Happy reading
Typo koreksi
****
'Aku maunya dekat-dekat sama kamu'
... Fathur Artha Putra ...
***
"Kelakuan tuh cewek makin aneh aja Tur? Elo sih pake nolong tuh cewek, jadi ribet kan."
Ya, Fathur baru saja berkeluh kesah kepada para sahabatnya mengenai sikap Fanny kepadanya.
Meski, ia akui wajah gadis itu cantik. Kulitnya yang putih mulus tentu membuat siapa saja bisa tergiur. Tapi, Fathur mulai sebal dengan sikap agresif cewek itu.
"Wajar sih, dia begitu sama elo. Kan elo udah pake dia." Komentar Akmal membuat suasana di gudang belakang kantin menegang.
"Maksud elo apa, Njing." Ucap Fathur tersulut emosi.
Akmal menatap sahabatnya santai.
"Nggak perlu marah, Tur. Kan emang kenyataan. Apalagi dia cewek yang baru pertama kali ngasih itunya dan itu cuma ke elo malam itu. Wajar dia ngerasa kalau elo harus tanggung jawab. Mungkin kalau ada cewek lain yang ngalamin hal itu juga pasti dia juga minta pertanggungjawaban si cowok." Tuturnya tenang.
Sial. Fathur mengumpat, marah jika harus mengingat kejadian malam itu.
"Gue nggak mau Sia sampai tahu kenakalan gue yang udah kelewat batas." Seru Fathur membuat ketiga sahabatnya saling pandang satu sama lain.
"Nyet, elo cinta beneran sama Sia?" Pertanyaan Tegar mengubah suasana di ruangan pengap itu.
Sampai mereka melihat anggukan pelan Fathur tentu menimbulkan desahan pelan masing-masing dari mereka.
Huh.
"Ribet dah jadinya." Komentar Tegar setengah berbisik.
"Apa gue buat Fanny pindah sekolah lagi ya." Gumam pemuda itu membuat J melempar kulit kuaci yang baru di gigitnya.
"Bangke, pake cara lebih gentle lah. Masa anak orang baru sekolah berapa hari udah elo bikin keluar. Bisa-bisa pada curiga nanti, Tur." Omel J di setujui kedua sahabatnya yang lain.
"Hooh, bener banget. Cari cara lain, kalau bisa pake cara halus aja biar Sia juga nggak tau masalah elo sama si murid baru."
"Iya, benar."
Fathur mengacak rambutnya kesal.
Kepalanya mau pecah, memikirkan keberadaan Fanny yang bisa sewaktu-waktu mengancam hubungannya dengan Fersia.
*****
Jika Fathur takut Sia mengetahui hal yang tidak ingin ia bagi. Di dalam kelas, Sia masih bersikap biasa saja. Gadis itu hanya menatap lurus ke depan papan tulis dimana sang guru menjelaskan pelajaran. Bahkan teman sebangku gadis itu pun tidak banyak bicara. Fanny Kailana melihat ke arah Fersia sesekali dengan wajah senang.
Setidaknya pagi ini ia menang dari gadis itu. Meski, Sia tidak menganggap kedatangan Fanny dengan Fathur ke sekolah adalah hal yang berlebihan untuk ia perdebatkan sekarang.
"Sssttt, Fan. Ngomong-ngomong Sia tahu kalau kamu berangkat di jemput Fathur?" Bisik Hani bertanya penasaran.
"Kayanya nggak deh." Jawab Fanny santai.
"Gila, parah kalau ceweknya sampai nggak tau." Ujar Hani menggeleng heran.
"Tapi cowok kaya dia emang udah b******n sih." Kekeh Hani lanjut.
Membayangkan kelakuan pemuda itu lebih banyak minusnya jelas saja membuat Hani malas dekat-dekat dengan Fathur dkk, apalagi membuat masalah dengan kumpulan anak-anak nakal tersebut.
Fanny tersenyum mendengar perkataan teman sebangkunya.
Bel istirahat pun berbunyi.
Tet tet tet
Sontak semua bersorak berbunyi, Fanny bergegas merapikan bukunya dan keluar kelas bersama dengan Hani dan teman kelasnya yang lain. Di tempat duduknya Fersia diam-diam melirik ke arah perginya si murid baru.
Sia mendesah pelan.
Ah, aku malas ke kantin. Gumamnya dalam hati.
Mendadak suasana hatinya tidak nyaman. Sia pun berpikir mungkin lebih baik jika dirinya menghabiskan waktu di Perpustakaan saja.
Gadis itu pun berdiri dari duduknya kemudian berjalan keluar kelas. Tidak jauh darinya di koridor ujung, Sia melihat Fathur dan sahabat-sahabat pemuda itu baru keluar dari jalan yang biasanya menuju gudang belakang. Fathur berjalan lurus ke arahnya dengan ekspresi tenang.
"Mau ke kantin?" Tanya pemuda tampan itu saat sudah berdiri tepat di hadapannya.
Sia mendongak, menatap tinggi kekasihnya itu.
"Nggak, aku mau ke Perpus. Masih kenyang." Jawabnya.
"Masih kenyang. Ya sudah aku temanin ya." Seru pemuda di depannya lagi.
Sia dengan cepat menggeleng.
"Nggak usah. Kamu makan aja. Kasihan teman-teman kamu udah nungguin." Fathur pun menoleh ke belakang, melihat ketiga sahabatnya berdiri tidak jauh dari posisinya dan Sia sekarang.
"Mereka nggak akan masalah kok. Aku juga lagi malas ke kantin. Boleh ikut kamu kan ke Perpus." Pinta Fathur memasang wajah memelas.
Sia mendesah dalam hatinya, dengan mimik datar.
"Terserah." Balas gadis itu seakan memang memberi izin pemuda tampan itu untuk mengikutinya.
Fathur tersenyum senang, lalu pemuda itu menyuruh ketiga temannya ke kantin saja dengan memberi dua lembar uang seratus ribuan.
Tanpa protes ketiga pemuda itu memutar balik arah ke lorong menuju kantin, membiarkan Fathur dan Fersia berjalan ke arah sebaliknya.
"Kemarin makan malamnya gimana, lancar?" Tanya Fathur di sela langkah kaki lebarnya mengikuti gadis di sampingnya.
"Lancar." Jawab Sia padat.
Helaan napas kasar terdengar.
"Kamu tahu aku tadi pagi bonceng Fanny?" Tanyanya lagi.
Sia hanya mengangguk pelan saja.
"Kamu nggak marah kan? Aku bukannya sengaja mau jemput dia kok. Aku ketemu Fanny di jalan pas berangkat bareng anak-anak yang lain. Tapi tiba-tiba ada yang manggil dan ternyata Fanny. Mobil yang di pakai supirnya mendadak mati makanya aku terpaksa bonceng Fanny sekalian ke sekolah." Paparnya panjang lebar.
Fersia setia mendengarkan penjelasan kekasihnya itu.
Cukup lega. Sebab perkataan Zelena tidak benar ketika di kelas tadi.
Bukan Fathur yang sengaja menjemput gadis itu. Tapi keduanya bertemu tanpa sengaja di jalan.
"Jangan marah ya, Sia-ku. Aku takut kamu dengar gosip yang aneh-aneh dari anak-anak PELITA. Tau sendiri mereka suka banget ghibahin aku." Ucap pemuda itu memelas.
Sia menoleh ke arah Fathur ketika mereka sudah sampai di depan pintu ke Perpustakaan. Gadis itu pun membalas ucapan kekasihnya pelan.
"Aku nggak akan salah paham. Apa kamu mau tetap duduk di Perpus? Aku rasa kamu nggak akan betah lama-lama di dalam. Jadi ... sebelum kamu ganggu waktu aku membaca lebih baik kamu ke kantin aja."
Bibir Fathur seketika mengerucut ke depan beberapa senti. Pemuda itu justru terlihat sangat menggemaskan saat ini. Dan sayangnya sikapnya itu tidak mengubah ekspresi gadis di dekatnya tersebut.
"Kamu kok jahat banget sih, Sia-ku. Aku kan mau dekat-dekat sama kamu hari ini. Nggak pekaan banget sih." Gerutu pemuda itu di balas sorot mata aneh dari Fersia Raxenta.
"Oke, kamu boleh ikut ke dalam. Tapi, janji nggak ganggu aku."
Fathur mengangkat tangan kanannya bersikap hormat seakan ia sedang upacara dan akan patuh atas perintah kekasihnya tersebut.
"SIAP LAKSANAKAN KOMANDAN CANTIK."
Sia menggeleng, gadis itu masuk lebih dulu membiarkan Fathur bertindak sesuka hatinya saja.
Ck, dasar aneh.
****
Bersambung