HUTAN LARANGAN
Disebut hutan larangan karena memiliki banyak misteri, sampai saat ini kejadian-kejadian aneh yang terjadi di hutan larangan masih belum terpecahkan.
Hutan yang terletak di jalur poros Kota M menuju ke Kota S. Jika siang hari, kondisi jalan nampak normal dan ramai kendaraan yang lalu lalang. Mulai dari pedagang, truck distribusi, masyarakat umu dll.
Jarak yang harus ditempuh dari Kota M menuju ke Kota S kurang lebih Tiga Jam perjalanan darat. Jika malam datang jalan mulai sepi hanya beberapa supir dan orang nekat saja yang berani menerjang tebalnya kabut malam Hutan Larangan.
Selain kabut terdengar desas desus bahwa banyak orang sering melihat penampakan Siluman Ular di gerbang masuk hutan larangan. Melingkar pada sebuah gapura bertuliskan Anda memasuki kawasan hutan larangan, hati-hati dan selamat sampai tujuan.
Tak sedikit pula korban yang meninggal dan luka berat akibat terperosok masuk kedalam jurang. Saksi hidup mengatakan jika jurang itu nampak seperti jalan lurus yang sangat mulus, tentu saja itu tidak benar. karena campur tangan Makhluk Gaib yang menyesatkan dan mencari tumbal.
Karena itu, seorang pria paruh baya mengutus cucu laki-laki nya untuk mengusir dan melenyapkan gangguan Makhluk-makhluk astral itu. Cukup ! jangan sampai ada lagi korban.
"wongso ! pergilah ke Hutan Larangan. Ini tugas pertamamu sebelum kuberikan tugas yang lain. Aku ingin lihat apakah kamu mampu" Titah Kakek Sastro kepada cucunya.
"Baiklah kakek, Aku menyanggupinya ! Aku meminta restu kepada kakek" Wongso Prayogo mengangguk dan menjawab dengan tegas perintah Kakeknya.
Pria muda di umurnya yang saat ini menginjak angka 24 tahun itu juga mulai geram. Apalagi, tempat kedua orang tuanya tewas adalah di Hutan Larangan itu. Wongso tak tau pastinya kapan, Karena saat meninggalnya orang tua Wongso. Wongso masih sangatlah kecil dan selama ini yang membesarkannya adalah kakeknya.
Hingga saat ini dia tumbuh menjadi pria tampan dan gagah. Perawakannya tinggi kekar dan memiliki kumis tipis, matanya tajam layaknya predator bersayap yang menjadi maskot sebuah negara.
Otot tanganya keras karena latihan fisik dan juga kerja keras yang dilakukannya selama ini.Sekedar membantu kakeknya di kebun dan lain hal.
"Kapan aku bisa berangkat kek ? aku tak sabar memberikan mereka perhitungan !" Tanya wongso kepada kakeknya. Tanganya mengepal menahan emosi.
"Sabarlah...Besok mintalah Dodi mengantarkan mu kesana. Kasian kau jika harus jalan kaki !" Jawab Kakek Sastro.
"Baik kek, Wongso menurut saja" Wongso mulai menguraikan emosinya, setidaknya untuk saat ini.
Wongso dan Kakeknya saat ini duduk berhadapan di dalam gubuknya. Gubuk yang menjadi saksi pertumbuhan wongso, gubuk yang juga menjadi saksi betapa kerasnya sang kakek kepadanya.
Tapi wongso tak mungkin marah, dia tau itu yang terbaik untuknya. Hingga kini Ia tumbuh menjadi sosok pemuda yang gagah berani dan sangat dapat diandalkan.
Wongso berpamitan hendak turun ke Desa, membeli minyak yang digunakan sebagai bahan dasar penerangan Lentera di gubuknya. Karena saat siang tadi Ia melihat stok minyaknya sudah berkurang.
"Kek, wongso mau ke Desa beli minyak. Kakek mau titip ?" Wongso berpamitan.
"Tidak ada, pergilah ! Ingat selalu waspada, ini sudah malam" Kakeknya mewanti-wanti dan dijawab anggukan oleh wongso.
Wongso bergegas mengambil wadah minyaknya yang berukuran 5 liter kemudian berjalan keluar, ke tempat sepeda yang Ia sandarkan pada sisi gubuk.
Wongso kini sudah mulai meninggalkan gubuk menuju ke Desa Kayu Wangi. Desa yang Ia dulu tempati bersama kakek juga orang tuanya.
Demi menghapus kesedihan dan rasa kehilangan, kakek sastro membawanya menjauh dari desa. Ya, di gubuknya yang berjarak cukup jauh karena sedikit masuk kedalam hutan. Hanya jalan setapak dan tidak bisa dilalui kendaraan roda empat.
"Halo, Ripto ! Bagaimana ? Apakah semuanya lancar" Kakek sastro berbicara melalui gawai miliknya.
