Happy reading
Typo koreksi
****
'Nggak perlu sok perhatian'
... Fathur Artha Putra ...
***
"Gue perlu ketemu sama elo? Sharelock, biar gue kesana?"
"Kita ketemu di club waktu itu aja, boleh kan?" Balasan dari suara di seberang sana.
"Terserah."
Tut.
Sambungan pun terputus, pemuda yang baru saja menghubungi nomor dengan nama kontak 'cewek aneh' di ponselnya itu. Sontak bergegas membersihkan diri.
Fathur Artha Putra baru saja sampai di rumahnya usai mengantar Fersia pulang ke apartementnya dengan selamat. Kini, ia harus bersiap untuk pergi menemui gadis yang sudah berani mengancamnya tersebut.
Siapa lagi kalau bukan, Fanny Kailana.
Tok tok tok
"Aden, maaf. Bapak sama ibu suruh Bibi panggil Aden turun ke bawah." Gerakan tangan Fathur yang hendak membuka kancing seragam sekolahnya pun sontak terhenti. Pemuda itu kemudian berjalan ke arah pintu lalu membukanya. Wajah wanita paruh baya yang selama ini selalu bersamanya di rumah terlihat.
"Papa sama mama sudah pulang, Bi? Kapan pulangnya?" Tanya Fathur to the point.
Bi Asi mengangguk pelan. "Iya Den, baru saja sampai. Tapi Bapak tadi suruh Bibi panggil Aden sebentar." Seru beliau memberitahu.
Mendesah, pemuda itu akhirnya hanya bisa mengangguk mengerti.
"Bibi turun duluan aja. Aku ganti baju dulu."
"Baik, Den."
Setelah menatap kepergian Bi Asi. Fathur kembali masuk ke dalam kamarnya. Ia mengambil asal kaus dan celana jeans robek miliknya, kemudian memakainya cepat.
Niat awalnya yang ingin pergi mandi, ia urungkan. Setelah selesai berganti pakaian, pemuda tampan itu pun turun ke lantai satu rumahnya. Dari ujung tangga ia sudah bisa melihat figur kedua orangtuanya yang duduk di sofa ruang tengah.
"Kenapa lama sekali? Jangan pernah bikin orangtua kamu menunggu Fathur Artha Putra." Tekan suara berat itu kepadanya.
Fahmi Sanjaya Putra menatap putranya tajam, yang justru di balas santai oleh anak laki-lakinya tersebut.
"Ya aku harus ganti baju dulu, Pa. Ada apa? Tumben Papa sama Mama sudah pulang? Nggak nunggu dua bulanan lagi baru pulang." Ucapnya di selingi nada penuh cibiran.
Fahmi sang ayah memandang putranya itu tidak suka.
"Kamu tidak sopan, jaga cara bicara kamu Fathur." Gertak beliau dengan rahang mengeras.
"Papa sudah, katanya mau bahas soal itu ke anak kita. Tahan dulu, jangan marah-marah." Ucap Adinda Wulandari sang ibu.
Fathur melirik ibunya malas, bagi Fathur keduanya sama saja.
Helaan napas berat Fahmi ayahnya terdengar.
"Duduk, Fathur. Ada yang Paa bicarakan sama kamu." Ujar beliau bernada perintah.
Meski enggan, pemuda itu menurut mengambil duduk di sofa sebelah ibunya. Terlihat Adinda ibunya menatap dirinya lega. Tapi, sayangnya Fathur membuang pandangannya lurus hanya ke arah Fahmi ayahnya.
"Ya sudah mau bicara apa. Aku ada janji sama teman sekarang."
Alis pria paruh baya yang masih terlihat gagah itu terangkat naik ke atas.
"Kamu tidak boleh keluar, Papa dan Mama baru saja pulang Fathur. Apa kamu tidak bisa untuk diam di rumah sebentar."
"Buat apa sih, Pa? Papa sama Mama juga pasti langsung istirahat kan?" Selaknya sedikit keras.
"Kami hanya istirahat sebentar saja. Apa kamu tidak rindu Papa dan Mama?" Tanya Fahmi masih dengan ekspresi penuh intimidasi.
Fathur berdecak dalam hatinya kesal.
Cih, kangen.
"Aku sudah biasa nggak ada Papa dan Mama di rumah. Jadi nggak ada hal yang perlu aku kangen-kangenin sekarang. Sebenarnya Papa mau bicara apa? Aku sudah telat."
Fahmi mendesah berat.
"Baiklah, Papa minta kamu besok luangkan waktu untuk ikut Papa dan Mama. Kita ada undangan dari rekan bisnis keluarga kita."
Gelengan kuat di berikan oleh pemuda itu.
"Nggak mau! Buat apaan Fathur ikut. Biasanya juga nggak pernah." Tolaknya setengah memekik.
