Happy reading
Typo koreksi
****
'DIA Hanya MILIKKU'
... Arash Jaya Saputra ...
***
Fersia tidak sadar jika sudut bibirnya tertarik samar tidak ketara, ia kemudian mengunci kembali layar ponselnya usai membaca pesan chat dari pemuda bernama lengkap Fathur Artha Putra tersebut. Kemudian mulai melahap nasi goreng kornet di depannya.
Di luar kelas, Fathur terlihat senang melihat gadisnya mau memakan bekal yang ia titipkan kepada Tegar sahabatnya.
Enggan membuat Fersia marah kepadanya, pemuda tampan itu memilih pergi ke area gudang belakang. Saat akan berbelok, sosok Fanny muncul dan berhenti tepat di depannya dengan sengaja. Alis Fathur terangkat ke atas sebelah heran.
"Kamu mau kemana?" Pertanyaan itu di ajukan oleh gadis di depannya, Fathur terdiam beberapa saat sebelum menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuk.
"Elo, ngomong sama gue?" Tanyanya balik, nyaris membuat senyum Fanny menghilang sebab seakan-akan pemuda itu tengah sengaja mengejeknya saat ini.
Dengan menarik kedua sudut bibirnya untuk tetap tersenyum manis, Fanny menjawab tanpa ekspresi tersinggung.
"Iya, menurut kamu aku tanya siapa emangnya. Oh iya, kenapa chat aku nggak kamu balas?"
"Chat? Elo chat gue lagi? Mau bahas tentang apa lagi?" Ujar pemuda itu bertanya tidak minat.
"Kamu nggak marah Fersia ke sekolah di antar cowok lain?"
Fathur membuang napas kasar, kedua tangannya berada di saku celana menatap gadis di depannya sedikit kesal. Fathur tidak suka ada yang menjelek-jelekkan pacarnya secara langsung.
"Masih pagi jangan suka gosip, Fanny. Lagi pula gue tahu cowok yang pagi tadi sama cewek gue." Jawab Fathur santai.
"Oh ya? Kamu tahu?" Fathur hanya mengangguk malas.
"Elo masih mau ngomong hal lain sama gue? Kalau nggak, gue mau pergi." Lanjut pemuda itu lagi.
"Kamu nggak ke kantin?" Fanny kembali mencoba membuat percakapan dengan pemuda di depannya dnegan mengalihkan ke hal lain.
"Nggak, gue udah kenyang habis dengerin ceramah Bu Rit di ruang BK tadi. Udah kan, gue duluan ya."
Bibir Fanny menekuk ke bawah cemberut bete, saat Fathur benar-benar pergi tanpa ingin berlama-lama dengannya.
Ish, nyebelin banget. Susah banget buat ngobrol sama tuh cowok. Ck.
Puk
Bahunya di tepuk dari belakang, Fanny sedikit tersentak ia menoleh melihat Hani memandangnya jahil apalagi teman sekelasnya itu juga melirik ke arah Fathur menghilang barusan.
"Cie ... Fan, jangan bilang elo naksir sama Fathur?" Telaknya asal menebak saja.
Blush
Wajah Fanny sontak memerah, salah tingkah. Sontak saja Hani tertawa pelan.
Hani tergelak.
"Astaga, hahaha beneran naksir tuh anak. Tapi ... wajar sih kalau elo naksir dia. Hampir semua murid cewek di Pelita juga naksir sama Fathur. Yah ... biarpun tuh cowok udah ada pawangnya masih banyak yang suka sama dia." Papar Hani.
"Maksud kamu Fersia." Hani balas berdehem mengiyakan.
"Tapi kok mereka jarang keliatan berdua kalau di sekolah?" Fanny bertanya penasaran.
Menggedik bahu acuh, Hani hanya menjawab seadanya saja.
"Kagak tau, emang gitu kali gaya pacaran mereka. Itu sih belum seberapa, kadang ya ... mmm apa ya? Oh iya, kadang Fathur tuh suka banget skinship sama murid lain daripada ke ceweknya sendiri. Edan kan tuh cowok."
Hah
Mulut Fanny sedikit terbuka menganga, kaget.
"Skinship?" Cicitnya tidak percaya.
"Ya gitu deh, tau ah pusing kalau bahas mereka. Yuk balik ke kelas, Fan." Hani akhirnya mengajak Fanny untuk kembali ke kelas mereka.
Dengan pikiran yang bergelayut di dalam otaknya, Fanny kemudian tersenyum aneh saat mendapat ide cemerlang buat mendekati Fathur Artha Putra setelah ini.
Begitu rupanya. Gumamnya dalam hati.
*****
Ting
Kak Arash
Nanti makan malam bareng ya.
Sia menatap pesan dari laki-laki yang dulu masih ia anggap sepupunya beberapa saat.
Lama gadis itu memandang ponselnya, Sia tidak tahu harus membalas apa. Apakah tidak apa-apa jika mereka makan malam berdua saja. Terlebih, jika Fathur mengetahuinya. Gadis itu takut akan ada perkelahian. Meski, Fathur sudah tahu kalau Arash adalah sepupunya.
Fersia
Aku banyak tugas sekolah, Kak
Maaf
(Send)
Baik, lebih bagus seperti ini. Sia bisa menolaknya dengan cara halus tanpa membuat Arash tersinggung sedikit pun.
Ting
Notifikasi kembali masuk.
Sia hanya bisa mendesah pelan karenanya.
Kak Arasy
Aku besok harus ke Bandung
Please, mau ya?
"Kenapa kak Arash maksa banget sih?" Gumamnya semakin serba salah.
Fersia
Oke.
Helaan napas berat terdengar.
Untuk malam ini saja. Pikirnya simple.
Di lain tempat, bangunan gedung bertingkat tersebut. Seorang Arash Jaya Saputra duduk di kursi kerjanya dengan senyum menawan tercetak, laki-laki berusia 22 tahun itu tampak senang membaca balasan pesan singkat dan padat dari seorang gadis bernama Fersia Raxenta.
Senyumnya mendadak hilang saat Arash teringat keresahan hati om nya, pria paruh baya yang sudah merawat Sia sejak bayi. Lelaki gagah itu mulai termenung menatap lurus ke jendela. Arash terlihat bingung untuk mengambil tindakan seperti apa lagi ke depannya. Ia tidak mau om nya curiga, dan dirinya juga merasa belum saatnya mempertemukan Sia dengan keluarga om dan tantenya lagi. Apalagi, gadis itu belum ingin kembali ke keluarga besar mereka.
"Gimana caranya supaya Om nggak selalu bertanya tentang Sia." Gumamnya bingung.
Mengapa Arash harus berbohong.
Jawabannya hanya ada pada diri laki-laki gagah tersebut.
Drrtt drrtt
Ponselnya berbunyi, Arash menerima panggilan itu cepat tanpa di tunda.
"Sayang, kamu lagi apa?" Nada suara perempuan terdengar.
"Aku masih di kantor, ada apa Sayang?" Balas lelaki itu.
"Hmm ... aku kangen banget. Kamu kapan ke sini lagi?" Suara manja di seberang telepon membuat Arash memijat pangkal hidungnya pelan.
Pusing.
"Besok ya. Aku besok ke tempat kamu. Sabar ya cantik." Bujuk Arash kepada si penelepon.
"Janji? Kamu janji ya, awas kalau bohong lagi."
Arash berdehem mengiyakan.
"Hmm, aku janji. Nanti aku telepon lagi ya. Aku lagi di kantor Sayang." Ucap Arash bermaksud ingin buru-buru menutup sambungan telepon itu.
"Oke. Semangat kerjanya. Aku tunggu besok ya. Love you"
"Iya, Bye. Love you too."
Tut
Panggilan pun terputus akhirnya. Arash menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kesal.
"Ck, dasar. Ganggu aja." Gerutunya mendumel sebal.
Arash tidak suka dengan orang yang meneleponnya barusan. Namun, dirinya tidak bisa mengabaikan si penelepon meski dirinya ingin melakukannya.
Kenapa hari kelulusan Sia lama sekali. Umpat Arash tidak sabar menunggu waktu berlalu.
****
Bersambung...