Happy reading
Typo koreksi
****
'Stress gue lama-lama deket nih cewek'
... Fathur Artha Putra ...
****
"Kak Arash, kenapa jemput aku?"
Arash tersenyum mendengar pertanyaan gadis di sebelahnya.
Ya. Arash Jaya Saputra, menyempatkan waktunya dari kantor untuk menjemput gadis di sampingnya tersebut.
"Kenapa? Nggak boleh?" Baliknya bertanya.
Fersia menggeleng pelan.
"Tidak, Kak. Aku nggak enak kalau Kak Arash repot-repot jemput aku sampai ke sekolah. Padahal tadi pagi aku udah ngerepotin Kakak." Jelasnya hati-hati.
"Nggak apa-apa kok. Aku senang bisa antar kamu, apalagi besok aku bakalan sibuk di Bandung ada kerjaan. Aku mau ketemu kamu dulu, biar aku bisa mastiin kalau kamu baik-baik aja kalau nanti aku berangkat." Balas Arash masih dengan senyum menawan menambah ketampanan pria muda itu.
Gadis itu hanya bisa mendesah dalam hatinya.
Mobil pun sampai di basement apartement, keduanya keluar dari kendaraan dan berjalan beriringan naik ke lantai atas.
"Kamu sudah bilang sama PACAR kamu itu kalau nanti makan malam sama aku?" Tekan Arash sedikit membuat Sia tidak enak.
Mungkin saja, lelaki itu masih marah dengan sikap tidak sopan Fathur saat keduanya bertemu kemarin.
"Sudah, Kak. Maaf kalau sikap Fathur kurang sopan sama Kakak."
Alis mata Arash naik sebelah, "Kenapa kamu yang minta maaf. Aku nggak apa-apa kok." Ujarnya cepat. Arash tidak suka seakan-akan Fersia sedang membela kelakuan pemuda kemarin.
Sia tidak membalas ataupun beragumen lagi soal sikap Fathur. Keduanya akhirnya sampai di apartementnya, Arash langsung berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum. Sedangkan Sia buru-buru pamit ingin bersiap-siap.
"Tunggu sebentar ya Kak. Aku siap-siap dulu."
"Hmm. Nggak apa-apa." Jawab lelaki gagah itu.
Sementara menunggu gadis itu, Arash memilih duduk di dekat kursi meja pantry. Ia membuka ponselnya yang sengaja ia silent sejak tadi. Notifikasi dari seseorang banyak ia terima, tapi Arash memilih tidak membukanya dulu. Lalu ia mendongak melihat sekeliling apartement tersebut tidak ada banyak barang di sana. Bahkan gadis itu tidak memasang photo om dan tantenya.
Lima belas menit kemudian, langkah kaki keluar dari kamar mendekati lelaki itu. Sia sudah keluar dengan atasan polos di balut jaket denim dan celana jeans. Penampilan yang bisa di bilang kurang pas untuk makan malam. Tapi Arash justru memuji kecantikan sepupunya itu di dalam hati.
Cantik.
"Ayo Kak." Ajak Sia di balas anggukan kepala pria muda itu.
"Kita jalan-jalan dulu nggak apa-apa kan? Jam makan malam masih lama. Atau kamu mau di sini dulu aja?"
Sia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, ia kemudian menatap Arash lekat.
"Antar aku ke toko buku sebentar boleh, Kak?"
Arash mengangguk dengan sebuah senyuman untuk gadis di depannya.
"Of course. Yuk berangkat." Serunya membalas.
Sia tersenyum tipis.
Di saat dua anak adam dan hawa itu melanjutkan perjalanan mereka menuju toko buku. Di salah satu kafe kota, Fathur mengaduk minuman dinginnya dengan sedotan asal. Gadis yang datang bersama justru merasa lucu melihat tingkah Fathur saat ini.
"Jangan ngeliatin gue." Sentakan Fathur rupanya mengejutkan Fanny.
Gadis itu menggedikkan bahu tidak tersinggung dengan nada bicara pemuda di depannya.
"Kamu masih kesal gara-gara Sia lebih milih pergi sama cowok itu daripada kamu?"
"Apaan sih! Sotoy banget." Selak Fathur kesal.
"Wajar sih, tuh cowok pasti lebih dewasa kan. Kamu aja masih nakal gimana Fersia betah." Ejek Fanny sengaja ingin memancing kemarahan pemuda itu.