"FATHUR." balas Fahmi membentak marah.
"Kenapa Papa maksa sih? Biasanya Papa pergi berdua aja sama Mama. Kenapa sekarang bawa-bawa aku. Pokoknya Fathur nggak mau ikut." Ujar pemuda itu tetap tidak suka.
Fathur langsung berdiri, menatap ayah dan ibunya sejenak.
"Jangan bersikap seolah Papa dan Mama itu orangtua yang sempurna buat aku. Nanti kalian bisa malu sendiri." Usai mengatakan itu Fathur memilih pergi meninggalkan Fahmi ayahnya yang emosi karena sikapnya.
"FATHUR MAU KEMANA KAMU! KEMBALI. PAPA BELUM SELESAI BICARA!"
BRUUUMMMM
Suara knalpot motor memekakkan telinga terdengar di halaman rumah besar tersebut. Fathur pergi menaiki motornya dengan kecepatan di atas rata-rata mengabaikan suara teriakan membahana ayahnya.
Dasar berengsek. Umpatnya saat melaju kencang.
Di dalam rumah itu, atmosfer berubah menjadi mencekam. Amarah Fahmi tampaknya belum reda melihat sikap kurang ajar putranya tersebut.
"Papa sudah tahan ya, biar nanti Mama yang bicara sama Fathur. Papa kan tahu sendiri, sikap anak kita itu seperti apa. Dia keras kepala sama kaya Papa kan. Jadi ... biar Mama yang coba ngobrol dan menasihati Fathur. Sekarang Papa istirahat saja ya. Nanti Mama buatkan s**u hangat." Ucap Adinda lembut.
Fahmi menatap istrinya itu sejenak sebelum menghembuskan napasnya kasar dan mengangguk pelan.
"Baiklah. Papa juga lelah sekali."
Tersenyum lebar, Adinda mengangguk paham.
"Iya, Pa. Nanti Mama nyusul ya, Mama mau ke dapur dulu." Ujarnya memberitahu.
Fahmi pun beranjak berjalan ke arah kamarnya, sedangakan sang istri tampak diam beberapa detik masih pada posisi duduk memandang kepergian suaminya. Sebelum akhirnya melanjutkan niatnya yang ingin ke dapur membuat s**u hangat.
Di dapur beliau bertemu dengan asisten rumah tangganya, Bi Asi.
"Bi Asi." Panggilnya membuat Bi Asi menoleh dan sedikit menundukkan kepalanya.
"Iya, Bu." Sahutnya.
"Bi, saya mau tanya. Apa Fathur selalu ada di rumah? Atau dia hanya menghabiskan waktu di luar rumah terus?"
Bi Asi menelan ludahnya gugup.
"Anu--"
"Bi, jawab jujur saja. Tidak apa-apa. Saya juga nggak akan memarahi Fathur. Saya hanya ingin tahu. Apalagi tadi Fathur habis berdebat dengan ayahnya. Saya perlu tahu apa kesukaan Fathur selama saya dan bapak tidak ada di rumah."
"Maaf, Bu. Sebenarnya Aden jarang pulang. Biasanya nginap di rumah teman. Atau terkadang pulang tapi tengah malam. Bibi selalu tanya Aden di telepon. Nanti pulang atau tidak, begitu Bu. Maaf Bu, jangan marahin Aden ya, Bu."
Adinda tersenyum mendengarnya.
"Jangan takut Bi. Saya nggak akan marah ke Aden kok. Makasih ya Bi. Sudah mau jagain Fathur selama saya dan bapak tidak di rumah." Ucap ibu Fathur tulus.
Bi Asi menggeleng. "Jangan berterima kasih sama saya, Bu. Itu sudah tugas saya sebagai pekerja di rumah ini. Lagi pula Aden sudah saya anggap seperti anak sendiri. Biar pun Aden sikapnya suka kasar dan keras kepala sama orang lain. Tapi, Aden teh anak yang baik, Bu." Seru Bi Asi pelan dengan tatapan hangat seperti biasanya.
"Iya, Bi. Saya mengerti. Sekali lagi, terima kasih ya." Ujar Adinda kembali tersenyum.
"Mudah-mudahan nanti Fathur pulang ya Bi." Lanjut ibu Fathur penuh harap.
"Mudah-mudahan, Bu." Jawab Bi Asi mengaminkan.
Adinda tersenyum lega dalam hatinya. Wanita paruh baya itu sadar jika dirinya dan suaminya Fahmi terlalu sibuk, sehingga membuat Fathur kehilangan perhatian dari mereka. Bisnis keluarga begitu di jaga oleh suaminya. Karena itu, mereka selalu jarang berada di rumah.
Begitu banyak waktu terlewatkan dengan sangat cepat. Batinnya miris.
*****
Bersambung