Bab 21. Galau?

1204 Words
Happy reading Typo koreksi **** 'Kangen....' ... Fathur Artha Putra ... **** Kamar milik seseorang tampak seperti kapal pecah, bungkusan cemilan dan kaleng bir berserakan di lantai, meja dan karpet kamar tersebut. Seonggok tubuh tengah tergeletak bertelanjang d**a, bibirnya mengeracau membuat sang pemilik kamar mendengkus mendengar. "Dasar nggak pekaan hik. Gue cemburu aja dia nggak paham hik." "Kangen ... hik Sia kangen." "Jahat banget gue di tinggalin." "Dasar Arash Arash b*****t hik." Ceklek Pintu kamar terbuka, sosok pemuda lain yang masih tampak baik-baik saja masuk ke dalam. Mencium bau alkohol yang menyengat karena tercecer di lantai membuat ia mengumpat dalam hati. "Tuh bocah, masih belum sadar juga." Yang punya kamar hanya menggedik bahu duduk di atas karpet melihat ke arah si pengacau yang masih berulah di atas tempat tidurnya. "Tau ah ... pusing gue." Akmal yang baru saja datang dari dapur memandang figur Fathur yang tidak memakai atasan tersebut. "Baru tau ceweknya jalan sama sepupu aja udah kaya gitu tuh anak. Dasar bucin kadal." Decak Tegar yang masih kesal. Sebab, Fathur mendadak meminta berkumpul di rumahnya. Untung saja kedua orangtuanya sedang ada acara pernikahan teman ayahnya jadi rumahnya tidak ada siapa-siapa selain dirinya. Dan lebih parahnya, sahabat bobroknya itu membawa banyak bir membuat Tegar tidak bisa menahan gerutuannya saat pemuda itu datang ke rumahnya. Akmal ikut duduk berlesehan di atas karpet, memilih menjauh dari Fathur yang sedang mabuk tersebut. "Ngomong-ngomong si J kemana? Tumben tuh anak kagak mau ikut kita." Akmal menggedik bahu santai. "Nggak tau. Ada acara katanya." "Dih, sok sibuk." Cibir Tegar di balas kekehan pemuda di sampingnya. "Ah, gila perut gue mual. Belum makan apa-apa udah di cekokin bir aja sama si bangke." "Pesan makan gih?" Suruh Akmal di balas ekspresi puppy eyes milik Tegar yang menjijikan. "Beliin dong Abang Akmal." Bugh Akmal mendorong Tegar kesal. "Jijik, njir." Tegar tergelak, tertawa terbahak-bahak karenanya. Hening kemudian, Akmal dan Tegar mendadak saling diam dengan pikiran masing-masing. "Elo ngerasa nggak sih, Mal. Kalau kita udah mau lulus. Dan gue sama sekali belum tau cita-cita gue apaan?" Kekeh Tegar membuat Akmal meliriknya hanya sekilas. "Hmm." Dehemnya setuju. "Orangtua gue aja bahkan berdebat gara-gara gue yang belum ada niat lanjut kuliah. Padahal gue anak satu-satunya mereka." "Emangnya elo paling suka apa? Coba aja kerjain itu?" Saran Akmal pelan. "Main." "Ck, dasar bego." Decak Akmal menggeleng heran. "Nggak tau juga gue. Apa emang gue dasarnya malas ya, dari awal masuk SMA gue nggak ada niat apapun sama sekali. Cuma bisanya ngabisin duit bokap gue doang. Kalau bukan anak satu-satunya di rumah ini, mungkin ... mungkin gue udah di coret dari daftar keluarga." Curhat Tegar dramatis. Akmal tersenyum geli mendengarnya. "Masih ada waktu. Kita masih bisa mikirin mau apa ke depannya." Ujar Akmal setelahnya. Tegar manggut-manggut mengiyakan. Eunggghh Lenguhan Fathur membuat keduanya serentak mendongak ke arah tempat tidur. Pemuda itu mengubah posisi tidurnya menjadi telentang tanpa membuka matanya. "Buang dia yuk, Mal." Bisik Tegar serius di balas senyum tipis Akmal. Sedangkan di lain tempat, Sia dan Arash baru saja keluar dari toko buku yang di kunjungi. "Kamu mau makan apa?" "Apa aja, Kak." Balas Sia tidak banyak meminta. Arash terlihat berpikir, laki-laki itu tampak mencari tempat yang bagus namun juga aman bagi mereka kunjungi. Arash tidak mau bertemu dengan siapapun selama bersama dengan gadis itu. "Ya sudah, sambil jalan aja kita pikirin makan dimana. Nggak apa-apa kan?" Sia yang pasrah hanya mengangguk setuju. Tidak masalah makan dimana saja baginya. Saat di dalam mobil Sia mengintip ponselnya diam-diam. Ia merasa aneh karena Fathur tidak mengirim pesan apapun kepadanya. Tumben. Batinnya bertanya. "Ada apa, Sia? Kamu nunggu telepon dari seseorang?" Tanya Arash tiba-tiba, rupanya laki-laki muda itu melihat raut tidak biasa milik gadis di sebelahnya. "Hah? Nggak Kak. Nggak kenapa-kenapa." Jawabnya pelan. Arash mengangguk, meski dalam hati lelaki itu tidak menyukai jika gadis di sampingnya membagi pikirannya ke segala arah. "Kamu mau aku bawain apa oleh-oleh dari Bandung?" Tanya Arash mencairkan suasana. Sia menggeleng. "Nggak perlu repot-repot Kak. Hadiah dari Kakak di rumah saja masih banyak yang belum aku pakai." Arash berdehem mengerti. "Tapi, kalau kamu mau sesuatu kasih tau aku saja ya. Aku bisa beberapa hari kayanya di Bandung. Jaga kesehatan kamu di sini. Kalau bisa ganti password apartement kamu, Sia. Ingat, kamu itu perempuan tidak baik kalau lawan jenis kamu sampai tahu kode apartement kamu." Arash berkata dengan nada pelan dan tegas. Sia mengangguk paham. "Baik, Kak." Jawabnya patuh. Meski, sebenarnya Sia tidak mempermasalahkan jika Fathur mengetahui password tempat tinggalnya. Toh, pemuda itu tidak akan berani macam-macam dengannya. Paling yang di lakukan Fathur hanya mengacak-acak apartementnya jika datang dalam keadaan mabuk. "Kamu sudah berapa lama pacaran sama anak itu?" "Maksud Kak Arash, Fathur?" "Iya." Balasnya singkat. "Dua tahunan Kak." Sia memberitahu jujur. "Kamu harus hati-hati sama anak itu. Dia kelihatan anak nakal, apa dia di sekolah suka buat onar?" Pertanyaan Arash membuat Sia terdiam. Ia tidak mungkin berkata jujur soal kebiasaan Fathur di sekolah. Bisa-bisa Arash akan marah kepada kekasihnya itu. "Nakal anak remaja sewajarnya saja kok Kak. Kak Arash jangan khawatir." Ucap Sia mencoba tidak membuat Arash tidak berburuk sangka kepada Fathur. "Baguslah kalau memang nakal biasa saja." Respons Arash seadanya. Sia menghela napas lega, ia tidak mau ada perkelahian antara sepupunya tersebut dengan kekasihnya kelak. Cukup lama mobil yang di tumpangi mereka berdua melaju di jalan raya, sampai akhirnya Arash dan Sia pun tiba di salah satu kafe cukup jauh dari daerah kantor ataupun tempat tinggal Arash. "Kita makan di sini saja tidak apa-apa kan?" Sia menoleh keluar jendela, ia melihat kafe modern yang ramai pengunjung tersebut. Ingin menolak, namun melihat Arash yang sudah membuka seatbelt dan mengajaknya turun membuat gadis itu pasrah dan mengikuti. "Steak di sini enak. Kamu suka steak kan?" Ujar Arash memberitahu, Sia tersenyum tipis mengangguk. "Ayo, turun." Gadis itu turun dari mobil milik Arash, mengikuti langkah kaki panjang sepupunya tersebut. **** Malam semakin larut, lampu kamar tampak temaram. Dua pemuda tertidur di atas karpet tebal di samping sampah-sampah yang berserakan. Sedangkan di atas tempat tidur tubuh shirtless tersebut menguap lebar, suasana gelap menyentak matanya ketika pemuda bermuka bantal itu terbuka. Ia memandang langit-langit kamar yang berbeda dengan kamarnya dengan kerutan. Mendengar suara dengkuran halus membuatnya menoleh ke samping, terkejut mendapati dua sahabatnya tidur di lantai kamar. Fathur Artha Putra bangun terduduk dengan mata mengerjap, sekelebat bayangan ia menghubungi Tegar dan datang kerumah sahabatnya itu dengan banyak bir membuat ia mengumpat dalam hati. Sial. Fathur mencari kaus polosnya, lalu memakainya. Melihat kedua sahabatnya tertidur pulas, Fathur mengurungkan niat membangunkan keduanya. Ia pun berjalan perlahan keluar kamar, menuju dapur Fathur menegak sebotol air mineral hingga tandas. Pandangannya melihat ke sekeliling rumah kedua orangtua Tegar. Sepi. Rupanya orangtua Tegar benar-benar tidak ada di rumah sekarang. Usai minum, Fathur ke arah belakang taman. Ia menyalakan sebatang rokok dan menyecapnya pelan. Rasa pusing di kepalanya ia abaikan, pasalnya ia merasa hari ini begitu mengesalkan sehingga dirinya perlu pelampian selain menghajar orang. Untung nggak ada om sama tante. Batinnya lega. Fathur mendongak melihat bintang di langit semakin banyak. Kemudian ia tersadar jika ponselnya habis baterai. "Huh, gue jadi nggak bisa telepon Sia. Kira-kira Sia lagi ngapain ya? Apa makan malamnya lancar?" Gumamnya bertanya pelan. Fathur menumpukkan sikutnya di atas lutut sambil terus mendongak menikmati indahnya malam. Malam indah yang tidak sesuai dengan suasana hatinya sekarang. ***** Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD