Happy reading
Typo koreksi
****
'Wanita bodoh tidak pantas untukku'
... Arash Jaya Saputra ...
****
Fathur menempelkan dagunya di atas meja Perpustakaan, dengan kepala sedikit mendongak. Matanya menatap lurus pada sosok Fersia Raxenta yang tengah membaca buku dengan serius tepat di depannya..
"Fathur." Bisik Sia sangat pelan, gadis itu merasa risih namun tetap bersikap datar tanpa ingin membuat keributan di Perpustakaan karena tingkah pemuda di hadapannya sekarang.
"Hmm ... apa, Sia-ku?" Balas Fathur ikut berbisik dengan wajah tengilnya.
Astaga.
Sia mendesah, niatnya ingin menghabiskan waktu santai di tempat ini justru sekarang benar-benar terganggu karena tingkah kekasihnya.
"Jangan liatin aku kaya gitu. Daripada kamu bikin ulah, lebih baik kamu keluar."
Fathur sontak cemberut seperti anak kecil.
"Aku mau temenin kamu di sini. Lagi malas ke kantin."
"Oke, tapi bisa nggak. Kalau kamu nggak ngeliatin aku terus. Aku mau baca Fathur." Pinta Sia serius.
Pemuda tampan itu pun manggut-manggut cepat.
"Ya udah, baca aja. Kan aku cuma duduk diam doang." Serunya, membuat Sia menutup buku yang di pegangnya kemudian.
"Loh, kok di tutup. Udah selesai bacanya?" Tanya Fathur heran.
"Aku mau balik ke kelas." Ucap gadis itu tiba-tiba berdiri berjalan menuju meja penjaga Perpus.
"Bu, saya mau pinjam buku ini." Serunya kala sampai di hadapan seorang wanita berusia sekitar 30 tahunan tersebut.
"Ini saja?" Tanya beliau, Sia segera mengangguk mengiyakan. Memberikan kartu pinjam Perpustakaannya kepada beliau.
Fathur masih berdiri di belakang gadis itu menunggu hingga selesai.
"Kamu nggak lapar?" Ujar pemuda itu bertanya saat mereka sudah berada di koridor.
"Nggak."
"Beneran? Mau aku beliin sesuatu nggak?"
Sia menghentikan langkahnya, ia sedang malas sekarang. Sia ingin menikmati waktu sendiri di sekolahnya dengan tenang.
"Aku. Nggak. Lapar. Oke." Tekannya menatap Fathur dingin.
"Oke." Balas Fathur akhirnya pasrah.
Tidak ada pertanyaan atau ocehan pemuda itu lagi, namun Sia tetap membiarkan Fathur mengikutinya hingga gadis itu masuk ke dalam kelasnya lagi.
Tidak terlalu ramai.
Wajar saja, sebab jam istirahat masih ada sekitar 10 menitan lagi. Sia duduk di kursinya di ikuti Fathur yang duduk di kursi depan gadis itu.
"Kenapa ikut ke sini?" Sia bertanya setelah menaruh buku yang di pinjamnya tadi ke dalam tas.
"Nggak apa-apa. Aku nggak boleh ngabisin waktu istirahat sama kamu memangnya?" Balik pemuda itu bertanya.
"Terserah kamu."
Manggut-manggut, Fathur menatap sekeliling kelas gadis itu.
"Kamu nggak duduk sama Fanny kan?" Pertanyaan Fathur cukup menarik Sia untuk menatap wajah pemuda itu.
"Kenapa?"
"Ya, nggak apa-apa. Aku cuma tanya aja."
"Tuh. Di sana. Fanny duduk di sana." Sia menunjuk tempat duduk si murid baru itu dengan dagunya sekilas.
Fathur manggut-manggut seraya ber-oh ria.
"Nanti pulang aku antar ya." Ucapnya mengajak gadisnya pulang bersama.
"Aku bisa sendiri."
Berdecak, Fathur menekuk wajahnya sebal. "Ayolah, kemarin kamu nggak pulang bareng aku. Mau ya?" Paksanya di balas desahan pelan kekasihnya pelan.
"Ya."
Fathur tersenyum lebar mendengarnya, pemuda itu bahkan sampai menarik kedua sudut bibirnya lebar hingga matanya menyipit.
"Yes, gitu dong. Aku tunggu di depan kelas ya." Ujarnya semangat.
"Aku mau pulang bareng, asal nanti kamu harus masuk ke kelas kamu. Ingat, Be-la-jar." Seru Fersia menekankan kalimat belajar dengan maksud benar-benar belajar.
Fathur cengir, terkekeh pelan.
"Hehehe, iya iya. Nanti aku masuk kelas. Siap komandan cantikku."
Sia geleng-geleng kepala.
Beberapa murid murid balik ke kelas XII-IPA2, begitu pula dengan Fanny. Ketika gadis itu melihat ada sosok Fathur, langsung menghampiri pemuda itu dengan wajah ceria.
"Hai, Fathur." Sapa gadis itu yang hanya di balas anggukan kepala pelan saja.
"Ya sudah, aku ke kelas ya. Belajar yang rajin ya SAYANG." ucap pemuda itu menekankan kalimat sayang membuat beberapa murid perempuan menahan pekikan heboh.
Sedangkan Sia sudah menatap Fathur dengan sorot mata dingin, yang di balas kekehan merdu pemuda itu.
"Kamu mau langsung ke kelas?" Pertanyaan Fanny membuat pergerakan Fathur yang baru akan keluar dari bangku terhenti.
Kini, pemuda itu sudah berdiri tepat di hadapan Fanny.
"Iya, udah mau bel juga. Ngapain juga gue di sini lama-lama." Balas pemuda itu setengah malas, lalu pandangannya beralih menatap gadisnya.
"Aku balik ya." Pamitnya mengacak sedikit rambut pacarnya tersebut.
Sia hanya mengangguk kecil. Fathur pun sontak melanjutkan langkahnya, meninggalkan Fanny yang mengepalkan tangannya kesal merasa tidak di anggap.
Lagi-lagi Fathur masih bersikap jutek kepadanya.
Awas kamu, Fathur. Gerutu Fanny dalam hati.
*****
"Pekerjaan kamu di Jakarta kapan selesainya, Sayang?"
Arash baru keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk melilit di pinggangnya, laki-laki baru saja selesai membersihkan diri usai mereka melakukan hubungan seperti biasa dengan Pinkan, tunangannya.
"Aku belum tau, Sayang. Sabar ya, ini jugakan buat kita. Aku mau banyak nabung buat masa depan kita, Sayang." Ucap lelaki itu memberi pengertian.
Pinkan mengangguk di atas tempat tidurnya, wanita cantik itu tersenyum di balik perasaan sedih yang menggelayutinya.
Pinkan hanya merasa Arash terlalu sibuk. Bahkan pertemuan mereka bisa wanita itu hitung. Padahal ia adalah tunangan lelaki itu.
"Apa aku pindah ke Jakarta aja ya, Sayang." Gerakan Arash yang tengah memasang kancing kemejanya terhenti. Laki-laki tampan itu memandang Pinkan dengan alis terangkat terkejut.
"Pindah?"
Pinkan berdehem. "Hmm, iya Sayang. Biar kita bisa ketemu terus. Aku tuh selalu kangen sama kamu. Kadang kalau kamu sudah kerja, suka lupa waktu dan nggak ingat sama aku." Ujarnya cemberut.
Arash tersenyum menawan, lelaki itu mendekati tempat tidur duduk di tepi kasur menatap tunangannya tersebut lekat. Tangannya terangkat membelai pipi itu lembut.
"Kenapa kamu harus berpikir sampai seperti itu, Sayang. Aku di sana kerja loh, aku nggak ada ngapa-ngapain. Kamu kan tahu sendiri, aku kerja sama om aku. Nggak mungkin aku ajak kamu, sedangkan pekerjaan kamu ada di sini kan." Papar Arash bijak.
Pinkan masih menekukkan wajahnya sedih.
"Aku takut kamu di ambil perempuan lain di luaran sana, Arash."
Kekehan geli terdengar, Arash mencubit gemas pipi tunangannya.
"Mana mungkin aku berpaling dari kamu, sedangkan aku selalu puas kalau ada di dekat kamu. Kamu yang terbaik, Pinkan. Jadi jangan berpikir aneh-aneh. Aku cintanya cuma sama kamu, Sayang." Rayu Arash.
Blush
Wajah Pinkan merona merah padam, ia tersenyum malu-malu. Memukul pelan lengan Arash salah tingkah.
"Ih, kamu jangan frontal gitu dong. Kan aku malu."
"Kenapa harus malu? Aku tunangan kamu? Aku juga yang akan menikahi kamu, iya kan?"
Pinkan mengangguk malu membenarkan.
Grep
"Aku tuh cinta banget sama kamu, Arash. Aku rela ngelakuin apapun asal kamu tetap sama aku."
Arash menepuk punggung polos wanita yang mendekap dirinya pelan.
"Aku juga cinta kamu, Pinkan." Balasnya berbisik. "Sayangnya hanya dalam angan-angan kamu saja, dasar wanita bodoh. Aku bisa menikmati tubuh kamu bahkan tanpa harus membayar." Lanjutnya dalam hati mencibir.
*****
Bersambung