"Halo Tuan ! Iya, semuanya baik-baik saja ? bagaimana kabar Tuan Besar dan Tuan Muda ?" Tanya pria di seberang telepon.
"Semuanya baik, Kau tak perlu khawatir ! Baiklah...Jaga dirimu. Aku tutup dulu" Ucap Kakek Sastro .
"Baik Tuan Besar, terimakasih. Salam untuk Tuan Muda" Ucap pria bernama Ripto Sucipto.
Ripto Sucipto adalah murid sekaligus sahabat mendiang Ayah Wongso, mereka sangat dekat dan kini menjadi orang kepercayaan Kakek Sastro. Hingga usaha yang dirintis miliknya Ia serahkan untuk dikelola Ripto.
Apa Wongso tau ? Tentu tidak ! Biarlah cucunya mengenalnya sebagai mantan pendekar yang miskin saja. Tapi bukan bearti Kakeknya akan tutup mata, semua itu sudah disiapkannya bahkan sebelum wongso berbentuk biji kacang di dalam rahim ibunya.
"Sabarlah cucuku, aku tau kau akan jadi orang hebat nantinya !" Batin Kakek Sastro.
Nasib yang belum berpihak kepadanya, harus menduda dan merawat anak semata wayangnya seorang diri sejak bayi. Istrinya lebih memilih meninggalkannya setelah selesai proses persalinan, pendarahan hebat yang membuatnya kritis dan berakhir tak selamat.
Tapi sepertinya Rantai Takdir tuhan belum cukup untuk mencoba dan menguji keimanannya, hingga pada suatu hari. Anak beserta menantunya pun ikut meninggalkannya dan menitipkan Balita yang kini menjadi sosok tangguh.
"tes!" Bulir bening menitik dari mata tua itu.
Kerinduan yang mendalam kembali menghadirkan memori yang menyakitkan. Rambutnya kini sudah memutih namun tubuhnya masih tegap tak seperti orang jompo yang banyak sudah bungkuk.
"Bude ! Beli.." Wongso memanggil pemilik warung.
"Eh, wongso. La kok malem-malem ! Mau beli apa ?" Tanya Bude Imah pemilik warung.
"Minyak Bude, Ini wadahnya" Wongso mengulurkan Jerigen bervolume 5 liter.
"Oh, iya. tunggu sebentar" Bude Imah menerima Jerigen itu dan mulai mengisinya dengan minyak.
"Berapa Bude ?" Tanya wongso sembari mengeluarkan uang dari gelungan sarung. Klasik ! Unik
"Sebentar ! Kamu duduk dulu, ya le" Bude Imah menunjuk sebuah bangku kecil di samping warung.
Wongso hanya mengangguk.
Tak lama menunggu, Bude Imah sudah memanggil wongso.
"Le, ini sudah minyaknya" Kemudian mengulurkan Jerigen yang sudah memberat itu dan memberikan sebuah kantong plastik hitam yang agak berat.
"Makasih Bude. Loh, ini apa Bude ? Kan saya tadi cuma beli minyak !" Tanya wongso bingung.
"Iya, kamu emang beli minyak le. Tapi...ini Bude kasih gratis, tidak perlu bayar" Ucap Bude Imah menjawab kebingungan wongso.
"Waduh, saya jadi merepotkan Bude Imah kalau begini !" Ucap Wongso tak enak.
"Oh, iya Bude. Ini uang minyaknya" . lanjut wongso
Bude Imah buru-buru menolak, bukan tak mau. Tapi sebenarnya warung itu pun adalah milik wongso tanpa Ia ketahui. Warung yang berdiri karena Kakek Sastro dan Bude Imah sebagai orang yang diberikan tanggung jawab untuk mengelola.
"Karena hari ini anak Bude ulang tahun, jadi kamu Bude kasi gratis..hehe" Ucap Bude Imah mencari alasan yang masuk akal.
Wongso merasa ada yang aneh dengan alasan Bude Imah. Dia sangat mengenal anak Bude Imah, karena dulunya mereka Bersekolah dan berada dikelas yang sama.
"Loh, bukanya Asti ulang tahunya 10 hari lagi Bude ?" Tanya Wongso heran.
"E-anu...Anggap saja ini syukuran. iya..syukuran" Kata Bude Imah gugup.
"Kamu mending cepet pulang, nanti kakekmu mencari karena lama !" Kata Bude Imah lalu mendorong tubuh Wongso pelan.
Dia takut jika lama-lama Wongso berada di warungnya, bisa gawat kalau tau perkataanya hanyalah bohong.
"ahh, benar juga ! Mending aku pulang sekarang". gumam wongso. Ia memilih tak memikirkan sikap Bude Imah yang sedikit aneh tadi kemudian begegas mengayuh sepedanya pulang.