Berengsek nih cewek. Maksudnya ngomong begitu apa coba.
"Elo nggak tahu tentang cewek gue. Jangan asal bacot."
Fanny bersidekap menatap Fathur dengan senyum miring.
"Memangnya kamu tahu banget ya cewek kamu itu kaya gimana?"
"Fanny jangan bikin gue main kasar sama elo ya." Ancam Fathur dengan gigi bergemelutuk menahan emosinya.
"Main kasar? Dimana? Hotel lagi?" Tanyanya main-main.
Fathur menggeleng heran, meminum minumannya hingga tandas dengan napas naik-turun tidak beraturan.
"Kenapa elo sibuk banget ngurusin soal hubungan gue sama cewek gue? Elo naksir sama gue?" Pertanyaan telak Fathur membuat wajah Fanny semakin berseri.
"Hebat! Ternyata kamu sadar juga. Iya aku suka sama kamu. Kamu udah ambil hal yang berharga buat aku, jelas aku nggak akan biarin kamu lepas tanggung jawab."
"Fanny elo yang minta njir. Kenapa gue harus tanggung jawab." Dumel Fathur marah-marah.
"Ya ... aku nggak mau tahu. Itu masalah kamu, yang penting aku harus bisa pastiin kamu nggak lari dari tanggung jawab udah ambil keperawanan aku di hari itu."
Fathur bersandar pada kursinya, ia menggeleng-geleng kepala tidak percaya.
"Gila. Nggak waras ya elo, Fan. Gue cabut, makasih buat teraktiran elo hari ini. Nggak perlu gue antar kan? Gue yakin cewek kaya elo bisa pulang sendirian." Ucapnya tiba-tiba pamit dengan wajah yang sudah malas berlama-lama dengan gadis cantik itu.
Fanny justru tersenyum manis.
"Silahkan, toh aku bisa tahu dimana kamu tinggal dan bisa ngawasin kamu setiap waktu aku." Seru Fanny membuat Fathur mendesah kasar dengan tangan terkepal kuat.
Dengan langkah cepat, pemuda itu keluar kafe. Berharap di depannya ada samsak atau orang yang bisa ia salurkan untuk emosinya.
Benar-benar, terlalu lama bersama gadis bernama Fanny Kailana. Fathur yakin dirinya bisa naik darah setiap detik.
Beruntung Fanny perempuan, jika tidak ...
Kepergian Fathur Artha Putra membuat Fanny masih senyum-senyum tidak jelas. Ia tampak sangat senang karena pemuda itu sangat mudah ia permainkan emosinya.
Drrt drrt
Ponselnya berdering, tulisan 'Papa' tertera di layar sehingga Fanny dengan cepat menerima sambungan tersebut.
"Hallo, Pa."
"Kamu dimana? Kenapa belum pulang, Fanny?" Cerca sang ayah sedikit meninggi.
"Maaf Pa, aku tadi ada tugas dadakan. Lupa kasih kabar. Ini baru selesai, aku mau pulang sekarang Pa."
"Dimana? Biar kamu di jemput saja."
"Hmm, aku di jalan xxx ...." Fanny memberitahu alamat kafe tersebut.
"Ya sudah, tunggu Pak Tono datang. Tidak baik anak perempuan di luar lama-lama."
"Baik, Pa. Makasih Pa."
Tut.
Mendesah lega, gadis itu menyimpan lagi ponselnya. Ia harus kembali memikirkan cara menjauhkan Fathur dari Fersia.
Sebenarnya Fanny ingin sekali mengatakan kalau dia pernah tidur dengan Fathur, tapi Fanny tidak mau ambil resiko jika nanti Fathur justru akan menjauhinya.
"Siapa nama sepupu cewek jelek itu tadi ya?" Gumamnya mencoba mengingat nama sepupu Fersia yang membuat Fathur cemburu dan kesal.
"Arash, ah iya. Arash ... aku harus bisa cari informasi tentang cowok itu. Siapa tahu ada sesuatu nantinya." Ujarnya tersenyum lebar hingga matanya menyipit, gadis itu bangga pada dirinya sendiri yang bisa memikirkan hal tersebut.
Aku pasti bisa dapatin kamu secepatnya. Tunggu saja, Fathur.
*****
Bersambung