Bab 4. Sumber Kekuatan

1175 Words
Reyhan seketika mengerutkan kening. "Tunggu, Met. Kamu bilang apa tadi? Anak kita?" tanyanya dengan heran. "Maksud aku, anakku, Rey. Dia kenapa?" Meta balik bertanya, meskipun ia menyesalkan mengapa dirinya harus salah bicara. Reyhan menghela napas panjang. "Sonia harus mendapatkan perawatan intensif di ruangan ICU, Met. Karena tadi dia kejang-kejang, saya takut saraf otaknya keganggu." Tubuh Meta seketika melemas, dadanya terlihat naik turun menahan rasa sesak. "Ya Tuhan," gumamnya lemah dan bergetar. Reyhan menyentuh bahu Meta dengan lembut. "Kamu tenang, ya. Sonia pasti baik-baik aja. Saya janji akan menyembuhkan penyakit dia. Meskipun saya bukan Tuhan, tapi saya akan berusaha semaksimal mungkin, Meta. Kamu harus percaya sama saya." Meta memandang wajah Reyhan dengan bola mata memerah seraya meraih lalu menggenggam telapak tangannya. "Aku mohon selametin Sonia, Rey. Aku mohon, aku gak bisa hidup tanpa dia. Kalau dia sampai tiada, buat apa lagi aku hidup di dunia ini?" lemahnya seraya terisak. Reyhan memeluk tubuh Meta. Melihat buliran bening yang luruh dari matanya membuat hatinya terluka. Wanita itu bahkan terlihat pasrah saat tubuhnya didekap erat. Ia memang membutuhkan sandaran dan seseorang yang akan menguatkan. Sayangnya, kekuatan itu tidak ia terima dari suaminya sendiri, melainkan dari mantan kekasih yang selama ini ia benci. "Kamu yang sabar, ya. Kamu gak sendiri, Meta. Saya akan selalu ada di sini buat kamu dan Sonia," lemah Reyhan seraya mengusap punggung Meta lembut dan penuh kasih sayang. Tangis Meta semakin pecah di dalam dekapan Reyhan. "Makasih, Rey. Aku gak tau apa jadinya aku dan Sonia jika gak ketemu sama kamu. Aku benar-benar berterima kasih," lemahnya seraya terisak Reyhan menganggukkan kepala seraya mengurai pelukan. *** Malam hari tepatnya pukul 20.00, Reyhan membuka ruangan ICU lalu masuk ke dalam ruangan. Pria itu sudah tidak mengenakan jas putih yang menjadi ciri khasnya sebagai seorang Dokter. Tugasnya hari ini sudah selesai dan ia ingin melakukan tugas lainnya yaitu, menemani dan menjaga Meta dan Sonia. "Rey," sapa Meta, sontak menoleh ke arah pintu. Wanita itu nampak duduk di kursi yang ia letakan tepat di samping ranjang. "Eu ... kamu belum pulang, Rey? Emangnya kamu masih bertugas?" tanyanya. Reyhan dengan membawa paper bag berwarna coklat melangkah mendekati Meta. "Tugas saya hari ini udah selesai, Meta. Saya ke sini bawain makanan buat kamu. Saya perhatiin, kayaknya kamu belum makan dari siang." Meta tersenyum hambar seraya memegangi perutnya yang datar. "Aku emang lapar, Rey, tapi aku gak ada selera buat makan," jawabnya. "Gak boleh gitu dong, Meta. Kamu harus tetep makan meskipun kamu gak punya selera. Tubuh kamu harus tetep dikasih asupan nutrisi biar kamu punya tenaga," ucap Reyhan. "Kalau kamu sampe sakit, siapa yang akan jagain Sonia? Kamu itu sumber kekuatan Sonia. Kalau kamu lemah dan sakit, Sonia pasti sedih dan akan menyalahkan dirinya sendiri." Meta terdiam seraya menoleh dan memandang wajah Sonia yang sedang terlelap. Berbagai alat medis nampak terpasang di tubuhnya seperti, alat pendeteksi jantung, alat bantu pernapasan juga jarum infus yang tertanam di pergelangan tangannya. Benar apa yang baru saja diucapkan oleh Reyhan, ia harus tetap makan meskipun selera makannya hilang. Rasanya memang berat, perjalanan hidupnya pun cukup rumit. Menikah dengan pria yang tidak ia cintai dan bertahan selama tujuh tahun lamanya hanya agar putrinya itu tidak kehilangan sosok ayah membuatnya tersiksa. Ditambah sikap suaminya yang dingin bahkan tidak segan melakukan KDRT membuatnya harus memiliki mental sekuat baja demi Sonia. "Kamu bener, Rey. Aku harus tetap makan demi Sonia. Kalau aku sakit, siapa yang akan jagain dia? Kalau aku lemah, siapa yang akan menguatkan dia?" ucap Meta lemah dan bergetar. Reyhan mengusap bahu Meta lembut seraya tersenyum ringan. "Kita makan di ruangan saya, mumpung Sonia lagi tidur." "Tapi aku gak bisa ninggalin dia, Rey." "Sebentar aja, Met. Di sini aman ko, saya akan meminta perawat buat jagain Sonia." Meta menganggukkan kepala lalu kembali memandang wajah putrinya. Mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Sonia seraya mengusap kepalanya lembut dan penuh kasih sayang kemudian mengecup keningnya dengan mata terpejam. "Ibu makan dulu ya, Nak. Ibu sayang kamu," ucapnya, menahan air mata. *** Reyhan membuka pintu ruangan lalu masuk ke dalamnya dengan diikuti oleh Meta. Keduanya seketika merasa canggung, berada hanya berdua saja di dalam ruangan membuat mereka gugup. Reyhan melangkah ke arah sofa lalu meletakan paper bag di atas meja. Sedangkan Meta hanya berdiri di depan pintu. "Masuklah, jangan canggung kayak gitu. Anggap aja saya ini temen kamu," pinta Reyhan, tersenyum seraya memandang wajah Meta dengan sayu. Meta akhirnya melangkah menuju sofa lalu duduk dengan wajah datar. "Saya beliin makanan kesukaan kamu, Met. Entah apa kamu masih suka makanan ini atau nggak," ucap Reyhan, seraya mengeluarkan dua bungkus nasi Padang yang merupakan makanan kegemaran Meta. Meta tersenyum kecil. "Kamu masih inget makanan kesukaan aku, Rey?" tanyanya menatap dua bungkus nasi di atas meja. "Mana mungkin saya lupa, Meta? Sedikitpun saya tidak pernah melupakan kamu," jawab Reyhan. Tatapan matanya penuh kerinduan. Meta kembali tersenyum. Telapak tangannya perlahan mulai bergerak membuka nasi bungkus tersebut. Aroma lezat seketika tercium, ia menatap nasi berikut laut pauknya. Sudah lama sekali dirinya tidak memakan nasi Padang yang dinobatkan sebagai salah satu makanan terlezat di dunia. "Udah lama banget aku gak makan nasi Padang," ucapnya lemah. "Kelihatannya enak." Meta mulai memasukan satu suap nasi berikut lauk ke dalam mulutnya. Matanya seketika berair, rasanya masih tetap sama, lezat dan menggugah selera makan, tapi sayanya putrinya tidak dapat menikmati makanan yang merupakan makanan favoritnya juga itu. Meta mengunyah makanan seraya terisak dan menahan rasa sesak, telapak tangannya kembali bergerak, menyuapkan suapan kedua, sementara telapak tangan lainnya nampak menyeka buliran bening yang luruh dari kedua matanya. "Kalau Sonia sembuh, aku akan beliin nasi Padang buat dia. Dia juga suka banget nasi Padang," ucapnya seraya menahan tangisan. Reyhan menghela napas panjang. Memandang lekat wajah Meta dengan iba. Seberat apa kehidupan yang dijalani oleh wanita itu? Mengapa wajahnya begitu nelangsa? Bahkan di situasi genting seperti ini, tidak ada seorang pun yang menemani, termasuk suaminya sendiri yang seharusnya berada di sisinya, menemaninya dalam keadaan suka dan duka. Andai Meta menikah dengannya, mungkin kehidupannya tidak akan semenderita ini. Ia akan membahagiakan Meta dan Sonia, menjadikan mereka berdua ratu. "Pelan-pelan, Met. Nanti keselek," pinta Reyhan karena Meta memakan makanan dengan terburu-buru, mulutnya bahkan penuh dengan makanan. Benar saja, wanita itu seketika terbatuk seraya menepuk-nepuk dadanya sendiri. "Nah, 'kan," decak Reyhan, meraih botol air mineral dan membukanya. "Minum dulu, Met. Saya bilang juga apa. Makannya pelan-pelan," ucapnya lalu memberikan botol air mineral tersebut kepada Meta. "Makasih, Rey," ucap Meta, menerima apa yang diberikan oleh Reyhan lalu meneguknya pelan. "Boleh saya tanya sesuatu sama kamu, Met?" tanya Reyhan dan dijawab dengan anggukan oleh Meta seraya meletakan botol di atas meja. "Eu ... tadi siang kamu sempat mengatakan, 'Anak kita'. Apa Sonia benar-benar anak kita? Maksud saya anak kamu dan saya?" Meta terdiam dengan d**a bergemuruh. "Ada banyak yang pengen saya tanyain sama kamu, Met. Kenapa kamu tiba-tiba menikah sama pria lain? Mengapa usia Sonia sama persis dengan waktu perpisahan kita? Saya gak pernah mengakhiri hubungan kita, tapi saat saya ngeliat kamu sama pria lain, hati saya sakit, Met. Katakan apa salah saya sama kamu? Mengapa kamu ninggalin saya dan bersikap seolah-olah kamulah orang yang paling tersakiti?" Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD