu menoleh dan mendelik sebal.
"Boleh." Dengan cepat Fanny memberikan ponselnya kepada Fathur.
"Wah, gercep amat Tur."
"Hahaha, bagi-bagi lah Tur. Jangan semua cewek cantik elo embat."
"Kalah ganteng kita guys."
Ejekan kembali terdengar, wajah Fanny merona malu. Sedangakan Fathur sudah mendengkus mendengar ucapan teman-teman nongkrongnya.
"Makasih ya, kalau begitu aku pulang duluan. Oh iya, tadi aku lihat Fersia ke depan gerbang. Kamu nggak bareng sama dia?" Fanny akhirnya bertanya penasaran.
"Hmm, gue ada acara sama mereka." Tunjuk Fathur ke arah segerombolan anak laki-laki yang sudah duduk di motor mereka masing-masing.
Fanny mengangguk mengerti.
"Oke, Bye Fathur." Fathur balas berdehem pelan membiarkan gadis itu pergi setelahnya.
"Gila, anjir! Makin banyak aja cewek cantiknya Mas?" Goda salah satu teman sekolahnya itu.
"Elo kaya nggak tahu pesona si Tol aja."
"Berisik kalian semua. Yuk cabut."
Mereka semua tergelak dan terkekeh mendengar nada kesal Fathur karena diejek oleh mereka.
Menaiki motornya, Fathur segera meninggalkan area sekolah yang mulai sepi bersama beberapa pengendara motor lainnya.
Ya. Hari ini Fathurlah yang tidak bisa mengantar Fersia karena janji penting dengan teman-temannya.
Di lain tempat, sebuah taksi melaju membelah jalan raya menjelang senja. Di dalam duduk seorang gadis yang sejak tadi memeriksa ponselnya dengan perasaan tidak tenang. Membaca pesan yang di terimanya sebelum pulang sekolah tadi.
08527××××
Kafe Pure
(Read)
Fersia Raxenta, gadis remaja yang berusaha menutupi dirinya itu kini terlihat sangat gugup. Bahkan, keringat dingin sudah membasahi jemari-jemarinya. Degupan jantungnya berdetak sangat cepat, seharusnya ini tidak ia alami tapi naluri sebagai seseorang yang menunggu lama mungkin itu sesuatu yang wajar.
Apa kali ini kita akan bertemu.
Fersia tidak tahu apa yang ia harapkan akan sesuai keinginannya, jika semua informasi yang di dapatnya ternyata bohong. Mungkin dirinya hanya perlu kembali berpura-pura terlihat baik-baik saja.
Tak berapa lama mobil taksi yang ia tumpangi pun berhenti. Sia mengeratkan kardigan putih yang di pakainya saat melangkah masuk ke kafe di hadapannya. Napasnya tampak berusaha untuk beraturan untuk menutupi ke gugupannya. Ia duduk di salah satu meja dengan harap-harap cemas. Sia takut tidak bertemu dengan sosok yang membuat dirinya penasaran.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Lima belas menit kemudian, barulah pintu kafe terbuka lagi. Langit berwarna jingga di luar ruangan menjadi background untuk gadis itu saat terpaku menatap siapa yang muncul. Tubuhnya mendadak menegang, aliran darahnya seolah berhenti mengalir saat tahu semua harapan tinggi yang ia pikirkan selama ini ternyata salah.
"Sia."
Suara itu.
Suara yang sudah 3 tahun terakhir tidak ia dengar kini ada di hadapannya memandang dengan senyum menawan milik orang itu.
"Apa kamu hanya mau seperti ini menyambutku?" Sia masih diam, kehadiran sosok di depannya ternyata bukanlah yang ia inginkan.
Mengapa harus lelaki ini.
Mengapa harus sepupunya yang ternyata membiayai kehidupannya selama 3 tahun terakhir.
Mengapa tidak ....
"Si--"
"Maaf, Kak aku rasa aku harus pulang."
Grep
"Tunggu dulu Sia. Apa kamu nggak mau tahu alasan aku melakukannya selama ini? Atau kamu memang berharap dari orang yang sudah membuang kamu semua hadiah itu?"
Mata Sia mulai memanas setiap bersama lelaki di depannya sekarang. Sia tidak mau terlihat cengeng lagi. Tapi, hatinya selalu berhasil di sentil dengan kenyataan kalau dirinya adalah anak buangan.
"Aku ... capek Kak. Kasih aku waktu buat bicara lagi sama Kakak."
"Sia aku selama ini khawatir sama kamu. Apa kamu nggak bisa mengerti apa artinya itu semua?" Bisik sosok itu semakin menggoyahkan perasaan gadis remaja tersebut.
"Kak Arash. Aku mohon, biarin aku pulang." Cicitnya bernada memohon.
Lelaki yang di panggil kak Arash tadi menggeleng tegas.
"Kalau kamu mau pulang, aku antar. Tapi jangan usir aku kalau kamu nggak mau mereka tahu keberadaan kamu sekarang. Aku hanya ingin kamu aman Sia, mereka belum bisa menemukan kamu selama ini karena aku menutup akses semua tentang kamu."
Fersia hanya bisa diam mencerna ucapan lelaki berpakaian formal di depannya.
Mereka.
Sia tahu betul siapa yang di maksud oleh lelaki itu barusan.
"Aku mau pulang." Ucap Sia tidak ingin berdebat.
Gadis itu keluar lebih dulu, di ikuti oleh Arash yang menjaga gadis itu dari belakang.
Sia akhirnya duduk satu mobil dengan lelaki tersebut. Sia tidak mau menimbulkan masalah lagi, terlebih jika nanti akan membuat kesulitan bagi orang-orang di sekitarnya.
Sia menatap keluar jendela dengan perasaan yang berantakan.
Rasa kecewa dan sedih menjadi satu saat ini.
Kenapa harus Kak Arash.
Pertanyaan yang membuat dirinya kini menjadi terlihat seperti gadis bodoh sekarang.
Dan harapan ternyata bisa sangat menyakitkan seperti saat ini.
****
Bersambung