Bab 3. Takdir

1357 Words
Meta memejamkan matanya sejenak seraya mendengus kesal. Ia terlalu syok setelah mendengar ucapan putrinya hingga lepas kendali dan membentaknya "Maafin Ibu, Sayang. Ibu gak bermaksud membentak kamu. Maaf, ya," ucap Meta seraya menggenggam telapak tangan Sonia. "Emangnya kenapa kalau aku pengen punya Ayah kayak Om Dokter?" tanya Sonia seraya terisak. "Ayahku jahat, sekarang aja dia gak ada di sini." Reyhan mengerutkan kening. Mengapa ia baru menyadari hal tersebut. Sejak ia menangani Sonia di ruangan UGD, dirinya tidak melihat ayahnya. Hanya ada Meta yang mendampingi putrinya. "O iya, Met. Suami kamu di mana? Emangnya dia gak tau kalau putri kalian masuk Rumah Sakit?" tanya Reyhan dengan penasaran. Meta terlihat bingung. Matanya terpejam mencoba mencari alasan yang masuk akal mengapa suaminya tidak menemaninya di sana. "Suamiku kerja, makannya gak ada di sini," jawab Meta dengan datar. "Ayah emang gitu. Selalu gak ada waktu buat aku," rengek Sonia seraya menyeka air mata yang membasahi kedua sisi wajahnya. Reyhan mendekatkan wajahnya tepat di depan wayah Sonia seraya mengelus kepalanya dengan lembut. "Gak usah sedih, Sayang. 'Kan ada Om Dokter. Selama kamu di sini, Om bakalan sering-sering nemenin kamu." Sonia menganggukkan kepala seraya menatap wajah Reyhan dengan senyuman kecil. Entah mengapa, ia merasakan ikatan kuat dengan Dokter berparas tampan itu. Hatinya begitu nyaman berada dekat dengannya, ia bahkan merasa bahwa Reyhan adalah ayahnya. Meskipun terasa aneh, tapi Sonia merasa mendapatkan kasih sayang seorang ayah yang selama ini tidak ia dapatkan dari ayahnya sendiri. "Makasih, Om Dokter," ucapnya dengan senyum, lalu mengalihkan pandangan matanya kepada Meta. "Bu, aku ngantuk. Aku mau mainin telinga Ibu," rengeknya seraya menahan rasa kantuk. "Sonia kalau mau tidur suka mainan telinga Ibu kamu?" tanya Reyhan dengan kening dikerutkan. "Iya, Om. Aku gak bisa tidur kalau gak mainin telinga Ibu," jawab Sonia. Reyhan terdiam sejenak. Ia merasa ada yang aneh dengan anak itu. Kebiasaan Sonia sama persis seperti apa yang selalu ia lakukan semasa kecil. Jika mereka tidak ada hubungan darah, mana mungkin Sonia memiliki kebiasaan yang sama dengannya. Selain itu, Reyhan sudah merasakan getaran aneh yang sulit ia ungkapkan sejak pertama kali bertemu dengannya. Pikiran konyol itu tiba-tiba melintas lagi di otaknya. "Apa mungkin Sonia ini darah daging saya? Saya ngerasa ada yang aneh sama usia dia. Mana mungkin Meta menikah sama laki-laki itu dan langsung hamil? Kehamilan butuh waktu sembilan bulan," batin Reyhan seraya menatap wajah Sonia dan Meta secara bergantian. "Terima kasih atas bantuan Anda, Dokter Reyhan. Sepertinya, masih banyak pasien yang harus Anda tangani," ucap Meta, terdengar tidak sopan, tapi ia benar-benar tidak nyaman dengan kehadiran mantan kekasihnya. "Hmm! Bener juga, saya lupa kalau masih ada pasien lain yang harus saya periksa," jawab Reyhan tersenyum lebar. "Sonia, Sayang. Nanti Om Dokter balik lagi ke sini, ya." Sonia menganggukkan kepala. Reyhan mengalihkan pandangan matanya kepada Meta. "Saya pamit dulu, Met, pulang kerja saya pengen bicara empat mata sama kamu, bisa?" "Maaf, sepertinya gak bisa," jawab Meta dingin seraya memalingkan wajahnya ke arah lain. Reyhan merasa kecewa, sikap Meta seolah-olah dialah orang yang paling tersakiti dan dirinya hanyalah orang yang paling jahat di sini. Padahal, ia yang dikhianati dan ditinggalkan tujuh tahun silam. Reyhan menghela napas panjang. "Baiklah," jawabnya singkat lalu kembali menatap wajah Sonia. "Saya akan melakukan test DNA secara diam-diam karena saya yakin kamu gak akan mengizinkan, Meta. Saya hanya ingin tau, siapa Ayah kandung Sonia," batin Reyhan lalu berbalik dan melangkah meninggalkan ruangan tersebut. *** Sepeninggal Reyhan, tubuh Meta seketika melemas. Kedua kakinya bahkan gemetar begitu pun dengan tubuhnya. Ia benar-benar tidak menyangka akan bertemu kembali dengan Reyhan. Pertemuan ini masih seperti mimpi baginya, bahkan ia sempat syok saat mendengar Sonia ingin memiliki ayah seperti Reyhan Adiatma. "Ya Tuhan, takdir macam apa ini? Kenapa aku harus ketemu lagi sama Reyhan?" batin Meta menahan rasa sesak. "Ibu kenapa?" tanya Sonia, memandang wajah sang ibu dengan kening dikerutkan. Meta sontak menoleh, balas memandang sang putri. "Ibu gak apa-apa, Sayang. Ibu cuma lelah aja," jawab Meta, memaksakan diri untuk tersenyum. Meta perlahan mulai naik ke atas ranjang lalu meringkuk tepat di samping putrinya. Telapak tangan Sonia perlahan mulai menyentuh lalu memainkan daun telinga ibunya. Anak itu memang memiliki kebiasaan unik. Ia tidak akan terlelap tanpa memainkan telinga ibunya sendiri. "Andai Ayah kayak Om Dokter, udah cakep, Dokter, baik lagi," ucap Sonia secara tiba-tiba Meta seketika terdiam menahan rasa sesak. Mendengar ucapan Sonia membuatnya kembali mengingat masa-masa indahnya bersama Reyhan. Dua tahun menjalin hubungan, keduanya sudah memutuskan untuk serius. Reyhan bahkan sudah melamarnya secara pribadi. Namun, takdir berkehendak lain. Reyhan tiba-tiba berangkat ke Inggris untuk meneruskan studinya tanpa memberi kabar. Ia masih belum melupakan kejadian tujuh tahun silam saat dirinya mendatangi kediaman Reyhan. Kedua matanya seketika memerah dan berair. Mengingat masa lalu seakan membangkitkan luka yang sudah ia kubur dalam-dalam. Air matanya tiba-tiba bergulir membasahi wajah cantiknya. "Ibu ko nangis? Ibu kenapa?" tanya Sonia seraya menyeka air mata ibunya. Lagi-lagi Meta memaksakan diri untuk tersenyum. "Nggak ko, Nia. Ibu gak apa-apa. Ibu cuma sedih aja ngeliat kamu sakit kayak gini," jawab Meta. "Ibu gak usah sedih, nanti juga aku sembuh ko." "Iya, Sayang. Ibu gak akan sedih lagi. Sekarang kamu bobo, ya." Sonia menganggukkan kepala, kedua matanya perlahan mulai terpejam seraya memainkan daun telinga ibunya. "Andai Ayah kayak Om Dokter. Mungkin aku akan jadi anak yang paling bahagia di dunia ini. Kenapa sih Ibu harus nikah sama Ayah?" gumam Sonia seraya mengerucutkan bibirnya sedemikan rupa. Meta tidak menanggapi ucapan putrinya. Ia menepuk punggung Sonia lembut dan penuh kasih sayang. Tatapan matanya nampak kosong menatap lurus ke depan, pikirannya melayang entah ke mana, air matanya tidak henti-hentinya bergulir. Jangankan Sonia, ia pun menyesalkan perpisahannya dengan Reyhan. Andai saja takdir mempersatukan mereka kala itu, mungkin mereka bertiga hidup bahagia dan dirinya tidak perlu menanggung derita karena memiliki suami yang keras bahkan kerap melakukan KDRT. "Maafin Ibu, Nia. Ibu benar-benar minta maaf. Ibu dan Om Dokter gak berjodoh, sepertinya takdir memang tak menginginkan kami untuk bersama," batin Meta, memandang lekat wajah sang putri seraya terisak. *** Sore hari tepatnya pukul 16.30, Reyhan memasuki ruangan pribadinya dengan tubuh lemas. Kakinya seakan berat melangkah, otaknya tidak dapat fokus dalam memeriksa pasien. Pertemuannya dengan Meta membuat moodnya berantakan. Ingatan masa lalu bahkan datang silih bergantian membuyarkan konsentrasinya. "Ya Tuhan, badan saya capek banget," gumamnya, melangkah ke arah kursi lalu duduk dengan wajah muram. "Saya pengen ketemu dan bicara sama Meta, tapi dia menolak saya. Apa yang harus saya lakuin, Tuhan? Saya cuma ingin tau, apa yang sebenarnya terjadi tujuh tahun lalu." Orang yang baru saja disebutkan namanya tiba-tiba membuka pintu lalu masuk ke dalam ruangan dengan panik dan wajah pucat. "Tolong Sonia, Rey. Sonia panasnya tinggi lagi dan kejang-kejang." Reyhan seketika berdiri tegak dengan terkejut. "Apa? Sonia stip?" "Kayaknya ia, cepetan, Rey!" Reyhan berlari keluar dari dalam ruangan, hal yang sama pun dilakukan oleh Meta. "Kenapa kamu tinggal dia sendirian, Met? Sonia gak boleh ditinggal," tanya Reyhan dengan panik. "Ada perawat di sana, Rey. Aku takut banget, makannya aku ke sini," jawab Meta, air matanya bergulir deras. Tubuhnya pun gemetar, melihat putrinya seperti itu membuatnya ketakutan. "Seharusnya kamu gak perlu berlari ke ruangan saya. Kamu cukup minta perawat buat ngehubugi saya. Saya pasti dateng ko. Kasihan Sonia 'kan harus ditinggal sama kamu," seru Reyhan, seraya berlari menuju ruangan. Meta tidak menanggapi ucapan Reyhan. Ia merasa seperti sedang dimarahi oleh suami sendiri karena meninggalkan putri mereka yang sedang sakit keras. Rasanya benar-benar aneh, hatinya seakan bergetar. Reyhan segera memeriksa keadaan Sonia sesaat setelah ia tiba di ruangannya. Sementara Meta hanya diminta untuk menunggu di luar oleh perawat yang bertugas agar Dokter dapat menjalankan tugasnya dengan leluasa. Meta berjalan mondar-mandir tepat di depan pintu dengan perasaan takut. "Ya Tuhan, tolong selamatkan Sonia, Tuhan. Tolong jangan ambil putriku," gumamnya penuh harap. 20 menit kemudian, pintu ruangan dibuka dari dalam. Meta sontak menoleh dan hendak masuk ke dalam ruangan. Namun, ia seketika dibuat terkejut saat melihat perawat mendorong ranjang di mana Sonia berbaring dan membawanya keluar ruangan. "So-Sonia mau dibawa ke mana, Rey?" tanya Meta kepada Reyhan yang turut mendorong ranjang besi tersebut. Reyhan menghentikan langkahnya. "Tolong bawa ke ruangan ICU, Sus," pintanya kepada perawat dan dijawab dengan anggukan patuh oleh perawat tersebut. "Jawab pertanyaan aku, Rey. Sonia kenapa dibawah ke ruangan ICU? Anak kita kenapa?" Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD