Bab 25. Jalan Berdua

1057 Words
Happy reading Typo koreksi **** 'Apa yang aku mau harus tercapai, termasuk memiliki kamu' ... Fanny Kailana ... *** Gadis bernama lengkap Fanny Kailana tampak menatap sepasang kekasih yang baru saja pergi, ia berdiri di koridor depan kelasnya ketika Fathur dan Fersia sudah jalan beriringan menuju area parkir motor bersama sahabat-sahabat pemuda itu tentunya. Mereka tampak senang kala gadis berwajah innocent itu pulang bersama mereka. Fanny menggertakkan giginya kesal melihat pemandangan tersebut. Di area parkir. "Sia apa kabar? Tau nggak kalau cowok elo nih yang gantengnya selangit, kemarin habis bikin kamar gue kaya kapal pecah loh. Gila kan? Untung bokap nyokap nggak lagi di rumah." Sia menatap Tegar yang mengadu hal demikian kepadanya. Sedangkan Fathur yang baru saja duduk di atas joknya, sudah siap menelan sahabat bobroknya itu hidup-hidup. Sialan nih anak. Umpatnya. "Woi, Gar. Jangan mancing-mancing si Abang marah, noh udah mau keluar tanduknya. Awas di sundul, kapok dah." Timpal J ikut berseru dengan nada mengejek melihat ekspresi tidak enak sahabatnya itu. Dua pemuda itu langsung tergelak bersamaan, Fathur hanya bisa mendengkus kasar melihat kelakuan para sahabatnya yang kurang ajar. "Jangan di dengerin. Ayo naik," seru Fathur memotong, mengajak gadis itu untuk segera naik ke motornya. Sia baru selesai memakai helm pun langsung duduk tanpa kesulitan sedikit pun, gadis itu juga tidak membalas atau menanggapi ucapan Tegar dan J karena baginya sudah biasa saat mereka menggoda dan mengejek Fathur kekasihnya. "Duh ... buru-buru amat Pak Bos. Nongki yuk, traktir lah." Ucap Tegar di sela sisa gelak tawa kecilnya tadi. Gelengan langsung di berikan oleh Fathur cepat. "Nggak, gue mau quality time sama cewek gue. Kalian aja sana, gue off hari ini." Balasnya santai. "Beuh ... iya deh ngerti." Ejek Tegar dengan nada mencibir. Fathur menekan klakson motornya sekali sebagai tanda jika ia akan lebih dulu pergi bersama Sia. Ketiga pemuda itu hanya bisa diam saja menatap tanpa bisa protes sedikitpun. "Aduh, maaf ya lama, Fan. Yuk pulang." Ajak Hani yang baru selesai membersihkan kelas bersama murid lainnya hari ini. Fanny yang sudah berencana pulang bareng teman barunya itu hanya berdehem pelan seraya mengangguk mengerti. Keduanya pun berjalan beriringan keluar gerbang bersama menuju mobil jemputan Fanny yang sudah menunggu. Di jalan raya, motor Fathur sudah bergabung dengan beberapa pengendara lainnya membelah kebisingan. Sesekali pemuda tampan itu melirik kekasihnya lewat kaca spion. "Mau makan dulu nggak?" Fathur setengah berteriak karena suaranya sudah pasti teredam oleh helm fullface yang ia pakai dan juga suara kendaraan di jalan. Sia yang mendengar hanya membalas seadanya. "Terserah." Tidak kembali bertanya, anak muda itu membawa motor ninjanya ke daerah yang biasanya banyak kafe. Cuaca tampak sangat mendukung, tidak begitu panas mau pun mendung. Butuh waktu sekitar 25 menit untuk mereka tiba di salah satu kafe cukup lumayan jauh dari SMA PELITA. Fathur dan Sia duduk di spot outdoor kafe tersebut. "Weekend aku sama anak-anak mau ke Bandung. Kamu mau ikut?" Ajak pemuda ketika mereka sedang menunggu pesanan duduk menikmati waktu. "Bandung? Ngapain?" "Main aja, atau kamu mau ke tempat lain tinggal bilang nggak apa-apa kok." Jelasnya. Sia terlihat terdiam beberapa saat, gadis itu tampak berpikir keras, memikirkan apakah dirinya harus ikut atau tidak. Tapi Sia juga takut kalau di sana nanti ia bisa saja bertemu orangtua