Bab 22. Bonceng Fanny?

1072 Words
Happy reading Typo koreksi **** 'Sandiwaraku pun di mulai' ... Arash Jaya Saputra ... **** Empat motor ninja memasuki area sekolah tepat sebelum gerbang terbuka, kedatangan mereka sontak menjadi tontonan murid-murid lain yang masih berada di luar kelas. Mereka semua menatap heran ke arah ke empatnya. Pasalnya hari ini perdana motor-motor itu datang lebih awal dari biasanya. Yang penasaran menjadi semakin penasaran, kala salah satu dari pengendara itu membonceng seorang gadis yang cukup asing untuk mereka. "Itu Kak Fathur bonceng siapa?" "Nggak tau." "Bukannya itu murid baru kelas XII-IPA2 ya?" "Masa sih?" Bisikan di lorong koridor sekolah semakin bersahutan. Pandangan merek terfokus pada sosok gadis yang baru saja turun dari motor tersebut. "Makasih ya, udah boleh numpang." "Lain kali suruh supir elo cek mobil dulu. Jangan nyusahin orang." Galak Fathur menjawab. Fanny Kailana tersenyum, percakapan mereka jelas tidak akan terdengar siapapun kecuali sahabat-sahabat pemuda itu. "Jangan galak-galak, aku kan cuma minta tolong." "Minta tolong elo itu, bikin mood gue turun bege." Decak Fathur masih sebal dengan sosok gadis di depannya. Terlebih mengingat terakhir mereka bertemu di kafe kemarin. "Kamu ngomongnya kasar ya. Oh iya, thank you juga buat kalian." Ujar Fanny kepada teman-teman pemuda tampan di depannya. Ketiganya sontak hanya mengangguk pelan tidak tertarik. "Udah sana masuk. Bikin bahan gosip buat anak-anak tukang ghibah aja lo pagi-pagi." Usir Fathur kasar. Bibir Fanny tertekuk, jadi ikutan sebal dengan sikap tidak enak Fathur pagi ini. "Kamu kaya cewek lagi PMS ya, marah-marah aja. Ya udah, aku masuk duluan. Sekali lagi makasih, sering-sering ya." Pamit Fanny dengan wajah ceria. Ck. Fathur berdecak menatap kepergian gadis itu, ia menoleh melihat ketiga sahabatnya sudah menahan tawa gara-gara kelakuan gadis barusan. "Ngapain elo pada? Nggak usah sok nahan ketawa njir muka elo semua bikin gue mual, gue hajar juga lo semua hah." HAHAHA Gelak tawa ketiganya pun akhirnya lepas, mereka menggeleng-geleng kepalanya melihat raut kesal Fathur. "Hahaha, baru kali ini gue liat Fathur ogah-ogah di deketin cewek." "Padahal ceweknya cakep." Lanjut komentar Tegar. "Diam, Gar. Gue tendang juga lo." Sentak Fathur sudah siap mengangkat kakinya ke depan. "Eittss, santai Mas Bro. Kalem, jangan pake kekerasan dong. Masih pagi nih." "Apa hubungannya bege?" Tanya J heran. "Iya lah, pake kekerasan tuh enaknya di atas kasur. Ya nggak, Tol." "Si tai." Komentar J dan Akmal bersamaan. Fathur memilih turun dari motornya, pemuda itu melangkah lebih dulu di ikuti oleh ketiganya. Bel masuk sudah berbunyi, tapi mereka justru berjalan ke arah kantin bukan kelas ke empatnya. "Ngantin Bro?" Tanya J yang berjala tepat di sebelah Fathur. Deheman kecil terdengar sebagai balasan. "Hmm." "Traktir lah, anggap uang ganti rugi gara-gara elo semalam berantakin kamar gue, Tol. Ya ya ya?" "Terserah." Balas Fathur membuat Tegar memekik senang. Mayan, jajan gratis. Pikirnya. Sedangkan di dalam kelas XII-IPA2 tampak heboh di bagian para siswi. Mereka berdiri menggerumungi meja milik si murid baru kelas mereka. "Fan, kok kamu bisa di bonceng Fathur?" "Iya. Kok bisa." "Elo kenal Fathur udah lama ya?" "Kamu bukan sepupu atau saudaranya kan?" Fanny yang di serbu pertanyaan teman kelasnya hanya mengulas senyum tipis, gadis itu melirik ke arah punggung Fersia yang duduk di barisan berbeda dengannya. Kekasih pemuda bernama Fathur itu tampak cuek, meski Fanny yakini kalau gadis berwajah datar itu mendengar suara teman-teman kelasnya. "Mmm, aku sama Fathur teman kok." "Oh ya? Sejak kapan?" Kepo salah satu siswi. "Gimana ya jelasinnya, pokoknya aku temenan sama mereka. Aku juga kenap sama sahabat-sahabatnya Fathur." "WOW, keren banget. Padahal mereka itu pemilih lo sebenarnya. Enak banget bisa dekat sama mereka." Fanny hanya tersenyum menanggapi pujian itu. "Berarti tadi kamu di jemput mereka dong?" "Ya, begitu deh." Jawab Fanny dengan wajah manis. Suara heboh beberapa murid perempuan di kelas itu masih tidak mengganggu aktivitas Fersia yang membaca buku. "Sudah ah, aku nggak enak sama Fersia kalau kalian ngomongin Fathur. Tuh Bu guru udah masuk." Seru Fanny sengaja menekankan nama Fathur. Murid-murid tadi pun akhirnya membubarkan diri melihat kedatangan sang guru. "Pagi anak-anak." Sapa beliau, yang di balas semua murid. "Pagi Bu." Fersia memasukkan buku yang ia baca tadi ke dalam tas dan mengeluarkan buku dan alat tulis untuk mulai belajar hari ini. Ia menatap lurus ke depan, tapi sebenarnya tidak ada yang tahu kalau pikirannya sedikit terganggu dengan suara obrolan teman-teman kelasnya bersama Fanny. Jadi Fathur berangkat sama Fanny. Ya. Itulah kesimpulan yang ia terima dari obrolan mereka. Marah. Tidak. Fersia hanya merasa ada yang mengganjal saja, mungkin karena biasanya Fathur datang ke sekolah dengannya. Tapi subuh tadi pemuda itu mengirim pesan lewat ponsel Tegar. Dan mengatakan kalau hari ini tidak bisa menjemputnya. Apakah karena Fathur sudah punya janji dengan Fanny. Apalagi kemarin ia melihat Fanny masih di area parkiran motor dengan kekasihnya tersebut. Sudahlah, Sia. Jangan memikirkan hal sudah biasa Fathur lakuin. Benar. Untuk apa repot memikirkan hal yang sudah lumrah di lakukan pemuda itu. Bahkan, Fathur masih suka berdekatan dengan gadis-gadis lain di depan matanya. Lagi pula status mereka entah akan bertahan sampai kapan. Jika mereka saja tidak pernah memakai hati. Ya, itulah menurut pendapat Sia. Tanpa gadis itu sadari sedikitpun, jika Fathur sudah memakai hatinya untuk mencintai gadis itu selamanya meski sikapnya jauh dari baik selama ini. **** Bandung. Mobil sedan hitam itu berhenti di sebuah rumah berlantai satu, seseorang turun dari dalam kendaraan tersebut melangkah menuju pintu. Tangannya mengetuk pintu beberapa kali, sampai samar ia mendengar langkah kaki mendekat dari arah balik pintu bercat cokelat di depannya. Ceklek Pintu pun terbuka, seorang wanita berusia dua puluh tahunan menyambutnya dengan senyum merekah membuat paras itu tampak semakin cantik saja. "Sayang!" Grep Pekikkan itu keluar dengan sebuah pelukan erat menyentak tubuh Arash Jaya Saputra. Laki-laki muda yang baru tiba itu balas memeluk erat tubuh sang wanitanya. "Hati-hati, Sayang." Bisik Arash memperingati. Suara kekehan terdengar, keduanya saling melepas pelukan itu. Wajah merona wanita muda itu pun membuat Arash tersenyum melihatnya. "Aku kangen banget sama kamu. Kenapa baru datang?" Tangan Arash terangkat membelai rambut wanita itu lembut. "Maaf ya, di kantor pekerjaan aku lagi banyak banget. Yang penting, sekarang aku udah datang. Jangan sedih lagi ya." Ujar Arash menghibur wanitanya dengan nada halus. Anggukan kepala patuh terlihat setelahnya. "Yuk masuk, aku udah masak banyak buat kamu loh, Sayang. Semoga kamu suka ya." "Tentu, apapun masakan kamu aku pasti suka." Ujar lelaki itu membuat wanita di depannya tersipu mendengarnya. Keduanya pun masuk ke dalam rumah, tanpa wanita itu sadari Arash akan memasang wajah bahagia selama berada di rumah ini seperti biasanya. Memberi pujian. Memberi kecupan. Dan memberi perhatian bagi sang pemilik rumah. ***** Bersambung 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD