Bab 2. Pertemuan dengan Mantan

1442 Words
Reyhan yang semula menunduk seketika mendongak menatap wajah wanita tersebut dengan terkejut. "Ka-kamu?" katanya seraya berdiri tegak. "Ka-mau Meta, 'kan?" Meta hanya tersenyum hambar dengan perasaan canggung. Bukan hanya canggung saja yang ia rasa saat ini, jantungnya seakan hendak meledak, perasaanya campur aduk sulit untuk diucapkan dengan kata-kata. Meta kembali melangkah mendekati meja, mencoba menguasai perasaannya. "Saya orang tuanya Sonia, Dok. Kata perawat, Anda pengen ketemu sama saya," ucap Meta, berusaha untuk bersikap biasa saja, bahkan seolah tidak mengenali Reyhan. Reyhan terdiam, pikirkannya kembali melayang ke masa lalu. Meta adalah mantan terindah baginya, meskipun wanita itu mengkhianatinya dengan menikah dengan pria lain, tapi rasa itu masih utuh tersimpan di relung hatinya yang paling dalam. Akan tetapi, penampilan Meta benar-benar berbeda, wanita itu berpenampilan sangat sederhana. Dress polos berwarna abu nampak membalut tubuh langsingnya. "Astaga, Meta. Sebenarnya apa yang terjadi sama kamu? Jadi, kamu ninggalin saya cuma buat hidup kayak gini? Penampilan kamu nggak banget, beda sama Meta yang dulu saya kenal," batin Reyhan, menatap lekat wajah Meta penuh kerinduan. "Maaf, Dok. Saya gak punya banyak waktu, saya harus menemani putri saya di UGD," ucap Meta dengan wajah datar. Meta mencoba untuk menyembunyikan keresahan hatinya, bukan hanya Reyhan saja yang terkejut dengan pertemuan mereka, ia pun merasakan hal yang sama sebenarnya. Meskipun Reyhan menorehkan luka yang begitu dalam, tapi hubungannya dengan pria itu masih membekas sampai saat ini. "Kamu gak kenal sama saya, Met?" tanya Reyhan seraya duduk dengan perlahan, tapi matanya tidak beranjak sedikitpun dalam menatap wajah Meta. Meta balas menatap wajah Reyhan dengan tajam. "Oke, aku mengenali kamu, Dokter Reyhan, tapi aku di sini bukan untuk bernostalgia, aku ke sini mau nanyain keadaan anak aku, Sonia!" Reyhan memejamkan mata seraya menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan lalu kembali menatap wajah wanita dengan rambut diikat sembarang di ujung kepala. Ia mencoba untuk mengontrol perasaan dan bersikap profesional. Meskipun begitu, dirinya akan tetap menemui Meta secara pribadi. Hubungan mereka memang sudah selesai, bahkan tujuh tahun sudah berlalu sejak mereka memutuskan untuk menenggelamkan perasaan dan menjalani kehidupan masing-masing. Namun, ada banyak hal yang ingin ia tanyakan. Mengapa mantan kekasihnya ini meninggalkannya dan menikah dengan pria lain di saat ia sedang mengeyam pendidikan di luar negeri? "Maaf, saya udah kelewat batas. Baiklah, saya akan menjelaskan kondisi putri kamu, Meta," ucap Reyhan, kepalanya menunduk dengan perasaan berkecamuk. *** Setelah menghabiskan waktu selama 20 menit guna menjelaskan kondisi Sonia yang didiagnosa menderita tipus kronis, Meta akhirnya meninggalkan ruangan Dokter, meninggalkan Reyhan sendirian dengan perasaan berkecamuk. Pria itu bahkan tidak mampu menahan kepergian Meta, padahal ada banyak hal yang ingin ia bicarakan dengannya. Reyhan mengusap wajahnya kasar dengan mata terpejam. "Ya Tuhan, kenapa saya harus ketemu lagi sama kamu, Meta? Kenapa takdir mempertemukan kita lagi?" gumamnya. "Tapi tunggu, Sonia usianya baru tujuh tahun, dan terakhir kali saya ketemu dia tujuh tahun lalu kayaknya Meta baru melahirkan anak itu. Saya ko ngerasa ada yang aneh, ya." Reyhan meraih ponsel miliknya yang tergeletak begitu saja di atas meja lalu menghubungi bagian administrasi. *** Dua jam kemudian, Meta memasuki ruangan VVIP di mana Sonia baru saja dipindahkan dari ruangan Unit Gawat Darurat. Keningnya mengerut seraya menatap sekeliling ruangan yang memiliki pasilitas layaknya kamar hotel mewah. Ia hanya memesan kamar kelas tiga, tapi mengapa putrinya dipindahkan ke ruangan yang biasa dihuni oleh pasien dari kalangan atas? Sementara, ia tidak memiliki uang yang cukup untuk membayar biaya permalamnya. "Permisi, Sus," sapa Meta kepada perawat yang tengah memeriksa jarum infus yang terpasang di pergelangan tangan Sonia. "Iya, Mbak," jawab sang perawat, menoleh dan menatap wajah Meta dengan senyum ramah. "Ini, Sus. Eu ... saya 'kan pesan kamar di kelas tiga, kenapa anak saya dibawa ke sini? Saya gak punya uang buat bayar permalamnya, Sus," tanya Meta. "Tolong pindahin aja anak saya ke ruangan kelas tiga, Sus. Kalau ruangannya kosong, kami gak apa-apa ko nungguin di UGD dulu buat sementara waktu." Perawat tersebut kembali tersenyum ramah. "Anda gak usah khawatir, Mbak. Dokter Reyhan sendiri yang meminta putri Anda dipindahkan ke sini, beliau yang akan menanggung semua biaya perawatan putri Anda," jawab perawat lalu melangkah menuju pintu hendak keluar dari dalam ruangan. Meta terdiam dengan perasaan bingung. Di saat bersamaan, pintu kamar pun dibuka dari luar. Reyhan memasuki ruangan dengan masker medis menutup separuh wajahnya, hanya memperlihatkan kedua matanya yang tajam lengkap dengan alisnya yang tebal. Jas putih nampak membalut tubuh kekarnya membuat Meta seketika terpaku menatap mata Reyhan dengan tatapan sayu. "Ya Tuhan, kenapa Engkau harus mempertemukan aku sama Reyhan lagi? Susah payah aku ngelupain dia, sekarang laki-laki ini ada di hadapanku?" batin Meta, seraya memalingkan wajahnya ke arah samping. "Gimana ruangannya, kamu suka?" tanya Reyhan, melepaskan masker yang menutup wajahnya membuat ketampanannya kini terlihat jelas dan nyata. "Maaf, kalau saya gak bilang dulu sama kamu, Meta. Saya cuma pengen anak kamu mendapatkan perawatan terbaik dan sembuh seperti sedia kala." "Lebih baik kamu minta perawat buat bawa Sonia ke ruangan kelas tiga, Dokter Reyhan. Aku gak punya uang buat bayar biaya permalamnya," ucap Meta dengan dingin. "Sonia, siapa ayah anak ini, Meta? Apa dia benar-benar anak kamu dan suami kamu?" Meta diam membeku dengan tubuh gemetar. "Kenapa kamu diem aja, Meta?" tanya Reyhan, memandang wajah Meta penuh kerinduan. "Apa ada yang salah sama pertanyaan saya?" Meta tersenyum sinis seraya menatap wajah Reyhan. "Jelas salah, Dokter Reyhan. Anda menanyakan hal yang sangat tidak masuk akal. Sonia itu anakku dan suamiku," jawabnya dengan tegas. "Yakin?" "Kenapa aku harus ragu? Aku udah nikah sama suamiku selama tujuh tahun, Dokter. Mana mungkin aku--" ucapan Meta terhenti karena Sonia tiba-tiba merengek. "Ibu ...." Meta sontak menoleh lalu menghampiri putrinya. "Sonia sayang. Kamu udah bangun, Nak," lemahnya, berdiri tepat di samping ranjang. Reyhan sontak melakukan hal yang sama. "Syukurlah kamu udah bangun, Sonia," ucap Reyhan, berdiri tepat samping Meta. "Hmmm ... Om Dokter periksa keadaan kamu dulu, ya." Meta memundurkan langkahnya memberi ruang kepada sang Dokter untuk memeriksa keadaan Sonia dengan seksama. Matanya tertuju kepada Reyhan, pria itu masih terlihat tampan seperti terakhir kali mereka bertemu tujuh tahun lalu, hanya saja Reyhan terlihat lebih dewasa dan berwibawa. Jas putih yang membalut tubuh kekarnya membuat wajahnya semakin berkarisma. Sayangnya, Reyhan tetap tidak dapat ia raih. Pria itu tidak lebih dari masa lalu kelam, menorehkan luka yang teramat dalam dan masih terasa menyakitkan. Reyhan mengusap rambut Sonia dengan senyum. "Syukurlah, demam kamu udah turun, Sayang, tapi kamu masih harus dirawat selama beberapa hari di sini sampe kamu benar-benar sembuh, oke?" Sonia menganggukkan kepala seraya menatap lekat wajah Reyhan. "Om Dokter cakep banget," ucapnya dengan wajah polos. Reyhan tersenyum lebar dengan salah tingkah. "Hah? Hahaha ... kamu bisa aja, Sayang. Hmm ... kamu wanita ke 1001 yang bilang Om Dokter cakep," ucapnya seraya melirik wajah Meta. Sonia menatap sekeliling ruangan luas yang dilengkapi dengan perabotan mewah layaknya di kamar hotel. "Aku baru tau kalau di Rumah Sakit akan senyaman ini. Kayaknya aku bakalan betah di sini," ucapnya masih dengan wajah polos. Meta kembali melangkah dan berdiri tepat di samping Reyhan. "Hus ... gak boleh bilang gitu, Sonia. Senyaman-nyamannya Rumah Sakit, lebih nyaman lagi rumah sendiri. Lagian, Ibu akan pindahin kamu ke ruangan lain. Biaya kamar ini terlalu mahal, Ibu gak sanggup bayar." "Gak mau, Ibu. Aku gak mau pindah. Aku maunya di sini," rengek Sonia dengan lemah. "Sayang," seru Meta seraya menghela napas panjang. "Biarin aja Sonia si sini, Met. Saya akan menanggung seluruh biaya pengobatannya dia. Kamu gak usah khawatir," ucap Reyhan. "Gak usah, aku gak mau punya hutang, Dok. Lebih baik Sonia dipindahin sekarang juga." "Aku gak mau, Ibu. Gak mau, ikh ... Ibuu!" Meta terdiam seraya mengusap wajahnya kasar. Jika putrinya sudah merengek seperti ini, akan sulit menenangkannya. Terlebih Sonia sedang dalam keadaan sakit. Akan lebih bagus jika anak itu mendapatkan perawatan terbaik. Namun, Meta tidak ingin terikat hutang budi. Jika terpaksa menerima tawaran Reyhan pun, dirinya akan mengganti seluruh biaya perawatan. "Ya udah iya, kita gak jadi pindah, Sayang, tapi kamu janji harus cepet sembuh biar kita gak lama-lama di sini, paham?" ucap Meta. "Iya, aku janji, Ibu," jawab Sonia lalu mengalihkan pandangan matanya kepada Reyhan. "Terima kasih Om Dokter. Om Dokter bukan hanya ganteng, tapi baik lagi. Eu ... andai aku punya Ayah kayak Om Dokter." Reyhan terhenyak, rasa aneh kembali menyelusup masuk ke relung hatinya. Sebenarnya siapa ayah dari anak itu? Mengapa hatinya bergetar setiap kali melihat wajahnya? Meta terkejut dengan ucapan Sonia. "Nia! Kamu gak boleh ngomong kayak gitu!" bentaknya tanpa sadar. "Ikh, kenapa Ibu bentak aku sih!" Sonia menangis histeris. "Astaga, Meta. Jangan bentak anak kamu dong, dia 'kan lagi sakit," ucap Reyhan tiba-tiba merasa kesal, Sonia yang dibentak, tapi mengapa hatinya yang terasa sakit. Reyhan Adiatama benar-benar merasa bingung. "Ya Tuhan, ada apa dengan saya?" batinnya seraya memegangi dadanya sendiri yang terasa sesak. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD