Happy reading
Typo koreksi
****
'Aku cemburu'
... Fathur Artha Putra ...
***
Fathur berdiri bersandar di sisi balkon depan kelas XII-IPA2, keberadaan pemuda tampan itu tentu saja menarik perhatian murid-murid yang berjalan di koridor setelah bel pulang berbunyi. Kedua tangannya berada di saku celana, tidak hanya Fathur Artha Putra saja yang ada di sana. Pemuda itu juga mengajak ketiga sahabatnya, meski mereka sibuk menggoda murid-murid perempuan yang melewati mereka.
"Hai, no WA elo berapa?"
"Mau di antar nggak?"
"Dasar curut, ngegodain anak orang aja."
Sahutan demi sahutan terdengar di antara para sahabat Fathur. Mereka saling mengejek dan bahkan tidak malu mengumpat keras di koridor.
"Kalian berisik banget sih? Noh, nggak liat apa muka si Fathur udah kaya singa siap makan. Ganggu aja, tenang guys ... tenang oke." Ujar Akmal yang tidak ikut berdebat antara J dan Tegar. Dua temannya itu memang tidak pernah bisa diam barang sebentar saja.
Bikin heran.
Pandangan J dan Tegar melihat ke arah Fathur sebelum keduanya cengengesan tidak jelas.
Sedangkan Fathur kembali memandang ke arah pintu, ia melihat Fanny dan seorang gadis keluar lebih dulu. Barulah Fersia di belakang gadis itu. Senyum Fathur tercetak, yang justru di salah tanggapi oleh gadis bernama Fanny Kailana tersebut.
"Hai, Fathur." Sapa gadis itu membuat langkah kaki Fersia terhenti.
Fathur melirik Fanny tidak minat.
"Oh, hai Fanny." Balasnya seadanya. Fanny malah mengulas senyum sangat lebar, Hani yang berdiri di samping hanya menatap geli si murid baru.
"Kamu udah mau pulang?" Tanya Fanny lagi.
"Ya, gitu. Sia-ku, kenapa berhenti. Ayo pulang." Ujar Fathur memandang gadisnya gemas.
Mendengar nama Fersia di sebut, Fanny memutar tubuhnya. Tanpa sadar ia menatap gadis saingannya itu tidak suka.
Dengan perlahan Fersia mendekat lalu mengatakan sesuatu yang membuat Fathur langsung cemberut.
"Aku pulang sendiri. Aku ada janji sama kak Arash." Serunya membuat sahabat Fathur langsung mengerenyit bingung. Pasalnya mereka baru pertama kali mendengar nama Arash.
"Mau kemana? Aku nggak boleh ikut?" Sepasang kekasih itu masih saling melempar pertanyaan.
"Buat apa." Seru Fersia datar membuat wajah Fathur semakin tertekuk masam.
"Ayolah, kita jarang jalan bareng. Hari ini aku ada waktu, tapi kamu malah mau jalan sama Arash-Arash itu."
"Dia sepupu aku," ujar Sia mengingatkan dengan ekspresi lempeng.
"Iya, aku tahu. Tapi kan--"
"Jangan kaya anak kecil, aku keluar sama kak Arash karena ada hal yang harus aku bahas sama dia. Dan jangan keras kepala, aku bukan mau senang-senang."
"Ck, dasar nggak peka." Dumel Fathur masih bisa di dengar gadis di depannya.
"Huh, ya udah. Besok aja kita jalannya. Kalau begitu aku main sama mereka dulu. Hati-hati, guys cabut." Ajaknya kepada ketiga sahabatnya cepat.
Mood Fathur langsung down, pemuda itu bahkan langsung pergi tanpa kata meninggalkan Fersia yang hanya bisa menghela napas pelan di dalam hatinya karena sikap pacarnya tersebut.
"Fersia kita duluan juga ya, dadah." Fanny menarik tangan Hani cepat mengikuti langkah pemuda tadi.
Ting
Ponsel Sia berbunyi notifikasi masuk.
Fathur
Aku cemburu.
(Read)
Gadis itu masih berdiri di tempatnya membaca pesan berisi dua kata saja dari Fathur.
Sia merasa mulai tidak enak di dalam hatinya.
Drrtt drrtt
Telepon tiba-tiba masuk, nama sepupunya tertera di layar yang menyala.
"Hallo, kak."
"Kamu dimana? Aku ada di depan gerbang sekolah kamu?"
"Kak Arash jemput aku."
"Hmm, aku tunggu ya."
"Oke."
Tut
Sia mematikan teleponnya, ia mengerjap tidak tahu kalau Arash akan menjemputnya sekarang. Lalu kepala Sia mendongak melihat ke arah parkiran motor. Di sana masih ada Fathur dan teman-temannya bahkan Fanny juga ada di antara mereka minum Hani.
Mendesah berat, Fersia bergegas keluar gerbang untuk menghampiri kakak sepupunya.
Sementara itu.
"Fersia langsung pulang? Berarti kamu nggak lagi bawa siapa-siapa kan?"
Fathur yang sedang tidak semangat menatap gadis di depannya kesal.
"Elo ngapain sih, ngikutin mulu. Kurang kerjaan banget, pulang sana." Sentak pemuda itu membuat Fanny kaget karenanya.
Ketiga sahabat pemuda itu menatap keduanya bergantian.
"Hei, maaf. Nama elo siapa? Gue saranin mending elo pulang deh. Jangan deket-deket sama Fathur dulu."
"Aku Fanny. Kenapa emangnya? Aku cuma mau ajak Fathur pulang bareng aja kok. Salah?"
Tegar menggaruk leher belakangnya yang tidak gatal pelan.
"Ya nggak salah sih. Cuma, mood sahabat gue lagi nggak oke. Daripada elo kena damprat dia, mending pulang sana. Perlu taksi, yuk gue cariin. Sekarang jangan ganggu Fathur dulu." Ujar Tegar memberitahu.
Fanny tidak menggubris ucapan sahabat pemuda yang ada di hadapannya sekarang.
"Aku mau kamu anterin aku pulang." Seruan itu membuat semua pasang mata melotot tidak percaya. Fathur menggeram mendengarnya.
"Siapa elo ngatur-ngatur gue hah." Gertaknya tidak suka.
Fanny bersidekap menantang pandangan Fathur yang terlihat marah kepadanya.
"Kalau kamu lupa, kamu pernah tidur sama aku. Apa kamu mau cewek kesayangan kamu itu juga tahu tentang kita. Aku sih nggak masalah, cuma awas aja nanti kalau kamu di putusin jangan marah ke aku."
Rahang Fathur mengeras, sedangkan sahabat-sahabat pemuda itu menatap Fanny tidak percaya.
Bisa-bisanya ada gadis yang berani mengancam Fathur Artha Putra.
"Elo berani ngancam gue?"
Menggedik bahu acuh, Fanny pun mendekat kemudian mendongak menatap pemuda tampan itu dengan senyum miring.
"Well, terserah kalau kamu mau anggap omongan aku tadi itu seperti ancaman. Ingat ya Fathur, aku ini cewek dan aku bisa aja buat sesuatu yang mustahil kalian para cowok bisa lakuin dan aku bisa. Kamu nolak aku, dan bersikap acuh sama aku setelah apa yang kits berdua perbuat. Sebagai laki-laki seharusnya kamu ada rasa bersalah dan tanggung jawab."
"Bangsat." Umpat Fathur di depan Fanny yang di balas dengan senyum manis gadis cantik itu.
"Aku suka dengar kamu mengumpat, kamu tambah jantan." Bisik Fanny di telinga Fathur membuat pemuda itu mengepalkan tangan menahan amarah.
Mungkin jika Fanny Kailana adalah laki-laki, Fathur akan buat Fanny babak belur seperti Yoga waktu itu.
"Gimana? Kamu mau kan antar aku pulang? Tuh kamu nggak liat cewek kamu aja udah pulang duluan, pasti di jemput kan. Sayang dong kalau...."
Bugh
Fanny memukul jok belakag motor ninja hitam milik Fathur dengan ekspresi kasihan.
"Tempat duduk ini kosong, kalau kamu mau hangout sama aku juga boleh. Kamu mau kemana? Yuk, ajak aku jalan-jalan. Sebagai tanda pertemanan kita, gimana?"
Fathur melirik gerbang yang baru saja di lewati oleh kekasihnya, sebelum akhirnya balik memandang gadis menyebalkan di depannya dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Jangan nyesel." Ucapnya penuh makna yang di balas anggukan kepala semangat oleh Fanny Kailana.
Yes, akhirnya dia mau juga.
****
Bersambung