angkatnya dan membuat mereka sedih lagi. "Berapa hari?" "Maybe nginap semalam aja. Tapi semua bisa berubah kok, kamu mau ikut?" Tanya pemuda itu lagi sedikit antusias berharap kekasihnya itu ikut tour bersamanya. "Aku nggak bisa." Tolak Sia akhirnya. Fathur mendesah berat, sudah tau kalau akhirnya Sia tidak akan mau ikut pergi dengannya. "Oke, tapi beneran nggak apa-apa kan kalau aku pergi? Kamu mau sesuatu nggak dari sana. Bilang aja ya, nanti aku usahakan cari buat kamu." Ujar pemuda penuh perhatian. Sia hanya menggeleng kecil. "Tidak ada." Ya. Gadis itu tidak membutuhkan barang atau apapun lagi, sebab dalam lubuk hatinya Sia sangat merindukan keluarganya. Sia ingin bertemu mereka, tapi rasa malu lebih mendominasi dirinya. Bagaimana bisa dirinya muncul tiba-tiba di hadapan kedua orangtua angkat, setelah ia memilih meninggalkan keluarga hangat penuh kasih sayang itu selama 3 tahun terakhir. Meninggalkan keluarga yang sudah mau merawatnya. "Oke." Sahut Fathur tidak memaksa. Ting Ting Ting Sebuah pesan notifikasi masuk ke dalam pemuda itu. Isi pesan dari gadis bernama Fanny itu membuat Fathur terganggu. Cewek Aneh Weekend aku mau jalan sama kamu bisa kan? Pasti bisa kan? Kalau kamu nolak aku bisa bilang ke Sia besok soal kita. Soal malam kamu tidur sama aku. (Read) Rahang Fathur mengeras, membaca deretan pesan yang di terimanya. Giginya bergemelutuk menahan amarah. Sialan. Geramnya. "Ada apa?" Sia yang menangkap perubahan mimik wajah Fathur langsung bertanya. Tersentak, Fathur menarik sudut bibirnya ke atas paksa. "Nggak ada apa-apa kok. Ini cuma chat dari Tegar aja, bilang kalau dia nunggu aku nyusul mereka buat nongkrong." Sia yang tidak ingin pusing memikirkan pun hanya mengangguk saja. "Yuk makan dulu." Lanjut pemuda itu tepat ketika pesanan mereka tiba. Fathur sontak mematikan ponselnya tanpa membalas pesan tersebut dan lebih fokus menikmati waktu bersama kekasihnya. Di lain tempat, Fanny Kailana terkekeh. Hani yang sedang berkunjung ke rumah gadis itu memandang heran. "Senyam-senyum aja daritadi, Fan. Ada apa?" "Oh, nggak ada apa-apa kok. Cuma ini aku kirim pesan aja kok." "Cie ... siapa nih?" Goda Hani membuat Fanny kembali tertawa kecil. "Ada deh." "Alah, paling Fathur kan." Ujar Hani asal. Blush Pipi gadis pemilik rumah itu seketika memerah merona. Hani tergelak. Sebelum akhirnya gadis itu ikut tertawa karenanya. "Dasar, parah ih elo, Fanny. Elo beneran suka sama Fathur. Di balas nggak sama tuh cowok?" Geleng kepala Hani melihat perubahan malu-malu teman barunya itu. Gadis itu tidak menjawab, hanya meletakkan ponselnya asal di atas tempat tidur. "Ada deh, kepo." Ejeknya membuat Hani memukul bahu Fanny pelan. "Ye ... dasar. Awas aja kalah saing sama pawangnya elo nanti." Balas Hani mengejek teman sebangkunya itu membuat bibir Fanny menekuk cemberut. "Bukannya dukung temannya juga, dasar. Dah ah yuk turun, makan dulu." Ajak Fanny, di balas anggukan Hani tentu saja. Kedua gadis itu akhirnya turun ke lantai bawah rumah bertingkat dua tersebut dengan canda bersama. Namun, dalam pikiran Fanny Kailana. Gadis itu tengah membayangkan wajah marah Fathur saat menerima pesannya. Bahkan, pemuda itu tidak membalasnya sama sekali membuat Fanny terkekeh sendiri. Makanya jangan bikin aku bete. Gumam gadis itu dalam hatinya. Siapa suruh Fathur membuat dirinya kesal. Fanny bukan gadis penakut seperti yang Fathur kira. Apapun keinginannya Fanny akan mendapatkannya. Baik dengan cara halus maupun tidak. **** Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD