Happy reading
Typo koreksi
****
'Aku pastikan kamu menjadi milik ku'
... Fanny Kailana ...
****
Arash Jaya Saputra, laki-laki berusia 22 tahun yang ternyata selama ini memberi Fersia hadiah-hadiah kecil dan uang bulanan selama 3 tahun terakhir.
Fersia pikir, pelakunya bukanlah lelaki yang menyandang status sebagai sepupunya itu. Ah, tidak. Lebih tepatnya lelaki tampan itu adalah sepupu tidak kandung.
Ya. Mereka sekarang tidak memiliki hubungan. Sebelum Sia mengetahui fakta tentang dirinya yang di tutup-tutupi oleh keluarganya.
Anak buangan.
Itulah istilah yang Sia sematkan kepada dirinya, dan hanya Arash lah yang mengetahui hal tersebut.
Bagaimana dengan kedua orang tuanya.
Jawabannya TIDAK TAHU.
Sia tidak tahu apakah dirinya masih pantas menyebut sosok yang selama ini menjaga, merawat dan membesarkannya dengan panggilan 'mama dan papa' sedangkan dirinya bukanlah siapa-siapa di keluarga itu.
Arash yang fokus menyetir sejak tadi melirik lewat ekor matanya ke arah gadis remaja yang duduk tepat di samping kemudi tengah melihat ke arah luar jendela.
"Om dan tante rindu sekali sama kamu. Apa kamu tidak ada niat untuk mengunjungi mereka, Sia."
Sia tidak menjawab.
Rindu.
Tentu saja, mereka adalah pelitanya. Tapi, dirinya bukanlah pelita untuk mereka.
"Aku tahu kamu pasti kecewa sekarang. Tapi Sia, kamu harusnya berpikir dengan pintar. Untuk apa kamu mengharapkan orang yang sudah membuang kamu dan meninggalkan keluarga yang sudah menyayangi kamu seperti anak kandung sendiri. Om dan tante memang bukan orang yang berjasa sampai kamu lahir ke dunia. Tapi mereka lebih berjasa dengan memberikan kamu kasih sayang melebihi orangtua kandung kamu sendiri yang tidak bertanggung jawab."
Jleb.
Sia menahan napasnya tersentak, hatinya seketika tersentil dengan ucapan Arash yang benar adanya.
Sia bukanlah anak kandung keluarganya yang sekarang. Karena, itu Sia menyebut dirinya anak buangan setiap malam jika ia akan tidur. Seolah-olah mengingatkan dirinya bahwa ia bukanlah siapa-siapa.
Mobil sedan hitam milik Arash memasuki basement apartement gadis di sebelahnya. Arash turun lebih dulu setelah berhasil memarkirkan kendaraannya di area parkir. Ia kemudian membuka pintu sebelah kemudi. Fersia turun dengan wajah tidak bersemangat. Tangan Arash terangkat mengusap lembut rambut gadis itu penuh kasih sayang.
"Jangan bersedih. Aku akan selalu ada buat kamu."
"Kenapa Kak Arash baik sama aku?" Arash tidak menjawab, ia hanya mengulas senyum penuh arti saat gadis di depannya bertanya demikian.
"Karena aku sayang sama kamu." Ucap lelaki gagah itu tegas.
Sia mengerjap, tidak tahu harus merespons bagaimana. Hening beberapa saat, sampai tangan kekar lelaki itu menggenggam tangan kecil milik Fersia dan mengajaknya melanjutkan langkah kaki mereka masuk ke dalam apartement.
"Ayo, kita masuk dulu. Kamu perlu istirahat." Bisik Arash lembut.
Sia mengangguk patuh.
Keduanya melangkah beriringan dengan tangan saling bertaut erat, menaiki lift dan mereka kembali saling bungkam satu sama lain.
Di luar, bergabung dengan pengendara lain. Motor ninja hitam milik seorang pemuda melaju dengan kecepatan di atas rata-rata. Fathur Artha Putra pemuda yang mengendarai kendaraan beroda dua itu tengah menuju tempat janjian dengan seseorang.
Setengah jam yang lalu, pemuda itu menerima pesan. Mengetahui ini mungkin adalah waktu yang tepat untuknya berbicara empat mata. Akhirnya, ia pun menyetujui bertemu di kafe cukup jauh dari lokasinya terakhir.
Butuh waktu 45 menit untuk Fathur sampai di tempat tujuannya. Ia memarkirkan motornya, lalu memasuki area kafe. Pandangan mata tajamnya mengendar ke segala sudut ruang kafe, saat menangkap sosok yang ternyata sudah sampai lebih dulu tanpa basa-basi pemuda itu langsung mendekati meja tersebut.
"Sorry, gue telat." Tidak ada binar kecewa selain balasan senyum manis tercetak ke arah pemuda itu.
"Oh, sudah datang. Nggak apa-apa kok, aku juga baru sampai." Sahutnya membalas.
"Gue langsung to the point aja ya, Fanny. Gue mau elo nggak bilang apapun atau cerita soal kejadian kita berdua ke siapapun terutama sama Sia."
"Kamu mau ketemu sama aku cuma mau ancam aku aja?" Tanya gadis yang ternyata adalah Fanny Kailana, si murid baru SMA PELITA tersebut.
Fathur yang duduk di depannya menggeleng.
"Gue cuma kasih elo peringatan, bukan mengancam elo."
"Tapi ... kenapa kedengarannya seperti kamu lagi mengancam aku supaya nggak ngebocorin apa yang udah kita berdua lakuin di hotel waktu itu."
"Fanny. Gue. Nggak. Ancam. Elo. Oke." Tekan Fathur menegaskan dengan ekspresi serius.
"Terus kamu mau aku bagaimana? Memangnya yang kita lakuin salah kalau sampai anak-anak lain tahu?"
"Salah." Selak Fathur mulai terpancing sehingga ia harus meninggikan nada suaranya.
"Salah? Sekarang kamu juga mau nyalahin aku gitu. Fathur jangan bilang kalau kamu bakalan lepas tangan kalau apa-apa terjadi sama aku gara-gara malam itu."
"Maksud elo apa?" Sentak Fathur tidak suka.
"Well, kamu seharusnya juga tahu. Aku perempuan, yang bisa aja hamil karena hal itu."
"Tapi sekarang elo nggak lagi hamil kan?"
Fanny menggedikkan bahu pelan. "Aku belum check apapun. Karena aku juga nggak mau sampai hamil dan masa depan aku hancur cuma gara-gara hal itu nantinya."
"Bagus. Gue harap elo nggak hamil. Gue nggak ada perasaan apapun sama elo. Dan gue--"
"Iya, aku tahu kamu cuma cinta sama Fersia kan? Aku heran apa Fersia nggak tahu kelakuan b***t kamu kalau di luar sekolah?"
"b***t? Hahaha ... Fanny ... Fanny, mau Sia tahu pun gue nggak akan ngelepasin dia."
Hati Fanny yang mendengar itu merasa sedikit sedih. Pemuda di depannya begitu mencintai gadis lain.
"Kalau udah selesai gue mau balik. Gue mau ketemu Sia. Dan Fanny, gue tekankan lagi sama elo. Jangan bicara soal ini ke siapapun. Dan gue harap kita nggak berhubungan dalam hal apapun ke depannya. Kalau gitu, gue pergi duluan. Elo hati-hati."
Tanpa menunggu jawaban Fanny, pemuda itu pergi meninggalkan Fanny yang menatap dengan sorot mata tidak terima.
Untuk ke sekian kalinya Fathur menolak berdekatan dengannya.
Kamu pikir, setelah memakai aku kamu bisa lepas begitu aja Fathur. Setelah apa yang aku kasih, setelah masa depan untuk suamiku kamu renggut. Kamu berpikir aku akan membiarkan kamu lepas dengan mudah.
Nggak.
Aku nggak akan biarin kamu melukai harga diri aku sebagai perempuan. Aku nggak peduli sebesar apapun perasaan kamu ke cewek itu. Aku nggak akan ngelepasin kamu. Aku pasti akan dapatin kamu bagaimana pun caranya. Dan kamu akan menjadi milik aku selamanya. Bahkan, jika aku nantinya hamil aku akan buat kamu berada di sisiku bersama anak kita. Dan kamu tidak akan pernah bersama dengan cewek sialan itu lagi.
Tekad kuat Fanny Kailana untuk mendapatkan Fathur adalah prioritasnya saat ini.
Fathur harus membayar apa yang sudah pemuda itu lakukan.
Melukai harga dirinya adalah hal yang harus pemuda itu bayar dengan mahal.
Kamu pasti jadi milik aku, Fathur. Aku pastikan itu.
****
Bersambung